SHOPPING CART

close

Inilah Beberapa Contoh Kesempurnaan Pribadi Para Nabi

Setiap nabi adalah pribadi yang sempurna, sehingga mereka pantas menjadi teladan bagi siapa saja yang menginginkan kebahagiaan duniawi maupun ukhrawi. Allah Swt. berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا.

Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat, dan dia banyak menyebut Allah. (al-Ahzab: 21)

Dalam ayat yang lain Allah Swt. berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيهِمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ.

Sesungguhnya telah ada pada diri mereka (para nabi) suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat. (al-Mumtahanah: 6)

Bagaimana sempurnanya pribadi para nabi itu, bisa kita perhatikan pada setiap tingkatan usia mereka. Mereka adalah pribadi yang sempurna, baik sebagai kanak-kanak, remaja, pemuda, maupun setelah mereka dewasa dan hidup berumah tangga. Mereka adalah pribadi yang tetap sempurna, baik sebagai suami, ayah, mertua, majikan, maupun tetangga.

Dalam setiap tingkatan kehidupan tersebut, mereka telah membuktikan diri sebagai pribadi-pribadi yang sempurna, dan karenanya pantas menjadi teladan bagi siapa pun yang mengharapkan kemuliaan hidup di dunia maupun di akhirat.

1. Kanak-kanak Yang Cerdas

Di masa kanak-kanak, setiap nabi adalah anak-anak yang cerdas. Di antara contoh kecerdasan nabi yang masih kanak-kanak diwakili oleh pribadi Nabi Isa ‘alaihis salam.

Penciptaan Nabi Isa

Seperti kita maklumi, dengan kehendak Allah Swt. Nabi Isa ‘alaihis salam lahir dari seorang ibu, tanpa kehadiran seorang ayah. Sebagai orang beriman, kita meyakini kejadian ini tidak mustahil di sisi Allah. Bukankah Allah menciptakan Adam dari tanah, yang tidak berbapak dan beribu?

Allah berfirman:

إِنَّ مَثَلَ عِيسَى عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آَدَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ.

Sesungguhnya perumpamaan Isa di sisi Allah sama dengan perumpamaan Adam. Allah menciptakannya dari tanah, kemudian Dia berfirman padanya, “Jadilah!” Maka jadilah dia. (Ali ‘Imran: 59)

Berbicara dan berlogika

Ketika orang-orang kafir menuduh Ibunda Maryam sebagai perempuan yang telah melakukan perzinahan, beliau memberi isyarat kepada orang-orang kafir itu untuk bertanya kepada Nabi Isa yang masih kanak-kanak.

Allah Swt. berfirman:

فَأَشَارَتْ إِلَيْهِ قَالُوا كَيْفَ نُكَلِّمُ مَنْ كَانَ فِي الْمَهْدِ صَبِيًّا.

Lalu dia (Maryam) menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata, “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?” (Maryam: 29)

Ketika itulah mereka terkejut dengan kecakapan berbicara yang telah Allah berikan kepada Nabi Isa yang masih kanak-kanak. Di masa yang masih kanak-kanak itu, Nabi Isa telah mampu menyampaikan kebenaran kepada kaumnya.

Nabi Yahya

Selain Nabi Isa, ada Nabi Yahya yang secara tegas disebut sebagai nabi yang menerima hikmah sejak kanak-kanak. Allah Swt. berfirman:

وَآَتَيْنَاهُ الْحُكْمَ صَبِيًّا.

Dan Kami berikan hikmah kepadanya (Nabi Yahya) selagi dia masih kanak-kanak. (Maryam: 12-14)

2. Remaja Yang Berhati Bersih

Ketika remaja, setiap nabi memiliki hati yang suci, yang selalu siap melaksanakan perintah dari Allah secara sempurna.

Hal ini diwakili secara jelas oleh sosok Nabi Ismail ‘alaihis salam yang waktu itu dimintai pendapat oleh ayahnya, Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Nabi Ibrahim menerima perintah untuk menyembelih anaknya tersebut, yang pada waktu itu baru satu orang, yaitu Nabi Ismail yang masih remaja.

Dengan sikap yang tegas, Nabi Ismail menyatakan kesanggupannya. Bahkan ia memberikan semangat kepada ayahnya, bahwa ia telah siap menerima perintah itu dengan tabah.

Allah mengabadikan kata-kata Nabi Ismail itu dengan firman-Nya:

قَالَ: يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ، سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ.

