SHOPPING CART

close
Puasa dan Zakat

Beberapa Kesalahan tentang Yang Membatalkan Puasa

Sebagaimana kita pahami, berpuasa itu pada dasarnya adalah menahan diri dari tiga perbuatan, yaitu: makan, minum dan hubungan seksual. Namun demikian, terdapat beberapa kasus yang dikira sama dengan makan dan minum. Dan secara dhahir, berpuasa itu diperintahkan seakan-akan untuk menyiksa diri, sehingga semua perbuatan yang meringankan “siksaan” tersebut dianggap telah membatalkan puasa. Lalu terjadilah beberapa kesalahpahaman tentang apa saja yang membatalkan dan yang tidak membatalkan puasa.

1. Apakah Mandi Mengurangi Pahala Puasa?

Ada orang yang berpandangan, bahwa mandi itu mengurangi pahala puasa. Pandangan seperti ini muncul dengan logika: Ketika seseorang berpuasa memang sudah seharusnya dia menghadapi yang sulit-sulit, seperti rasa lapar, haus, lemas, dan mengantuk. Di mana semua kesulitan itu akan memperbanyak pahala.

Apabila kita kembali kepada al-Qur’an dan hadits, sebenarnya tidak ada satu pun ayat maupun hadits yang menerangkan bahwa mandi itu membatalkan puasa, ataupun mengurangi pahala puasa. Justru terdapat atsar atau riwayat shahih yang menceritakan perbuatan para shahabat yang sengaja mandi ketika berpuasa.

وَبَلَّ ابْنُ عُمَرَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُمَا ثَوْبًا ، فَأَلْقَاهُ عَلَيْهِ ، وَهُوَ صَائِمٌ . وَدَخَلَ الشَّعْبِىُّ الْحَمَّامَ وَهُوَ صَائِمٌ . وَقَالَ الْحَسَنُ : لاَ بَأْسَ بِالْمَضْمَضَةِ وَالتَّبَرُّدِ لِلصَّائِمِ . وَقَالَ أَنَسٌ : إِنَّ لِى أَبْزَنَ أَتَقَحَّمُ فِيهِ وَأَنَا صَائِمٌ .

Ibnu ‘Umar t membasahi bajunya, lalu memakainya, dalam keadaan berpuasa. Asy-Sya’bi pergi mandi dalam keadaan berpuasa. Hasan berkata, “Berkumur dan mandi itu tidak membatalkan puasa.” Anas berkata, “Aku memiliki sebuah abzan (tempat air dari batu yang berukuran besar). Aku biasa masuk ke situ ketika berpuasa.” (Atsar Riwayat Bukhari)

2. Apakah Bersiwak Ketika Puasa Itu Makruh?

Orang yang sedang berpuasa itu pada umumnya memiliki aroma mulut yang kurang sedap. Namun Rasulullah Saw. memberikan sebuah informasi, bahwa yang demikian itu justru lebih baik di sisi Allah Swt.. Rasulullah Saw. bersabda:

وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ .

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, sungguh aroma mulut orang yang sedang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah daripada aroma minyak wangi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Berdasarkan hadits di atas, ada yang berpendapat, bahwa bersiwak atau gosok gigi itu hukumnya makruh. Logikanya, bersiwak atau gosok gigi menjadikan mulut tidak lagi beraroma seperti semula, sehingga tidak lagi dicintai Allah Swt..

Bila kita telaah lebih lanjut, sebenarnya tidak ada hadits yang secara khusus melarang kita untuk bersiwak atau gosok gigi ketika berpuasa. Justru kita mendapati hadits yang secara jelas menerangkan bahwa Rasulullah Saw. biasa bersiwak pada waktu berpuasa. Dan beliau melakukannya dengan jumlah yang amat banyak.

عَنْ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ قَالَ : رَأَيْتُ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَاكُ وَهُوَ صَائِمٌ مَا لاَ أُحْصِى أَوْ أَعُدُّ .

