SHOPPING CART

close

Inilah Contoh Berbagai Macam Profesi Para Nabi

Sebagai anggota masyarakat, setiap nabi memainkan peranan yang sempurna, sesuai dengan profesi mereka yang beraneka ragam. Dengan ketulusannya, para nabi telah memberikan teladan yang sempurna bagi umatnya.

1. Dai Yang Penuh Kasih

Seorang nabi adalah dai yang penuh kasih. Demikian mulia kepribadian mereka, sehingga Allah menyebut-nyebut budi pekerti mereka yang luhur.

Nabi Muhammad Saw.

Untuk Nabi Muhammad Saw. misalnya, Allah berfirman:

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ.

Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung. (al-Qalam: 4)

Dalam ayat yang lain Allah menggambarkan sifat kasih sayang Nabi Muhammad Saw. dengan firman-Nya:

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ، عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ، حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ، بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ.

Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang yang beriman. (at-Taubah: 128)

Nabi Ibrahim alaihis salam

Demikian pula untuk Nabi Ibrahim yang terkenal tegas dan tidak mengenal kompromi dalam masalah akidah, Allah memberikan pujian akan sifat kasih sayangnya. Allah berfirman:

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَحَلِيمٌ أَوَّاهٌ مُنِيبٌ.

Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi penghiba dan suka kembali kepada Allah. (Hud: 75)

Nabi Yusuf alaihis salam

Sifat penuh kasih ini juga bisa kita perhatkan dalam jawaban yang diberikan Nabi Yusuf ‘alaihis salam ketika beliau ditanya dua orang sesama tahanan dalam penjara. Kedua tahanan ini hanya menanyakan tafsir mimpi, namun Nabi Yusuf bisa menggunakan kesempatan itu sebagai waktu yang tepat untuk menyampaikan dakwah. Allah Swt. mengabadikan perkataan Nabi Yusuf itu dengan firman-Nya:

قَالَ لَا يَأْتِيكُمَا طَعَامٌ تُرْزَقَانِهِ إِلَّا نَبَّأْتُكُمَا بِتَأْوِيلِهِ قَبْلَ أَنْ يَأْتِيَكُمَا، ذَلِكُمَا مِمَّا عَلَّمَنِي رَبِّي، إِنِّي تَرَكْتُ مِلَّةَ قَوْمٍ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَهُمْ بِالْآَخِرَةِ هُمْ كَافِرُونَ.

Yusuf berkata, “Tidak disampaikan kepada kamu berdua makanan yang akan diberikan kepadamu, melainkan aku telah dapat menerangkan jenis makanan itu, sebelum makanan itu sampai kepadamu. Yang demikian itu adalah sebagian dari apa yagn diajarkan kepadaku oleh Tuhanku. Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, sedang mereka ingkar kepada hari kemudian.” (Yusuf: 37)

Tangisan bayi

Sifat kasih sayang ini juga ditunjukkan oleh Nabi Muhammad Saw. ketika beliau bertindak sebagai imam. Gara-gara tangis bayi, beliau menyederhanakan shalat, sehingga cepat berakhir. Marilah kita simak bersama hadits berikut ini:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَوَّزَ ذَاتَ يَوْمٍ فِى صَلاَةِ الْفَجْرِ، فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ لِمَ جَوَّزْتَ؟ قَالَ: سَمِعْتُ بُكَاءَ صَبِىٍّ، فَظَنَنْتُ أَنَّ أُمَّهُ مَعَنَا تُصَلِّى، فَأَرَدْتُ أَنْ أُفْرِغَ لَهُ أُمَّهُ.

Dari Anas bin Malik, bahwa suatu hari Rasulullah Saw. shalat Shubuh secara ringkas. Lalu ada seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa Anda shalat secara ringkas?” Beliau bersabda, “Aku mendengar tangir seorang bayi. Aku rasa ibunya juga sedang shalat berjamaah bersama kita. Aku ingin melegakan perasaan ibunya.” (HR. Ahmad)

Sudah sepantasnya, seorang dai di mana pun dan sampai kapan pun harus meniru sifat para nabi tersebut. Tidak layak, seorang dai menggunakan cara-cara kekerasan sebagai sarana berdakwah. Dan tidak benar, tuduhan orang-orang yang tidak mengerti Islam, bahwa Islam adalah agama kekerasan.

2. Guru Yang Penuh Kasih dan Hikmah

Seorang nabi merupakan guru yang penuh kasih sekaligus penuh hikmah. Marilah kita saksikan bagaimana sebuah kesalahan yang fatal dilakukan oleh seorang murid, yang kemudian mendapatkan teguran yang penuh kasih dari sang guru, sehingga menjadi hikmah sepanjang masa. Bukan hanya dirasakan oleh murid itu sendiri, tapi hikmah itu juga dirasakan oleh siapa saja yang membacanya hingga saat ini, ribuan tahun kemudian.

عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ الْحَكَمِ السُّلَمِىِّ قَالَ: بَيْنَا أَنَا أُصَلِّى مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ، إِذْ عَطَسَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ ، فَقُلْتُ: يَرْحَمُكَ اللَّهُ . فَرَمَانِى الْقَوْمُ بِأَبْصَارِهِمْ ، فَقُلْتُ: وَاثُكْلَ أُمِّيَاهْ ، مَا شَأْنُكُمْ تَنْظُرُونَ إِلَىَّ ؟ فَجَعَلُوا يَضْرِبُونَ بِأَيْدِيهِمْ عَلَى أَفْخَاذِهِمْ ، فَلَمَّا رَأَيْتُهُمْ يُصَمِّتُونَنِى ، لَكِنِّى سَكَتُّ ، فَلَمَّا صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَبِأَبِى هُوَ وَأُمِّى مَا رَأَيْتُ مُعَلِّمًا قَبْلَهُ وَلاَ بَعْدَهُ أَحْسَنَ تَعْلِيمًا مِنْهُ ، فَوَاللَّهِ مَا كَهَرَنِى وَلاَ ضَرَبَنِى وَلاَ شَتَمَنِى ، قَالَ: إِنَّ هَذِهِ الصَّلاَةَ لاَ يَصْلُحُ فِيهَا شَىْءٌ مِنْ كَلاَمِ النَّاسِ ، إِنَّمَا هُوَ التَّسْبِيحُ وَالتَّكْبِيرُ وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ.

Dari Mu’awiyah bin al-Hakam as-Sulami, ia berkata: Ketika saya sedang shalat bersama Rasulullah Saw., salah seorang di antara kami bersin. Aku berkata, “Yarhamukallah.” Orang-orang pun menatapku dengan tajam. Aku berkata, “Celakalah aku, mengapa kalian menatapku seperti itu?” Mereka pun memukulkan tangan kepada paha mereka masing-masing. Tapi mereka tetap diam, tidak menjawab pertanyaanku. Aku pun diam. Demi Allah, aku belum pernah bertemu dengan seorang guru yang lebih baik cara mengajarnya daripada Rasulullah Saw.. Setelah Rasulullah Saw. selesai shalat, demi Allah beliau tidak membentakku, tidak memukulku, dan tidak pula memakiku. Beliau bersabda, “Sesungguhnya dalam shalat itu tidak boleh ada perkataan manusia. Dalam shalat itu hanya ada tasbih, takbir, dan bacaan al-Qur’an. (HR. Muslim)

3. Pedagang Yang Cerdar dan Jujur

Sebelum diangkat sebagai nabi, Muhammad Saw. merupakan seorang pedagang. Dengan kecerdasan dan kejujurannya ia membawa pulang keuntungan besar. Keuntungan yang belum pernah dihasilkan oleh orang sebelumnya. Hal inilah yang membuat Khadijah penasaran, sehingga dia bertanya kepada Maisarah yang mengawal Muhammad Saw. selama dalam perjalanan berangkat hingga pulang, jangan-jangan Muhammad telah menipu banyak orang. Berdasarkan kesaksian Maisarah, ternyata Muhammad merupakan orang yang benar-benar cerdas sekaligus jujur. Yang karena itulah kemudian Ibunda Khadijah t tertarik kepada pribadi Muhammad Saw.

Banyak orang mengira Maisarah adalah nama seorang perempuan. Sebenarnya Maisarah ini merupakan nama seorang laki-laki. Tidak semua nama yang berakhiran ta’ marbuthah itu merupakan nama seorang perempuan, seperti: Hamzah, Thalhah, Hanzhalah, Mu’awiyah, dan Umayah.

4. Hakim Yang Adil dan Bijaksana

Ketika seorang nabi memperoleh kesempatan bertindak sebagai hakim, ia pun mampu menengahi pihak-pihak yang berselisih secara bijak, dan memutuskan perkara dengan adil. Sebagaimana kita maklumi, Nabi Daud ‘alaihis salam dan Nabi Sulaiman ‘alaihis salam merupakan dua orang nabi yang selain raja, juga berperan sebagai hakim. Hal ini terjadi karena pada waktu itu raja memang tidak jarang menghadapi situasi yang mengharuskannya bertindak sebagai hakim.

Meskipun memiliki kedudukan sebagai pihak yang berkuasa mutlak (raja), Nabi Daud dan Nabi Sulaiman tidak pernah memutuskan perkara dengan sewenang-wenang. Mereka memutuskan perkara dengan adil, sehingga semua pihak yang bersengketa bisa menerima putusan dengan perasaan lega.

5. Komandan Yang Jenius dan Pemberani

Sebelum menjadi raja, Nabi Daud merupakan rakyat biasa. Kemudian dia bergabung dengan pasukan Thalut melawan Raja Jalut yang zalim. Pada kesempatan itulah Nabi Daud yang masih muda mulai menampakkan kecakapannya sebagai pemimpin yang handal. Dan tidak lama kemudian Nabi Daud pun menerima jabatan sebagai komandan perang yang jenius dan pemberani.