Nabi Ismail berkata, “Wahai ayahku, laksanakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya’ Allah engkau akan mendapati diriku termasuk orang yang sabar.” (ash-Shaffat: 102)

3. Pemuda Yang Amanah dan Pandai Menjaga Diri

Semasa muda, setiap nabi merupakan pemuda yang amanah dan pandai menjaga dirinya sendiri, sehingga selamat dari perbuatan dosa. Hal ini bisa kita saksikan pada kisah Nabi Yusuf yang waktu itu digoda oleh isteri majikannya. Seorang wanita yang kaya raya, terpandang, dan cantik. Karena demikian kokoh kepribadian Nabi Yusuf, sampai-sampai isteri majikannya itu mengunci semua pintu rumah, sehingga Nabi Yusuf tidak bisa menghindar.

Di masa yang bagi kebanyakan pemuda dalam keadaan masih labil. Tidak demikian halnya dengan Nabi Yusuf ‘alaihis salam.

Nabi Yusuf telah memiliki kepribadian yang matang. Ia tidak ingin mengkhianati kepercayaan yang telah diberikan majikannya. Ia pun tidak ingin melanggar larangan Allah Swt.

Allah berfirman:

وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَنْ نَفْسِهِ وَغَلَّقَتِ الْأَبْوَابَ، وَقَالَتْ: هَيْتَ لَكَ، قَالَ: مَعَاذَ اللَّهِ، إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ، إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ.

Dan perempuan yang Yusuf tinggal di rumahnya, ia menggoda diri Yusuf. Perempuan itu menutup pintu-pintu, lalu berkata, “Marilah mendekat padaku.” Yusuf berkata, “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.” Sesungguhnya orang yang zalim itu tidak akan beruntung. (Yusuf: 23)

4. Pemuda Yang Giat Bekerja

Semasa muda, setiap nabi juga merupakan pemuda yang giat bekerja. Mereka tidak merasa gengsi melakukan pekerjaan yang mungkin dianggap oleh kebanyakan orang sebagai pekerjaan yang kurang terhormat. Mereka tidak pernah memandang hina kepada pekerjaan apapun, asal memberikan rezeki yang halal dan berkah. Semua pekerjaan pada dasarnya adalah mulia, apalagi bila pekerjaan itu memberikan keterampilan yang akan bermanfaat di masa depan.

Marilah kita simak bersama penuturan Nabi Muhammad Saw. tentang kegiatan yang beliau lakukan di masa muda, yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah t berikut ini:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضى الله عنه، عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَا بَعَثَ اللَّهُ نَبِيًّا إِلاَّ رَعَى الْغَنَمَ. فَقَالَ أَصْحَابُهُ: وَأَنْتَ؟ فَقَالَ: نَعَمْ، كُنْتُ أَرْعَاهَا عَلَى قَرَارِيطَ لأَهْلِ مَكَّةَ.

Dari Abu Hurairah t, dari Nabi Muhammad Saw., beliau bersabda, “Tidaklah Allah mengutus seorang nabi, melainkan ia pernah menggembala kambing.” Para shahabat bertanya, “Apakah Anda juga?” Beliau menjawab, “Benar, aku pernah menggembala kambing milik penduduk Mekah dengan imbalan beberapa dinar.” (HR. Bukhari)

5. Anak Yang Berbakti

Sebagai seorang anak, setiap nabi adalah anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya.

a. Nabi Yahya

Di antara nabi yang secara khusus disebut al-Qur’an sebagai anak yang amat berbakti kepada kedua orang tuanya adalah Nabi Yahya ‘alaihis salam. Allah Swt. berfirman:

وَآَتَيْنَاهُ الْحُكْمَ صَبِيًّا. وَحَنَانًا مِنْ لَدُنَّا وَزَكَاةً وَكَانَ تَقِيًّا. وَبَرًّا بِوَالِدَيْهِ وَلَمْ يَكُنْ جَبَّارًا عَصِيًّا.

Dan Kami berikan hikmah kepadanya (Nabi Yahya) selagi dia masih kanak-kanak, dan (Kami jadikan) rasa kasih sayang (kepada sesama) dari Kami dan bersih (dari dosa). Dan dia pun seorang yang bertakwa, dan sangat berbakti kepada kedua orang tuanya, dan dia bukan orang yang sombong, bukan pula orang yang durhaka. (Maryam: 12-14)

b. Nabi Ibrahim

Nabi yang demikian berbakti kepada orang tuanya juga telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, yang merupakan nenek moyang dari Nabi Yahya ‘alaihis salam. Berbakti di sini tidak selalu dalam bentuk usaha memberikan kebahagiaan di dunia, namun juga berusaha memberikan kebahagiaan di akhirat.

