SHOPPING CART

close

Contoh Sifat Tabligh dalam Kehidupan Sehari-hari

Sifat tabligh itu merupakan sifat yang amat mempesona. Apabila setiap manusia memiliki sifat indah ini, tentu hidup manusia pun menjadi lebih berkah.

1. Tabligh dalam Proses Belajar-Mengajar

Apabila sifat shidiq itu secara umum didominasi oleh siswa/mahasiswa, sifat tabligh ini secara umum didominasi oleh guru/dosen. Apabila sifat shidiq itu lebih kepada proses belajar, maka sifat tabligh ini lebih kepada proses mengajar.

Seorang bapak/ibu guru dan dosen harus bersifat tabligh, artinya ia menyampaikan seluruh pengetahuannya kepada siswa/mahasiswa, tanpa ada yang ia sembunyikan. Ia tidak takut siswa atau mahasiswa anak didiknya akan menjadi lebih pandai daripada dirinya. Justru ia akan bangga apabila anak didiknya menjadi lebih pandai daripada dirinya.

Seorang guru/dosen yang baik tidak menjadikan siswa/mahasiswa sebagai pesaing. Seorang guru/dosen yang baik akan menjadikan siswa/mahasiswanya sebagai lahan untuk menanam amal jariyah. Nabi Muhammad Saw. bersabda:

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ، إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ.

Bila manusia mati, maka terputuslah seluruh amalnya, kecuali tiga hal, yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang masih dimanfaatkan, dan anak saleh yang selalu mendoakannya. (HR. Muslim)

2. Tabligh dalam Menyatakan Kebenaran

Sebagai penerus perjuangan para nabi, sudah sepantasnya setiap dai atau mubaligh juga bersifat tabligh. Artinya, mereka siap menyampaikan dakwah sebagaimana adanya, dan sebagaimana harusnya. Bukan karena akan merugikan dirinya, lalu mereka boleh menyembunyikan materi dakwah yang seharusnya disampaikan kepada umat. Dalam kata mutiara Arab disebutkan:

قُلِ الْحَقَّ وَلَوْ كَانَ مُرًّا.

Katakanlah yang sebenarnya, meskipun itu pahit.

Dalam al-Qur’an kita mendapati banyak ayat yang mencela sifat Bani Israel yang suka menyembunyikan kebenaran, apabila kebenaran itu tidak menguntungkan mereka. Oleh karena itulah, kemudian Allah pun murka kepada mereka. Allah berfirman:

أَفَتَطْمَعُونَ أَنْ يُؤْمِنُوا لَكُمْ وَقَدْ كَانَ فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَسْمَعُونَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ يُحَرِّفُونَهُ مِنْ بَعْدِ مَا عَقَلُوهُ وَهُمْ يَعْلَمُونَ. وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آَمَنُوا قَالُوا آَمَنَّا وَإِذَا خَلَا بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ قَالُوا أَتُحَدِّثُونَهُمْ بِمَا فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ لِيُحَاجُّوكُمْ بِهِ عِنْدَ رَبِّكُمْ أَفَلَا تَعْقِلُونَ. أَوَلَا يَعْلَمُونَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ.

Apakah kamu masih mengharapkan Bani Israel itu akan percaya padamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?

Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata, “Kami pun telah beriman.”

Tetapi apabila mereka berada sesama mereka saja, mereka berkata, “Apakah kamu menceritakan kepada mereka (orang-orang yang beriman) apa yang telah diterangkan Allah kepadamu, supaya dengan demikian mereka dapat mengalahkan argumentasimu di hadapan Tuhanmu? Tidakkah kamu berpikir?”

Tidakkah mereka mengetahui, bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka nyatakan? (al-Baqarah: 75-77)

3. Tabligh dalam Melarang Kemungkaran

Sifat tabligh bukan hanya menyampaikan dakwah yang berupa himbauan untuk melakukan kebajikan, tapi juga menyampaikan dakwah yang berupa larangan dari perbuatan keji dan mungkar. Seringkali melarang kemungkaran ini jauh lebih berat daripada mengajak kepada kebaikan. Oleh karena itu, dengan mudah kita bisa menemukan mubaligh yang bersedia mengajak kebaikan, khususnya di acara-acara pengajian, baik di televisi maupun radio. Tapi sungguh kita jarang menemukan mubaligh yang mengajak umat meninggalkan perbuatan keji dan mungkar.

