SHOPPING CART

close

Tips Menumbuhkan dan Merawat Sifat Shidiq

Berikut ini penulis sampaikan tips tentang bagaimana kita melatih diri kita sendiri untuk bisa memiliki sifat shidiq. Poin-poin berikut ini penulis sarikan dari Kitab al-Kadzib oleh Muhammad bin Ibrahim al-Hamd.

1. Memohon Pertolongan kepada Allah Swt.

Memang sifat shidiq merupakan salah satu sifat yang amat mulia, namun sungguh tidak mudah kita selalu bersikap shidiq dalam semua keadaan. Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita selalu memohon pertolongan kepada Allah Swt. untuk diberi kemudahan bersikap shidiq.

Rasulullah Saw. memberikan contoh urgensi doa untuk memohon pertolongan dari Allah untuk selalu memiliki hati yang condong kepada kebajikan. Marilah kita perhatikan hadits berikut ini:

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ: كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ. قَالَتْ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا لأَكْثَرِ دُعَائِكَ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ. قَالَ: يَا أُمَّ سَلَمَةَ، إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِىٌّ إِلاَّ وَقَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ، فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ.

Dari Ummu Salamah, ia berkata: Doa yang paling banyak dibaca Rasulullah Saw. yaitu (yang artinya), “Wahai Dzat yang membolak-balik hati, mantapkanlah hatiku atas agama-Mu.”

Lalu aku pun berkata pada beliau, “Wahai Rasulullah, alangkah seringnya engkau berdoa: Wahai Dzat yang membolak-balik hati, mantapkanlah hatiku atas agama-Mu.”

Beliau bersabda, “Wahai Ummu Salamah, sungguh setiap manusia hatinya selalu dalam genggaman Allah. Dia menjadikan hati manusia berkehendak baik atau buruk sesuai dengan kehendak-Nya” (HR. Tirmidzi)

Dan Allah mengajarkan doa yang menunjukkan pentingnya memohon pertolongan kepada Allah untuk selalu memiliki hati yang lurus melalui lisan orang-orang mendalam ilmunya dengan firman-Nya:

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا.

Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami. (Ali ‘Imran: 8)

2. Selalu Merasa dalam Pengawasan Allah Swt.

Sifat shidiq akan muncul sebagai perwujudan keyakinan, bahwa kita selalu dalam pengawasan Allah Swt.. Kita bersikap shidiq karena dorongan keimanan kita, bahwa Allah Swt. selalu mengawasi setiap gerak-gerik kita. Apabila kita mampu selalu menghadirkan kesadaran ini, niscaya kita memiliki motivasi yang kuat untuk selalu bersikap shidiq. Allah Swt. berfirman:

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ، مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ، وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا، ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ، إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ.

Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (al-Mujadilah: 7)

3. Membiasakan Diri Bersikap Shidiq

Pada suatu kesempatan, secara pribadi penulis sempat memperoleh nasihat dari Rektor Universitas Islam Negeri Malang, Bapak Prof. Dr. Imam Suprayogo. Beliau menyampaikan, bahwa semua perbuatan itu menjadi amat ringan karena biasa kita lakukan. Orang yang biasa bangun awal dan shalat Shubuh berjamaah di masjid, akan merasa tidak nyaman apabila bangun kesiangan yang menyebabkannya tidak bisa shalat Shubuh berjamaah di masjid. Sebaliknya, orang yang biasa bangun dan shalat Shubuh jam lima pagi, akan merasa tidak nyaman apabila harus bangun lebih awal untuk shalat Shubuh berjamaah di masjid.

Hal itu kiranya juga berlaku untuk pembiasaan sifat shidiq di sini. Orang yang biasa bersikap shidiq, akan merasa tidak nyaman apabila tidak bersikap shidiq. Sebaliknya, orang yang biasa bersikap kadzib, akan merasa tidak nyaman apabila tidak bersikap kadzib. Oleh karena itu, usaha membiasakan diri bersikap shidiq merupakan salah satu kiat untuk mendorong diri kita selalu bersikap shidiq.

4. Selalu Mengingat Akibat dari Perbuatan Baik dan Buruk

Sifat shidiq bisa kita tumbuhkan dengan selalu mengingat akibat dari perbuatan baik maupun perbuatan buruk. Perbuatan baik akan memberikan akibat yang baik, sebagaimana perbuatan buruk akan memberikan akibat yang buruk. Boleh jadi pada awalnya perbuatan baik memberikan akibat yang pada awalnya buruk, tapi pada akhirnya pasti akan memberikan akibat yang baik. Sebagaimana perbuatan buruk boleh jadi pada awalnya memberikan akibat yang baik, tapi pada akhirnya pasti akan memberikan akibat yang buruk.

Dengan selalu mengingat akibat dari masing-masing perbuatan baik maupun buruk itu, kita akan memperoleh motivasi untuk selalu bersifat shidiq. Kita tetap bersikap shidiq, meskipun pada awalnya berakibat pada kerugian. Kita yakin kerugian itu bersifat sementara. Dan kita yakin dengan sikap shidiq pada akhirnya akan memperoleh keuntungan yang bersifat duniawi maupun ukhrawi.

