SHOPPING CART

close
Kultum

Saya Kagum pada Para Misionaris

kristenisasi

Ada dua orang laki-laki sedang duduk bersama di pinggir jalan, di samping sepeda motor masing-masing. Keduanya sedang menunggu istri dan anak-anak ambil rapor sekolah. Dua laki-laki yang baik, sayang pada keluarga dan bertanggung jawab. Hanya penampilan keduanya yang membedakan.

Laki-laki pertama penampilannya lebih religius. Kumis dicukur, jenggot dipelihara rapi, dan celana panjangnya agak cingkrang. Pakaiannya bersih, dan kendaraannya menunjukkan kemampuan ekonomi yang sangat mapan. Di rumahnya yang bagus pasti tersimpan mobil yang juga bagus.

Sementara itu laki-laki kedua berpenampilan sebagaimana orang Jawa pada umumnya. Kumis-jenggot dicukur. Kaos lengan panjang sederhana, dan celana panjang juga terjulur melebihi mata kaki. Sepeda motornya juga biasa saja, sepeda motor pasaran. Kalau di rumahnya ada mobil, pasti juga mobil biasa, mobil kelas pasaran. Termasuk kalau beli martabak, pasti juga pesan, “Yang biasa aja ya, Bang.”

Dari wajah keduanya mereka tampak sebagai golongan dari kaum terpelajar. Hanya saja laki-laki religius itu nyata lebih ganteng dan gagah, terutama bila dibandingkan dengan laki-laki biasa yang memang benar-benar biasa itu.

Keduanya belum saling kenal, meskipun sering berpapasan ketika mengantar atau menjemput anak sekolah. Maka mereka pun berkenalan dengan menanyakan nama, asal daerah, dan seterusnya.

Untuk menghilangkan kejenuhan, sekaligus basa-basi, keduanya melakukan dialog keagamaan di bawah ini. Sepertinya mereka juga senang menambah ilmu dan wawasan keislaman dengan cara bertukar pikiran.

Laki-laki religius: “Saya sangat benci dengan orang-orang liberal. Mereka itu sama dengan orang kafir. ”

Laki-laki biasa: “Iya.”

LR: “Mereka itu orang munafik. Mereka bahkan lebih berbahaya daripada orang kafir.”

LB: “Iya, mungkin.”

LR: “Saya memang tidak ragu-ragu, orang liberal itu sama dengan orang kafir dan munafik. Saya bilang mereka itu kafir dan munafik. Kamu itu kafir dan munafik. Kamu itu hanya pura-pura beragama Islam, tapi sebenarnya kamu itu orang kafir. Ya kafir ya munafik.”

Sambil berkata demikian, laki-laki regius menuding-nudingkan jari telunjuknya ke arah muka, seakan ada seorang pendukung Islam liberal di depannya. Meskipun mereka duduk berdampingan, laki-laki biasa merasa agak tersinggung, karena tidak ada orang lain di dekat mereka. Bila ada orang lewat, tentulah dikira laki-laki biasa sedang dibentak-bentak dan dimaki-maki oleh laki-laki religius. Ini jadi tidak benar. Apalagi wajah laki-laki religius itu kelihatan makin serius dan sedikit tegang.

LR: “Sejak kuliah dulu saya memang tidak suka dengan golongan kalian, orang-orang liberal-kafir-munafik yang mengaku Islam. Kalian hendak menghancurkan Islam dari dalam. Kalian adalah musuh Islam. Kalian harus dihabisi. Harus diperangi.”

Melihat gaya laki-laki religus tersebut, laki-laki biasa merasa tidak nyaman. Dia merasa seperti sedang didoktrin dengan keras oleh orang lain, atau bahkan diteror. Maka dia harus bertindak, dia harus bisa merubah gaya bicara laki-laki religius itu supaya lebih santun dan tenang. Tapi dia harus mencari jeda dari kalimat-kalimat laki-laki religius yang datang beruntun. Akhirnya datang juga kesempatan itu.

LB: “Saya selalu kagum dengan cara berdakwah orang-orang Kristen.”

Laki-laki religius sedikit terkejut mendapat reaksi seperti itu.

LR: “Ya?”

LB: “Para misionaris itu. Mereka bisa mengajak orang Islam supaya pindah ke agama Kristen dengan cara lembut, tenang, sopan. Tapi berhasil. Mereka tidak pernah berdakwah dengan cara marah-marah.”

Berhasil. Meskipun tidak seketika benar-benar lembut, laki-laki religius menurunkan intonasi bicaranya dengan sedikit lebih santun dan hormat. Namun masih dengan nada menyerang.

LR: “Oh ya, sepertinya Sampean orang yang bijak. Tapi kita sekarang sedang menghadapi serbuan musuh-musuh Islam dari luar dan dari dalam. Dari dalam adalah orang-orang liberal itu. Kita harus tegas kepada mereka. Kita tidak boleh lemah. Kita tidak boleh membiarkan mereka memporakporandakan ajaran Islam. Menghina syariat Islam. Saya pernah berhadapan dengan mereka secara langsung. Mereka itu sungguh biadab. Mereka telah melecehkan syariat Islam dengan terang-terangan.”

LB: “Ya saya setuju. Tapi tetap dengan kepala dingin, bukan dengan cara emosional. Saya masih tetap kagum pada para misionaris itu. Kita harus belajar kepada mereka. Ibarat cari ikan, mereka bisa tetap menjaga supaya air tetap jernih, tapi ikan berhasil mereka tangkap. Jangan sampai kita turut membuat air tambah keruh, sementara ikan lari tidak kita dapatkan sama sekali.”

Ketika laki-laki religius bersiap hendak memberikan tanggapan, tiba-tiba saja ibu-ibu dan anak-anak sudah nampak mulai keluar dari gerbang sekolah. Maka keduanya pun berpisah secara mendadak, dan menyambut keluarganya masing-masing.

Laki-laki religius maupun laki-laki biasa itu adalah cerminan dari kaum terpelajar yang peduli pada agama dan dakwah Islam. Mereka juga bisa membagi perhatian yang seimbang antara keluarga, masyarakat, dan pribadi. Mereka hanya beda pandangan dan strategi. Semoga keduanya bisa tetap saling menghormati.

Tags:

0 thoughts on “Saya Kagum pada Para Misionaris

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Beasiswa

Hukum Keluarga Islam

Klik di sini
Need help?
Bila ada sesuatu yang ingin disampaikan, baik berupa pertanyaan maupun konfirmasi tentang artikel ini, maka kami persilakan...