Dari ‘Amir bin Rabî’ah, ia berkata, “Aku sering melihat Nabi Muhammad Saw. bersiwak, padahal beliau sedang berpuasa, dengan jumlah yang tidak bisa aku hitung.” (HR. Bukhari)

Dalam riwayat lain juga disebutkan:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ : رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا لاَ أَعُدُّ وَمَا لاَ أُحْصِى يَسْتَاكُ وَهُوَ صَائِمٌ .

Dari Abdullâh bin ‘Amir bin Rabî’ah, dari ayahnya, ia berkata, “Aku sering melihat Rasulullah Saw. dengan jumlah yang tidak bisa aku hitung, ketika beliau sedang bersiwak, padahal beliau sedang berpuasa.” (HR. Ahmad)

Hal ini tidaklah mengherankan, karena Rasulullah Saw. amat menganjurkan bersiwak kepada umatnya secara umum, baik ketika sedang berpuasa maupun tidak. Beliau bersabda:

لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِى لأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ وُضُوءٍ .

“Kalau bukan karena akan memberatkan umatku, tentu aku akan memerintahkan kepada mereka untuk bersiwak setiap kali hendak mendirikan shalat.” (HR. Bukhari)

Demikian pula secara umum Rasulullah Saw. menerangkan, bahwa bersiwak itu, selain membersihkan mulut, juga membuat Allah Swt. ridha. Dan itu berlaku umum, baik ketika berpuasa maupun tidak. Beliau bersabda:

السِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِ .

“Siwak itu membersihkan mulut, dan membuat Allah jadi ridha.” (HR. Ahmad)

Lebih jauh, untuk menegaskan hal ini, berikut ini penulis kutip sebuah percakapan antara seorang shahabat yang amat mulia, yaitu Mu’adz bin Jabal dengan salah seorang muridnya yang bernama ‘Abdurrahman bin Ghanm.

‘Abdurrahman bertanya kepada Mu’adz bin Jabal, “Apakah aku boleh bersiwak ketika aku sedang berpuasa?”

Mu’adz bin Jabal menjawab, “Ya.”

‘Abdurrahman bertanya, “Pada waktu pagi atau sore?”

Mu’adz menjawab, “Terserah padamu, baik pagi maupun sore.”

‘Abdurrahman berkata, “Orang-orang mengatakan, bahwa bersiwak pada waktu sore itu hukumnya makruh.”

Mu’adz bertanya, “Mengapa demikian?”

‘Abdurrahman menjawab, “Aroma mulut orang yang sedang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah.”

Mu’adz berkata, “Subhânallâh… Ketika Rasulullah memerintahkan kepada kita untuk bersiwak, tentu saja beliau mengetahui bahwa aroma mulut orang yang sedang berpuasa itu tetap tidak sedap, meskipun dia sudah bersiwak. Dan beliau tidak pernah menyuruh kita untuk membuat mulut kita beraroma busuk secara sengaja. Yang demikian itu tidak ada kebaikan sedikit pun, malah amat buruk. Yang demikian itu hanya berlaku untuk orang yang tidak bisa menghindarinya.”

‘Abdurrahman berkata, “Apakah hal itu sama dengan orang yang penuh debu karena sedang berjuang fi sabilillah, dimana dia menerima pahala karena penampilannya yang tidak bisa dihindari itu?”

Mu’adz menjawab, “Benar. Adapun orang yang secara sengaja membuat dirinya seperti itu, maka dia tidak mendapatkan pahala karenanya.”

(HR. Thabrani)

3. Apakah Merasakan Masakan Membatalkan Puasa?

Yang membatalkan puasa, apabila kita sampai menelan sesuatu. Adapun merasakan masakan seperti itu tidaklah membatalkan puasa. Di mana kita hanya berusaha mengecek tingkat asin atau manisnya masakan. Yang penting jangan sampai masakan itu masuk ke tenggorokan, lalu jatuh ke dalam perut.

