SHOPPING CART

close
Arba'in Nawawiyah

Luasnya Ampunan Allah (42)

Di antara nikmat Allah kepada kita sebagai orang yang beriman adalah kita membenci perbuatan dosa, apalagi dosa besar. Namun tidak jarang, kita pun keblabasan. Sehingga kita menganggap bahwa pelaku dosa besar itu sama dengan orang kafir. Bahkan sepertinya Allah tidak akan pernah mengampuninya sampai kapanpun…

Atau kita sendiri yang merasa sudah terlalu banyak berbuat dosa, bisa jadi telah putus harapan dari rahmat Allah. Kita menganggap sepertinya mustahil Allah bersedia mengampuni kita.

Padahal tidak demikian…

Di antara sifat Allah adalah al-Ghafur. Artinya Dia Maha Pengampun. Allah bersedia mengampuni seluruh dosa hamba-Nya, sebanyak dan sebesar apapun. Dengan satu syarat, yaitu kita mau bertaubat pada-Nya.

Dengan demikian, pintu rahmat dan maghfirah Allah selalu terbuka kepada siapapun. Termasuk kepada orang yang sudah terlalu banyak berbuat dosa. Baik dosa kecil maupun dosa besar.

Selanjutnya marilah kita perhatikan hadits berikut ini dengan baik. Semoga Allah sentiasa melimpahkan taufik dan hidayah-Nya bagi kita semua. Amin…

Teks Hadits

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ عَنْهُ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: يَا بْنَ آدَمَ، إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ مِنْكَ وَلَا أُبَالِي، يَا ابْنَ آدَمَ، لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ، ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي، غَفَرْتُ لَكَ، يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا، ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا، لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ رحمه الله وَقَالَ: حَدِيثٌ حَسَنٌ

Terjemah

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:

Aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda, bahwa Allah Swt. berfirman:

“Wahai Anak Adam, sungguh selama engkau selalu berdoa dan berharap pada-Ku, maka Aku akan mengampunimu. Meskipun dosamu sebanyak dan sebesar apapun, Aku tidak perhatikan.

“Wahai Anak Adam, seandainya dosamu sudah bertumpuk setinggi langit, namun kemudian engkau memohon ampun pada-Ku, maka pasti Aku akan mengampunimu.

“Wahai Anak Adam, seandainya engkau menghadap pada-Ku dengan dosa sepenuh bumi, namun engkau tidak  berbuat syirik sama sekali, niscaya Aku akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi pula.”

(HR. Imam Tirmidzi rahimahullah, dan dia berkata: Hasan.)

Catatan dan Keterangan

Selanjutnya berikut ini beberapa catatan dan keterangan yang bisa kami sampaikan:

– Hadits Qudsi

Hadits di atas termasuk hadits qudsi. Yaitu kalam Allah, namun bukan bagian dari al-Qur’an. Statusnya sama dengan hadits pada umumnya, sehingga ada yang shahih dan ada yang dha’if.

– Hadits Hasan

Hadits di atas termasuk hadits hasan. Hadits ini lebih tinggi daripada hadits dha’if, namun di bawah hadits shahih. Secara fungsional dia sederajat dengan hadits shahih.

– Anak Adam

Yang dimaksud dengan anak Adam adalah manusia. Sehingga Nabi Adam As. termasuk dalam kategori anak Adam, dalam arti manusia. Demikian pula Ibunda Hawa. Meskipun Hawa adalah istri Adam, bukan anaknya.

Sebutan ini merupakan wujud kesatuan seluruh umat manusia. Kita memiliki nenek moyang yang satu, sehingga satu ras manusia tidak perlu merasa lebih tinggi maupun lebih mulia daripada ras yang lain.

Hal ini juga menegaskan bahwa nenek moyang kita adalah seorang manusia. Kita tidak memiliki kaitan nasab dengan makhluk yang lain. Baik itu malaikat, jin, monyet, maupun yang lainnya. Melainkan makhluk baru yang diciptakan dari sari tanah, lalu ditiupkan padanya bagian dari ruh-Nya…

– Dosa Sepenuh Bumi Setinggi Langit

Pernahkah kita bayangkan sebanyak apakah itu dosa sepenuh bumi? Berarti pelakunya telah melakukan semua macam perbuatan dosa sepanjang waktu dalam hidupnya. Itu pun masih ditambah dengan ungkapan setinggi langit. Artinya melebihi bayangan manusia. Karena sampai sekarang tidak ada yang tahu sampai di mana itu batasan tingginya langit. Semakin canggih teropong bintang yang dibikin manusia, semakin nampak jauh langit tersebut.

Tentu semua ini sekedar cara Allah menunjukkan kasih dan sayangnya pada umat manusia. Bahwa pintu ampunan-Nya senantiasa terbuka lebar untuk siapapun, termasuk bagi orang yang sebelumnya sangat gemar berbuat dosa.

– Allah Tidak Terlalu Perhitungan

Allah adalah Dzat Yang Maha Lapang Dada. Dia bersedia memaafkan seluruh kesalahan hamba-Nya, asalkan hamba tersebut bersedia mengakui kesalahan dan memohon ampunan dengan tulus.

Lebih dari itu, hadits ini menunjukkan bahwa Allah demikian dekat dengan hamba-Nya. Dia tidak terlalu perhitungan. Rahmat-Nya jauh melebihi kezaliman manusia, bagaimanapun zalimnya manusia itu. Dengan satu syarat, yaitu hendaknya jangan sampai kita menduakan Allah dalam hal aqidah atau keyakinan. Bahwa Dia-lah yang pantas untuk kita sembah dalam arti sesungguhnya.

