SHOPPING CART

close
Arba'in Nawawiyah

Dahsyatnya Kehendak Allah (19)

Salah satu sifat utama Allah adalah iradah. Artinya: Maha Berkehendak. Setiap kejadian di langit dan di bumi, yang kecil maupun yang besar, yang remeh-temeh maupun yang amat penting, merupakan semata kehendak-Nya. Tidak ada yang lepas dari rencana-Nya. Semua terjadi tepat sesuai rencana-Nya seratus persen utuh dan bulat.

Tentu saja kadang semua itu membuat kita bertanya-tanya. Khususnya dengan berbagai kejadian buruk dan super jahat. Yang akibatnya membuat sengsara umat manusia termasuk mereka yang tidak berdosa. Yaitu anak-anak yang belum baligh, balita, bayi bahkan janin yang masih ada dalam kandungan. Salah apa mereka sehingga harus menanggung penderitaan panjang dari perang dengan senjata biologi dan pemusnah masal? Benarkah semua itu terjadi dengan kehendak-Nya pula?

Dengan izin Allah, semua itu terjawab dalam artikel sederhana ini. Namun sebelumnya, marilah kita perhatikan hadits yang mulia berikut ini. Semoga Allah berkenan membukakan pintu ilmu, hikmah dan hidayah-Nya bagi kita semua.

Teks Hadits

:عَنْ أَبِي الْعَبَّاسِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ

:كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْماً، فَقَالَ

،يَا غُلاَمُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ

،اْحْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ

،احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ

،إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ

،وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ

،وَاعْلَمْ أَنَّ اْلأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ  يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ

،وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ

،رُفِعَتِ اْلأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ

 .رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَقَالَ : حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ

:وَفِيْ رِوَايَةِ غَيْرِ التِّرْمِذِيِّ

،احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ أَمَامَكَ

،تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ

،وَاعْلَمْ أَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيْبَكَ

،وَمَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ

،وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ

.وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ

.وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً

Terjemah

Dari Abu Al-Abbas Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata:

Suatu saat saya berada dibelakang Nabi Saw. Beliau bersabda: Nak, aku akan mengajarkan padamu beberapa perkara:

“Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu.

“Jagalah Allah, niscaya Dia akan selalu berada dihadapanmu.

“Bila engkau meminta, mintalah kepada Allah.

“Bila engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah.

“Ketahuilah, sesungguhnya bila seluruh manusia bersatu untuk mendatangkan manfaat kepadamu dengan sesuatu, mereka tidak akan dapat memberikan manfaat sedikit pun, kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagimu.

“Dan bila mereka berkumpul untuk mencelakakanmu dengan sesuatu, mereka tidak akan mencelakakanmu, kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagimu.

“Pena telah diangkat, dan lembaran pun telah kering.”

(HR. Tirmidzi, dan dia berkata: “Hadits hasan shahih.”)

Dalam riwayat selain Tirmidzi disebutkan:

“Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapatkan-Nya di depanmu.

“Kenalilah Allah di waktu lapang, niscaya Dia akan mengenalmu di waktu susah.

“Ketahuilah, bahwa apa yang ditetapkan luput darimu, tidaklah akan menimpamu.

“Dan apa yang  ditetapkan menimpamu, tidak akan luput darimu.

“Ketahuilah, sungguh kemenangan itu bersamaan dengan kesabaran.

“Sungguh kemudahan itu bersamaan dengan kesulitan.

“Dan sungguh kesulitan itu bersamaan dengan kemudahan.”

Catatan dan Keterangan

Selanjutnya berikut ini kami sampaikan beberapa catatan dan keterangan berkenaan dengan hadits di atas:

– Menjaga Allah Supaya Allah Menjaga Kita

Bila kita bersedia tunduk dan patuh pada aturan yang telah Allah tetapkan, maka Dia akan menjaga diri kita dari semua yang buruk dan bahaya. Aturan Allah merupakan jaminan keselamatan kita di dunia maupun di akhirat.

– Menjaga Allah Supaya Senantiasa Dekat dengan-Nya

Dengan senantiasa taat pada perintah dan larangan-Nya, maka kita telah mendekatkan diri kepada Allah. Hati menjadi damai, tidak ada rasa khawatir maupun ketakutan kepada apapun. Karena Allah akan selalu memberikan perlindungan.

– Hanya Meminta kepada Allah

Meminta adalah sama dengan mengakui kekurangan atas keterbatasan diri sendiri, sekaligus mengakui kelebihan pihak yang dimintai. Oleh karena itu, hendaknya kita hanya meminta kepada Allah, tidak kepada sesama makhluk. Sebab semua makhluk pada hakekatnya sama-sama lemah dan sama-sama dalam keadaan kekurangan.

– Hanya Memohon Pertolongan pada Allah

Setiap hari minimal belasan kali kita menyampaikan pernyataan di hadapan Allah: Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in. Artinya: Hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.

Kita hanya menyembah kepada Dzat yang bisa memberikan pertolongan. Sehingga kita pun tidak pantas memohon pertolongan kepada siapa saja yang tidak kita sembah.

– Iradah Allah di Atas Iradah Seluruh Makhluk-Nya

Inilah aqidah atau keyakinan setiap orang yang beriman. Namun biasanya aqidah ini berkurang karena maksiat, dan bertambah ketika kita taat pada-Nya.

