SHOPPING CART

close
Arba'in Nawawiyah

Islam Iman Ihsan dan Tanda Kiamat (2)

Islam, iman dan ihsan adalah tiga serangkai yang selau berjalan secara beriringan dalam kehidupan seorang muslim sejati. Bila islam lebih bersifat lahiriyah, maka iman lebih bersifat batiniyah. Keduanya adalah dwi tunggal dalam arti yang sebenarnya. Kemudian keduanya akan semakin sempurna dengan datangnya sikap ihsan dalam diri kita dalam perilaku sehari-hari.

Selanjutnya marilah kita perhatikan hadits berikut ini dengan baik. Memang agak panjang, sehingga diperlukan kesabaran dan ketekunan. Semoga Allah Swt. berkenan membukakan pintu ilmu dan hikmah-Nya bagi kita semua.

Teks Hadits

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ

بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ

إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ، شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ

حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ، وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ

وَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، أَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِسْلاَمِ

فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

اْلإِسِلاَمُ: أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ، وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ، وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ , وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً

قَالَ: صَدَقْتَ، فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ

قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ

قَالَ: أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ، وَمَلاَئِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

قَالَ: صَدَقْتَ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِحْسَانِ

قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ

قَالَ: مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ

قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا

قَالَ: أَنْ تَلِدَ اْلأَمَةُ رَبَّتَهَا، وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ

ثُمَّ انْطَلَقَ

فَلَبِثَ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ: يَا عُمَرَ أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلُ؟ قُلْتُ : اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ

قَالَ: فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتـَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ

رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Terjemah

Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:

Suatu hari, ketika kami sedang duduk di sisi Rasulullah Saw.

Tiba-tiba datang seorang laki-laki yang mengenakan baju sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya.

Hingga kemudian dia duduk di hadapan Nabi, lalu menempelkan kedua lututnya kepada kedua lutut beliau  seraya berkata: “Wahai Muhammad, beritahu aku tentang islam!”

Maka bersabdalah Rasulullah Saw.: “Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Lalu engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan pergi haji jika mampu.“

Kemudian laki-laki itu berkata: “Engkau benar.” Kami semua heran, dia yang bertanya, namun dia pula yang  membenarkan.

Kemudian dia bertanya lagi: “Beritahu aku tentang iman!”

Beliau bersabda: “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir. Dan engkau beriman kepada takdir, yang baik maupun yang buruk.”

Kemudian dia berkata: “Engkau benar.”

Kemudian dia berkata lagi: “Beritahu aku tentang ihsan!”

Beliau bersabda: “Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Namun bila engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”

Kemudian dia berkata: “Beritahu aku tentang hari kiamat!”

Beliau bersabda: “Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya.”

Dia berkata: “Beritahu aku tentang tanda-tandanya!”

Beliau bersabda: “Bila seorang hamba melahirkan tuannya. Dan bila engkau melihat orang-orang yang bertelanjang kaki dan dada, miskin, menggembala domba, namun mereka berlomba-lomba meninggikan bangunan rumahnya.”

Lalu orang itu pun pergi.

Aku terdiam dan termenung. Kemudian beliau bersabda: “Wahai Umar, tahukah engkau siapa yang bertanya tadi?”

Aku menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.”

Beliau bersabda: “Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian, (dengan tujuan) mengajarkan tentang agama kalian.”

(HR. Muslim)

Catatan dan Keterangan

Berikut ini beberapa catatan dan keterangan yang kami sarikan dari Kitab Jami’ul ‘Ulum wal Hikam karya al-Imam Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah:

– Asbabul Wurud Hadist

Yahya bin Ya’mar berkata, “Orang yang pertama kali memperbincangkan masalah takdir di Basrah adalah Ma’bad Al-Jahni. Maka aku dan Hamid bin Abdurrahman Al-Humairi berangkat haji dan umrah dengan harapan: Seandainya saja kita bertemu dengan salah seorang sahabat Rasulullah Saw. dan bertanya padanya tentang apa yang diperbincangkan oleh orang-orang tentang takdir itu.

Dan kami pun bertemu dengan Abdullah bin Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, yang saat itu sedang memasuki masjid. Kami berdua segera mengapitnya, salah seorang dari kami berjalan di sebelah kanan dan yang lain di sebelah kirinya.