Nabi Ibrahim, sebagai seorang nabi, ia juga mendakwahi orang tuanya. Seorang nabi mendakwahi orang tuanya itu, selain sebagai tugas kenabian, juga merupakan sebagian bentuk bakti kepada orang tua. Dalam menyampaikan dakwah kepada ayahnya ini, Nabi Ibrahim menggunakan pendekatan hubungan antara seorang anak dengan ayahnya.

Dialog yang diabadikan

Allah menggambarkan bagaimana berbaktinya Nabi Ibrahim kepada orang tuanya itu dengan firman-Nya:

إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ: يَا أَبَتِ، لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا, يَا أَبَتِ، إِنِّي قَدْ جَاءَنِي مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ، فَاتَّبِعْنِي أَهْدِكَ صِرَاطًا سَوِيًّا, يَا أَبَتِ، لَا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ، إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمَنِ عَصِيًّا, يَا أَبَتِ، إِنِّي أَخَافُ أَنْ يَمَسَّكَ عَذَابٌ مِنَ الرَّحْمَنِ، فَتَكُونَ لِلشَّيْطَانِ وَلِيًّا. قَالَ: أَرَاغِبٌ أَنْتَ عَنْ آَلِهَتِي يَا إِبْرَاهِيمُ؟ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ لَأَرْجُمَنَّكَ وَاهْجُرْنِي مَلِيًّا. قَالَ: سَلَامٌ عَلَيْكَ، سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّي، إِنَّهُ كَانَ بِي حَفِيًّا.

Ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak bisa mendengar, melihat dan tidak pula bisa menolongmu sama sekali?

“Wahai ayahku, sungguh telah sampai padaku sebagian ilmu yang diberikan padamu. Oleh karena itu, ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan padamu jalan yang lurus.

“Wahai ayahku, janganlah engkau menyembah setan. Sungguh setan itu telah durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pengasih. Wahai ayahku, aku sungguh khawatir engkau akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pengasih, sehingga engkau menjadi teman setan.”

Berkata ayahnya, “Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, wahai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan aku rajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama.

Berkata Ibrahim: “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.(Maryam: 42-47)

Apabila kita amati percakapan di atas, sungguh luar biasa bakti Nabi Ibrahim kepada ayahnya. Setiap kali hendak menyampaikan kalimat, dia mengawalinya dengan panggilan yang menunjukkan hubungan yang amat istimewa di antara keduanya. Hingga ketika ayahnya menolak dakwahnya dengan kasar, Ibrahim pun menjawabnya dengan santun dan penuh kasih. Sungguh, seorang anak yang amat berbakti.

6. Saudara Yang Perhatian dan Pemaaf

Pernahkah kita menyebutkan saudara kita secara khusus dalam untaian doa-doa yang kita mohonkan kepada Allah Swt.? Secara sepintas, mendoakan saudara itu bukan sesuatu yang istimewa. Namun apabila saudara kita menyebutkan nama kita dalam doanya, tentu akan membuat kita amat terharu dan berterima kasih. Mendoakan ini merupakan salah satu puncak perhatian kepada saudara.

Sebagai saudara, seorang nabi amat perhatian kepada saudara-saudaranya yang lain. Hal ini bisa kita dapatkan dalam doa Nabi Musa ‘alaihis salam. Secara khusus beliau menunjuk saudaranya untuk memperoleh ampunan. Allah Swt. mengabadikan doa itu dengan firman-Nya:

قَالَ: رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلأخِي، وَأَدْخِلْنَا فِي رَحْمَتِكَ، وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ.

Musa berdoa, “Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku, dan masukkanlah kami ke dalam rahmat-Mu. Dan Engkau adalah Maha Penyayang dari semua yang penyayang. (al’A’raf: 151)

Selain mendoakan, seorang nabi juga amat pemaaf kepada saudara-saudaranya yang telah menzaliminya di masa yang lalu. Nabi Yusuf ‘alaihis salam merupakan salah satu nabi yang dikenal amat mudah memaafkan kezaliman saudara-saudaranya di masa lalu. Dengan hati yang lapang ia memaafkan mereka. Allah Swt. berfirman:

قَالَ: لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ، يَغْفِرُ اللَّهُ لَكُمْ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ        

Yusuf berkata, “Pada hari ini tidak ada cercaan terhadapmu, mudah-mudahan Allah mengampunimu. Dan Dia Maha Penyayang di antara yang penyayang. (Yusuf: 92)

7. Suami Yang Bertanggung Jawab dan Penuh Cinta

Seperti manusia yang lain, nabi juga memiliki ketertarikan kepada lawan jenis, dan keinginan untuk berumah tangga.

