SHOPPING CART

close
Kultum

Bom Bunuh Diri Itu Beda dengan “Bom Bunuh Diri”

Pernahkah saya kecewa? Pernahkah Anda kecewa? Kita semua pastinya pernah kecewa. Mulai dari kecewa ringan, hingga kecewa berat. Puncak dari sikap kecewa adalah tindakan bunuh diri.

Pertanyaannya: mengapa kita pernah kecewa? Berdasarkan pengalaman saya pribadi, setidaknya ada dua jawaban:

Pertama, karena kita percaya. Semakin percaya, maka semakin kecewa. Sedikit percaya, juga akan sedikit kecewa. Yaitu bila orang yang kita percaya, ternyata kemudian berkhianat. Bisa teman, atasan, bawahan, ataupun pasangan.

Kedua, karena kita berharap. Semakin berharap, maka semakin kecewa. Sedikit berharap juga sedikit kecewa. Baik berharap materi maupun non-materi.

Maka di sinilah kita baru ngeh, arti pentingnya iman dan ikhlas.

Kita boleh saja percaya kepada sesama manusia, namun jangan sampai mengalahkan iman kita kepada Allah. Sebagimana kita boleh saja berharap kepada sesama manusia, namun juga jangan sampai mengalahkan harapan kita kepada Allah Swt.

Puncak dari iman dan ikhlas adalah kesiapan diri untuk mati syahid.

Kebalikan dari sifat iman dan ikhlas adalah hilangnya kepercayaan dan harapan sama sekali. Puncaknya adalah tindakan bunuh diri.

Lalu bagaimana resep anti kecewa itu?

Resepnya amat sederhana, namun amat susah dan berat untuk dilaksanakan. Resepnya kita semua sudah tahu, tapi untuk mendapatkannya kita perlu latihan sepanjang usia. Yaitu iman dan ikhlas tadi. Bila kita perhatikan dengan seksama, ternyata seluruh perintah dan larangan Allah adalah untuk membangun iman dan ikhlas tersebut.

Orang yang beriman memiliki kepercayaan secara penuh, bahwa perbuatan baik pasti ada imbalannya, dunia maupun akhirat. Orang yang ikhlas hanya mengharapkan imbalan tersebut dari Allah Swt. semata.

Dari sinilah dengan mudah kita bisa membedakan antara bom bunuh diri di tanah air, dan bom “bunuh diri” di Palestina, terutama dilihat dari konsep iman dan ikhlas ini.

images
Berjamaah dalam shalat.
images 2
Habis shalat tetap berjamaah.

Yang di Indonesia adalah tindakan yang didorong oleh sikap hilangnya kepercayaan dan harapan. Sebaliknya, yang di Palestina itu merupakan tindakan yang didorong oleh sikap iman dan ikhlas. Kok tahu, bisa kita buktikan dari bagaimana proses rekruitmen masing-masing pelaksananya. Berbeda, jauh berbeda.

Korbannya pun juga jelas berbeda, meskipun sama-sama luka atau meninggal dunia. Korban bom bunuh diri di tanah air adalah orang-orang yang tidak memiliki masalah dengan kepentingan umat Islam. Bahkan mereka tidak pernah mengerti, mengapa mereka harus menjadi korban?

Sedangkan “korban” dari bom “bunuh diri” di Palestina sudah jelas merupakan musuh bukan hanya bagi umat Islam, namun juga musuh bagi seluruh umat manusia, bahkan musuh bagi kemanusiaan itu sendiri. Dan mereka pun sadar, mengapa menjadi target. Karena mereka adalah penjajah dalam arti kata yang sesungguhnya. Tidak kurang dan tidak lebih.

Adapun otak atau dalang dari kedua pelaksanaan bom yang berbeda itu, kita pun bisa menyimpulkan sendiri. Tidak terlalu sulit.

Otak bom bunuh diri di tanah air adalah orang-orang yang berjiwa pengecut, sehingga mereka harus bersembunyi dan lari dari tanggung jawab.

Sedangkan otak bom “bunuh diri” di Palestina adalah para ksatria. Mereka mengumumkan diri sebagai pihak yang bertanggung jawab.

Allahu a’lam.

Tags:

0 thoughts on “Bom Bunuh Diri Itu Beda dengan “Bom Bunuh Diri”

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Beasiswa

Hukum Keluarga Islam

Klik di sini
Need help?
Bila ada sesuatu yang ingin disampaikan, baik berupa pertanyaan maupun konfirmasi tentang artikel ini, maka kami persilakan...