Aku berkata (kepada Hamid bin Abdurrahman), “Wahai Abu Abdurrahman, telah datang orang-orang yang membaca al-Quran, namun ilmu mereka sedikit, dan mereka menyangka tidak ada takdir, dan semuanya berjalan sendiri.”

Ibnu Umar pun menyahut, “Bila engkau berjumpa dengan mereka, katakan pada mereka bahwa aku berlepas tangan dari mereka, dan begitu pula hendaknya mereka berlepas tangan dariku. Demi Allah, seandainya orang seperti mereka memiliki emas setinggi gunung, lalu dia infaqkan, Allah tidak akan menerimanya, sehingga mereka beriman kepada takdir.”

Kemudian Ibnu Umar menyampaikan hadits di atas.

– Urgensi Hadits Ini

Hadits ini merupakan hadits yang amat penting, karena menerangkan tentang seluruh pokok agama. Hal ini ditegaskan oleh sabda Rasulullah Saw.,

“Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian, (dengan tujuan) mengajarkan tentang agama kalian.”

Dimana setelah adanya penjelasan tentang islam, iman dan ihsan, Rasulullah Saw. menyebut ketiga hal itu sebagai agama.

Bila kita mencermati makna hadits di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa seluruh ilmu ternyata akan kembali kepada hadits ini. Bahkan seluruh pembahasan yang dilakukan para ulama tidak pernah keluar dari hadits ini. Para pakar fiqih, misalnya, tidak akan keluar pembahasannya dari ibadah, harta, dan yang berhubungan dengan darah (dima’).

Pembahasan ini masuk dalam bagian islam, termasuk pembahasan akhlak yang jarang dibahas oleh mereka. Demikian pula dengan dua kalimat syahadat yang merupakan akar islam.

Dan ketika para ulama aqidah melakukan pembahasan tentang Allah, malaikat, kitab-kitab, para rasul, hari akhir dan takdir, termasuk pembahasan tentang ilmu makrifat dan muamalat, maka mereka sebenarnya hanya membicarakan tentang ihsan dan iman.

– Islam Adalah Amalan Zahir

Rasulullah Saw. menerangkan bahwa Islam adalah amal zahir yang berupa perkataan dan perbuatan. Pertama adalah mengucapkan kalimat: La ilaha illallah dan Muhammadur-rasulullah, yang merupakan amal lisan. Sementara mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa dan pergi haji bagi yang mampu, semua ini merupakan amal perbuatan, dengan rincian:

  • shalat dan puasa sebagai amal anggota tubuh
  • zakat sebagai amal harta
  • haji sebagai amal anggota tubuh sekaligus amal harta, terutama bagi yang jauh dari Mekah.

Dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Hibban, pada definisi Islam terdapat tambahan kata umrah, mandi jinabat dan wudhu. Hal ini menunjukkan bahwa semua amal zahir merupakan bagian dari Islam.

Sementara pada hadits di atas Rasulullah Saw. menyebutkan lima perkara saja, menunjukkan bahwa lima perkara itu adalah pokok-pokok agama.

Hadits yang menegaskan bahwa semua amal yang bersifat zahir sebagai bagian Islam adalah sabda Rasulullah Saw. berikut ini:

– “Orang Islam yaitu orang yang orang lain selamat dari lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

– “Ada seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW, “Islam yang mana yang lebih baik?” Beliau bersabda, “Engkau memberi makan, dan mengucapkan salam kepada orang yang telah engkau kenal dan yang belum engkau kenal.” (HR. Bukhari dan Muslim)

– “Diantara sempurnanya islamnya seseorang adalah dia meninggalkan apa yang dia tidak ada kepentingan dengannya.” (Hadits no. 12 dalam buku ini).

– Iman Adalah Amalan Batin

Adapun iman, dalam hadits di atas Rasulullah SAW memberikan penjelasan bahwa iman itu ada pada keyakinan yang bersifat batin (lawan dari zahir). Beliau bersabda, “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir. Dan engkau beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk.”

– Lima Rukun Iman

Dalam Al-Quran, kelima rukun iman pertama di atas disebutkan secara tegas. Diantaranya firman Allah Swt., “Tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi.” (QS. Al-Baqarah 2: 177). Memang tidak ada satu pun ayat yang secara tegas (sharih) menyebutkan kata takdir dalam pengertian hadits di atas, namun hal itu tidak menjadi alasan untuk tidak beriman kepada takdir, karena:

– Iman kepada nabi berarti iman kepada seluruh informasi yang diberikan oleh nabi, termasuk informasi tentang takdir ini.