Allah Swt. berfirman:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً.

Dan sesungguhya Kami telah mengutus beberapa rasul sebelum kamu, dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan. (ar-Ra’d: 38)

Urgensi akhlak kepada keluarga

Menegaskan akan sifat fitrah sebagai manusia ini, Nabi Muhammad Saw. pun hidup dengan berumah tangga. Lalu beliau pun memberikan keterangan, bahwa di antara tanda kemuliaan seorang hamba adalah akhlaknya yang baik kepada keluarganya. Beliau bersabda:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى.

Sebaik-baik orang di antara kalian adalah orang yang paling baik kepada keluarganya. Dan aku adalah orang yang baik kepada keluargaku. (HR. Tirmidzi)

Memahami keinginan istri

Oleh karena itu, tidak heran kita membaca kisah tentang perhatian Nabi Muhammad Saw. kepada isterinya, termasuk kepada isteri yang masih amat muda, yaitu ‘Aisyah Ummul Mukminin. Beliau bisa memahami keinginan isteri yang masih belia.

Marilah kita simak hadits berikut ini:

قَالَتْ عَائِشَةُ: وَاللَّهِ، لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُومُ عَلَى بَابِ حُجْرَتِى، وَالْحَبَشَةُ يَلْعَبُونَ بِحِرَابِهِمْ فِى مَسْجِدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَسْتُرُنِى بِرِدَائِهِ لِكَىْ أَنْظُرَ إِلَى لَعِبِهِمْ، ثُمَّ يَقُومُ مِنْ أَجْلِى حَتَّى أَكُونَ أَنَا الَّتِى أَنْصَرِفُ. فَاقْدُرُوا قَدْرَ الْجَارِيَةِ الْحَدِيثَةِ السِّنِّ حَرِيصَةً عَلَى اللَّهْوِ.

‘Aisyah berkata, “Demi Allah, sungguh aku pernah melihat Rasulullah Saw. sedang berdiri di depan pintu kamarku, sementara beberapa orang sedang bertanding dengan tombak mereka di Masjid Nabawi. Beliau menutupi diriku dengan selendang, sehingga aku bisa melihat permainan mereka. Kemudian beliau berdiri demi aku, sampai aku sendiri yang kemudian pergi. Oleh karena itu, hendaknya kalian memperhatikan keinginan anak perempuan yang masih belia, yang masih suka bermain-main. (HR. Muslim)

Menyenangkan istri

Karena begitu besar perhatian dan kasih sayang Nabi Muhammad Saw. kepada isterinya, suatu saat beliau mengharamkan minuman yang halal demi menyenangkan salah seorang isterinya. Karena keputusan ini, kemudian Allah Swt. menurunkan ayat sebagai teguran kepada beliau, sekaligus sebagai peringatan kepada umatnya.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكَ تَبْتَغِي مَرْضَاةَ أَزْوَاجِكَ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ.

Wahai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu, demi mencari kesenangan hati isteri-isterimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (at-Tahrim: 1)

Kesaksian istri

Ketika seseorang datang menemui ‘Aisyah Ummul Mukminin untuk menanyakan keseharian beliau bersama keluarganya, jawaban ‘Aisyah menunjukkan bahwa Nabi Muhammad Saw. adalah seorang suami yang tidak segan-segan mengerjakan tugas rumah tangga bersama isterinya.

عَنِ الأَسْوَدِ قَالَ: سَأَلْتُ عَائِشَةَ: مَا كَانَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ فِى أَهْلِهِ؟ قَالَتْ: كَانَ فِى مِهْنَةِ أَهْلِهِ، فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ.

Dari al-Aswad, ia berkata: Aku bertanya kepada ‘Aisyah, “Apa yang beliau kerjakan ketika bersama keluarganya?” Ia menjawab, “Beliau biasa mengerjakan apa yang dikerjakan keluarganya. Hingga waktu shalat datang, beliau pun bersegera mendirikan shalat.” (HR. Bukhari)

8. Ayah Yang Mengerti dan Penuh Kasih

Bagi seorang anak, setiap nabi merupakan seorang ayah yang amat pengertian dan penuh kasih. Berikut ini beberapa cuplikan yang menunjukkan kasih seorang nabi kepada anaknya.

a. Nabi Nuh ‘alaihis salam

Nabi Nuh ‘alaihis salam mendapat ujian dari Allah Swt. Yang di antaranya beliau diberi anak yang tidak mau beriman. Nabi Nuh telah berusaha sebaik mungkin supaya anaknya mau beriman, namun tidak pernah berhasil. Puncak dari ujian itu datang, ketika Nabi Nuh bersama orang-orang yang beriman telah naik kapal dengan tenang, sementara orang-orang kafir berjuang menghindari terjangan banjir yang melanda bumi waktu itu.

