SHOPPING CART

close

Benarkah Musafir Tetap Wajib Melaksanakan Puasa Ramadhan?

Jawabannya adalah: Tidak.

Orang yang sedang bepergian jauh (musafir) itu tidak wajib melaksanakan puasa Ramadhan. Dia diperkenankan untuk membatalkan puasanya. Terutama bila kondisinya menjadi lemah, apalagi sampai membahayakan kesehatan dan keselamatan dirinya.

Berikut sedikit informasi yang bisa kami sampaikan, semoga ada manfaatnya…

Boleh Pilih: Mau tetap puasa atau tidak

Ada orang yang beranggapan, bahwa untuk menunjukkan imannya yang kuat, orang yang sedang safar itu sebaiknya tetap berpuasa. Sebaliknya, orang yang tidak puasa dengan alasan safar, menunjukkan imannya tidak kuat.

Pendapat yang demikian merupakan pendapat yang tidak tepat. Orang yang berpuasa atau tidak berpuasa karena safar itu tidak ada kaitannya dengan iman, karena orang yang sedang safar itu mendapatkan keringanan untuk tidak berpuasa.

Orang yang sedang safar itu tidak diwajibkan berpuasa. Bila mau, dia boleh tidak berpuasa.

Hal ini berdasarkan riwayat sebagai berikut:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهَا أَنَّ حَمْزَةَ بْنَ عَمْرٍو الأَسْلَمِىَّ قَالَ لِلنَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَأَصُومُ فِى السَّفَرِ ؟ وَكَانَ كَثِيرَ الصِّيَامِ . فَقَالَ : إِنْ شِئْتَ فَصُمْ ، وَإِنْ شِئْتَ فَأَفْطِرْ .

Dari ‘Aisyah t bahwa Hamzah bin ‘Amr al-Aslami bertanya kepada Nabi Muhammad Saw., “Apakah aku boleh berpuasa dalam safar?” Hamzah adalah seorang yang banyak berpuasa. Beliau menjawab, “Bila engkau mau, maka berpuasalah. Bila engkau mau, berbukalah.”

(HR. Bukhari)

Dengan demikian, orang yang sedang safar diberikan kelonggaran untuk tidak berpuasa.

Ada Saatnya Puasa Itu Dilarang oleh Rasulullah Saw.

Suatu saat, Rasulullah Saw. pernah memberikan perintah kepada para shahabat untuk membatalkan puasa, namun mereka tidak bersedia. Rasulullah Saw. menyebut mereka sebagai orang yang telah bermaksiat.

Marilah kita simak riwayat berikut ini:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِىَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ عَامَ الْفَتْحِ إِلَى مَكَّةَ فِى رَمَضَانَ فَصَامَ حَتَّى بَلَغَ كُرَاعَ الْغَمِيمِ فَصَامَ النَّاسُ ، ثُمَّ دَعَا بِقَدَحٍ مِنْ مَاءٍ فَرَفَعَهُ حَتَّى نَظَرَ النَّاسُ إِلَيْهِ ثُمَّ شَرِبَ ، فَقِيلَ لَهُ بَعْدَ ذَلِكَ : إِنَّ بَعْضَ النَّاسِ قَدْ صَامَ : فَقَالَ : أُولَئِكَ الْعُصَاةُ أُولَئِكَ الْعُصَاةُ .

Dari Jâbir bin ‘Abdillah, bahwa Rasulullah Saw. (bersama para shahabat) keluar dari Madinah menuju Mekah pada Fathu Makkah (waktu ditaklukkannya Mekah) pada bulan Ramadhan.

Beliau berpuasa hingga Kura’ al-Ghamim. Kemudian beliau meminta bejana air, lalu beliau mengangkatnya sehingga orang-orang melihatnya, dan beliau pun minum.

Ada seorang shahabat berkata kepada beliau, “Ada sebagian orang yang tetap berpuasa.”

Beliau bersabda, “Mereka itu telah bermaksiat. Mereka itu telah bermaksiat.”

(HR. Bukhari)

Para ulama memberikan penjelasan, bahwa Rasulullah memerintahkan berbuka, bahkan beliau sendiri memberikan contoh yang demikian itu, dengan tujuan supaya pasukan Islam menjadi lebih kuat ketika berhadapan dengan musuh. Orang yang tetap dalam keadaan puasa akan dalam keadaan lemah, dan itu berbahaya bagi keselamatan dirinya sendiri dan merugikan keselamatan pasukan secara umum.

Oleh karena itulah beliau menyatakan, bahwa orang yang menentang kebijakan beliau ini telah melakukan maksiat. Secara lahir beribadah (berpuasa), tapi sesungguhnya mereka telah membangkang perintah Rasulullah Saw.

Tujuan Ibadah Bukan untuk Mendatangkan Musibah

Pada kesempatan yang lain, ada shahabat yang tetap berpuasa dalam safar, sehingga keadaannya menjadi amat lemah. Dalam keadaan itulah Rasulullah Saw. menjelaskan, bahwa berpuasa bagi orang yang sedang safar itu bukan termasuk orang yang taat beribadah. Marilah kita simak lagi riwayat berikut ini:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِىَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِى سَفَرٍ ، فَرَأَى زِحَامًا ، وَرَجُلاً قَدْ ظُلِّلَ عَلَيْهِ ، فَقَالَ : مَا هَذَا ؟ فَقَالُوا : صَائِمٌ . فَقَالَ : لَيْسَ مِنَ الْبِرِّ الصَّوْمُ فِى السَّفَرِ .

 

Dari Jâbir bin ‘Abdillâh t, ia berkata: Suatu saat Rasulullah Saw. sedang dalam safar. Lalu beliau melihat sekelompok orang berdesak-desakan dan seseorang yang dinaungi. Beliau bertanya, “Ada apa dengannya?” Mereka menjawab, “Dia sedang berpuasa.” Beliau bersabda, “Berpuasa bagi orang yang sedang safar itu bukan termasuk ketaatan.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Allahu a’lam.

***

Untuk mengetahui beberapa kesalahan umum dalam puasa, bisa kita simak artikel berikut:

Inilah Beberapa Kesalahan Umum dalam Puasa

____________

Sumber:

Buku Kesalahan-kesalahan Yang Sering Terjadi dalam Puasa dan Zakat, Ahda Bina A., Lc.

Tags:

One thought on “Benarkah Musafir Tetap Wajib Melaksanakan Puasa Ramadhan?

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.