– Asbabul wurud hadits di atas menunjukkan kewajiban beriman kepada takdir, dimana Ibnu Umar berkata, “Demi Allah, seandainya orang seperti mereka memiliki emas setinggi gunung, lalu dia infaqkan, Allah tidak akan menerimanya, sehingga mereka beriman kepada takdir.” Dengan latar belakang seperti itu, Ibnu Umar mengisahkan hadits di atas.

– Amat banyak ayat Al-Quran yang menjelaskan tentang kebenaran takdir, meskipun tidak menggunakan istilah ini. Diantaranya firman Allah, “Mereka berkata: “Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?.” Katakanlah: “Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah.” Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata: “Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini.” Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditetapkan (ditakdirkan) akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh.” (QS. Ali ‘Imran 3: 154).

– Unsur Iman kepada Takdir

Iman kepada takdir mengandung dua unsur:

– Iman bahwa Allah telah mengetahui seluruh amal manusia, yang baik maupun buruk, yang berupa ketaatan maupun maksiat, sebelum mereka diciptakan. Termasuk siapa diantara manusia yang akan masuk surga atau neraka, serta mempersiapkan pahala dan dosa sebagai balasan amal mereka masing-masing, sebelum mereka diciptakan. Allah telah menetapkan itu semua. Sehingga amal manusia seluruhnya berjalan sesuai dengan pengetahuan dan ketentuan-Nya. Takdir dalam pengertian ini juga diterima oleh kelompok Qadariyah, kecuali sebagian Qadariyah yang nyeleneh, seperti Ma’bad Al-Jahni dan ‘Amr bin ‘Ubaid.

– Iman bahwa Allah menciptakan seluruh amal manusia, sikap kafir maupun beriman, amal taat maupun maksiat, sesuai dengan kehendak-Nya. Takdir dalam pengertian ini diingkari oleh Qadariyah.
Berkaitan dengan dua unsur iman kepada takdir di atas, para ulama salaf berpesan, “Tanyakanlah kepada Qadariyah tentang “ilmu”. Bila mereka menerima kebenaran ilmu itu, maka mereka bisa diajak dialog. Namun bila mereka mengingkari ilmu itu, maka mereka telah kafir.” Ilmu yang dimaksud oleh ulama salaf adalah ilmu Allah yang azali tentang seluruh amal manusia.

– Perbedaan Islam dan Iman

Dalam hadits di atas, Rasulullah Saw. menjelaskan perbedaan antara islam dan iman, dimana beliau memasukkan semua amal ke dalam wilayah islam, bukan iman. Tapi benarkah bahwa iman tidak memerlukan amal?
Para ulama salaf dan ahli hadits berpendapat bahwa iman itu berupa perkataan dan amal (qaul dan ‘amal), bahkan semua amal masuk dalam wilayah iman. Hal itu berdasarkan:
– Firman Allah, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal.” (QS. Al-Anfal 8: 2).
– Sabda Rasulullah Saw., “Aku perintahkan kepada kalian empat perkara: beriman kepada Allah semata. Tahukah engkau makna beriman kepada Allah? Yaitu bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, puasa Ramadhan, dan engkau menyerahkan seperlima dari harta rampasan.” (HR. Bukhari dan Muslim).
– Sabda Rasulullah Saw., “Iman itu ada tujuh puluh satu cabang. Atau enam puluh satu bagian. Yang paling pokok adalah ucapan La ilaha illallah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri dari jalan. Dan rasa malu merupakan salah satu bagian dari iman.” (HR. Bukhari dan Muslim).
– Sabda Rasulullah Saw., “Tidaklah seorang pezina ketika berzina dalam keadaan beriman. Tidaklah seseorang minum khamer ketika minum dalam keadaan beriman. Dan tidaklah seorang pencuri ketika mencuri dalam keadaan beriman.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Lalu bagaimana kita memahami pengertian islam dan iman berdasarkan firman Allah dan hadits-hadits diatas?
Beberapa istilah memiliki pengertian yang sama bila disebutkan secara terpisah, namun memiliki pengertian yang berbeda bila disebutkan secara bersamaan. Misalnya istilah fakir dan miskin. Bila kata fakir dan miskin digunakan pada tempat yang terpisah, maka kata fakir dan miskin memiliki pengertian yang sama, yaitu orang yang memerlukan bantuan. Namun bila disebutkan dalam satu tempat, maka kata fakir berarti orang yang tidak punya penghasilan sama sekali, sehingga dia membutuhkan pertolongan orang lain. Sementara kata miskin berarti orang yang mempunyai penghasilan, namun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhannya, sehingga juga membutuhkan pertolongan orang lain. Demikian pula halnya kata islam dan iman. Bila kata islam dan iman digunakan pada tempat yang terpisah, masing-masing istilah itu memiliki pengertian yang sama. Namun bila disebutkan pada tempat yang sama, maka masing-masing istilah itu memiliki pengertian yang berbeda.

