SHOPPING CART

close
Arba'in Nawawiyah

Takwa dan Ahklak Mulia (18)

Nasihat tentang takwa merupakan pesan paling penting dalam Islam. Sehingga khutbah Jum’at tidak akan sah tanpa nasihat ketakwaan. Sebab takwa merupakan barometer kemuliaan seorang hamba di hadapan Allah Swt.

Namun setiap manusia tidak pernah lepas dari dosa, baik secara sengaja direncanakan maupun khilaf sesaat karena tidak mampu mengendalikan diri. Oleh karena itulah Rasulullah Saw. memberikan sebuah resep: satu dosa satu amal kebajikan. Setiap kita berbuat dosa, hendaknya kita ikuti dengan satu amal kebajikan. Sebab satu amal kebajikan, selain bernilai pahala yang berlipat ganda, juga akan menghapus satu dosa.

Setelah itu, Rasulullah Saw. memberikan pesan, bahwa hendaknya kita selalu bergaul dengan sesama manusia dengan akhlak yang baik. Sebab akhlak yang baik akan menyempurnakan agama kita.

Marilah kita perhatikan hadit berikut ini. Semoga Allah Swt. berkenan membukakan pintu ilmu, hikmah dan hidayah-Nya bagi kita semua.

Teks Hadits

،عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ جُنْدُبِ بْنِ جُنَادَةَ وَأَبِيْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ مُعَاذِ بْن جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا

:عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ

،اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ

،وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا

.وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

 .رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَقَالَ: حَدِيْثٌ حَسَنٌ، وَفِيْ بَعْضِ النُّسَخِ: حَسَنٌ صَحِيْحٌ

Terjemah

Dari Abu Dzar Jundub bin Junadah dan Abu Abdurrahman Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma, dari Rasulullah Saw., beliau bersabda:

“Bertakwalah kepada Allah dimana saja engkau berada.

“Iringilah keburukan dengan kebaikan yang niscaya akan menghapusnya.

“Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik. “

(HR. Tirmidzi, dan dia berkata, “Hadits hasan.” Dan pada salinan yang lain, “Hasan shahih.”)

Catatan dan Keterangan

Selanjutnya berikut ini beberapa catatan dan keterangan mengenai hadits di atas:

– Bersikap Takwa di Manapun dan Kapanpun

Takwa tidak terbatas di tempat tertentu maupun pada waktu tertentu. Takwa kita jaga dalam keadaan bersama orang banyak, hanya berduaan dengan seseorang, maupun ketika sedang sendirian.

Mengapa demikian? Karena takwa ini urusannya adalah dengan Allah Swt. Bukan dengan yang lainnya. Siapapun adanya.

Takwa sendiri sebenarnya tidak kelihatan, karena bertempat di dalam dada. Dada di sini pun bermakna majazi, bukan dalam arti yang sebenarnya. Bukan berarti ketika seorang dokter sedang membedah dada seseorang maka dia mengecek ketakwaan orang itu. Tentu bukan seperti itu maksudnya.

Meskipun takwa itu barang ghaib, tidak bisa ditangkap oleh panca indera. Namun dampaknya bisa diketahui melalui tingkah laku yang bersangkutan. Dan sebagai seorang hamba, kita hanya bisa menilai orang lain berdasarkan amal perbuatannya yang bersifat zahir. Adapun yang batin itu adalah urusan dia dengan Allah Yang Maha Mengetahui.

– Amal Baik Menghapus Dosa

Setiap amal kebajikan yang dilakukan oleh seorang hamba, maka dia akan memperoleh pahala yang berlipat ganda. Dari sepuluh, seratus, tujuh ratus, bahkan tidak terhingga. Terserah Allah Swt.

Selain bernilai pahala, setiap amal kebajikan juga menghapus dosa sebuah amal keburukan. Di sinilah kita bisa merasakan sempurnanya sifat rahmat Allah bagi umat manusia. Sudah dilipatgandakan pahalanya, eh masih juga ada bonus menghapus dosa satu amal keburukan.

Dosa itu ada dua macam, yaitu: dosa besar dan dosa kecil. Dosa besar itu hanya bisa hapus dengan taubat nashuha. Adapun dosa kecil itu bisa hapus dengan sendirinya apabila kita berbuat amal saleh. Seperti berwudhu, shalat, dan sedekah.

Dengan demikian, yang dimaksud dengan dosa dalam hadits ini adalah dosa kecil.

– Bergaul dengan Akhlak Mulia

Akhlak itu kedudukannya lebih tinggi daripada syariat. Artinya, ahklak yang mulia harus sejalan dengan syariat Islam. Tidak boleh akhlak terlepas dari syariat. Keduanya harus berjalan secara beriringan.

Dalam banyak kesempatan Nabi Muhammad Saw. menekankan urgensi akhlak yang mulia kepada sesama manusia. Baik muslim maupun kafir. Semuanya wajib kita hormati hak-haknya dengan baik.

Misalnya akhlak kepada tetangga. Kita dilarang keras mengganggu tetangga. Bahkan hal itu dikaitkan secara langsung dengan kualitas keimanan.

“Barangsiapa berimana kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya dia memuliakan tetangganya.”

“Tidak beriman, tidak beriman, tidak beriman. Yaitu orang yang tetangganya tidak aman dari kelakuan buruknya.”

Jadi antara akhlak, syariat dan aqidah itu sebenarnya satu kesatuan. Secara teori bisa dipelajari secara terpisah. Namun dalam praktiknya ketiganya merupakan satu kesatuan yang utuh.

Inilah rahasia kekuatan umat Islam sepanjang zaman. Nabi Muhammad sendir memperoleh pujian setinggi langit dari Allah Swt. adalah karena akhlak beliau yang sungguh mulia. Bukan karena yang lain.

Penutup

Inilah beberapa catatan dan keterangan tentang hadits arba’in nawawiyah yang ke 18. Semoga ada manfaatnya bagi kita bersama.

Allahu a’lam.

Tags:

0 thoughts on “Takwa dan Ahklak Mulia (18)

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Klik di sini
Perlu penjelasan tambahan?