Di tengah orang-orang kafir itu terdapat Kan’an, anak Nabi Nuh ‘alaihis salam.  Nabi Nuh berusaha meyakinkan anaknya, bahwa pada hari itu tidak akan ada manusia yang selamat, kecuali orang-orang yang bersedia bergabung dalam kapal Nabi Nuh.

Kan’an tidak bersedia mendengarkan ajakan ayahnya yang seorang nabi itu untuk bergabung bersamanya. Ia tetap berusaha mencari tempat yang aman, yaitu dengan mendaki puncak gunung. Akhirnya, Kan’an pun mati dalam keadaan kafir bersama orang-orang kafir yang lain. Ketika itulah, Nabi Nuh mengadukan nasib anaknya tersebut kepada Allah Swt.

Ratapan Nabi Nuh itu diabadikan Allah Swt. dengan firman-Nya:

وَنَادَى نُوحٌ رَبَّهُ، فَقَالَ: رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي، وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ، وَأَنْتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ.

Dan Nuh memohon kepada Tuhannya sambil berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya anakku adalah termasuk keluargaku, dan janji-Mu pasti benar. Engkau adalah Hakim yang paling adil.” (Hud: 45)

Apa yang dilakukan Nabi Nuh itu sekedar menunjukkan bahwa demikian besar perhatian dan kasih sayangnya kepada anaknya tersebut. Karena sesungguhnya anak yang tidak mau masuk Islam dalam ajaran Allah tidaklah termasuk keluarga yang sebenar-benarnya, sebagaimana difirmankan Allah dalam ayat berikutnya.

b. Nabi Ya’qub ‘alaihis salam

Kasih seorang nabi kepada anaknya juga ditunjukkan oleh Nabi Ya’qub ‘alaihis salam. Kita mengetahui, bahwa putera kesayangan Nabi Ya’qub adalah Yusuf. Pada suatu hari, karena kedengkian saudara-saudara Yusuf, mereka hendak mencelakakannya. Kisah ini sudah maklum adanya.

Singkat cerita, setelah memasukkan Yusuf ke dalam sumur, mereka pulang menemui Nabi Ya’qub dan mengabarkan bahwa Yusuf telah diterkam serigala. Mereka datang dengan pura-pura menangis dan membawa baju Yusuf yang berlumuran darah.

Kasih sayang kepada anak yang berbuat salah

Seandainya bukan karena sifat kasih sayang Nabi Ya’qub yang demikian besar kepada anak-anaknya, pastilah ia akan menghajar mereka habis-habisan. Tapi bukan itu yang dilakukan Nabi Ya’qub. Adalah untaian hikmah yang terucap dari lisannya, yang menunjukkan keimanan dan rasa kasih sayang yang menyeluruh untuk anak-anaknya tanpa kecuali. Seandainya Nabi Ya’qub memberikan hukuman yang keras kepada anak-anaknya itu, tentu mereka akan membenarkan perbuatan mereka terhadap Yusuf.

Allah mengabadikan sikap penuh hikmah Nabi Ya’qub itu dengan firman-Nya:

وَجَاءُوا عَلَى قَمِيصِهِ بِدَمٍ كَذِبٍ، قَالَ: بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ أَنْفُسُكُمْ أَمْرًا، فَصَبْرٌ جَمِيلٌ، وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَا تَصِفُونَ.

Dan mereka datang membawa baju gamisnya yang berlumuran darah palsu. Dia (Nabi Ya’qub) berkata, “Sesungguhnya diri kalian sendiri yang memandang baik perbuatan yang buruk itu. Oleh karenanya, bersabar adalah perbuatan yang baik. Dan hanya kepada Allah pertolongan diharapkan atas apa yang kalian ceritakan itu.” (Yusuf: 18)

Mendoakan anak yang telah berbuat kesalahan besar

Di akhir kisah ini, mereka akhirnya bertemu dengan Yusuf yang sudah menjadi Nabi sekaligus salah seorang yang diperhitungkan keberadaannya di negeri Mesir. Pada waktu itu para saudara Yusuf itu meminta kepada ayah yang mereka zalimi untuk memintakan ampunan dari Allah bagi mereka. Lagi-lagi Nabi Ya’qub menunjukkan kasih sayang yang luar biasa kepada anak-anaknya itu.

