SHOPPING CART

close
Belajar Tajwid

Hebatnya Belajar Al-Qur’an

Pendahuluan

Dahsyatnya suatu senjata secara pasti akan menambah kehebatan orang yang memiliki senjata itu. Hal ini berlaku bukan hanya untuk “zaman keris” atau “zaman bambu runcing” dahulu saja, namun juga berlaku untuk “zaman nuklir” sekarang.

Demikian pentingnya senjata itu, hingga kebanyakan orang bahkan kebanyakan negara lebih mementingkan senjata daripada orang yang memegang senjata itu. Kita melihat hampir semua negara berlomba-lomba memiliki senjata yang paling canggih, sementara mereka menganaktirikan pendidikan warganya.

Padahal sehebat apapun suatu senjata, ia tidak akan memberikan kekuatan apapun kepada orang yang berjiwa pengecut. Sementara bagaimanapun sederhananya sebilah senjata, ia akan menjadi senjata yang mematikan di tangan seorang yang berjiwa ksatria.

Al-Qur’an memang tidak bisa dijadikan senjata dalam arti dihantamkan atau ditembakkan kepada musuh. Orang yang menggunakan al-Qur’an sebagai senjata dalam arti demikian jelas telah salah menafsirkan fungsi al-Qur’an. Sama halnya dengan kesalahan orang yang meminum abu kertas yang diambil atau dirobek dari mushhaf al-Quran sebagai obat bagi penyakit tertentu.

Al-Qur’an sebagai wahyu merupakan sarana terbaik bagi umat manusia untuk meningkatkan kualitas kemanusiaannya. Al-Qur’an sebagai sarana utama menyempurnakan kualitas manusia, jelas lebih penting daripada senjata apapun. Sebagaimana hal ini kita saksikan dalam pertempuran heroik awal abad ke-21 sekarang.

Bagaimana pasukan Israel yang berkekuatan lebih dari 400 ribu tentara bisa dihalau oleh pasukan Hamas yang hanya berkekuatan 20 ribu pejuang. Pasukan Israel dilengkapi berbagai senjata paling canggih dari tiga arah (darat, udara dan laut), harus kembali ke kandang dengan perasaan hina.

Sementara Hamas yang mempertahankan diri hanya dengan senjata seadanya bisa memenangkan pertarungan dengan gemilang. Konon, setiap pejuang Hamas selalu menyimpan mushhaf al-Qur’an dalam saku yang dengan mudah mereka jangkau. Bukan berarti mereka membaca ayat-ayat al-Qur’an sebagai mantera seperti yang dilakuan sebagian umat Islam. Namun mereka membaca al-Qur’an sebagai salah satu bukti kedekatan mereka dengan Penentu Setiap Kemenangan.

Dalam kerangka itulah, kita mendapati demikian banyak motivasi yang diberikan oleh Nabi Muhammad saw. bagi umatnya untuk senantiasa belajar dan mengajarkan al-Qur’an. Belajar dan mengajarkan di sini bermakna umum, baik dalam hal membaca, menghafal, memahami maupun mempraktikkan al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Seperti apakah hebatnya orang-orang yang selalu peduli untuk meningkatkan kedekatan mereka dengan al-Qur’an itu? Marilah kita simak bersama uraian berikut ini. Semoga Allah melimpahkan hidayah-Nya kita semua.

1. Sebaik-baik manusia

Kemuliaan suatu majelis diantaranya ditentukan oleh tema yang menjadi bahasan majelis itu. Dan tema apa yang lebih mulia daripada membahas ayat-ayat al-Qur’an? Selain tema bahasan, peserta majelis juga akan menentukan kemuliaan majelis tersebut. Dan siapakah yang lebih mulia daripada orang-orang yang beriman?

Oleh karena itu tidaklah mengherankan bila Nabi Muhammad saw. menyebut bahwa orang yang sedang belajar dan mengajarkan al-Qur’an itu sebagai sebaik-baik manusia.

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik orang di antara kalian yaitu orang yang belajar dan mengajarkan al-Quran.” (HR Bukhari)

2. Bergabungnya malaikat dalam majelis al-Qur’an

Selain tema bahasan dan peserta, suatu majelis juga akan menjadi semakin mulia dengan hadirnya peserta tambahan yang tekun mengikuti jalannya acara. Dan siapakah yang lebih tekun mengikuti suatu aktivitas daripada makluk Allah yang tidak pernah jemu melaksanakan ketaatan, yaitu para malaikat?

Kemuliaan majelis al-Qur’an ini digambarkan oleh Nabi Muhammad saw. dengan sabdanya:

مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ , وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ , إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ , وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ , وَحَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ , وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di sebuah rumah di antara rumah-rumah Allah (yaitu masjid), yang mereka membaca dan mempelajari al-Quran, melainkan turun ketenteraman atas mereka. Rahmat meliputi diri mereka. Dan para malaikat memenuhi majelis mereka. Dan Allah menyebut-nyebut mereka pada siapa yang ada di sisi-Nya.” (HR. Muslim dan Abu Dawud)

3. Kesusahan melipatgandakan pahala

Di antara kemurahan yang diberikan oleh Allah kepada hamba-Nya, Ia melipatgandakan pahala bagi setiap kesusahan yang dialami oleh hamba-Nya ketika berusaha melakukan ketaatan. Hal ini juga berlaku untuk hamba-hamba-Nya yang sedang berusaha belajar membaca al-Qur’an dengan susah payah. Nabi Muhammad saw. bersabda:

مَثَلُ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَهُوَ حَافِظٌ لَهُ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ , وَمَثَلُ الَّذِي يَقْرَأُ وَهُوَ يَتَعَاهَدُهُ وَهُوَ عَلَيْهِ شَدِيدٌ فَلَهُ أَجْرَانِ

“Orang yang membaca al-Quran dengan baik adalah mereka bersama al-safarah al-kiram (para malaikat yang mulia). Adapun orang yang masih belajar dan membaca al-Quran dengan susah payah adalah baginya dua pahala.” (HR. Bukhari)

Oleh karena itu, kita tidak perlu pesimis tentang pahala membaca al-Qur’an, meskipun kita belum lancar membaca al-Qur’an. Justru dalam keadaan susah itulah Allah akan melipatgandakan pahala kita. Subhanallah….

Penutup

Semoga Allah Swt. menjadikan al-Qur’an sebagai penerang dan pembimbing utama hidup kita semua. Amin.

Allah a’lam.

Tags:

0 thoughts on “Hebatnya Belajar Al-Qur’an

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Beasiswa

Hukum Keluarga Islam

Klik di sini
Need help?
Bila ada sesuatu yang ingin disampaikan, baik berupa pertanyaan maupun konfirmasi tentang artikel ini, maka kami persilakan...