SHOPPING CART

close
Long Live Education

Akhlak dalam Mencari Ilmu

Berikut ini beberapa petunjuk yang diajarkan oleh agama Islam sebagai akhlak mencari ilmu:

a. Niat yang tulus

Secara khusus, Rasulullah saw. mengingatkan umatnya untuk menjaga niat yang benar dalam belajar. Beliau bersabda:

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْماً مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللهِ – عز وجل – لا يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضاً مِنَ الدُّنْيَا ، لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الجَنَّةِ يَوْمَ القِيَامَةِ . رواه أَبُو داود

“Barangsiapa mempelajari suatu ilmu yang seharusnya untuk mencapai ridha Allah ‘Azza wa Jalla, namun ia mempelajarinya untuk mencapai keuntungan duniawi, maka kelak di hari kiamat ia tidak akan mendapati aroma surga.” (HR. Abu Dawud)

b. Selalu berusaha menambah ilmu

Di antara akhlak orang yang mencari ilmu itu, hendaknya ia tidak pernah berhenti berusaha menambah ilmu yang telah dimilikinya. Hal ini karena ilmu merupakan lautan yang amat luas, tanpa dasar dan tepian.
Dalam al-Qur’an, Allah pun tidak pernah memerintahkan Nabi Muhammad saw. untuk menambah sesuatu selain menambah ilmu. Allah SWT. berfirman:

“Dan berdoalah, “Wahai Tuhanku, tambahkanlah ilmu padaku.” (QS: Thaha: 114).

Sufyan bin ‘Uyainah, salah seorang ulama besar, ditanya, “Siapakah orang yang paling berkepentingan untuk terus menambah ilmu?”
Ia menjawab, “Orang yang paling banyak ilmunya, karena kesalahan yang dia lakukan menjadi nampak lebih buruk.”

c. Berguru pada ahlinya

Juga di antara akhlak mencari ilmu itu adalah berguru kepada orang yang mumpuni di bidangnya. Apabila hendak belajar ilmu tafsir, hendaknya berguru kepada orang yang ahli tafsir, bukan kepada ahli filsafat atau matematika.
Demikian pula apabila hendak belajar ilmu hadits, hendaknya juga berguru kepada ahli hadits, bukan kepada seorang insinyur ataun sosiolog. Allah SWT berfirman:

“Maka bertanyalah kepada orang-orang yang berilmu, bila engkau tidak mengetahui ilmunya.” (QS: al-Nahl: 43 dan al-Anbiya’: 7).

Sebagaimana Allah berpesan:

“Seseorang tidaklah akan mampu memberimu ilmu, selain orang yang benar-benar ahlinya.” (QS: Fathir: 14)

d. Bertanya dengan tepat

Juga di antara akhlak mencari ilmu yaitu bertanya sesuai dengan keperluan, bertanya pada waktu yang tepat, dan tidak bertanya dengan pertanyaan-pertanyaan mubadzir.
Dalam al-Qur’an surat al-Baqarah, Allah SWT mengisahkan tentang Bani Israel yang suka menanyakan hal-hal yang sebenarnya sebenarnya sederhana menjadi rumit, karena pertanyaan-pertanyaan mereka sendiri.
Bila kita perhatikan, dalam al-Qur’an disebutkan beberapa macam pertanyaan. Pertama, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh orang-orang musyrik, seperti kapan terjadinya hari kiamat. Sebuah pertanyaan yang jawabannya hanya Allah yang mengetahuinya.
Kedua, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh orang-orang Yahudi, atau pertanyaan-pertanyaan yang berasal dari mereka dan disampaikan kepada orang-orang Quraisy, seperti pertanyaan tentang ruh dan Dzulqarnain.
Ketiga, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh para shahabat. Bila kita perhatikan, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh para shahabat itu merupakan pertanyaan-pertanyaan yang praktis, sesuai dengan keperluan nyata mereka sehari-hari. Seperti pertanyaan tentang hilal, apa yang perlu disedekahkan, hukum khamer dan perjudian, dan darah haidh.

Tags:

0 thoughts on “Akhlak dalam Mencari Ilmu

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Beasiswa

Hukum Keluarga Islam

Klik di sini
Need help?
Bila ada sesuatu yang ingin disampaikan, baik berupa pertanyaan maupun konfirmasi tentang artikel ini, maka kami persilakan...