Secara khusus tidak sebuah dalil yang membahas masalah ini. Namun ada sebuah riwayat menyatakan, bahwa Ibnu ‘Abbas menganggap hal seperti itu tidak membatalkan puasa. Ibnu ‘Abbas adalah seorang shahabat yang mumpuni dalam bidang tafsir.

وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ : لاَ بَأْسَ أَنْ يَتَطَعَّمَ الْقِدْرَ ، أَوِ الشَّىْءَ .

Ibnu ‘Abbâs berkata, “Merasakan masakan atau sesuatu itu tidak membatalkan puasa.” (Atsar riwayat Bukhari)

4. Apakah Makan atau Minum Karena Lupa Membatalkan Puasa?

Karena belum terbiasa puasa, atau karena saking lapar dan hausnya, boleh jadi seseorang lupa bahwa dia sedang berpuasa. Karena lupa sedang berpuasa, ketika ada kesempatan dia pun makan dan minum dengan nikmatnya.

Apabila hal itu terjadi, yaitu makan dan minum waktu berpuasa karena lupa, puasa orang tersebut tidaklah batal. Bahkan itu merupakan sedekah Allah baginya. Ini merupakan salah satu kemurahan dari Allah bagi hamba-Nya. Rasulullah Saw. bersabda:

إِذَا نَسِىَ فَأَكَلَ وَشَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ ، فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللَّهُ وَسَقَاهُ.

“Bila seseorang (yang sedang berpuasa) lupa, lalu dia makan dan minum, hendaknya dia melanjutkan puasanya. Pada waktu itu sesungguhnya Allah sedang memberinya makan dan minum.” (HR. Bukhari)

مَنْ نَسِىَ وَهُوَ صَائِمٌ فَأَكَلَ أَوْ شَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللَّهُ وَسَقَاهُ.

“Barangsiapa lupa sedang berpuasa, lalu dia makan atau minum, maka hendaknya dia melanjutkan puasanya. Pada waktu itu sesungguhnya Allah sedang memberinya makan dan minum.” (HR. Muslim)

5. Suntik Ketika Sakit Membatalkan Puasa

Menyuntikkan suatu obat ke dalam tubuh, oleh sebagian orang dianggap sama dengan makan atau minum, karena sama-sama memasukkan sesuatu ke dalam tubuh. Oleh karena itu, orang itu beranggapan bahwa suntik itu membatalkan puasa.

Bila kita amati secara seksama, puasa itu seperti disebutkan dalam hadits qudsi (firman Allah tetapi tidak termasuk bagian ayat al-Qur’an) adalah menahan diri dari tiga hal, yaitu: makan, minum, dan hasrat seksual. Allah Swt. berfirman:

الصَّوْمُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ ، يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَأَكْلَهُ وَشُرْبَهُ مِنْ أَجْلِى .

“Puasa itu untuk-Ku, dan Aku-lah yang akan membalasnya. Dia meninggalkan syahwat, makan, dan minum demi Aku.” (HR. Bukhari)

Apa yang dimaksud dengan meninggalkan syahwat, makan dan minum, insya’ Allah semua orang bisa menjelaskannya dengan baik. Dan jelas, suntik itu bukan termasuk bagian dari ketiga kegiatan tersebut.

Suntik yang dimaksud di sini adalah suntik untuk orang yang sedang sakit, bukan suntik untuk orang yang kecanduan obat-obatan terlarang.

6. Apakah Berbekam Membatalkan Puasa?

Bekam, yang dalam bahasa Arab disebut dengan hijamah, dalam bahasa Indonesia juga disebut cantuk. Bekam atau cantuk yaitu mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh dengan cara tertentu. Sebagaimana kita maklumi, berbekam adalah salah satu metode pengobatan yang populer di zaman Rasulullah Saw., dan sekarang mulai hidup kembali di berbagai belahan dunia Islam. Apakah berbekam ini membatalkan puasa?