– Muslim Belum Tentu Mukmin

Tidak semua orang islam berarti juga orang yang beriman. Allah SWT berfirman, ” Orang-orang Arab Badui itu berkata, “Kami telah beriman.” Katakanlah, “Kamu belum beriman, tapi katakanlah ‘kami telah tunduk’ (telah islam).” (QS. Al-Hujurat 49: 14). Suatu saat Sa’d bin Abi Waqqash bertanya kepada Rasulullah SAW, “Kenapa Anda tidak memberi si Fulan, padahal dia orang yang beriman?” Beliau menjawab, “Dia orang islam.” (HR. Bukhari dan Muslim). Artinya Rasulullah SAW tidak memberi si Fulan karena dia belum beriman, meskipun dudah berislam.

– Iman Hilang karena Maksiat

Sifat iman bisa hilang dari diri orang yang berbuat maksiat. Rasulullah Saw. bersabda, “Tidaklah seorang pezina ketika berzina dalam keadaan beriman. Dan tidaklah seseorang minum khamer ketika minum dalam keadaan beriman. Dan tidaklah seorang pencuri ketika mencuri dalam keadaan beriman.” (HR. Bukhari dan Muslim). Namun para ulama berbeda pendapat tentang hukum orang yang berbuat maksiat itu, apakah dia disebut orang yang kurang beriman atau orang yang tidak beriman.

– Orang Berbuat Dosa Jadi Kafir atau Fasiq?

Adapun sifat islam tidak hilang dari diri seseorang yang meninggalkan sebagian kewajiban atau melanggar beberapa larangan, sebab tidak ada keterangan dari Rasulullah Saw. yang menjelaskan hal itu, kecuali dia melakukan sesuatu yang jelas-jelas akan menghilangkan sifat islam. Namun para ulama berbeda pendapat tentang hukum orang yang melakukan dosa besar, apakah dia disebut orang kafir atau orang fasik.

– Iman Bertingkat-tingkat

Iman itu bertingkat-tingkat, dan yang tertinggi adalah iman shiddiqin (orang yang benar-benar beriman), yang dengan imannya seakan-akan melihat yang ghaib; tiada keraguan sedikit pun dalam hati mereka. Oleh karena itu Rasulullah SAW menjelaskan bahwa ihsan yaitu bila engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya.

– Iman Islam Ihsan

Tiga perkara ini, yaitu islam, iman dan ihsan merupakan perkara besar. Sebab dengan ketiga perkara ini Allah menetapkan nasib manusia, antara bahagia dan sengsara, antara surga dan neraka. Dan perbedaan pendapat dalam perkara ini merupakan awal perbedaan pendapat dalam tubuh umat Islam, dengan munculnya kelompok Khawarij. Dimana kelompok Khawarij ini menganggap orang-orang yang melanggar perintah atau larangan Allah telah keluar dari Islam, yang berarti mereka telah kafir, sehingga layak diperlakukan seperti orang kafir; halal darah dan hartanya. Kemudian muncul pula kelompok Mu’tazilah dengan al-manzilah bainal-manzilain-nya. Serta kelompok Murjiah yang berpendapat, “Adalah orang yang fasik (berdosa besar) tetap beriman sepenuhnya.

