SHOPPING CART

close

Bukti Sifat Fathanah Nabi Ibrahim vs Raja Namrud (2)

Dalam kesempatan ini, kami akan menyampaikan dua kisah yang menunjukkan sifat fathanah para nabi yang cemerlang, yaitu kisah Nabi Ibrahim ‘alaihis.

Sifat cerdas anugerah Allah

Di antara kisah yang menunjukkan kecerdasan seorang nabi, bisa kita baca dalam Surat al-Anbiya’, mulai ayat ke-51 sampai ayat ke-70. Dalam ayat-ayat ini, Allah Swt. memberikan contoh akan kecerdasan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam.

وَلَقَدْ آَتَيْنَا إِبْرَاهِيمَ رُشْدَهُ مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا بِهِ عَالِمِينَ.

Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan adalah Kami mengetahui keadaannya. (al-Anbiya’: 51)

Berani menegur ayahnya

Dengan petunjuk dari Allah dan kecerdasannya itu, kemudian Nabi Ibrahim menegur ayahanda dan kaumnya:

إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ: مَا هَذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنْتُمْ لَهَا عَاكِفُونَ؟

Ingatlah, ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya, “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya?” (al-Anbiya’: 52)

Ternyata ayah maupun kaumnya tidak mempunyai alasan yang masuk akal atas pertanyaan Nabi Ibrahim itu. Mereka melakukan ibadah itu hanya sebagai ibadah warisan nenek moyang.

قَالُوا وَجَدْنَا آَبَاءَنَا لَهَا عَابِدِينَ.

Mereka menjawab, “Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya.” (al-Anbiya’: 53)

Strategi dakwah

Dengan kecerdasan dan keberaniannya, Ibrahim pun membuat strategi dakwah untuk menunjukkan kebenaran kepada kaumnya. Sebuah argumen yang tidak bisa dibantah sama sekali. Ketika mereka sedang lengah, Ibrahim pun menghancurkan berhala-berhala mereka, kecuali berhala yang paling besar.

فَجَعَلَهُمْ جُذَاذًا إِلَّا كَبِيرًا لَهُمْ لَعَلَّهُمْ إِلَيْهِ يَرْجِعُونَ.

Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar dari patung-patung yang lain, agar mereka kembali untuk bertanya kepadanya. (al-Anbiya’: 58)

Dai yang pemberani

Karena tidak ada yang bisa dijadikan tersangka dalam kasus itu selain Ibrahim, maka mereka pun mendatangkan Ibrahim untuk diinterogasi. Sesuai dengan rencana Ibrahim, mereka menginterogasinya di depan masyarakat luas.

Pada waktu itulah Ibrahim menjawab, bahwa pelaku perbuatan itu bukan dirinya. Pelaku perbuatan itu pastilah berhala paling besar yang masih utuh itu.

قَالُوا: فَأْتُوا بِهِ عَلَى أَعْيُنِ النَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَشْهَدُونَ. قَالُوا: أَأَنْتَ فَعَلْتَ هَذَا بِآَلِهَتِنَا يَا إِبْرَاهِيمُ؟ قَالَ: بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَذَا فَاسْأَلُوهُمْ إِنْ كَانُوا يَنْطِقُونَ.

Mereka berkata, “Bila demikian, bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan.” Mereka bertanya, “Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, wahai Ibrahim?” Ibrahim menjawab, “Sebenarnya patung yang paling besar itulah yang melakukannya. Maka tanyakanlah kepada berhala itu, bila patung-patung itu dapat berbicara.”

(al-Anbiya’: 58)

Kalah berdebat

Tentu saja mereka tidak bisa menerima pengakuan Ibrahim tersebut. Namun di saat yang sama, mereka juga mulai menyadari kebenaran yang dibawa Ibrahim.

فَرَجَعُوا إِلَى أَنْفُسِهِمْ فَقَالُوا إِنَّكُمْ أَنْتُمُ الظَّالِمُونَ. ثُمَّ نُكِسُوا عَلَى رُءُوسِهِمْ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا هَؤُلَاءِ يَنْطِقُونَ.

Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka, dan mereka pun berkata, “Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya diri sendiri (zalim).” Kemudian kepala mereka menjadi tertunduk seraya berkata, “Sesungguhnya kamu (wahai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara.” (al-Anbiya’: 64-65)

Argumen yang dahsyat

Pada saat yang juga telah diperhitungkannya dengan tepat itu pula, Ibrahim memperoleh kesempatan yang sangat bagus untuk menyampaikan argumen yang tidak terbantahkan sama sekali. Apabila sudah nyata bahwa berhala-berhala itu berbicara saja tidak bisa, lalu mengapa mereka menyembahnya.

قَالَ: أَفَتَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكُمْ شَيْئًا وَلَا يَضُرُّكُمْ. أُفٍّ لَكُمْ وَلِمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ، أَفَلَا تَعْقِلُونَ.

Ibrahim berkata, “Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak pula mendatangkan mudharat kepadamu? Ah, celakalah kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Apakah kamu belum juga mau menggunakan akalmu?” (al-Anbiya’: 66-67)

Kemenangan demi kemenangan

Karena tidak lagi mampu mengimbangi kecerdasan Ibrahim tersebut, orang-orang kafir pun berusaha membungkam mulut Ibrahim dengan cara membunuhnya. Artinya, apabila memang Ibrahim di pihak yang benar, tentulah Tuhan Ibrahim akan menolongnya. Dan mereka hendak membunuh Ibrahim itu dengan alasan menolong tuhan-tuhan mereka, yaitu para berhala itu.

Inilah kehancuran logika dengan sehancur-hancurnya, ketika harus berhadapan dengan argumen Ibrahim yang dahsyat ini. Mereka sudah mengakui berhala-berhala itu tidak bisa berbuat apa-apa, tapi sebenarnyalah mereka yang kemudian harus menolong berhala-berhala yang mereka agung-agungkan dan sembah. Dan mereka yakin dengan seyakin-yakinnya, dengan cara itu mereka akan memenangkan pertarungan logika ini.

قَالُوا: حَرِّقُوهُ وَانْصُرُوا آَلِهَتَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ.

Mereka berkata, “Bakarlah dia, dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak.” (al-Anbiya’: 68)

Pertolongan dari Allah

Dan di saat yang amat kritis inilah, kemudian Allah menolong Ibrahim. Di saat inilah, kecerdasan Ibrahim memperoleh sokongan dengan kekuasaan Allah Swt.. Allah memberikan perintah kepada api untuk tidak membakar Ibrahim, namun justru menjadi terasa sejuk baginya. Dengan demikian, “pertandingan” pun berakhir dengan kedudukan 2:0. Gol pertama merupakan buah strategi dakwah Ibrahim yang gemilang. Gol kedua merupakan gol bunuh diri dari pihak lawan, sebagai buah tindakan bodoh orang-orang kafir itu sendiri.

قُلْنَا: يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ. وَأَرَادُوا بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الْأَخْسَرِينَ.

Kami berfirman, “Wahai api, menjadi dinginlah. Dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.” Mereka hendak berbuat tipu daya terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi.” (al-Anbiya’: 69-70)

Subhanallah!

Dengan kecerdasannya, Ibrahim mengalahkan argumen seluruh penduduk kerajaan itu dan seluruh pemimpin mereka. Padahal Ibrahim hanya seorang saja.

Demikianlah kecerdasan memainkan peranan dalam suksesnya dakwah, ketika kecerdasan itu bekerja di bawah tuntunan wahyu. Sedangkan kecerdasan yang berdiri di atas kebatilan itu akhirnya akan tumbang dengan kebodohan tindakan orang-orang kafir sendiri.

_____________

Sumber dan Bacaan: 

– Buku ar-Rusul war-Risalat‘, Syeikh Umar Sulaiman al-Asyqat.

– Artikel Shifat al-Anbiya’ war RusulSyeikh Batul ad-Daghim. mawdoo3.com

– Buku Dahsyatnya 4 Sifat NabiAhda Bina A. Lc. 

Tags:

One thought on “Bukti Sifat Fathanah Nabi Ibrahim vs Raja Namrud (2)

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.