SHOPPING CART

close
Manajemen Harta

Dahsyatnya Berhemat dan Menabung

Berhemat dan menabung memang pelajaran yang sudah lama kita peroleh sejak masih kanak-kanak. Baik di rumah maupun di sekolah. Kita diajari untuk hidup sederhana, sesuai dengan kebutuhan, bukan keinginan. Lalu sebisa mungkin juga berhemat dan menabung secara rutin. Sehingga dulu waktu masih TK maupun SD kita pun dibuatkan buku tabungan yang wajib kita isi minimal tiap pekan sekali.

Kita juga sudah meyakini bahwa berhemat dan menabung itu merupakan sikap yang amat terpuji dan dianjurkan oleh agama, termasuk agama Islam. Bahkan bisa menjadi salah satu indikator keimanan dan ketakwaan.

Namun sudah seberapa baik kebiasaan itu telah kita terapkan dalam keuangan keluarga? Semangat inilah yang ingin kita bangkitkan kembali dalam tulisan sederhana ini dalam bentuk kegiatan yang lebih nyata dalam kehidupan keluarga sehari-hari.

Berhemat dan menabung itu dua sejoli

Berhemat dan menabung itu merupakan dua kata kerja yang selalu datang dan pergi secara bersamaan. Di mana ada kata berhemat, maka di sana ada kata menabung. Sebaliknya, kata boros adalah pasangan sejati bagi kata berhutang. Di mana ada kata boros, maka tidak lama kemudian akan datang pasangannya itu, yaitu berhutang.

Hal ini berlaku untuk individu, keluarga, organisasi, sampai pada level pemerintah dan negara. Negara yang kaya, mandiri dan kuat adalah negara yang pandai mengatur pengeluarannya dengan baik, sehingga mampu menyisihkan sebagian pemasukannya sebagai tabungan. Demikian pula sebaliknya, negara berhutang itu karena tidak mampu mencari titik tengah antara pendapatan dan pengeluaran. Dan sebagai akibatnya adalah hutang demi hutang yang tidak tahu kapan bisa dilunasi. Na’udzu billah min dzalik…

Berhemat dan menabung harus dimulai

Sebaik apapun sebuah teori tidak akan memberikan manfaat apapun bila tidak dilaksanakan. Dan waktu yang terbaik untuk memulai kebiasaan terpuji itu adalah sekarang. Sebagaimana waktu yang terbaik untuk menghentikan kebiasaan buruk itu adalah juga sekarang.

Tidak terlalu penting berapa persen dari penghasilan yang mampu kita sisihkan. Yang penting dimulai dulu, dari angka yang sekiranya kita mampu. Misalnya dua persen dulu. Bulan depan lima persen. Lalu tahun depan sepuluh persen.

Memiliki catatan rencana pengeluaran bulanan

Untuk bisa menabung, terlebih dahulu kita harus mampu mendeteksi apa saja pengeluaran rutin setiap bulan beserta besarannya. Misalnya SPP sekolah anak, tiap bulan 200 ribu. Belanja harian untuk makan, 600 ribu. Bensin, 200 ribu. Dan seterusnya, sehingga kita mampu memprediksi pengeluaran bulan berikutnya.

Hal ini sepertinya sepele, namun sangat penting. Karena dari sinilah kita mampu membuat prioritas pengeluaran dengan benar.

Berhemat bukan berarti kikir dan pelit

Banyak orang tidak mampu membedakan antara sikap hemat dan kikir. Memang keduanya memiliki persamaan yang kuat, yaitu sama-sama mengerem pengeluaran. Bedanya, orang hemat itu membatasi diri jangan sampai melebihi keperluan. Sedangkan orang kikir itu mengerem pengeluaran sampai di bawah kebutuhan.

Misalnya kebutuhan makan setiap hari satu keluarga adalah 60 ribu, tidak boleh kurang. Orang hemat akan bersikap disiplin dengan 60 ribu. Tidak akan mengeluarkan uang 60 ribu, kecuali ada tambahan penghasilan. Sedangkan orang yang kikir akan berusaha mengeluarkan uang di bawah 60 ribu itu, bahkan meskipun ada penghasilan tambahan.

Maka berhemat dan kikir itu serupa tapi tak sama. Semangatnya sama, yaitu menekan pengeluaran. Tapi praktiknya berbeda. Orang hemat akan bersikap fleksibel sesuai dengan pemasukan. Sementara orang kikir akan tetap berusaha menekan pengeluaran di bawah kebutuhan, berapapun pemasukannya.