– Sabda Rasulullah Saw. tentang Iman

Berikut ini kami nukilkan beberapa sabda Rasulullah Saw. tentang iman:

“Tiga perkara, siapa saja mendapati tiga perkara ini pada dirinya, maka dia akan merasakan nikmatnya iman, yaitu: bila Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya, dia mencintai seseorang hanya karena Allah, dan dia membenci kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya, sebagaimana dia benci dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim).

“Tidaklah seorang diantara kalian beriman, sehingga aku menjadi orang yang dia cintai melebihi anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim).

“Siapa saja yang merasa senang dengan perbuatan baiknya, dan merasa sedih dengan perbuatan buruknya, maka dia orang yang beriman.” (HR. Ahmad, dengan sanad shahih).

“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal kasih sayang, perhatian dan empati diantara mereka adalah seperti satu tubuh. Bila satu bagian tubuh itu sedang sakit, maka seluruh tubuh akan turut merasakannya, sehingga merasa demam dan tidak bisa tidur.” (HR. Bukhari dan Muslim).

“Orang-orang Islam itu seperti tubuh satu orang saja. Bila mata sakit, maka seluruh tubuh turut sakit. Bila kepala sakit, maka seluruh tubuh turut sakit.” (HR. Bukhari dan Muslim).

“Tidaklah beriman salah seorang diantara kalian sehingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim, hadits no. 13 dalam buku ini).

“Demi Allah, tidak beriman. Demi Allah, tidak beriman. Demi Allah, tidak beriman.” Para sahabat bertanya, “Siapa itu, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Orang yang tetangganya tidak selamat dari sifat buruknya.” (HR. Bukhari).

“Tidaklah beriman orang yang kenyang sementara tetangganya kelaparan.” (HR. Hakim dengan sanad shahih).

– Ihsan dalam al-Qur’an

Adapun ihsan, amat banyak disebutkan dalam Al-Quran. Suatu kali dikaitkan dengan iman, pada kali lain dikaitkan dengan islam, dan pada kali lain dikaitkan dengan takwa atau amal yang shalih. Yang dikaitkan dengan iman misalnya:

– “Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu, apabila mereka bertakwa serta beriman, dan berihsan (mengerjakan amal-amal yang saleh), kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, kemudian mereka (tetap juga) bertakwa dan berihsan (berbuat kebajikan). Dan Allah menyukai orang-orang yang berihsan (berbuat kebajikan).” (QS. Al-Maidah 5: 93).

– “Sesunggunya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amal(nya) dengan yang baik (berihsan).” (QS. Al-Kahfi 18: 30).

Yang dikaitkan dengan islam misalnya:

“Tidak demikian, bahkan barangsiapa yang berislam (menyerahkan diri) kepada Allah, sedang ia berihsan (berbuat kebajikan), maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah 2: 112).

“Dan barangsiapa yang berislam (menyerahkan dirinya) kepada Allah, sedang dia orang yang berihsan (berbuat kebaikan), maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.” (QS. Luqman 31: 22).

– Mungkinkah Manusia Melihat Allah?

Allah SWT berfirman, “Bagi orang-orang yang berihsan (berbuat baik), ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya.” (QS. Yunus 10: 26).

Dalam Shahih Muslim disebutkan bahwa Rasulullah Saw. menjelaskan kata “tambahan” di atas dengan kesempatan melihat wajah Allah Swt. di surga. Ini merupakan pahala bagi orang yang berihsan. Sebab ihsan yaitu bila seorang hamba menyembah Allah di dunia dengan perasaan selalu dilihat dan diawasi, seakan-akan dia melihat-Nya dengan pandangan hati. Maka pahala yang setimpal bagi orang seperti itu adalah melihat Allah dengan sesungguhnya di akhirat nanti.

Sebaliknya, balasan yang diterima orang-orang kafir di akhirat nanti adalah seperti firman Allah, ” Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari Tuhan mereka.” (QS. Al-Muthaffifin 83: 15). Dan itu sebagai balasan bagi sikap mereka semasa hidup di dunia, yaitu mereka menutup hati sehingga mereka tidak pernah merasa dalam pandangan dan pantauan-Nya, dan sebagai balasannya mereka tidak akan bisa melihat-Nya di akhirat.

– Beribadah dengan Ihsan

Sabda Rasulullah Saaw., “Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya.”

