SHOPPING CART

close
Kajian HaditsTuntunan Shalat

Beberapa Perbuatan Yang Ternyata Tidak Membatalkan Shalat

Ada beberapa hal yang dikira oleh banyak orang sebagai perbuatan yang membatalkan shalat, tapi sebenarnya tidak membatalkan. Berikut akan penulis sampaikan beberapa perbuatan yang sebenarnya tidak membatalkan shalat, karena ternyata pernah dilakukan dan diperintahkan oleh Nabi Muhammad Saw.

 

1. Menangis

Bila seseorang menangis dalam shalat, dengan berbagai sebab, shalatnya tidaklah batal. Seperti Rasulullah dan para shahabat yang menangis dalam shalat, karena demikian takutnya mereka kepada Allah Swt. Boleh jadi kita pun kadang-kadang menangis dalam shalat, karena mengingat dosa-dosa yang telah kita lakukan. Selain itu, mungkin juga ada orang yang menangis dalam shalat, karena ia mendengar kabar buruk ketika shalat.

Baik menangis karena takut kepada Allah, karena mengingat dosa-dosa yang telah lalu, karena mendengar kabar buruk, karena mengingat kenangan yang menyakitkan, semua itu tidak membuat shalat menjadi batal. Marilah kita simak hadits berikut ini:

عَنْ مُطَرِّفٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ: رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّى، وَفِى صَدْرِهِ أَزِيزٌ كَأَزِيزِ الرَّحَى مِنَ الْبُكَاءِ.

Dari Mutharrif, dari ayah, ia berkata, “Aku pernah melihat Rasulullah Saw. sedang shalat, dengan dada yang bergemuruh karena menangis.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad)

 

2. Memalingkan wajah karena ada keperluan

Secara umum, memalingkan tubuh ke arah belakang ketika shalat adalah dilarang. Rasulullah Saw. berpesan:

لاَ يَزَالُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مُقْبِلاً عَلَى الْعَبْدِ وَهُوَ فِى صَلاَتِهِ مَا لَمْ يَلْتَفِتْ، فَإِذَا الْتَفَتَ انْصَرَفَ عَنْهُ.

Allah Azza wa Jalla senantiasa menghadapkan wajah-Nya pada hamba-Nya ketika shalat, selama ia tidak memalingkan wajahnya. Apabila ia memalingkan wajahnya, maka Allah pun berpaling darinya. (HR. Abu Dawud dan Ahmad)

Namun ada hadits yang menjelaskan bahwa Nabi Muhammad Saw. pernah memalingkan wajah karena ada keperluan.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: كَانَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّى يَلْتَفِتُ يَمِيناً وَشِمَالاً، وَلاَ يَلْوِى عُنُقَهُ خَلْفَ ظَهْرِهِ.

Dari Ibnu ‘Abbas, bahwa Nabi Muhammad Saw. sedang shalat, lalu beliau menoleh ke kiri dan ke kanan, tapi leher beliau tidak sampai menghadap ke belakang. (HR. Abu Dawud)

Oleh karena itu, kita dapat mengambil kesimpulan, bahwa menoleh ke samping itu tidak membatalkan shalat. Apabila kita sampai menghadap ke belakang, maka shalat kita menjadi batal.

 

3. Membunuh ular dan kalajengking

Waktu kita sedang shalat, kemudian ada seekor ular yang lewat di dekat tubuh kita, kita boleh membunuhnya, tanpa membatalkan shalat. Rasulullah Saw. bersabda:

اقْتُلُوا الأَسْوَدَيْنِ فِى الصَّلاَةِ: الْحَيَّةَ وَالْعَقْرَبَ.

Bunuhlah dua binatang hitam, yaitu: ular dan kalajengking. (HR. Abu Dawud)

Kata al-aswad secara bahasa artinya hitam. Kemudian kata ini juga digunakan untuk menyebut ular. Tapi dalam hadits ini kalajengking juga disebut sebagai al-aswad. Oleh karena itu, maksud hadits ini juga mencakup semua binatang yang berbahaya.

Dalam usaha membunuh hewan-hewan yang berbahaya itu mungkin kita akan melakukan gerakan-gerakan yang relatif banyak. Namun semua gerakan itu tidak membatalkan shalat, karena membunuh kedua hewan itu diperintahkan sekalipun kita dalam keadaan shalat.

 

4. Melangkahkan kaki beberapa langkah

Tindakan melangkahkan kaki beberapa langkah ternyata juga tidak membatalkan shalat, selama kita melangkah dengan posisi tetap menghadap kiblat. Apabila kita sampai membelakangi kiblat, maka shalat kita pun menjadi batal. Marilah kita perhatikan hadits berikut ini:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: كَانَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّى فِى الْبَيْتِ وَالْبَابُ عَلَيْهِ مُغْلَقٌ، فَجِئْتُ، فَمَشَى حَتَّى فَتَحَ لِى، ثُمَّ رَجَعَ إِلَى مَقَامِهِ. وَوَصَفَتْ أَنَّ الْبَابَ فِى الْقِبْلَةِ.

