SHOPPING CART

close

Apakah Mungkin Seorang Nabi Itu Pernah Berkhianat?

Sebagai salah satu sifat utama para nabi. Amanah merupakan sifat yang telah mendarah-daging dalam diri para nabi.

Hal ini bisa kita perhatikan melalui kesaksian Allah Swt. yang tersebar dalam banyak ayat al-Qur’an, dan berbagai teladan kehidupan para nabi.

1. Kesaksian Allah atas Sifat Amanah Para Nabi

Allah Swt. telah memberikan kesaksian, bahwa para nabi telah melakukan tugas dengan sebaik-baiknya. Apabila para nabi belum menunaikan tugas dengan baik, tentu umat manusia akan memiliki alasan yang bermacam-macam, mengapa mereka tidak mengikuti ajaran agama secara serius.

Setiap nabi telah menunaikan tugas dengan sebaik-baiknya. Sifat amanah para nabi ini merupakan bukti bahwa mereka merupakan sosok yang layak menjadi teladan bagi semua umat manusia. Allah Swt. berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيهِمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ.

Sesungguhnya telah ada pada diri mereka (para nabi) suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat. (al-Mumtahanah: 6)

Semua nabi, apalagi Nabi Muhammad Saw. telah menyampaikan seluruh amanah untuk menyampaikan setiap wahyu yang diterimanya. Allah Swt. berfirman:

وَمَا هُوَ عَلَى الْغَيْبِ بِضَنِينٍ.

Dan dia (Muhammad) itu bukanlah seorang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib. (at-Takwir: 24)

Juga dalam mengantarkan umat manusia kepada jalan yang benar, Allah pun telah memberikan kesaksian, bahwa Nabi Muhammad r telah menjalankan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Allah Swt. berfirman:

وَإِنَّكَ لَتَدْعُوهُمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ.

Dan sesungguhnya kamu benar-benar menyeru mereka kepada jalan yang lurus. (al-Mukminun: 73)

Sifat amanah dalam menepati janji, juga ditunjukkan para nabi, termasuk Nabi Ismail alaihis salam.

Allah berfirman:

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ.

Dan ceritakanlah (wahai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam al-Qur’an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya. (Maryam: 54)

2. Teladan Para Nabi dalam Sifat Amanah

Sebagaimana kami sebutkan, bahwa sebelum menjadi nabi, Nabi Muhammad Saw. telah memperoleh pengakuan dari masyarakat Quraisy sebagai pribadi yang amanah. Kemudian sifat amanah Nabi Muhammad Saw. ini pun tetap melekat pada diri beliau hingga akhir hayatnya.

Seorang isteri merupakan orang yang paling mengetahui berbagai sisi pribadi suaminya. Karena dia adalah orang yang paling banyak berinteraksi dengan suaminya. Dan hal ini juga berlaku pada pribadi Nabi Muhammad Saw.

Marilah kita simak bersama kesaksian yang diberikan oleh salah seorang isteri beliau, Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:

عَنْ سَعْدِ بْنِ هِشَامِ بْنِ عَامِرٍ قَالَ: أَتَيْتُ عَائِشَةَ، فَقُلْتُ: يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ أَخْبِرِينِى بِخُلُقِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. قَالَتْ: كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ، أَمَا تَقْرَأُ الْقُرْآنَ قَوْلَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ (وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ). قُلْتُ: فَإِنِّى أُرِيدُ أَنْ أَتَبَتَّلَ. قَالَتْ: لاَ تَفْعَلْ أَمَا تَقْرَأُ (لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ) فَقَدْ تَزَوَّجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَدْ وُلِدَ لَهُ.

Dari Sa’d bin Hisyam bin ‘Amir, dia berkata:

Aku menemui ‘Aisyah, lalu aku bertanya, “Wahai Ummul-Mukminin, terangkanlah kepadaku tentang akhlak Rasulullah Saw.

‘Aisyah berkata, “Akhlak beliau adalah al-Qur’an. Tidakkah engkau membaca firman Allah ‘Azza wa Jalla (yang artinya): Dan sungguh engkau (Muhammad) memiliki akhlak yang mulia.”