Demikianlah semestinya seorang hamba beribadah kepada Allah. Dia merasakan kedekatan dengan Allah, dirinya selalu merasa di hadapan-Nya, hingga seakan-akan dia melihat-Nya, hingga dia merasa takut, khawatir, segan, sekaligus rasa hormat. Hal ini ditegaskan oleh hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah, dimana Rasulullah SAW menjelaskan ihsan yaitu: “Engkau takut kepada Allah, seakan-akan engkau melihat-Nya.” (HR. Muslim).

Dengan ihsan ini pula, akan tumbuh semangat untuk lebih giat beribadah, kesungguhan untuk mencurahkan segenap kemampuan demi meningkatkan dan menyempurnakan kualitas ibadah. Seorang sahabat meminta nasehat kepada Rasulullah SAW, beliau bersabda, “Shalatlah seakan-akan itu adalah shalatmu yang terakhir, sebab bila engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Thabrani, dengan sanad hasan).

– Hukum Membuka Aurat Saat Sendirian

Ketika seorang sahabat bertanya tentang hukum membuka aurat ketika seseorang sedang sendirian, Rasulullah SAW bersabda, “Sudah sepantasnya bila dia lebih merasa malu kepada Allah.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah, dengan sanad hasan).

– Dua Pengertian Ihsan dalam Ibadah

Sabda Rasulullah Saw., “Namun bila engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”

Mengandung dua pengertian:

Pertama: Ketika seorang hamba diperintahkan untuk selalu merasa dalam pengawasan Allah sewaktu beribadah, maka hal itu amat sulit baginya. Oleh karena itu dia berusaha mencapai hal itu dengan keyakinan bahwa bila dia tidak melihat Allah, maka sesungguhnya Dia melihat dirinya, lahir maupun batin, hingga tidak ada yang bisa dia rahasiakan dari-Nya. Bila hal ini telah bisa dicapainya, maka lebih mudah baginya untuk masuk pada tahapan berikutnya, yaitu selalu merasa dalam pengawasan Allah, hingga seakan-akan dia melihat-Nya.

Kedua: Ketika seorang hamba merasa kesulitan untuk menyembah Allah dengan cara seakan-akan dia melihat-Nya, maka hendaknya dia menyembah Allah dengan keyakinan bahwa Allah selalu melihatnya. Oleh karena itu hendaknya dia selalu merasa malu kepada-Nya.

– Pesan Para Ulama Berkaitan dengan Ihsan

Berikut ini beberapa pesan para ulama tentang sikap ihsan:

– Takutlah kepada Allah, jangan sampai engkau menjadikan Allah sebagai pihak yang paling remeh yang melihatmu.

– Takutlah kepada Allah, sesuai dengan kekuasaan-Nya atas dirimu.

– Takutlah kepada Allah, sesuai dengan kedekatan-Nya dengan dirimu.

– Barangsiapa beramal seakan-akan dia melihat Allah, maka dia termasuk golongan yang telah mencapai derajat makrifat. Dan barangsiapa beramal dengan keyakinan bahwa Allah selalu melihatnya, maka dia termasuk golongan orang-orang yang ikhlas (mukhlis).

– Teladan Para Ulama dalam Ihsan

Berikut riwayat dari para salafush-shalih dalam ihsan:

Ketika Malik bin Mughaffal sedang duduk sendirian, seseorang datang dan bertanya, “Tidakkah engkau merasa kesepian?” Malik berkata, “Bagaimana seorang hamba bisa merasa kesepian, sementara Allah selalu bersamanya?”

Ketika sedang sendirian di rumahnya, Habib Abu Muhammad selalu bergumam, “Barangsiapa yang hatinya tidak gembira dengan bersama-Mu, maka selamanya hatinya tidak pernah gembira. Dan barangsiapa yang merasa sendirian ketika bersama-Mu, maka selamanya dia akan merasa sendirian.”

Ghazwan berkata, “Aku selalu mendapati ketentraman setiap kali duduk bersama Dzat yang pada-Nya ada seluruh permintaanku.”

Muslim bin ‘Abid berkata, “Kalau bukan karena hidup bermasyarakat, selamanya aku tidak akan pernah keluar dari rumah hingga aku mati.”

Dia menambahkan, “Di dunia ini, orang-orang yang taat kepada Allah tidak akan memperoleh kenikmatan melebihi kenikmatan ketika berduaan dengan-Nya. Dan di akhirat nanti, menurutku, tidak ada pahala yang lebih besar dan lebih nikmat bagi mereka melebihi kenikmatan melihat wajah-Nya.”