5. Melatih Anak untuk Bersikap Shidiq Sejak Kecil

Orang tua memiliki peranan yang amat penting dalam menata kebiasaan dan sifat anak. Seperti kita pahami, anak-anak merupakan peniru ulung. Apabila orang tua memberikan teladan kebaikan, dengan mudah anak pun menirunya. Demikian pula, apabila orang tua melakukan keburukan, anak pun dengan mudah akan menirunya.

Berkaitan dengan sifat shidiq ini, orang tua memiliki peranan utama dalam menanamkan sifat shidiq pada diri anak. Ketika orang tua berlaku kadzib, anak akan memiliki keyakinan bahwa berlaku kadzib itu tidak masalah. Berlaku kadzib, apalagi hanya sekali-sekali, bisa ditolerir. Ketika itulah anak sudah siap untuk berlaku kadzib, tinggal menunggu waktu saja untuk melakukannya.

Boleh jadi anak berlaku kadzib dengan meniru sikap kadzib yang dilakukan salah seorang temannya di sekolah. Baik orang tua maupun bapak/ibu guru yang mengetahui hal itu, memiliki tanggung jawab yang sama untuk segera mungkin meluruskannya. Dengan teguran yang diberikan secara langsung, anak akan memahami bahwa perbuatan kadzib sama sekali tidak bisa dibenarkan. Dengan demikian, anak akan terbiasa bersikap shidiq sejak dini, dan akan dia teruskan dengan mudah sepanjang hidupnya.

6. Mendirikan Shalat dengan Benar

Sebagaimana firman Allah Swt. Bahwa sesungguhnya shalat itu mampu mencegah pelakunya untuk tidak melakukan perbuatan yang buruk. Dan sikap kadzib merupakan salah satu contoh perbuatan yang buruk. Dengan demikian, apabila kita mampu mendirikan shalat dengan benar, sudah pasti kita akan mampu menghindari sikap kadzib. Dengan menghindari sikap kadzib, kita pun telah bersikap shidiq.

Allah Swt. berfirman:

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ، إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ.

Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. (al-‘Ankabut: 45)

Di dalam shalat kita belajar untuk selalu berusaha sadar, bahwa diri kita terus-menerus dalam pengawasan Allah Swt. Di dalam shalat bahkan kita sebenarnya sedang berhadapan dengan Allah Swt. Dan di dalam shalat kita pun bisa merasakan Allah demikian dekat dengan diri kita, dan kita pun terasa demikian dekat dengan Allah.

Dengan perasaan yang demikian dekat, kita pun merasa ringan untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik, dan merasa berat untuk melakukan perbuatan-perbuatan buruk.

7. Bergaul dengan Orang-orang Yang Shidiq

Secara umum, pergaulan menentukan akhlak. Orang yang bergaul dengan orang-orang yang berakhlak baik, pada umumnya memiliki akhlak yang baik. Demikian pula, orang yang banyak bergaul dengan orang-orang yang berakhlak buruk, pada umumnya memiliki akhlak yang buruk.

Oleh karena itu, sifat shidiq bisa ditumbuhkan dengan bergaul bersama orang-orang yang shidiq. Orang-orang yang shidiq akan menghargai sifat shidiq. Mereka menghindari sifat kadzib, karena sifat kadzib amat dibenci di kalangan mereka.

Allah Swt. berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ، وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ.

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang bersifat shidiq. (at-Taubah: 119)

8. Memperbanyak Tilawah al-Qur’an

Bacaan menentukan pola pikir pembacanya. Demikian kuat pengaruh bacaan, sehingga ada ungkapan, “Sebutkan bacaan Anda, maka saya akan sebutkan sifat-sifat Anda.” Apabila kita biasa membaca buku-buku yang bermanfaat, kita pun akan memikirkan hal-hal yang bermanfaat. Apabila kita biasa membaca buku-buku yang tidak masuk akal, kita pun akan berpikir tentang hal-hal yang tidak masuk akal.

Al-Qur’an merupakan bacaan terbaik. Di sana terdapat berbagai kisah tentang pribadi-pribadi terbaik sepanjang masa, yaitu para nabi dan manusia-manusia pilihan lainnya. Di sana terdapat hikmah yang senantiasa terbit tiap kali manusia bijak membacanya, sehingga kitab tafsir pun tiada henti bermunculan. Dan kita pun sudah memahami, sifat shidiq merupakan salah satu sifat utama pribadi-pribadi yang mulia itu. Sifat shidiq merupakan sebab utama seseorang mampu menemukan hikmah-hikmah yang bertaburan dalam al-Qur’an. Dan oleh karenanya, dengan sendirinya kita pun memperoleh motivasi yang begitu kuat untuk memiliki sifat shidiq yang mulia ini.

_____________

Sumber dan Bacaan: 

– Buku Dahsyatnya 4 Sifat NabiAhda Bina A. Lc. 

– Buku ar-Rusul war-Risalat‘, Syeikh Umar Sulaiman al-Asyqat.

– Artikel Shifat al-Anbiya’ war RusulSyeikh Batul ad-Daghim. mawdoo3.com

Tags:

One thought on “Tips Menumbuhkan dan Merawat Sifat Shidiq

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.