Pengeluaran menyesuaikan pemasukan

Pengeluaran tidak boleh melebihi pemasukan. Bila pengeluaran melebihi pemasukan, akibatnya adalah hutang. Bila pengeluaran di bawah pemasukan, kita bisa menabung. Kalau pengeluaran sama dengan pemasukan, itu kebetulan yang meskipun tidak buruk, namun juga tidak baik. Oleh karena itu, kita harus berusaha mengatur pengeluaran sebaik mungkin dengan membuat skala prioritas.

Prioritas yang pertama adalah yang wajib kita bayarkan, seperti: biaya makan harian, biaya anak sekolah, bayar listrik, iuran perumahan untuk kebersihan dan keamanan.

Prioritas yang kedua adalah yang sunnah, yang sangat dianjurkan kita bayarkan, seperti: memberikan santunan pada keluarga yang sedang sakit, memberikan bantuan pada orang miskin, atau infak pembangunan sekolah. Atau juga biaya jalan-jalan ke taman rekreasi bersama keluarga.

Prioritas yang ketiga adalah yang mubah, yang boleh dikerjakan sebagai hiburan. Seperti ganti hape, beli laptop, atau televisi. Karena yang lama sudah usah dan ketinggalan zaman, meskipun masih berfungsi dengan baik.

Bergaul dan belajar pada orang kaya

Ada sebuah teori bagus menyatakan:

Coba kita sebutkan nama sepuluh orang teman yang paling dekat dengan kita. Perkirakan penghasilan mereka setiap bulan, lalu jumlahkan. Kemudian bagi sepuluh. Itulah penghasilan kita setiap bulan.

Mungkin tidak tepat betul. Tapi hal itu bisa menjadi gambaran betapa kuatnya pengaruh seorang teman pada pola pikir dan kerja kita. Oleh karena itu, bila kita ingin meningkatkan penghasilan setiap bulan, sebaiknya kita juga merubah pergaulan, dengan siapa selama ini kita banyak menghabiskan waktu untuk bertukar pikiran dan pengalaman.

Orang kaya yang kita maksud tentu saja tetap kita pilih orang-orang yang saleh dan peduli pada kepentingan orang lain dan masyarakat. Bukan penjahat kelas kakap yang justru akan menjerumuskan hidup kita di kemudian hari.

Dari mereka hendaknya kita bisa belajar bagaimana mengatur pengeluaran dengan benar. Selain juga meningkatkan penghasilan dengan baik.

Rasakan manfaat dan akibatnya

Perbuatan baik itu biasanya sedikit pahit dan berat pada waktu mengerjakannya. Namun akan nikmat dan baik pada akhirnya. Sedangkan perbuatan buruk itu sebaliknya. Nikmat pada awalnya, namun sangat menyakitkan pada akhirnya.

Inilah keadilan dari Yang Maha Adil. Namun seringkali kita memilih yang manis dan nikmat di awal, dan tetap mengharapkan yang manis dan nikmat sampai akhir. Nah ini mustahil. Bertentangan dengan sifat keadilan yang telah ditetapkan oleh-Nya.

Apa sih manfaat berhemat dan menabung

Terlalu banyak yang bisa disebutkan dari manfaat berhemat dan menabung. Di antaranya adalah berikut ini:

– punya rumah pribadi

– kendaraan pribadi

– berangkat haji bersama keluarga

– berangkat umrah bersama keluarga

– beli rumah lagi buat investasi dan usaha kontrakan

– dan seterusnya…

Tanpa berhemat dan menabung, mustahil kita bisa mencapai itu semua. Kecuali kita memperoleh harta warisan yang sangat banyak. Atau dapat undian. Atau hadiah dari orang lain yang kaya raya dan dermawan.

Penutup

Betapa sering kita berusaha merubah orang lain untuk menjadi lebih baik. Namun seberapa seringkah usaha yang telah telah kita lakukan untuk merubah diri sendiri supaya lebih baik? Padahal merubah orang lain itu sebenarnya hanya akan berhasil bila kita telah berhasil merubah diri sendiri untuk menjadi lebih baik terlebih dahulu. Lalu orang lain itu akan merubah dirinya sendiri, karena telah melihat perubahan yang baik pada diri kita.

Tags:

0 thoughts on “Dahsyatnya Berhemat dan Menabung

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Beasiswa

Hukum Keluarga Islam

Klik di sini
Need help?
Bila ada sesuatu yang ingin disampaikan, baik berupa pertanyaan maupun konfirmasi tentang artikel ini, maka kami persilakan...