SHOPPING CART

close
Mendidik Anak

Inilah Tips Supaya Anak Kita Rajin Shalat

Di antara semua bahasan dalam bab ini, tidaklah berlebihan bila penulis menyebutkan bahwa bahasan inilah yang paling rumit, yaitu bagaimana anak terbiasa shalat. Bahasan akan terasa rumit bukan pada teorinya, namun pada praktiknya.

Kita berpuasa, meskipun sebulan penuh, tapi hanya satu bulan. Sebelas bulan yang lain boleh tidak puasa. Itu pun hanya di siang hari. Malam hari boleh makan-minum sepuasnya. Bahkan di antara kita banyak yang hanya memindahkan waktu makan pagi, makan siang, dan makan malam di bulan Ramadhan menjadi: makan saat berbuka, makan tengah malam, dan makan sahur…

Namun shalat, setidaknya kita lakukan secara terus-menerus lima waktu, setiap hari, seumur hidup (bahkan sudah mati pun masih harus dishalati). Waktunya berjajar, sejak matahari belum terbit hingga datangnya malam hari. Bagaimana caranya supaya anak terbiasa melaksanakan shalat?

1. Teladan Orang Tua

Ada orang tua yang memiliki harapan besar, anak-anaknya bisa rajin shalat, tetapi dia sendiri malas shalat. Dia menyuruh anak-anak segera melaksanakan shalat, tapi dia sendiri belum ambil air wudhu. Dia menyuruh anak-anak shalat di masjid, tapi dia sendiri jarang ke masjid. Bahkan penulis memiliki tetangga yang amat lucu. Dia menyuruh anak-anak dan isterinya rajin shalat, tapi dia sendiri tidak pernah shalat.

Semua itu seperti tingkah televisi yang menyiarkan acara pengajian, namun setelah itu menayangkan acara hiburan yang bertentangan dengan isi pengajian sebelumnya. Atau sama dengan seorang ustadz yang menasihatkan sesuatu, tapi kemudian dia melakukan sesuatu yang berlawanan dengan nasihatnya itu.

Jangan menyuruh sebelum mengerjakan sendiri

Suatu saat saya menyuruh anak saya untuk mengambil air wudhu, karena suara adzan telah berkumandang. Karena saat itu anak baru kelas dua sekolah dasar yang belum kritis, dia pun hanya menuruti perintah orang tuanya. Namun ketika sudah kelas tiga, dia pun sudah mulai berpikir kritis. Setiap saya minta ambil air wudhu, dia pun selalu bertanya, apakah saya sendiri yang memberikan perintah sudah mengambil air wudhu. Bila saya sendiri belum berwudhu, dia pun siap berkilah, “Lha Ayah saja belum wudhu, kok menyuruh anaknya wudhu.”

Teladan adalah segalanya

Cara berpikir anak seperti itu sama sekali tidak salah. Bukankah kita juga jengkel bila seandainya suatu saat Bapak RT menghimbau warganya untuk berangkat kerja bakti pada pukul sepuluh pagi misalnya, tapi pada jam tersebut beliau sendiri belum berangkat. Untuk mengantisipasi terjadinya peristiwa seperti itu, hendaknya kita sebagai orang tua memberikan teladan yang baik kepada anak, termasuk dalam hal ini adalah teladan shalat. Supaya anak tertib melaksanakan shalat, hendaknya kita memberikan teladan sebagai pribadi yang tertib melaksanakan shalat.

2. Melatih Anak Shalat

Rasulullah r bersabda:

مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ.

“Perintahkanlah shalat kepada anak-anakmu pada usia tujuh tahun, dan pukul mereka karena meninggalkan shalat pada usia sepuluh tahun.” (HR. Abu Dawud)

Penekanan sabda Rasulullah r di atas pada bagian ini adalah: Perintahkanlah shalat kepada anak-anakmu pada usia tujuh tahun.

Hendaknya kita perintahkan anak-anak untuk melaksanakan shalat ketika usia mereka telah mencapai tujuh tahun. Maksud perintah di sini adalah perintah yang bersifat mengharuskan.

Perintah itu dalam bahasa Arab namanya amr. Amr itu pada dasarnya bersifat wajib. Oleh karena itu, hendaknya kita sudah mulai melatih anak-anak untuk melaksanakan shalat sebelum mereka berusia tujuh tahun.

Penulis mulai mengajak anak-anak shalat sejak mereka bisa diajak bicara, meskipun anak belum bisa menjawab dengan benar.

“Ayo… Shalat bersama Ayah dan Ibu, ya…”

Ajakan demikian sudah biasa kami ucapkan, dan mereka juga sudah terbiasa mendengar sejak amat dini. Selanjutnya hal itu menjadi kebiasaan. Setiap orang tua akan melaksanakan shalat, mereka sudah terbiasa pula mengikutinya. Hingga ketika sudah mampu menirukan bacaan dan gerakan shalat, mereka pun dengan mudah bisa diperintahkan shalat dengan benar.