Allah Swt. berfirman:

قَالُوا: يَا أَبَانَا اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، إِنَّا كُنَّا خَاطِئِينَ. قَالَ: سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّي، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Mereka berkata, “Wahai ayah kami, mohonkanlah ampunan bagi kami atas dosa-dosa kami. Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa).” Dia (Nabi Ya’qub) berkata, “Aku akan memohonkan ampunan bagi kalian kepada Tuhanku. Sungguh Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Yusuf: 96-98)

9. Mertua dan Menantu Yang Memudahkan

Seorang nabi, ketika berperan sebagai mertua, tidak pernah memberikan syarat yang sulit bagi calon menantunya supaya bisa menikahi puterinya. Ia bernegosiasi dengan calon menantunya secara amat santun, namun tidak sampai menghilangkan ketegasan.

Allah Swt. berfirman:

قَالَ: إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أُنْكِحَكَ إِحْدَى ابْنَتَيَّ هَاتَيْنِ عَلَى أَنْ تَأْجُرَنِي ثَمَانِيَ حِجَجٍ، فَإِنْ أَتْمَمْتَ عَشْرًا فَمِنْ عِنْدِكَ، وَمَا أُرِيدُ أَنْ أَشُقَّ عَلَيْكَ، سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّالِحِينَ.

Dia (Nabi Syu’aib) berkata, “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan engkau dengan salah seorang dari kedua anak perempuanku ini, dengan ketentuan bahwa engkau bekerja padaku selama delapan tahun. Namun, jika engkau sempurnakan sepuluh tahun, maka itu adalah (suatu kebajikan) darimu. Dan aku tidak bermaksud memberatkan engkau. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang baik.” (al-Qashash: 27)

Demikian pula, ketika berperan sebagai calon menantu, seorang nabi juga selalu bersikap baik dan tulus kepada calon mertuanya. Hal ini bisa kita perhatikan dalam jawaban yang diberikan Nabi Musa ‘alaihis salam kepada Nabi Syu’aib.

Allah Swt. berfirman:

قَالَ: ذَلِكَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ، أَيَّمَا الْأَجَلَيْنِ قَضَيْتُ فَلَا عُدْوَانَ عَلَيَّ، وَاللَّهُ عَلَى مَا نَقُولُ وَكِيلٌ.

Dia (Musa) berkata, “(Perjanjian) itu antara aku dan engkau. Yang mana saja dari kedua waktu yang ditentukan itu yang aku sempurnakan, maka tidak ada tuntutan (tambahan) atas diriku (lagi). Dan Allah menjadi Saksi atas apa yang kita ucapkan.” (al-Qashash: 28)

10. Majikan Yang Lemah Lembut

Ketika menjadi majikan, seorang nabi merupakan majikan yang amat lemah lembut kepada pembantunya.

Marilah kita simak hadits di bawah ini:

قَالَ أَنَسٌ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَحْسَنِ النَّاسِ خُلُقًا. فَأَرْسَلَنِى يَوْمًا لِحَاجَةٍ، فَقُلْتُ: وَاللَّهِ لاَ أَذْهَبُ. وَفِى نَفْسِى أَنْ أَذْهَبَ لِمَا أَمَرَنِى بِهِ نَبِىُّ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, قَالَ: فَخَرَجْتُ حَتَّى أَمُرَّ عَلَى صِبْيَانٍ وَهُمْ يَلْعَبُونَ فِى السُّوقِ، فَإِذَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَابِضٌ بِقَفَاىَ مِنْ وَرَائِى، فَنَظَرْتُ إِلَيْهِ وَهُوَ يَضْحَكُ، فَقَالَ: يَا أُنَيْسُ اذْهَبْ حَيْثُ أَمَرْتُكَ, قُلْتُ: نَعَمْ، أَنَا أَذْهَبُ يَا رَسُولَ اللَّهِ, قَالَ أَنَسٌ: وَاللَّهِ، لَقَدْ خَدَمْتُهُ سَبْعَ سِنِينَ أَوْ تِسْعَ سِنِينَ مَا عَلِمْتُ قَالَ لِشَىْءٍ صَنَعْتُ: لِمَ فَعَلْتَ كَذَا وَكَذَا.؟ وَلاَ لِشَىْءٍ تَرَكْتُ: هَلاَّ فَعَلْتَ كَذَا وَكَذَا؟