Terdapat beberapa hadits yang menjelaskan bahwa berbekam itu membatalkan puasa. Tapi setelah diteliti, para ulama menyatakan bahwa seluruh hadits yang menyatakan batalnya puasa karena berbekam itu merupakan hadits dha’if, sehingga tidak bisa menjadi dasar hukum. Atau setidaknya ia telah mansukh; hukumnya tidak berlaku lagi.

Sebaliknya terdapat beberapa hadits yang menyatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah berbekam ketika beliau sedang berpuasa. Di antaranya adalah hadits Ibnu ‘Abbâs berikut ini:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ احْتَجَمَ وَهْوَ مُحْرِمٌ ، وَاحْتَجَمَ وَهْوَ صَائِمٌ .

Dari Ibnu ‘Abbâs t, bahwa Nabi Muhammad Saw. pernah berbekam ketika sedang ihram. Beliau juga pernah berbekam ketika sedang berpuasa. (HR. Bukhari)

Juga hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Mâlik berikut ini:

ثَلاَثٌ لاَ يُفْطِرْنَ الصَّائِمَ : الْحِجَامَةُ وَالْقَىْءُ وَالاِحْتِلاَمُ.

“Tiga hal yang tidak membatalkan puasa, yaitu: berbekam, muntah, dan mimpi basah.” (HR. Tirmidzi)

Kemudian hal itu ditegaskan oleh penjelasan shahabat yang lain, yaitu Anas bin Malik, ketika ditanya tentang pandangan para shahabat mengenai hukum berbekam pada saat berpuasa. Anas menjawab, bahwa para shahabat tidak memakruhkannya.

عَنْ شُعْبَةَ قَالَ : سَمِعْتُ ثَابِتًا الْبُنَانِىَّ يَسْأَلُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ : أَكُنْتُمْ تَكْرَهُونَ الْحِجَامَةَ لِلصَّائِمِ ؟ قَالَ : لاَ ، إِلاَّ مِنْ أَجْلِ الضَّعْفِ .

Dari Syu’bah, dia berkata: Aku mendengar Tsâbit al-Bunâni bertanya kepada Anas bin Mâlik t, “Apakah engkau para shahabat memakruhkan berbekam bagi orang yang sedang berpuasa?” Anas menjawab, “Tidak. Kecuali karena membuat lemah.” (HR. Bukhari)

Dengan demikian, berbekam itu tidak membuat puasa menjadi batal. Berbekam itu hukumnya tidak makruh, alias mubah, atau boleh-boleh saja. Ia menjadi makruh apabila membuat stamina menjadi lemah, karena keluarnya sebagian darah saat berbekam.

7. Apakah Mencium Isteri Membatalkan Puasa?

Dalam Islam, menjaga keharmonisan rumah tangga itu amat dianjurkan, bahkan diperintahkan. Di antara bentuk usaha menjaga keharmonisan itu adalah kedekatan fisik sekaligus psikis di antara suami-isteri, yang diwujudkan berupa kemesraan di antara keduanya. Oleh karena itu, apabila dirasa kuat menahan diri, seorang suami diperbolehkan mencium isterinya dalam keadaan berpuasa, sebagaimana hal itu biasa dilakukan Rasulullah Saw..

عَنْ عَائِشَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ إِنْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيُقَبِّلُ بَعْضَ أَزْوَاجِهِ وَهُوَ صَائِمٌ . ثُمَّ ضَحِكَت .

Dari ‘Aisyah t, ia berkata, “Sungguh Rasulullah Saw. biasa mencium isterinya dalam keadaan berpuasa.” Lalu ‘Aisyah pun tertawa. (HR. Bukhari)

عَنْ عَائِشَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : كَانَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُ وَيُبَاشِرُ ، وَهُوَ صَائِمٌ ، وَكَانَ أَمْلَكَكُمْ لإِرْبِهِ .