3. Memerintahkan Anak Shalat

Sebagaimana telah penulis sampaikan, hendaknya kita sudah mulai melatih anak-anak untuk melaksanakan shalat sebelum mereka berusia tujuh tahun. Setelah mereka berusia tujuh tahun, hendaknya kita telah berhasil membiasakan mereka untuk melaksanakan shalat dengan tertib dan benar.

Sebelum mereka berusia tujuh tahun, sifatnya baru sebatas ajakan shalat. Tapi setelah mereka berusia tujuh tahun, sifatnya benar-benar perintah. Artinya, bila anak tidak mau shalat, maka kita berikan hukuman. Namun hukuman di sini hendaknya bukan berupa pukulan. Hukuman di sini bisa berupa peringatan atau hukuman yang lebih ringan dari pukulan, serta tidak berbahaya, seperti: menjewer kupingnya, atau menjentik bahunya.

4. Menyuruh Anak Ambil Air Wudhu

Apabila waktu shalat telah tiba, hendaknya kita segera mengingatkan anak-anak bahwa waktu shalat telah tiba. Mereka harus bersegera mempersiapkan diri melaksanakan shalat. Kita minta mereka ambil air wudhu.

Lebih mudah menyuruh ambil wudhu

Menurut pengalaman penulis, ternyata lebih mudah meminta anak untuk ambil air wudhu daripada menyuruhnya shalat. Logikanya, kalau kita sudah punya wudhu, maka kita pun merasa ringan melaksanakan shalat. Kita malas shalat karena malas bersentuhan dengan air, apalagi air dingin. Kita orang dewasa saja malas berwudhu, apalagi anak-anak.

Setiap datang waktu shalat, atau lebih baik lagi menjelang datangnya waktu shalat, kita minta anak-anak mengambil air wudhu. Tapi biasanya mereka akan bertanya, “Apakah Ayah dan Ibu sudah wudhu?” Anak-anak yang pintar. Alhamdulillâh, berarti selama ini kita telah memberikan makanan yang bergizi kepada mereka, sehingga mereka tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas dan berpikiran kritis.

Berlomba-lomba dalam kebaikan

Sebagai orang tua, kita tidak boleh kalah dengan anak-anak. Sebelum menyuruh mereka berwudhu, hendaknya kita sudah berwudhu lebih dahulu. Kalau pun sudah terlanjur memberikan perintah, tapi kita sendiri belum berwudhu, hendaknya kita berterus terang kepada mereka. Bagaimanapun jangan sampai kita mengajari mereka untuk berbohong.

“Memang Ayah juga belum berwudhu. Tapi siapa yang juara wudhu kali ini, Ayah atau kamu?”

5. Memukul karena Sayang

Adakalanya orang tua harus mengungkapkan rasa sayangnya kepada anak-anak dengan memberikan pukulan. Sebagai ungkapan kasih sayang, hendaknya pukulan di sini tidak pada wajah dan tidak pula menyakitkan, apalagi meninggalkan bekas.

Secara khusus, Rasulullah r memberikan perintah kepada kita untuk memberikan pelajaran kepada anak yang secara sengaja akan atau telah meninggalkan shalat. Pelajaran di sini maknanya adalah pukulan. Rasulullah r bersabda:

مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ.

 “Perintahkanlah shalat kepada anak-anak pada usia tujuh tahun, dan pukul mereka karena meninggalkan shalat pada usia sepuluh tahun.” (HR. Abu Dawud)

6. Memberikan Penghargaan pada Anak Yang Rajin Shalat

Apabila anak memperoleh hukuman ketika berbuat salah, hendaknya kita juga menyediakan hadiah apabila anak berbuat kebaikan. Hadiah di sini tidak harus selalu berupa materi. Kalaupun berupa materi juga tidak harus berupa benda yang mahal. Senyum yang tulus dan kalimat yang menenteramkan merupakan hadiah yang menyenangkan bagi anak-anak yang saleh dan salehah.

“Alhamdulillah… Hari ini Anakku sudah shalat dengan tertib. Semoga Allah memberikan hadiah surga untukmu, Nak…”

“Sebagai ungkapan rasa syukur Ayah dan Ibu, insya’ Allah hari Ahad nanti kita akan bersama-sama pergi ke Taman Rekreasi Sengkaling…”

___________

Sumber:

Buku Jurus Jitu Agar Anak Rajin Shalat, Cepat Hafal al-Qur’an dan Berbakti kepada OrangtuaAhda Bina, Lc.

Tags:

0 thoughts on “Inilah Tips Supaya Anak Kita Rajin Shalat

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.