SHOPPING CART

close
Dari Negeri Seberang

Hampir Saja

Sejak pertama kali menginjakkan kaki di bumi Sudan, mata uang negara ini dalam keadaan yang stabil. Maksudnya stabil tiap bulan turun sampai sepuluh persen. Saya turut sedih, sekaligus kasihan pada masyarakat Sudan.

Seorang teman sesama program doktoral yang menyelesaikan magister di sini bercerita. Dulu tahun awal 2000-an, kalau kita tukar uang 100 dolar US maka kita dapat 200 pound Sudan. Tapi tahun lalu (2019), kalau kita tukar 100 USD dapat 6.500 SDG. Sekarang 100 USD dapat 9.000 SDG.

Saya tidak dapat membayangkan bagaimana kalau saya jadi orang Sudan. Pasti sedih, bingung sekaligus geregetan. Namun tidak tahu siapa yang mesti disalahkan. Atau mungkin tahu di mana letak kesalahannya, namun tidak tahu bagaimana memperbaikinya. Atau mungkin saja tahu di mana letak kesalahan dan siapa yang salah, namun tidak bisa berbuat apa-apa untuk memperbaiki keadaan. Tambah sedih saja.

Pecahan uang Sudan setahun yang lalu, yang paling besar adalah 100 SDG. Sekarang sudah banyak beredar yang 500 SDG. Sementara yang paling kecil adalah 1 SDG. Semuanya dalam wujud kertas.

Kondisi ekonomi yang tidak baik ini kadang membuat saya berpikir, kapan semua ini berakhir? Apa jadinya negara kalau keadaan seperti ini berlanjut dan tidak bisa dihentikan?

Untunglah rakyat Sudan adalah masyarakat yang beriman. Di tengah kondisi yang berat ini tetap saja saya menemui kejadian-kejadian yang menakjubkan, yang menunjukkan kualitas takwa yang mumpuni. Seperti kisah sopir tirhal yang bersahaja penampilannya, namun luar biasa akhlaknya. Dia menolak uang tips dengan santun. Karena baginya kami orang asing adalah tamu. Tamu yang harus dia muliakan.

Juga seorang penjual buah apel bidara. Dengan sukarela dia memberikan harga diskon, lebih murah daripada diskon untuk orang Sudan asli. Bahkan bonus satu biji buah apel bidara yang manis dan segar. Demikian pula seorang penjual gargir yang dengan ringan memberikan separuh harga pasaran khusus buat saya. Kadang juga memberikan seikat sayuran secara cuma-cuma.

Satu kejadian lagi yang tak pernah saya lupakan. Waktu itu saya sedang antri naik muwashalat di depan Jami’ah Afriqiyah. Tujuan saya menuju Jaksen. Para penumpang berebut naik, termasuk saya. Dengan susah payah akhirnya saya pun berhasil duduk di kursi bagian belakang. Saya selalu ingat pesan teman-teman yang lebih lama tinggal di Khartoum, hati-hati kalau naik muwashalat. Jaga hape dan dompet dengan baik. Maka setelah duduk itu, secara spontan saya memeriksa hape dan dompet saya. Alhamdulillah hape saya ada, namun di manakah dompet saya?

Saya benar-benar galau, meskipun saya ingat benar bahwa dompet itu hanya berisi beberapa lembar puluhan pound.

Saya sudah periksa saku celana bagian depan, tidak ada. Di saku bagian belakang juga tidak ada. Dalam tas juga tidak ada. Lha terus di mana? Saya masih ingat betul, tadi sebelum naik dompet ada di saku celana bagian depan sebelah kanan. Kalau tidak ada, berarti diambil orang dong? Ya Allah…

Saya sudah pasrah. Sementara kursi samping kanan saya masih kosong. Lalu duduklah penumpang berikutnya di sebelah saya. Namun sebelum duduk dia mengambil sesuatu di kursi sebelah saya itu. Subhanallah, ternyata itu adalah dompet saya. Langsung dia berikan pada saya, karena bentuk dan rupa dompet itu tidak sama dengan dompet orang Sudan pada umumnya.

“Apakah ini dompetmu?”

“Oh ya, benar ini dompet saya. Alhamdulillah… Terima kasih banyak.” Jawab saya dengan penuh rasa syukur.
Jadi rupanya sewaktu saya berusaha naik muwashalat tadi ada seseorang yang sudah berhasil menarik dompet itu dari saku saya. Cuma karena posisi kurang pas, dompet itu tidak bisa ditarik keluar. Jadi masih nyangkut di bagian mulut saku. Kemudian jatuh di kursi sebelah sewaktu saya duduk.

Hampir saja saya kehilangan dompet yang sudah menemani saya sekitar sepuluh tahun ini. Alhamdulillah tidak jadi. Dia masih menjadi milik saya. Berkah kejujuran orang Sudan.

Kondisi ekonomi yang sedang hancur-lebur adalah wajar membuat pengangguran merajalela. Sehingga wajar pula tindak kriminalitas terjadi di mana-mana. Namun justru di situlah akhlak mulia sedang memperoleh ujian yang sebenarnya. Apakah tetap bertahan mulia, ataukah jatuh menjadi tercela.

Sudan, I love you!

Tags:

2 thoughts on “Hampir Saja

  • akbar

    menggugah ustaz, cerahhh

    • Ahda Bina

      Alhamdulillah, terima kasih sudah kerso pinarak, Mas Akbar…

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Klik di sini
Perlu penjelasan tambahan?