Fudhail berkata, “Beruntunglah orang yang merasa sedih ketika bersama manusia, sementara dia suka menyendiri bersama Allah.”

Ma’ruf berpesan kepada seseorang, “Bertawakallah kepada Allah, sehingga hanya kepada-Nya engkau mengadu dan mencurahkan isi hatimu.”

Dzun Nun berkata, “Di antara ciri-ciri orang yang mencintai Allah adalah dia tidak mencari teman (duduk dan berbicara) selain Allah, dan dia tidak merasa kesepian bersama-Nya.”

– Ihsan dalam ayat dan hadits yang lain

Berkaitan dengan ihsan, berikut firman Allah dan sabda Rasulullah Saw.:

“Dan Dia bersama kamu di mama saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hadid 57: 4).

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat.” (QS. Al-Baqarah 2: 186)

“Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada.” (QS. Al-Mumtahanah 58: 7)

”Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya.” (QS. Yunus 10: 61).

“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS. Qaaf 50: 16)

“Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bisa bersembunyi dari Allah. Allah selalu beserta mereka.” (QS. An-Nisa’ 4: 108).

“Ketika salah seorang diantara kalian sedang shalat, maka sesungguhnya Allah berada antara dirinya dan kiblat.” (HR. Bukhari).

“Sesungguhnya Allah menghadapkan wajah-Nya kepada orang yang sedang shalat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

“Sesungguhnya Allah menghadapkan wajah-Nya kepada wajah seorang hamba ketika dia sedang shalat, selama hamba itu tidak berpaling.” (HR. Tirmidzi, Ahmad, Hakim dan Abu Ya’la dengan sanad shahih).

“Sesungguhnya kalian tidak sedang berdoa kepada Dzat yang tuli dan jauh (dari kalian). Sesungguhnya kalian sedang berdoa kepada Dzat yang Maha Mendengar dan amat dekat (dengan kalian).” Demikian sabda Rasulullah SAW kepada orang-orang yang suka mengeraskan doa dan dzikir. (HR. Bukhari dan Muslim).

Namun janganlah kita menganggap dekatnya Allah seperti dekatnya kita dengan sesama manusia atau makhluk Allah yang lain. Allah berfirman, “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS. Asy-Syuura 42: 11).

– Hanya Allah Yang Mengetahui Kapan Datangnya Hari Kiamat

Bila seseorang memberikan informasi bahwa hari kiamat akan datang pada tanggal atau tahun sekian, maka bisa dipastikan orang itu berdusta. Sebab pengetahuan seluruh makhluk tentang waktu datangnya hari kiamat adalah sama, yaitu sama-sama tidak tahu. Dengan kata lain, waktu datangnya hari kiamat termasuk pengetahuan yang hanya dimiliki Allah SWT. Hal ini dijelaskan oleh hadits diatas, “Kemudian dia berkata: “Beritahu aku tentang hari kiamat!” Beliau bersabda: “Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya.” Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat.” (QS. Luqman 31: 34).

– Tanda-tanda Kiamat dalam Hadits Ini

Dalam hadits ini Rasulullah Saw. memberikan dua contoh tanda-tanda akan dekatnya hari kiamat, yaitu:

1. Adanya hamba sahaya yang melahirkan tuannya.

Sabda Rasulullah SAW tersebut mengisyaratkan akan meluasnya wilayah kekuasaan Islam dan semakin banyaknya budak. Diantara budak-budak itu ada yang digauli oleh tuannya, lalu melahirkan anak. Dengan demikian anak budak tersebut adalah sekaligus anak tuan budak itu. Sementara anak tuan juga berarti tuan bagi budak itu. Lebih lanjut Imam Ahmad menjelaskan maksud hadits ini, bahwa ada seorang anak budak yang telah dibebaskan, lalu dia membeli sang ibu yang masih menjadi budak, dan memperlakukannya sebagai budak, sementara dia tidak tahu bahwa wanita itu adalah ibunya.

2. Adanya orang-orang yang bertelanjang kaki dan dada, miskin, menggembalakan kambing, namun mereka berlomba-lomba meninggikan bangunan rumahnya.”