Dari ‘Aisyah, ia berkata, “Suatu saat Nabi Muhammad Saw. sedang di rumahnya, sementara pintu rumah dalam keadaan terkunci. Lalu aku datang. Beliau pun berjalan untuk membukakan pintu untukku, kemudian beliau kembali ke tempatnya semula.” Lalu ‘Aisyah menjelaskan, bahwa pintu itu berada di arah kiblat. (HR. Ahmad)

Adapun berjalan dalam hitungan langkah yang banyak, termasuk perbuatan yang membatalkan shalat. Banyak dan sedikit dalam masalah ini diserahkan kepada kebiasaan.

 

5. Memberikan isyarat dengan tangan atau kepala

Ketika sedang shalat, kemudian ada seseorang mengatakan sesuatu kepada kita, atau mengucapkan salam, kita boleh membalasnya dengan bahasa isyarat. Marilah kita simak beberapa riwayat di bawah ini:

عَنْ جَابِرٍ قَالَ: أَرْسَلَنِى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ مُنْطَلِقٌ إِلَى بَنِى الْمُصْطَلِقِ، فَأَتَيْتُهُ وَهُوَ يُصَلِّى عَلَى بَعِيرِهِ، فَكَلَّمْتُهُ، فَقَالَ لِى بِيَدِهِ، ثُمَّ كَلَّمْتُهُ فَقَالَ لِى هَكَذَا، وَأَنَا أَسْمَعُهُ يَقْرَأُ يُومِئُ بِرَأْسِهِ، فَلَمَّا فَرَغَ قَالَ: مَا فَعَلْتَ فِى الَّذِى أَرْسَلْتُكَ لَهُ؟ فَإِنَّهُ لَمْ يَمْنَعْنِى أَنْ أُكَلِّمَكَ إِلاَّ أَنِّى كُنْتُ أُصَلِّى.

Dari Jabir, ia berkata: Rasulullah Saw. mengutusku, sementara beliau sedang menuju ke Bani Musthaliq. Lalu aku menemui beliau sementara beliau sedang shalat di atas unta. Aku berkata-kata kepadanya, lalu beliau memberikan isyarat kepadaku demikian. Kemudian aku berkata-kata lagi, dan beliau pun memberikan isyarat kepadaku demikian. Sementara itu aku mendengar beliau sedang membaca ayat, lalu beliau memberikan isyarat dengan kepala. Setelah selesai shalat, beliau bersabda, “Apa yang telah engkau lakukan untuk memenuhi perintahku? Tadi aku tidak bisa berbicara padamu, karena aku sedang shalat.” (HR. Muslim)

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: قُلْتُ لِبِلاَلٍ: كَيْفَ كَانَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرُدُّ عَلَيْهِمْ حِينَ كَانُوا يُسَلِّمُونَ عَلَيْهِ فِى الصَّلاَةِ؟ قَالَ: كَانَ يُشِيرُ بِيَدِهِ.

Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata: Aku bertanya kepada Bilal, “Bagaimana Nabi Muhammad Saw. menjawab salam ketika para shahabat mengucapkan salam kepada beliau, sementara beliau sedang shalat?” Bilal berkata, “Beliau memberi isyarat dengan tangan.” (HR. Ahmad)

 

6. Berdehem

Kadang-kadang untuk memberitahukan keberadaan diri kita, kita cukup berdehem. Berdehem yaitu bersuara seperti kita hendak mengeluarkan dahak, tapi sebenarnya tidak ada dahak. Inilah yang disebut dengan berdehem. Dan berdehem ini tidak membatalkan shalat. Marilah kita simak hadits di bawah ini:

عَنْ عَلِىٍّ قَالَ: كَانَ لِى مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَاعَةٌ آتِيهِ فِيهَا، فَإِذَا أَتَيْتُهُ اسْتَأْذَنْتُ، إِنْ وَجَدْتُهُ يُصَلِّى فَتَنَحْنَحَ دَخَلْتُ، وَإِنْ وَجَدْتُهُ فَارِغًا أَذِنَ لِى.

Dari ‘Ali, ia berkata, “Pada saat-saat tertentu aku menemui Rasulullah Saw. Bila aku datang, aku selalu meminta izin kepada beliau. Bila beliau sedang di rumah, tapi sedang shalat, beliau pun berdehem, maka aku pun segera masuk. Bila beliau sedang tidak melaksanakan shalat, beliau mempersilakan aku masuk.” (HR. Nasa’i)

Allahu a’lam.

Tags:

0 thoughts on “Beberapa Perbuatan Yang Ternyata Tidak Membatalkan Shalat

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.