SHOPPING CART

close
Arba'in Nawawiyah

Ukhuwah Mahabbah dan Iman (13)

Salah satu langkah penting yang Rasulullah Saw. lakukan dalam membangun masyarakat terbaik dan terkuat adalah mempersaudarakan antara kaum Muhajirin (asli Mekah) dengan kaum Anshar (asli Madinah), satu orang per satu orang dengan menyebutkan namanya masing-masing.

Inilah rahasia kekuatan umat Islam yang sejati. Bukan ilmu pengetahuan yang dahsyat, persenjataan yang hebat, maupun ekonomi yang digdaya. Itu ya penting juga. Namun tanpa jiwa persaudaraan, maka semuanya akan menjadi petaka bagi sesama. Malah bisa-bisa menjadi senjata makan tuan.

Marilah sejenak kita perhatikan hadits berikut ini dengan baik. Semoga Allah Swt. berkenan membukakan pintu ilmu dan hikmah-Nya bagi kita semua.

Teks Hadits

،عَنْ أَبِيْ حَمْزَةَ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، خَادِمِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

:عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ

.لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِه

.رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

Terjemah

Dari Abu Hamzah Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, pembantu Rasulullah Saw.:

Bahwa Rasulullah Saw. bersabda:

“Tidak beriman salah seorang di antara kalian, hingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.”

(HR. Bukhari dan Muslim).

Catatan dan Keterangan

Selanjutnya berikut ini beberapa catatan dan keterangan berkaitan dengan hadits di atas:

1. Tidak Beriman

Makna tidak beriman di sini adalah tidak sempurna iman kita bila tidak melakukan yang diperintahkan itu. Jadi iman kita tidak akan bisa sempurna, sampai kita mampu mencintai bagi saudara kita sebagaimana kita mencintai bagi diri sendiri.

Misalnya, bila kita suka diperlakukan dengan lemah lembut, maka kita pun harus memperlakukan saudara kita dengan lemah lembut pula. Kita suka kalau kadang-kadang ditraktir makan siang, maka kita pun sesekali mentraktir saudara kita.

Demikian pula sebaliknya, kalau kita tidak suka dicemberuti, maka kita pun jangan sampai menunjukkan muka cemberut di depan saudara kita. Bila kita tidak suka dijahili, maka kita pun jangan sampai menjahili saudara kita.

Bila kita belum mampu bersikap seperti itu, maka iman kita belum sempurna. Sehingga kita harus berusaha untuk bersikap lebih baik kepada saudara kita.

2. Mahabbah

Kita mencintai saudara kita adalah atas dasar keimanan. Yaitu karena kita sama-sama orang yang beriman kepada Allah. Karena kita sama-sama ingin dekat dan taat pada-Nya. Saling menguatkan untuk mencapai ridha-Nya.

Cinta kita bukan karena mengharap keuntungan duniawi, apapun bentuk dan wujudnya.

Cinta itu sama dengan iman, bisa bertambah dan bisa berkurang. Cinta bisa bertambah dengan perbuatan dan sikap yang memupuk perasaan tersebut. Sebagaimana cinta berkurang oleh perbuatan dan sikap yang merusaknya.

Semua perbuatan yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya adalah perbuatan yang akan merusak mahabbah sesama orang yang beriman. Sebagaimana semua perbuatan yang dilarang merupakan perusak mahabbah.

Atau dengan kata lain, bila kita ingin memupuk dan merawat mahabbah sesama orang yang beiman, maka hendaknya kita semakin taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

3. Tingkatan Ukhuwah

Persaudaraan atau ukhuwah itu ada tingkatan-tingkatannya. Tingkatan yang paling rendah disebut dengan salamatu shadr. Artinya: bersihnya hati kita dari semua persangkaan buruk atas diri saudara kita. Jangan sampai kita memiliki dugaan buruk atau su’uzhan.

Tingkatan tertinggi adalah itsar. Artinya: mendahulukan kepentingan saudara kita di atas kepentingan kita sendiri. Kita lebih mengutamakan kepentingan saudara kita mengalahkan kepentingan diri sendiri.

Tentu saja kita tidak bisa lompat dalam mencapai tingkatan ukhuwah yang paling tinggi. Namun kita harus melakukannya secara bertahap, dari yang terendah dahulu. Lalu setahap demi setahap sampai tingkatan yang paling tinggi.

4. Amal Saleh Menyempurnakan Iman

Dalam hadits ini secara tersirat menyebutkan bahwa amal kebajikan yang kita lakukan akan menyempurnakan iman yang ada di dalam dada.

Iman memang tidak kelihatan. Tidak pula bisa diraba maupun didengarkan. Namun kita bisa mendeteksi bukti keberadaan iman itu dengan amal yang dilakukan seseorang ataupun diri kita sendiri.

Iman yang tersembunyi dalam dada hanya bisa dilihat oleh Allah Yang Maha Melihat. Namun kita bisa mengenali iman itu melalui gerak-gerik dan amal perbuatan seseorang.

5. Iman dan Amal Saling Mempengaruhi

Iman akan bertambah dengan banyaknya amal saleh dan akan berkurang dengan banyaknya maksiat. Oleh karena itu, orang tidak bisa berdalih, bahwa dia boleh melakukan maksiat karena imannya sudah kuat.

Para nabi dan rasul adalah para pribadi yang paling kuat imannya di atas seluruh umat manusia. Dan mereka tidak pernah melakukan maksiat karena menganggap dirinya sudah kebal dari akibat perbuatan dosa. Justru karena derajatnya yang demikian tinggi, mereka semakin taat kepada perintah dan larangan Allah Swt.

Penutup

Demikianlah beberapa catatan dan keterangan yang bisa kami sampaikan. Semoga ada manfaatnya bagi kita bersama.

Allahu a’lam.

Tags:

0 thoughts on “Ukhuwah Mahabbah dan Iman (13)

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Beasiswa

Hukum Keluarga Islam

Klik di sini
Need help?
Bila ada sesuatu yang ingin disampaikan, baik berupa pertanyaan maupun konfirmasi tentang artikel ini, maka kami persilakan...