Artinya bahwa orang-orang yang sebenarnya tidak bermartabat menjadi pemimpin, lalu hartanya semakin banyak, dan mereka berlomba-lomba meninggikan bangunan rumah. Pada riwayat yang lain Rasulullah SAW bersabda, “Hari kiamat tidak akan datang hingga orang yang paling bahagia di dunia menjadi orang yang paling celaka.” (HR. Tirmidzi dengan sanad shahih). Dan ditegaskan oleh hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, “Bila suatu urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah datangnya kiamat.” (HR. Ahmad, dengan sanad shahih). Maksudnya bahwa bila orang-orang yang bertelanjang kaki dan dada, miskin, menggembala kambing –sebagai gambaran orang yang tidak memiliki pengetahuan dan jiwa kepemimpinan- menjadi pemimpin, hartanya semakin banyak, lalu mereka berlomba-lomba meninggikan bangunan rumahnya –yang dengan itu berarti dia merusak aturan agama- dan berbuat sewenang-wenang, maka tunggulah kiamat.

– Tanda-tanda Kiamat dalam Hadits Yang Lain

Diantara tanda-tanda kiamat yang lain adalah:

1. Dicabutnya ilmu

“Di antara tanda-tanda kiamat yaitu dicabutnya ilmu dan meluasnya kebodohan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

2. Dihinakannya orang baik

“Diantara tanda-tanda kiamat yaitu dihinakannya orang-orang yang baik dan diangkatnya orang-orang yang jahat.” (HR. Hakim dengan sanad hasan).

3. Orang bangga dengan bangunan masjid

“Kiamat tidak akan datang hingga orang-orang saling berbangga dengan bangunan masjid.” (HR. Abu Daud, Nasai, Ibnu Majah dengan sanad shahih).

– Hukum Meninggikan Bangunan

Meninggikan bangunan rumah melebihi kebutuhan termasuk sesuatu yang dilarang oleh agama. Rasulullah Saw. bersabda, “Semua bangunan,” sambil beliau memberi isyarat dengan tangan, “Hendaknya sekian,” di atas kepada beliau, “Lebih dari ini termasuk perbuatan tercela.” (HR. Thabrani, dengan rijal yang tsiqah).

Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa ketika Rasulullah Saw. membangun masjid beliau (yaitu masjid Nabawi) beliau berpesan, “Bangunlah masjid ini setinggi atap Musa ‘alaihis-salam.” (HR. Ibnu Abid-Dunya dengan sanad shahih).

Seseorang bertanya kepada Hasan cucu Rasulullah Saw. tentang atap Musa, dia menjawab, “Bila orang mengangkat tangannya, dia akan menyentuh atap itu.”

– Etika dalam Majelis

Berikut etika dalam majlis ilmu yang bisa kita ambil dari hadits di atas:

– Disunnahkan untuk memperhatikan kondisi  pakaian, penampilan dan kebersihan, khususnya ketika menghadiri majlis ilmu. Hal ini dicontohkan oleh malaikat Jibril yang datang dengan mengenakan baju yang sangat putih, bahkan tidak tampak padanya tanda-tanda selesai melakukan perjalanan jauh. Misalnya keringat atau debu di tubuhnya.

– Bila seseorang menghadiri majlis ilmu, lalu memperhatikan bahwa peserta yang hadir perlu mengetahui suatu masalah, namun tidak ada seorang pun yang bertanya, maka dia boleh bertanya tentang hal tersebut meskipun dia telah mengetahuinya dengan tujuan agar peserta yang hadir dapat mengambil manfaat darinya.

– Bila seseorang ditanya tentang sesuatu yang tidak diketahuinya, maka tidak ada cela baginya menjawab, “Saya tidak tahu.”

– Malaikat Muncul dalam Sosok Manusia

Malaikat bisa tampil dalam wujud manusia untuk keperluan yang diperintahkan Allah Swt. Allah berfirman, “Maka ia (Maryam) mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami (Jibril a.s.) kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna.” (QS. Maryam 19: 17).

Penutup

Demikianlah beberapa catatan dan keterangan yang bisa kami sampaikan dalam kesempatan ini. Semoga ada manfaatnya bagi kita bersama.

Allahu a’lam.

Tags:

0 thoughts on “Islam Iman Ihsan dan Tanda Kiamat (2)

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Prodi Hukum Keluarga Islam