SHOPPING CART

close

Apakah Allah Bertempat: Perdebatan Tiada Akhir

Bapak Fulan:

Assalamu ‘alaykum, Ustadz.

Sebenarnya pembahasan ini bukan makanan saya dan wilayah saya.

Kelompok Wahabi mengatakan: bahwasanya para salaf dan imam madzhab meyakini, “Allah bertempat dan bersemayam.”

Sedangkan Asy’ariyah mengatakan, “Allah ada tanpa tempat. Tidak bertempat dan tidak berarah.
Mereka saling mengemukakan argumen pembenaran atas apa yang diyakini.

Jika saya bertanya pada ulama A, saya akan tahu kemana arah nya. Jika pada ulama B akan terbaca juga kemana arah jawabannya.

Yang ingin saya tanyakan, Tadz… Mngkin saya hanya minta refrensi…

Adakah ulama selain para ulama wahabi yang mengatakan Allah itu bertempat?

Sahu saya, dikeluarkannya para ulama Wahabi dari Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah sebab perkara aqidah ini…

Terimakasih Ustadz, mungkin tulisannya tidak jelas dan membingungkan. 😅🙏

 

Saya:

O inggih, alhamdulillah tulisan jenengan mudah dipahami…

Mungkin ada pemahaman yg terlewatkan…

Bahwa yang berpendapat Allah punya tempat, tempatnya Allah itu beda dengan tempatnya makhluk…

Bukankah dalam Al-Qur’an disebutkan Allah punya kursi?

Tapi kursinya Allah pasti tidak sama dgn kursinya manusia…

Laisa kamitslihi syaiun… Wa lam yakun lahu kufuwan ahad…

Tidak ada yg menyerupai-Nya…

Itu perdebatan lama, Pak…

Sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu…

Jauh sebelum ada istilah Wahabi…

 

Bapak Fulan:

Naah mksud saya jg ini tadz.. Mksd wahabi pun jg sprti itu dri yg saya pahami..
Tapi saya lihat dari paparan asy’ariyah.. Paham ini belum ada sebelum datangnya wahabi.. (Saya kurang yakin mereka jujur apa tidak ttg hal ini)

Dari paparan wahabi, para salaf sudah ada yg menjelaskan ttg ini.. Bertempat namun jgn di pertanyakan bagaimananya..
Dan benarkah para imam madzhab yg empat berakidah seperti ini tadz?

Yg menarik saya lihat, dua2 nya ada yg berujah dgn fiqh al akbar nya imam hanafi..
Satu kitab bisa memiliki teks yg berbeda.. Brrti salah satu ada yg mempelintir teks kitab tsbt..

Brrti kesimpulan yg saya ambil.. Permasalahan ini sudah ada jauh sebelum muncul dakwah syaikh muhammad bin abdul wahab.. Aqidah ini bukan di ciptakan oleh syaikh tsbt.. Sbb sblum beliau, sudah ada dan banyak ulama yg beraqidah seperti ini.. Dan mereka tidak keluar dari ahlussunnah lagi kafir..
Bisakah kesimpulan saya diterima tadz? Mohon koreksinya 🙏

 

Saya:

Inggih insya Allah saya sependapat dgn jenengan…

Perbedaan pendapat seperti ini sebenarnya hal yg biasa dan lumrah…

Namun kadang jadi ruwet ketika ada kaitannya dgn pertarungan politik pada masa tertentu…

Allahu a’lam…

 

Bapak Fulan:

Terimakasih ustadz pencerahanya 🙏

 

Saya:

Inggih sami-sami Pak…

________________________________

Kesimpulan:

1. Beriman kepada Allah merupakan salah satu rukun iman, bahwa merupakan rukun iman yang pertama.

2. Pertanyaan: Apakah Allah bertempat? Merupakan masalah baru yang mulai dibahas jauh setelah Rasulullah Saw. wafat. Dan masalah ini merupakan lahan ijtihad. Karena tidak adanya ayat maupun hadits yang menerangkan jawabannya secara lugas.

3. Namanya ijtihad pasti melibatkan akal. Sehingga jawabannya tergantung pola pikir orang yang menjawab.

4. Pendapat yang mengatakan bahwa Allah bertempat itu ada dalilnya, yaitu ayat-ayat dan hadits yang menunjukkan hal itu. Misalnya:

  • Ayat Kursi yang menerangkan bahwa kursi Allah itu seluas langit dan bumi.
  • Ayat: Tangan Allah di atas tangan mereka.
  • Rasulullah Saw. bertanya kepada seorang wanita, “Di manakah Allah?” Wanita itu menjawab, “Di langit.” Maka Rasulullah Saw. menyatakan bahwa wanita itu seorang yang beriman. Maksudnya bukan seorang wanita kafir.

5. Perlu digarisbawahi, bahwa tempat Allah itu tidak sama dengan tempat makhluk-Nya. Laisa kamistlihi syai’un…

6. Pendapat yang mengatakan bahwa Allah tidak bertempat, adalah dalam makna Allah tidak sama dengan makhluk-Nya. Bila makhluk memerlukan tempat, Allah tidak memerlukan tempat. Karena kata “tempat” dimaknai sebagai makhluk. Mustahil Allah bertempat dalam makhluk-Nya.

7. Masing-masing pendapat itu sebenarnya ingin menyucikan sifat Allah. Keduanya sama-sama bertujuan mengagungkan Dzat Allah.

8. Bila hal ini sudah jelas demikian, sebenarnya tidak perlu dilanjutkan perdebatan di antara kedua pendapat itu. Misalnya: Manakah di antara kedua pendapat itu yang paling benar.

9. Para pembaca silakan memilih pendapat mana yang paling sesuai dengan jalan pikiran masing-masing. Masalah ini sudah diperdebatkan sejak ribuan tahun yang lalu. Dan masih bisa diperdebatkan hingga hari kiamat.

Allahu a’lam.

Tags:

0 thoughts on “Apakah Allah Bertempat: Perdebatan Tiada Akhir

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.