Sebuah aqidah yang seharusnya menyatu dengan aqidah kita pada dahsyatnya iradah dan kuasa Allah. Adapun iradah dan kuasa makhluk, pasti kalah di hadapan-Nya. Bahkan bila seluruh makhluk bersatu-padu melawan iradah dan kuasa-Nya.

– Pena Telah Diangkat dan Lembaran pun Telah Mengering

Betapa indah dan detailnya ungkapan ini. Hal ini menunjukkan ilmu Allah yang tidak terbatas pada ruang dan waktu. Karena ruang dan waktu sejatinya adalah makhluk-Nya juga.

Dengan sifat-Nya Yang Maha Adil, Dia telah menetapkan segala sesuatu sebelum mencipta.

– Mengingat Allah dalam Setiap Keadaan

Inilah rahasia kesuksesan setiap hamba. Ingat di sini bisa diwujudkan dengan dzikir sepanjang waktu sekaligus taat kepada larangan dan perintah-Nya.

Suatu saat ada seorang shahabat yang datang menghadap Rasulullah Saw. Dia mengadukan keadaan dirinya yang sedang berat melaksanakan syariat Allah. Dia merasa begitu malas dan lemah. Maka beliau memberikan resep: Hendaknya lisanmu jangan pernah lepas dari dzikir. Hal ini menunjukkan:

– Amalan lisan akan membantu amalan tubuh (jawarih).

– Kelemahan itu hadir karena lupa mengingat Allah.

– Dzikir itu mendatangkan pertolongan dari Allah.

– Sebuah amal saleh akan mendatangkan amal saleh yang lain, sebagaimana amal buruk adakan mendatangkan amal buruk yang lain.

Inilah di antara rahasia dzikir kepada Allah. Oleh sebab itu jangan sampai kita lepas darinya.

– Orang Mau Menang Harus Mau Sabar

Semua kemenangan sejatinya hanya datang dari Allah. Adapun manusia seluruhnya adalah sesama makhluk yang sama lemahnya dengan diri kita. Maka kita harus mampu bersabar menanti kedatangan pertolongan Allah tersebut.

Namun demikian, bukan berarti kita tidak berikhtiar sama sekali. Namun jangan sampai kita terlalu mengandalkan ikhtiar itu, apalagi mengesampingkan keyakinan kita bahwa kemenangan itu hanya berkah dari kemurahan Allah. Karena kasih dan rahmat Allah. Bukan amal yang kita lakukan.

– Iradah Manusia dan Iradah Allah

Dalam hal iradah, manusia dan malaikat memiliki iradah yang berbeda. Malaikat diciptakan dengan iradah untuk selalu taat kepada Allah. Tidak pernah sedikit pun punya pikiran untuk maksiat. Sedangkan manusia diciptakan dengan iradah ganda, yaitu: taat dan maksiat.

Dan semua itu merupakan iradah Allah juga. Jadi dengan iradah-Nya, Allah memberikan iradah kepada manusia untuk memilih taat dan maksiat. Sementara malaikat hanya diberikan iradah untuk taat. Tidak ada pilihan yang lain.

– Iradah dan Amal Manusia

Dengan iradah-Nya, Allah memberikan kesempatan kepada manusia untuk menentukan sendiri perbuatannya. Namun ketika manusia berniat untuk melakukan suatu perbuatan, belum tentu dia mampu melakukannya sesuai yang dia inginkan. Kecuali setelah mendapatkan izin dari Allah Swt.

Misalnya ketika manusia ingin melaksanakan shalat. Belum tentu dia mampu melaksanakan shalat, kecuali setelah memperoleh izin dari Allah. Sehingga tubuhnya sehat, ada air untuk berwudhu, dan seterusnya.

Demikian pula ketika manusia ingin melakukan kejahatan. Belum tentu dia mampu mencuri misalnya, apabila tidak ada kesempatan untuk mencuri. Sementara kesempatan itu hanya bisa ada apabila diizinkan oleh Allah.

Oleh karena itu, dengan kemurahan-Nya, Allah memberikan pahala pada manusia atas niatnya yang baik, meskipun dia tidak sempat mengerjakan. Sementara Allah tidak menuliskan dosa pada amal kejahatan yang belum dilakukan. Bahkan bila kita membatalkan niat amal buruk, maka Allah akan memberikan pahala.

– Manusia Bertanggung Jawab Atas Amalnya Sendiri

Manusia tidak dimintai tanggung jawab melainkan apa yang telah dikerjakannya sendiri dalam keadaan sadar dan tanpa paksaan. Dia tidak dimintai tanggung jawab atas amal buruk yang dilakukan orang lain.

Memang ada kondisi tertentu di mana manusia memperoleh dosa, meskipun dia tidak melakukannya secara langsung. Yaitu bila orang lain melakukan dosa karena meniru perbuatannya. Misalnya si A punya keahlian dan biasa mencuri uang melalui kartu ATM. Lalu si A mengajak dan mengajari si B untuk melakukan perbuatan tersebut. Maka setiap si B melakukan pencurian, maka si A akan selalu memperoleh dosa mencuri, tanpa mengurangi dosa si B sedikit pun.

Penutup

Demikianlah beberapa catatan dan keterangan yang bisa kami sampaikan. Semoga ada manfaatnya bagi kita semua.

Allahu a’lam.

Tags:

0 thoughts on “Dahsyatnya Kehendak Allah (19)

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Beasiswa

Hukum Keluarga Islam

Klik di sini
Need help?
Bila ada sesuatu yang ingin disampaikan, baik berupa pertanyaan maupun konfirmasi tentang artikel ini, maka kami persilakan...