SHOPPING CART

close
Pengantar Studi Hadits

Contoh Hadits Shahih

Sebagaimana kita pahami, sebuah hadits disebut sebagai hadits yang shahih, apabila memenuhi 5 kriteria, yaitu:

1. Sanadnya bersambung

2. Seluruh perawinya bersifat ‘adil

3. Seluruh perawinya bersifat dhabith

4. Tidak mengandung syadz

5. Tidak mengandung ‘illah.

Bila kehilangan satu atau lebih dari kelima syarat di atas, maka suatu hadits disebut sebagai hadits yang dha’if.

Berikut ini kami sampaikan contoh sebuah hadits yang shahih.

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Beliau menyampaikan:

حدثنا عبدالله بن يوسف

أخبرنا مالك

عن ابن شهاب

عن محمد بن جُبَيْر بن مطعم

عن أبيه

قال: سمعْتُ رسولَ الله – صلى الله عليه وسلم – قرأ في المغرب بالطور

“Adalah Abdullah bin Yusuf menyampaikan kepada kami,
“Malik menyampaikan kepada kami,
“Dari Ibnu Syihab,
“Dari Muhammad bin Jubair bin Muth’im,
“Dari ayahnya (Jubair bin Muth’im), dia berkata,
“Aku pernah mendengar Rasulullah Saw. membaca Surat at-Thur dalam Shalat Maghrib.”
***
Selanjutnya berikut ini beberapa penjelasan tentang kesahihan hadits di atas:
1. Sanad hadits bersambung.
Karena masing-masing perawi bertemu dengan perawi sebelumnya. Untuk mengecek kebenaran hal ini, maka kita bisa mengecek biografi setiap perawi dalam kitab-kitab Rijalul Hadits.
2. Seluruh perawi bersifat ‘adil tanpa kecuali.
Untuk mengetahui hal itu, kita bisa mengecek kesaksian dari para ahli hadits mengenai status setiap perawi.
3. Seluruh perawi bersifat dhabith tanpa kecuali, tidak kurang sedikit pun.
Hal ini bisa kita cek pula melalui kesaksian para ahli hadits yang telah dibukukan dalam kitab-kitab Jarh wa Ta’dil.
Berikut ini kesaksian dari para ahli hadits tentang para perawi hadits di atas:
Abdullah bin Yusuf: seorang yang tsiqah dan mutqin.
Malik bin Anas: seorang imam besar dan hafizh.
Ibnu Syihab az-Zuhri: seorang faqih, hafizh, mutqin.
Muhammad bin Jubair: seorang yang tsiqah.
Jubair bin Muth’im: seorang shahabat, radhiyallahu ‘anhu (semoga Allah meridhainya).
Tsiqah: ‘adil sekaligus dhabith.
Mutqin: orang yang diakui keilmuannya.
Imam: seorang pendiri mazhab besar.
Hafizh: orang yang hafal ratusan ribu hadits dengan sempurna.
Faqih: seorang ahli fiqh (hukum Islam).
4. Matannya tidak bertentangan dengan ayat al-Qur’an maupun hadits yang lebih kuat.
Untuk mengetahuinya secara langsung, tentunya kita harus memahami seluruh ayat al-Qur’an dan isi dari kitab-kitab hadits.
5. Hadits itu tidak mengandung ‘illah.
Tidak ada satu pun ahli hadits yang mempermasalahkannya.
***
Berdasarkan keadaan dan keterangan tersebut, maka hadits di atas termasuk hadits shahih.
Allahu a’lam.
* Sumber bacaan:
– Kitab-kitab Ulumul Hadits
– Blog: alukah.net
Tags:

0 thoughts on “Contoh Hadits Shahih

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Beasiswa

Hukum Keluarga Islam

Klik di sini
Need help?
Bila ada sesuatu yang ingin disampaikan, baik berupa pertanyaan maupun konfirmasi tentang artikel ini, maka kami persilakan...