Beratnya tabligh melarang kemungkaran

Bila kita perhatikan, ternyata memang dakwah melarang perbuatan keji dan mungkar itu lebih berat daripada dakwah mengajak kepada kebajikan. Yang demikian itu, karena pada umumnya orang lebih senang diajak untuk berbuat baik, daripada diajak meninggalkan perbuatan mungkar yang sudah biasa dilakukannya.

Orang lebih mudah diajak melakukan perbuatan baik, karena orang sudah disebut telah melakukan perbuatan baik, meskipun itu hanya sekali-sekali. Seperti sekali-sekali memakai jilbab, sekali-sekali berangkat ke masjid, ataupun sekali-sekali membaca al-Qur’an.

Sementara itu, orang lebih susah untuk meninggalkan perbuatan mungkar. Karena seseorang tidak bisa disebut telah meninggalkan suatu perbuatan mungkar, apabila dia masih sekali-sekali melakukan perbuatan mungkar tersebut.

Sebuah misal, seseorang belum disebut telah meninggalkan perzinahan, apabila sekali-sekali masih melakukan perzinahan. Meskipun hanya sekali-sekali berbuat zina, dia tetap disebut sebagai pezina. Dia baru disebut telah meninggalkan perzinahan, apabila dia telah meninggalkan perzinahan secara total.

Demikian pula halnya seorang pemabuk. Dia belum disebut telah meninggalkan hobi mabuk-mabukan. Apabila sekali-sekali dia masih melakukan perbuatan itu. Meskipun hanya sekali-sekali minum minuman keras, pil koplo, atau pil ekstasi, dia tetap disebut sebagai pemabuk. Dia baru disebut telah meninggalkan perbuatan tersebut, apabila dia telah meninggalkan perbuatan buruk itu secara keseluruhan.

Kisah Bani Israel

Oleh karena itulah, dalam al-Qur’an Allah telah melaknat Bani Israel yang tidak berusaha mencegah perbuatan mungkar yang terjadi di antara mereka. Mungkin saja mereka telah saling mengajak kepada perbuatan baik, namun itu tidaklah cukup.

Allah berfirman:

لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُدَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ، ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ. كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ، لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ.

Orang-orang kafir dari Bani Israel telah dilaknat melalui lisan Daud dan ‘Isa putra Maryam. Yang demikian itu karena mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka tidak saling mencegah perbuatan mungkar yang selalu mereka perbuat. Sungguh, sangat buruk apa yang mereka perbuat. (al-Baqarah: 78-79)

4. Tabligh dalam Menyampaikan Informasi

Di era informasi ini, ternyata tidak mudah memperoleh informasi yang benar-benar valid. Televisi, radio, koran, majalah, dan sumber berita on line pun secara sengaja sering menyampaikan berita yang tidak benar. Tidak jarang para awak media massa yang suka memelintir berita, sehingga muncullah judul-judul berita yang bombastis, memprovokasi dan dusta…

Baik disadari maupun tidak, sifat kitman (menyembunyikan kebenaran) para awak media itu telah memberikan pengaruh negatif yang luar biasa kepada kehidupan masyarakat secara menyeluruh. Mereka telah mengajarkan. Bahwa berdusta itu adalah suatu hal yang lumrah di zaman ini. Mereka telah memberikan teladan yang buruk kepada masyarakat luas. Dan mereka telah menzalimi orang-orang yang menjadi korban dari kejahatan kesalahan informasi. Yang dilakukan secara terang-terangan namun bersama-sama. Sehingga masyarakat mengira bahwa informasi itu adalah benar adanya.

Sudah seharusnya media massa menyampaikan informasi kepada masyarakat secara apa adanya. Namun tugas ini memang tidak ringan. Para jurnalis tentu tidak jarang mendapatkan tekanan dari berbagai pihak yang berkepentingan, sehingga mereka melanggar kode etik jurnalistik tersebut. Memang inilah ujian mereka. Para nabi dan para pejuang dakwah juga menghadapai ujian yang sama, sehingga harus menerima teror, intimidasi, boikot, bahkan usaha pembunuhan.

Dengan demikian, sebenarnya para jurnalis itu tidak sendirian dalam hal menghadapi tantangan yang begitu berat dan bermacam-macam. Dan hal ini akan berlaku hingga akhir zaman.

_____________

Sumber dan Bacaan: 

– Buku ar-Rusul war-Risalat‘, Syeikh Umar Sulaiman al-Asyqat.

– Artikel Shifat al-Anbiya’ war RusulSyeikh Batul ad-Daghim. mawdoo3.com

– Buku Dahsyatnya 4 Sifat NabiAhda Bina A. Lc. 

Tags:

One thought on “Contoh Sifat Tabligh dalam Kehidupan Sehari-hari

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.