– Selalu Optimis dengan Ampunan-Nya

Secara tegas dan gamblang hadits ini mengajari kita untuk selalu berharap ampunan Allah. Bahwa Allah Maha Mengetahui dosa-dosa kita bahkan sebelum kita diciptakan.

Oleh karena itu, kita tidak perlu merasa pesimis dengan sifat Maha Murah dan Maha Pengampun-Nya. Pintu maaf-Nya selalu terbuka lebar bagi siapa saja dan kapan saja. Tinggal manusia sendiri, apakah bersedia memanfaatkan kesempatan ini dengan sungguh-sungguh. Atau malah melewatkannya begitu saja sampai tiba-tiba ajal telah menjemputnya. Na’udzu billah min dzalik…

– Kesalahan Yang Mulia

Orang berbuat salah itu buruk. Namun adakalanya kesalahan itu akan selalu mengingatkan kelemahan diri kita sebagai manusia yang bisa berbuat salah. Dengan demikian, kita pun mampu untuk selalu menghormati orang lain yang juga pernah berbuat salah.

Sebaliknya, orang berbuat baik itu mulia. Namun adakalanya perbuatan baik itu akan menjerumuskan diri kita pada kesombongan yang amat dibenci Allah. Karena telah banyak berbuat baik, boleh jadi akan membuat diri kita mudah meremehkan orang lain yang amalnya lebih sedikit. Apalagi kepada orang yang pernah berbuat salah. Hal ini sangat berbahaya di sisi Allah.

– Berdoa Tanda Beriman

Doa bukan sekedar ibadah, apalagi karena kebutuhan baik duniawi maupun ukhrawi. Namun doa merupakan tanda berimannya seorang hamba.

Allah sangat senang apabila ada hamba-Nya yang berdoa pada-Nya. Baik memohon kepentingan akhirat maupun keperluan dunia.

Adakalanya seorang hamba tidak ingat kepada Allah. Mungkin karena merasa semuanya sudah terasa cukup. Sehingga dia merasa tidak perlu berdoa.

Pada saat itulah kemudian Allah memberikannya kesempatan untuk mengingat-Nya kembali. Yaitu dengan berbuat dosa. Di mana dia diberikan ujian yang sangat berat dan tidak mampu menahan hawa nafsunya sendiri. Dan terjerumuslah dia ke dalam lembah maksiat.

Dia pun akhirnya merasakan kebutuhan yang sangat pada pertolongan dan kemurahan Allah. Dia pun kembali mengiba dan bermunajat pada-Nya. Mengakui segala kelemahan dan kesalahan. Dia memohon ampunan. Dan Allah pun memberikan ampunan-Nya. Allah menunjukkan kemurahan-Nya yang tiada bertepi kepadanya dan seluruh umat manusia.

Dan yang demikian itu merupakan tanda bahwa seorang hamba masih beriman dengan baik.

– Kuasa Allah Tidak Berkurang dengan Maksiat Hamba-Nya

Inilah bedanya manusia dengan Allah. Manusia yang sedang berkuasa itu akan terlihat dan merasa berkurang kuasanya apabila aturannya diacuhkan oleh orang lain. Sementara Allah tidak demikian.

Allah tetap berkuasa dengan penuh, meskipun seluruh umat manusia kompak bermaksiat dengan seburuk-buruk maksiat. Sebagaimana kuasa Allah tidak bertambah, meskipun seluruh umat manusia selalu taat dengan sebaik-baiknya.

Hal ini karena jumlah umat manusia bukanlah apa-apa dibandingkan dengan makluk Allah di alam semesta ini. Apalah arti satu gram emas bagi seorang saudagar kaya yang memiliki ribuan ton emas dan permata.

Selain itu, memang sifat-sifat dasar manusia yang kadang suka bermaksiat itu sesungguhnya memang dalam kuasa dan kehendak Allah sendiri. Semua itu masih dalam batas rencana Allah sebagai Sang Maha Sutradara.

– Syarat Diterimanya Taubat: Menjaga Tauhid

Perbuatan dosa seorang hamba, betapapun besar dan banyak, masih akan memperoleh ampunan. Dengan syarat dia mampu menjaga tauhidnya dengan baik.

Tauhid berasal dari kata wahid. Artinya: satu, tunggal. Maknanya: semuanya berasal dari Allah dan pasti kembali pada-Nya. Hanya Dia yang mampu memberikan manfaat maupun mendatangkan mudharat. Hanya Dia yang berhak ditaati aturannya secara mutlak. Hanya Dia yang berhak disembah dengan sesungguhnya…

Inilah syarat utama diterimanya taubat sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas. Semoga Allah menganugerahkan kewaspadaan kepada kita untuk selalu menjaga tauhid hingga akhir hayat…

Penutup

Demikianlah beberapa catatan yang bisa kami sampaikan berkaitan dengan hadits no. 42 dari Kitab Arba’in Nawawiyah. Semoga ada manfaatnya bagi kita semua. Amin…

Allahu a’lam bisshawab.

Tags:

0 thoughts on “Luasnya Ampunan Allah (42)

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Beasiswa

Hukum Keluarga Islam

Klik di sini
Need help?
Bila ada sesuatu yang ingin disampaikan, baik berupa pertanyaan maupun konfirmasi tentang artikel ini, maka kami persilakan...