Anas berkata: Adalah Rasulullah Saw. orang yang amat baik akhlaknya. Suatu hari beliau menyuruhku melaksanakan suatu keperluan. Aku berkata, “Demi Allah, aku tidak akan berangkat.” Tapi dalam hati aku akan melaksanakan perintah beliau padaku. Lalu aku pun berangkat, dan melewati sekelompok anak-anak yang sedang bermain di pasar. Tiba-tiba saja Rasulullah Saw. telah memegang kedua rahangku dari arah belakang. Aku pun menoleh kepada beliau.

Beliau tertawa dan bersabda, “Wahai Anas, berangkatlah melaksanakan perintahku.”

Aku berkata, “Baik. Aku akan berangkat, wahai Rasulullah.”

Demi Allah, sungguh aku telah menjadi pembantu beliau selama tujuh tahun, bahkan sembilan tahun. Aku belum pernah mendengar beliau mengomentari apa yang aku kerjakan dengan mengatakan, “Mengapa engkau lakukan ini?” Ataupun mengomentari apa yang aku tidak kerjakan dengan mengatakan, “Mengapa engkau tidak lakukan ini?” (HR. Abu Dawud)

Riwayat lain

Dalam riwayat yang lebih singkat juga disebutkan:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: خَدَمْتُ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تِسْعَ سِنِينَ، فَمَا أَعْلَمُهُ قَالَ لِى قَطُّ: هَلاَّ فَعَلْتَ كَذَا وَكَذَا؟ وَلاَ عَابَ عَلَىَّ شَيْئاً قَطُّ.

Dari Anas bina Malik, ia berkata: Aku menjadi pembantu Nabi Muhammad Saw. selama sembilan tahun, tapi sama sekali aku belum pernah mendengar beliau mengatakan padaku, “Mengapa engkau tidak lakukan ini?” Dan beliau pun sama sekali tidak pernah mencela atas apa yang aku lakukan.” (HR. Ahmad)

11. Tetangga Yang Menyenangkan

Allah Swt. secara khusus menyebut tetangga sebagai salah satu pihak yang wajib menerima sikap baik kita, yang setara dengan berbuat baik kepada orang tua, kerabat, dan anak-anak yatim.

Allah Swt. berfirman:

وَاعْبُدُوا اللهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئاً، وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ.

Dan sembahlah Allah, dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang kamu miliki. (an-Nisa’: 36)

Pesan khusus dari Jibril alaihis salam

Demikian besar perhatian Allah kepada perkara ini, hingga Allah Swt. seringkali berpesan kepada Malaikat Jibril untuk memperingatkan Nabi Muhammad Saw. turut memperhatikannya.

Nabi Muhammad Saw. bersabda:

مَا زَالَ جِبْريلُ يُوصِيني بِالجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أنَّهُ سَيُورِّثُهُ.

Jibril terus-menerus berpesan padaku untuk berbuat baik kepada tetangga, sampai aku menduga bahwa tetangga akan memiliki hak untuk mewarisi. (HR. Bukhari dan Muslim)

Teladan terbaik

Sebagai teladan terbaik, Nabi Muhammad Saw. telah mempraktekkan perintah tersebut dengan sebaik-baiknya. Lebih dari itu, beliau mengaitkan pesan berbuat baik kepada tetangga itu dengan keimanan. Beliau bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بالله وَاليَومِ الآخرِ، فَلاَ يُؤْذِ جَارَهُ.

Barangsiapa berimana kepada Allah dan hari akhir, janganlah dia mengganggu tetangganya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Penekanan dan penegasan

Pada kesempatan yang lain, beliau menegaskan hal ini hingga berkali-kali pada satu waktu sekaligus. Marilah kita perhatikan hadits ini:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبيّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: واللهِ لاَ يُؤْمِنُ، وَاللهِ لاَ يُؤْمِنُ، وَاللهِ لاَ يُؤْمِنُ!  قِيلَ: مَنْ يَا رَسُول الله؟ قَالَ: الَّذِي لاَ يَأمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ!

Dari Abu Hurairah t, bahwa Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Demi Allah tidak beriman. Demi Allah tidak beriman. Demi Allah tidak beriman.” Para shahabat bertanya, “Siapakah dia, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Orang yang mengganggu tetangganya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Berbagi masakan

Pada waktu yang lain, Nabi Muhammad Saw. memberikan tuntunan kepada kita untuk berbagi masakan dengan tetangga.

عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:  يَا أَبَا ذَرٍّ، إِذَا طَبَخْتَ مَرَقَةً، فَأكثِرْ مَاءهَا، وَتَعَاهَدْ جيرَانَكَ.

Dari Abu Dzar t, ia berkata: Rasulullah Saw. bersabda, “Wahai Abu Dzar, bila engkau memasak daging, hendaknya engkau perbanyak kuahnya, dan berikanlah kepada tetanggamu.” (HR. Muslim)

12. Tuan Rumah Yang Memuliakan Tamu

Ketika berperan sebagai tuan rumah, seorang nabi merupakan tuan rumah yang amat perhatian kepada tamunya.

Nabi Ibrahim

Dalam al-Qur’an, Nabi Ibrahim ‘alaihis salam disebut sebagai nabi yang amat pandai memuliakan tamunya. Demikian mulia sikap Nabi Ibrahim, di mana ia memuliakan tamu, meskipun tamu itu belum dikenalnya sama sekali. Allah Swt. berfirman:

هَلْ أتَاكَ حَدِيثُ ضَيْفِ إبْرَاهِيمَ الْمُكْرَمِينَ، إذْ دَخَلُوا عَلَيْهِ فَقَالُوا سَلاَمَاً، قَالَ: سَلاَمٌ قَوْمٌ مُنْكَرُونَ، فَرَاغَ إِلَى أهْلِهِ فَجَاءَ بِعِجْلٍ سَمِينٍ فَقَرَّبَهُ إلَيْهِمْ، قَالَ: ألاَ تَأكُلُونَ.

Sudahkah datang kepadamu (wahai Muhammad), cerita tamu Ibrahim yang dimuliakan? Ingatlah ketika mereka masuk ke rumahnya lalu mengucapkan salam, “Salam.” Ibrahim pun menjawab, “Salam.” Padahal mereka adalah orang-orang yang belum dikenalnya. Lalu diam-diam Ibrahim menemui keluarganya, kemudian dia membawa daging anak sapi yang gemuk yang dibakar. Lalu dihidangkannya kepada mereka. (adz-Dzariyat: 24-26)

Nabi Luth

Perhatian yang sempurna kepada para tamu juga ditunjukkan oleh kisah Nabi Luth ‘alaihis salam. Ketika itu Nabi Luth sedang menerima beberapa orang tamu yang semuanya adalah para malaikat. Di mana pada umumnya apabila malaikat menjelma sebagai manusia, ia akan merupakan diri sebagai manusia yang amat tampan.

Ketika melihat mereka, kaum Nabi Luth yang memiliki kecenderungan kepada sesama jenis pun bersegera ke rumah Nabi Luth untuk mengajak mereka melakukan perbuatan homoseksual. Nabi Luth pun amat marah dengan beberapa alasan. Pertama, mereka hendak berbuat dosa besar. Kedua, mereka hendak melecehkan para tamunya. Marilah kita perhatikan firman Allah Swt. berikut ini:

وَجَاءهُ قَوْمُهُ يُهْرَعُونَ إِلَيْهِ وَمِنْ قَبْلُ كَانُوا يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ، قَالَ: يَا قَوْمِ هَؤُلاَءِ بَنَاتِي هُنَّ أَطْهَرُ لَكُمْ، فَاتَّقُوا اللهَ وَلاَ تُخْزُونِ في ضَيْفِي، أَلَيْسَ مِنْكُمْ رَجُلٌ رَشِيدٌ.

Dan kaum Nabi Luth segera datang kepadanya, dan memang sejak dulu mereka terus-menerus melakukan perbuatan keji (yaitu perbuatan homoseksual). Luth berkata, “Wahai kaumku, inilah anak-anak perempuanku. Mereka lebih suci bagimu. Dan bertakwalah kepada Allah, dan janganlah kamu mencermarkan nama baikku di depan tamu-tamuku. Tidak adakah orang yang berpikiran sehat di antara kalian?” (Hud: 78)

_____________

Sumber dan Bacaan: 

– Buku ar-Rusul war-Risalat‘, Syeikh Umar Sulaiman al-Asyqat.

– Artikel Shifat al-Anbiya’ war RusulSyeikh Batul ad-Daghim. mawdoo3.com

– Buku Dahsyatnya 4 Sifat NabiAhda Bina A. Lc. 

Tags:

One thought on “Inilah Beberapa Contoh Kesempurnaan Pribadi Para Nabi

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.