Dari ‘Aisyah t bahwa Nabi Muhammad Saw. biasa mencium dan mencumbu isterinya dalam keadaan berpuasa. Beliau adalah orang yang paling bisa menahan hasratnya. (HR. Bukhari)

عَنْ عُمَرَ بْنِ أَبِى سَلَمَةَ أَنَّهُ سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَيُقَبِّلُ الصَّائِمُ ؟ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : سَلْ هَذِهِ . لأُمِّ سَلَمَةَ ، فَأَخْبَرَتْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ ذَلِكَ . فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، قَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ . فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَمَا وَاللَّهِ إِنِّى لأَتْقَاكُمْ لِلَّهِ وَأَخْشَاكُمْ لَهُ.

Dari ‘Umar bin Abi Salamah, bahwa di bertanya kepada Rasulullah Saw., “Apakah orang yang sedang berpuasa boleh mencium isterinya?” Rasulullah Saw. bersabda, “Tanyalah pada wanita ini.” Beliau menunjuk Ummu Salamah (salah seorang isteri beliau). Ummu Salamah menyampaikan, bahwa Rasulullah Saw. biasa melakukan hal itu. ‘Umar bin Abi Salamah berkata, “Wahai Rasulullah, (tidak seperti kami) Allah telah mengampuni seluruh kesalahanmu baik yang telah lalu maupun yang akan datang.” Rasulullah Saw. bersabda, “Demi Allah, sesungguhnyalah aku orang yang paling bertakwa di antara kalian dan orang yang paling takut kepada-Nya.” (HR. Muslim)

Adapun bagi orang yang tidak mampu mengendalikan dirinya dengan baik, yang apabila dia mencium isterinya tidak bisa mengekang hasratnya, dia tidak diperbolehkan melakukan hal itu. Seperti pasangan pengantin baru, nampaknya termasuk yang dilarang melakukannya.

Lebih jauh, Rasulullah Saw. mengibaratkan orang yang mencium isterinya dengan orang yang sedang berkumur dengan air. Apabila kita berkumur saja, maka perbuatan itu tidak membatalkan puasa. Puasa batal apabila kita menelan air itu. Apabila tidak sampai menelan, maka puasa pun tidak batal.

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ ، أَنَّهُ قَالَ : هَشَشْتُ يَوْمًا ، فَقَبَلْتُ وَأَنَا صَائِمٌ ، فَأَتَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقُلْتُ : صَنَعْتُ الْيَوْمَ أَمْرًا عَظِيْمًا ، قَبِلْتُ وَأَنَا صَائِمٌ . فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَرَأَيْتَ لَوْ تَمَضْمَضْتَ بِمَاءٍ وَأَنْتَ صَائِمٌ ؟ قَالَ : فَقُلْتُ : لَا بَأْسَ بِذَلِكَ . فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : فَفِيْمَ ؟

Dari ‘Umar bin Khaththâb, ia berkata: Suatu hari aku amat senang dan aku pun mencium isteriku. Lalu aku menemui Rasulullah Saw. dan berkata, “Hari ini aku telah melakukan dosa. Aku mencium isteriku dalam keadaan puasa.” Rasulullah bersabda, “Bagaimana bila engkau berkumur dalam keadaan puasa?” Aku menjawab, “Hal itu tidaklah mengapa.” Rasulullah bersabda, “Lalu mengapa?” (HR. Ibnu Khuzaimah)

8. Apakah Mimpi Basah Membatalkan Puasa?

Apabila seseorang tertidur, lalu tiba-tiba saja bangun dan mendapati dirinya telah keluar air mani, maka dia disebut telah mimpi basah. Disebut mimpi basah, karena biasanya hal itu terjadi setelah bermimpi, lalu dia mendapati dirinya dalam keadaan basah. Bila dia bermimpi, lalu mendapati dirinya tidak basah, maka hal itu tidak disebut mimpi basah, tapi mimpi kering… Mimpi basah juga disebut dengan mimpi indah.