Aku berkata, “Sungguh aku ingin hidup dengan membujang.” ‘Aisyah berkata, “Janganlah engkau lakukan. Tidakkah engkau membaca (firman Allah yang artinya): Sungguh pada diri Rasulullah Saw. itu terdapat teladan yang baik. Rasulullah Saw. telah menikah dan memiliki keturunan.” (HR. Ahmad)

3. Seorang Nabi Pernah Berkhianat?

Apakah seorang nabi pernah berbuat khianat? Jawabannya sudah jelas, mustahil. Bagaimana mungkin seorang nabi bersifat khianat, padahal Allah memiliki sifat Maha Mengetahui? Tidak mungkin Allah salah memilih seorang manusia untuk menerima amanah sebagai nabi.

Allah Swt. berfirman:

اللَّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ

“Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan.” (al-An’am: 124)

Apabila Allah sampai keliru memilih nabi, hal ini menunjukkan bahwa Allah tidak bersifat Maha Mengetahui. Pada diri manusia biasa saja, sifat khianat merupakan sifat yang amat tercela. Tentu sifat khianat menjadi sifat yang lebih tercela apabila ada pada diri seorang nabi.

Apabila seorang nabi bersifat khianat. Ia tidak akan mungkin memberikan perintah kepada umatnya untuk bersifat amanah. Demikian pula, ia tidak akan mungkin memberikan perintah kepada umatnya untuk tidak bersifat khianat. Sebagai akibatnya, sifat khianat akan merajalela di tengah kehidupan umat manusia. Oleh karena itu, sudah jelas bahwa para nabi mustahil bersifat khianat.

4. Kesuksesan Pendidikan Nabi dalam Menjaga Sifat Amanah

Di antara bukti dahsyatnya sifat amanah para nabi itu bisa kita lihat dalam keberhasilan para nabi dalam menanamkan sifat amanah pada diri umatnya. Sifat amanah Nabi Muhammad Saw. misalnya, bisa kita ketahui melalui keteladanan yang diberikan oleh para shahabat dan generasi-generasi berikutnya dalam mengemban sifat amanah ini.

Kita perhatikan pada diri para shahabat, sifat amanah begitu mereka muliakan. Demi membela sifat amanah ini, mereka sanggup menanggung segala tantangan selama perjuangan dakwah, baik dalam fase dakwah Mekah maupun fase dakwah Madinah. Mereka tetap bersifat amanah, baik ketika Nabi Muhammad r masih hidup, maupun ketika beliau telah tiada. Mereka tetap bersifat amanah, baik ketika dakwah meminta pengorbanan, maupun ketika dakwah mulai memberikan hasil yang melimpah. Dengan kata lain, sifat amanah telah melekat dalam diri mereka, baik dalam keadaan susah maupun senang.

Hingga dalam masa-masa suram peradaban Islam pun, kita mendapati bahwa umat Islam secara keseluruhan tetap menjaga sifat amanah ini dengan sekuat tenaga. Salah satunya berkaitan dengan kesungguhan umat Islam dalam menjaga sumber utama agamanya. Di tengah kemerosotan moral dan nilai-nilai kemanusiaan yang demikian parah, umat Islam tetap menjaga kemurnian al-Qur’an dengan amanah yang prima. Mereka tetap menghafalnya huruf demi huruf dengan sempurna, dan membacanya dengan sikap hormat dan khidmat yang tiada duanya, dibandingkan umat manapun di sepanjang sejarah peradaban dunia.

_____________

Sumber dan Bacaan: 

– Buku ar-Rusul war-Risalat‘, Syeikh Umar Sulaiman al-Asyqat.

– Artikel Shifat al-Anbiya’ war RusulSyeikh Batul ad-Daghim. mawdoo3.com

– Buku Dahsyatnya 4 Sifat NabiAhda Bina A. Lc. 

Tags:

One thought on “Apakah Mungkin Seorang Nabi Itu Pernah Berkhianat?

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Beasiswa PPUT (Bebas SPP & DPP)
Penerimaan Mahasiswa Baru

PENERIMAAN MAHASISWA BARU

Program Studi Hukum Keluarga Islam (Ahwal Syakhshiyyah) FAI-UMM
(Diperpanjang Hingga 12 September 2022).

Tidak harus datang ke kampus. Daftar dan lengkapi persyaratan secara online saja.

Yuk buruan daftar: online.umm.ac.id

Info lengkapnya: pmb.umm.ac.id

Info lebih lanjut:
WA center PMB: 085215219000
IG: pmb_umm, hkiumm
Tiktok: pmb_umm, hkiumm

https://linkfly.to/pmbumm1964