SHOPPING CART

close
Manajemen Harta

Berpenghasilan Sebelum Menikah Itu… Harus Dong…

Ada seorang mahasiswa punya rencana dan ingin segera menikah. Sudah semester 10, jadi wajar juga sih. Seorang laki-laki yang normal dan sehat, hehe…

Sebenarnya dia belum bekerja. Tapi tiap bulan dia terima uang saku dari orangtuanya cukup banyak. Kalau mau berhemat, bisa untuk hidup dua orang. Kalau begitu, mengapa tidak menikah saja? Pemikiran yang jenius…

Rupanya dia masih ragu-ragu. Untuk itulah dia menemui penulis dan bicara empat mata.

Dengan terus terang, saya berikan nasihat:

“Sebaiknya jangan. Anda harus punya penghasilan dulu, meskipun belum banyak. Setidaknya cukup buat beli beras. Setelah itu, silakan menikah.”

Menikah sambil kuliah, sepertinya romantis banget. Mungkin sudah jenuh mengerjakan tugas akhir sendirian. Tidak semangat. Eh, siapa tahu kalau sudah menikah nanti ada yang kasih semangat. Sehingga lebih cepat selesai. Kira-kira begitulah pertimbangan yang sedikit masuk akal.

Namun sebenarnya ada pertimbangan lain yang patut diperhitungkan.

 

#1. Bekerja adalah kehormatan

Tujuan kita bekerja bukan semata penghasilan. Lebih dari itu, bekerja juga merupakan kehormatan.

Orang yang tidak bekerja, alias pengangguran, identik dengan orang yang tidak mampu. Lemah dan tidak punya apa-apa. Dia adalah beban bagi keluarganya. Dan sewaktu-waktu bisa jadi orang jahat.

Sebaliknya, orang yang bekerja itu berarti dia adalah orang yang berguna bagi keluarga dan masyarakat. Dia memiliki sesuatu yang pantas diberikan untuk orang lain. Dia punya suatu kelebihan yang dibutuhkan orang lain.

 

#2. Menikah itu satu masalah

Ada yang mengatakan, berangkat menuju pernikahan itu sama dengan berangkat ke medan tempur. Awalnya semangat luar biasa, merasa jadi orang paling gagah dan pemberani. Tapi kalau sudah ketemu musuh yang berat, tiba-tiba saja nyali jadi ciut. Timbul penyesalan, hingga mulailah ada niat untuk melarikan diri.

Jadi menikah itu satu masalah yang tidak ringan. Tugas akhir kuliah juga merupakan satu masalah yang berat. Nah, kalau keduanya digabung, berarti ada dua masalah sekaligus yang harus diselesaikan.

“Tapi akan jadi ringan, karena dipikul berdua, Pak.”

Secara teori mungkin ada benarnya. Namun kenyataan tidak seperti itu. Justru banyak mahasiswa yang nasib kuliahnya malah terbengkalai gara-gara menikah. Mungkin satu masalah selesai, yaitu hasrat biologis. Tapi akan lebih banyak masalah bermunculan.

Maka sebaiknya selesaikan dulu kuliah secepatnya, barulah menikah.

 

#3. Suami adalah kepala rumah tangga

Seorang suami, meskipun statusnya masih seorang mahasiswa, adalah seorang kepala rumah tangga. Tanggung jawab ini secara penuh langsung dia sandang sejak hari pertama pernikahan. Sebuah tanggung jawab yang besar dengan segala konsekuensinya.

Sepintas memang kelihatan hebat. Masih kuliah tapi sudah berani menikah. Tapi kalau biaya rumah tangga sepenuhnya masih disubsidi orangtua, akan jadi masalah serius dalam perjalanan hidup berumah tangga. Bukan tidak mungkin, istri sendiri juga diam-diam akan merendahkannya.

 

Kiranya hanya itu yang bisa saya sampaikan. Semoga dapat menjadi bahan pertimbangan.

Bila ada tambahan atau tanggapan, saya persilakan untuk menyampaikan pada kolom komentar. Terima kasih.

Tags:

0 thoughts on “Berpenghasilan Sebelum Menikah Itu… Harus Dong…

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Klik di sini
Perlu penjelasan tambahan?