Mimpi basah atau mimpi indah menyebabkan kita berhadats besar. Untuk menghilangkan hadats besar itu kita harus mandi besar atau mandi keramas. Adapun mimpi kering tidak menyebabkan hadats besar.

Sama dengan mimpi pada umumnya, mimpi basah itu terjadi di luar kendali manusia. Ia terjadi begitu saja, meskipun tidak direncanakan sama sekali. Atau bahkan tidak diharapkan. Ia terjadi begitu saja, tanpa bisa ditahan. Seandainya mimpi basah itu membatalkan puasa, tentu akan menyusahkan, dan itu mustahil terjadi dalam syariat Islam.

Mimpi basah tidak membatalkan puasa. Rasulullah Saw. memberikan penjelasan:

ثَلاَثٌ لاَ يُفْطِرْنَ الصَّائِمَ : الْحِجَامَةُ وَالْقَىْءُ وَالاِحْتِلاَمُ.

“Tiga hal yang tidak membatalkan puasa, yaitu: berbekam, muntah, dan mimpi basah.” (HR. Tirmidzi)

9. Apakah Muntah Membatalkan Puasa?

Orang muntah itu dibedakan, antara orang yang tidak sengaja melakukannya dan orang yang sengaja melakukannya. Orang yang tidak sengaja muntah, maka puasanya tidak batal. Adapun orang yang secara sengaja muntah, maka puasanya batal. Rasulullah Saw. bersabda:

ثَلاَثٌ لاَ يُفْطِرْنَ : الصَّائِمَ الْحِجَامَةُ وَالْقَىْءُ وَالاِحْتِلاَمُ.

“Tiga hal yang tidak membatalkan puasa, yaitu: berbekam, muntah, dan mimpi basah.” (HR. Tirmidzi)

Dalam kesempatan yang lain, beliau bersabda:

مَنْ ذَرَعَهُ الْقَىْءُ فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ وَمَنِ اسْتَقَاءَ عَمْدًا فَلْيَقْضِ .

“Barangsiapa tidak sengaja muntah, maka dia tidak punya kewajiban mengganti puasa. Adapun orang yang sengaja muntah, maka dia harus menggantinya.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

Sebagaimana kita maklumi, orang yang dalam perjalanan jauh atau safar itu diperbolehkan untuk tidak berpuasa. Namun dia juga diperbolehkan berpuasa. Apabila dalam perjalanan mudik Idul Fitri ada di antara kita yang tetap berpuasa dan merasakan perutnya amat mual, lalu muntah, maka puasanya tidak batal. Ia tetap dalam keadaan puasa. Namun apabila keadaan itu dirasakan berat, maka dia boleh membatalkan puasa.

10. Apakah Merokok Tidak Membatalkan Puasa?

Ketika datang bulan Ramadhan di waktu siang hari, ada beberapa pemuda sedang asyik merokok sambil duduk-duduk di sebuah warung. Orang-orang yang lewat mengira mereka sedang tidak puasa. Tapi sesungguhnyalah mereka sedang berpuasa, tapi mengira merokok itu tidak membatalkan puasa.

Bila kita kembali kepada perbuatan apa saja yang membatalkan puasa, merokok itu memang bukan termasuk makan maupun minum. Tapi kenyataannya, banyak orang yang tahan tidak makan dan tidak minum selama seharian, tapi tidak tahan untuk tidak merokok seharian. Bila dia memiliki uang lima ribu rupiah, antara pilihan sarapan pagi atau menghisap rokok, ternyata dia mengutamakan rokok. Dengan demikian, ternyata rokok memiliki peranan yang lebih penting bagi sebagian orang dibandingkan dengan makan dan minum.

Berdasarkan fakta di atas, rokok itu sama dengan makan dan minum yang sama-sama membatalkan puasa.

Tags:

0 thoughts on “Beberapa Kesalahan tentang Yang Membatalkan Puasa

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Klik di sini
Perlu penjelasan tambahan?