6. Pemimpin Yang Perhatian dan Merakyat

Sebagai pemimpin, seorang nabi mampu berperan sebagai pemimpin yang amat peduli kepada rakyatnya. Marilah kita perhatikan bersama kisah nyata berikut ini:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنَ أَبِى أَوْفَى قَالَ: أَصَابَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابَهُ عَطَشٌ. قَالَ: فَنَزَلَ مَنْزِلاً، فَأُتِىَ بِإِنَاءٍ، فَجَعَلَ يَسْقِى أَصْحَابَهُ، وَجَعَلُوا يَقُولُونَ: اشْرَبْ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: سَاقِى الْقَوْمِ آخِرُهُمْ. حَتَّى سَقَاهُمْ كُلَّهُمْ.

Dari Abdullah bin Abi Aufa, ia berkata: Suatu saat Rasulullah Saw. dan para shahabat amat kehausan. Lalu beliau singgah di sebuah rumah, dan memperoleh satu bejana air. Lalu beliau pun memberi minum para shahabat. Tapi para shahabat berkata kepada beliau, “Minumlah dahulu.” Beliau bersabda, “Orang yang memberi minum suatu kaum adalah orang yang paling akhir meminumnya.” Demikian, hingga beliau pun memberi minum kepada semua shahabat. (HR. Ahmad)

Jadi Nabi Muhammad Saw. ikut minum dari bejana itu, dan sebagai orang yang terakhir kali meminum dari bejana tersebut. Benar-benar pemimpin yang amat perhatian, dan penuh kasih kepada rakyatnya. Pantaslah apabila para musuh pun memberikan komentar atas kedekatan Nabi Muhammad dengan para shahabat ini dengan berkata, “Sungguh aku tidak pernah melihat pemimpin yang lebih dicintai oleh rakyatnya seperti Muhammad.”

7. Penguasa Yang Rahmatan lil-‘Alamin

Ketika seorang nabi menjadi penguasa, ia mampu berperan sebagai pemimpin yang perhatian kepada rakyatnya. Nabi Sulaiman ‘alaihis salam dikenal sebagai nabi sekaligus raja-diraja. Kekuasaannya bukan hanya di alam manusia, namun juga alam jin, bahkan juga alam binatang. Di antara bukti kehebatan Nabi Sulaiman dalam memimpin rakyatnya bisa kita baca dalam surat an-Naml.

Semut pun Memperoleh Perhatian

Semut sebagai bagian dari wilayah kekuasaannya, tidak luput dari perhatian Nabi Sulaiman, sehingga tidak ada yang terinjak-injak oleh pasukannya, sehingga mati secara sia-sia. Marilah kita perhatikan firman Allah Swt. berikut ini:

وَحُشِرَ لِسُلَيْمَانَ جُنُودُهُ مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ وَالطَّيْرِ فَهُمْ يُوزَعُونَ. حَتَّى إِذَا أَتَوْا عَلَى وَادِ النَّمْلِ قَالَتْ نَمْلَةٌ: يَا أَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوا مَسَاكِنَكُمْ، لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَانُ وَجُنُودُهُ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ. فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِنْ قَوْلِهَا وَقَالَ: رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ، وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ، وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ.

Dan dihimpun untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia, dan burung. Lalu mereka itu diatur dengan tertib dalam barisan.

Ketika mereka sampai di lembah semut, berkatalah pemimpin semut, “Wahai para semut, masuklah kalian ke dalam sarang, agar kalian tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadarinya.”

Sulaiman pun tersenyum dan tertawa karena perkataan semut itu. Lalu Sulaiman berdoa, “Wahai Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kedua orang tuaku, serta untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai. Dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.” (an-Naml: 17-19)

Demokrasi?

Di era demokrasi sekarang pun tidak mudah mencari penguasa yang mau dan mampu memimpin seperti Nabi Sulaiman ‘alaihis salam. Padahal Nabi Sulaiman itu seorang raja, di mana tidak ada pihak selain Allah yang mengawasinya. Namun dia telah melaksanakan fungsinya dengan sempurna, yaitu mengatur dan memimpin rakyatnya dengan sebaik-baiknya. Jangankan nyawa manusia, nyawa semut pun dijaga.

Keadaan zaman Nabi Sulaiman ini jelas kontras dengan keadaan zaman sekarang. Katanya zaman demokrasi, tapi tidak berbeda dengan alam rimba raya. Jangankan nyawa semut, nyawa manusia pun tidak ada harganya. Ternyata rimba raya Nabi Sulaiman jauh “lebih manusiawi sekaligus hewani” daripada demokrasi negara mana pun di dunia saat ini.

_____________

Sumber dan Bacaan: 

– Buku ar-Rusul war-Risalat‘, Syeikh Umar Sulaiman al-Asyqat.

– Artikel Shifat al-Anbiya’ war RusulSyeikh Batul ad-Daghim. mawdoo3.com

– Buku Dahsyatnya 4 Sifat NabiAhda Bina A. Lc. 

Tags:

2 thoughts on “Inilah Contoh Berbagai Macam Profesi Para Nabi

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.