SHOPPING CART

close
Pengantar Studi Hadits

Istilah-istilah Penting tentang Hadits

Dalam belajar hadits, terdapat beberapa istilah yang sangat sering digunakan. Istilah ini banyak disebut dalam buku-buku ilmiah maupun populer, bahkan juga dalam khutbah Jum’at dan pengajian secara umum. Berikut ini beberapa istilah dimaksud:

1.     Shahabat

Shahabat merupakan istilah untuk menyebut seseorang yang hidup pada zaman Nabi Muhammad r, masuk Islam, dan pernah bertemu dengan beliau, walaupun hanya sekali.

Seseorang yang hidup pada zaman Rasulullah r, tapi tidak mau masuk Islam, malah memusuhi beliau dan umat Islam, tidaklah disebut sebagai shahabat. Orang seperti Abu Jahal dan Abu Lahab tentu tidak bisa disebut sebagai shahabat, karena mereka tidak mau masuk Islam, bahkan memusuhi dan ingin membunuh Rasulullah r.

Adapun orang yang hidup pada masa Rasulullah r, tapi masuk Islam setelah beliau wafat, juga bukan shahabat.

Setelah menyebut nama seorang shahabat, umumnya kita ikuti dengan gelar radhiyallahu ‘anhu. Artinya, semoga Allah ridha kepadanya. Jadi ini merupakan doa sebagai salah satu bentuk penghargaan kita kepada mereka yang telah berjuang dan berkorban bersama Rasulullah r, sehingga kita semua bisa mengenal agama Islam juga melalui jasa mereka.

Gelar atau sebutan itu kita ucapkan sama dengan bila kita menyebut nama seseorang yang sudah meninggal dunia. Biasanya kita memberinya sebutan atau gelar almarhum. Artinya, semoga Allah merahmatinya, yang juga merupakan sebuah doa.

2.     Riwayat

Riwayat artinya kisah atau cerita. Apabila seseorang meriwayatkan suatu kisah, artinya ia menceritakan kisah tersebut. Dalam bidang hadits, istilah riwayat ini mengandung dua kemungkinan.

Bila yang meriwayatkan adalah seorang shahabat, berarti ia adalah orang yang menyaksikan kejadian hadits secara langsung. Sebuah misal, bila Ibnu ‘Umar meriwayatkan sebuah hadits, berarti dialah yang menyaksikan kejadian tersebut bersama Rasulullah r.

Bila yang meriwayatkan adalah seorang ahli hadits, berarti ia adalah orang yang membukukan hadits tersebut ke kitab himpunan hadits yang disusunnya. Sebuah misal, bila Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits, berarti dia menyebutkan hadits itu dalam himpunan hadits yang disusunnya.

Untuk memilah apakah kata “meriwayatkan” itu berarti makna yang pertama atau makna kedua, diperlukan sedikit pengetahuan tentang nama-nama para pembuku hadits, seperti yang telah kami sebutkan.

3.     HR.

Dalam kehidupan sehari-hari, HR. bisa berarti singkatan dari honorarium atau gaji. Sebuah istilah yang amat disenangi oleh semua orang. Tapi dalam bidang hadits, HR. memiliki arti yang lain.

Dalam bidang hadits, HR. merupakan singkatan dari Hadits Riwayat. Sebuah misal: HR. Bukhari. Artinya, hadits itu diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Hadits itu bisa kita lacak keberadaannya dalam sebuah kitab himpunan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari.

Imam Bukhari ini bukan seorang shahabat. Ia tidak pernah bertemu dengan Rasulullah r. Bahkan ia pun belum pernah bertemu dengan shahabat. Lalu darimana ia mendapatkan hadits?

Karena tidak pernah bertemu dengan Rasulullah r maupun shahabat, bukan berarti Imam Bukhari mengumpulkan hadits secara sembarangan atau asal-asalan. Bukan pula ia kumpulkan hadits berdasarkan mimpi ataupun ilham, seperti kisah penulisan dan pengumpulan Injil. Imam Bukhari mengumpulkan hadits ini dengan suatu metode tertentu yang telah diakui oleh para pakar hadits dan para pakar sejarah sebagai metode yang jitu. Dengan metode tersebut, kita bisa mengetahui mana yang benar-benar hadits dan mana yang bukan.

4.     HR. Jama’ah

Jama’ah di sini bukan kumpulan orang yang sedang mendengarkan pengajian. Jama’ah di sini artinya kumpulan para imam hadits yang berjumlah tujuh orang, yaitu: Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, Imam Tirmidzi, Imam Nasa’i, Imam Ibnu Majah, dan Imam Ahmad.

5.     Muttafaq ‘alaih

Secara bahasa muttafaqun ‘alaihi atau muttafaq ‘alaih artinya sesuatu yang telah disepakati. Dalam bidang hadits, muttafaq ‘alaih artinya suatu hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Istilah ini digunakan untuk menunjukkan kemuliaan suatu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, bahwa seakan-akan hadits itu telah disepakati oleh seluruh pakar hadits sebagai hadits yang shahih. Hal ini tidak berlebihan, mengingat Imam Bukhari dan Imam Muslim diakui oleh seluruh pakar hadits sebagai ahli hadits yang amat selektif dan ekstra hati-hati.

6.     HR. Imam Enam

Imam Enam, artinya hadits tersebut diriwayatkan oleh enam orang imam hadits. Enam orang itu adalah Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, Imam Tirmidzi, Imam Nasa’i, dan Imam Ibnu Majah.

7.     HR. Imam Lima

Imam Lima, artinya hadits itu diriwayatkan oleh lima orang imam haidts. Lima orang itu adalah Imam Abu Dawud, Imam Tirmidzi, Imam Nasa’i, Imam Ibnu Majah, dan Imam Ahmad.

8.     HR. Imam Empat

Imam Empatitu artinya bahwa hadits itu diriwayatkan oleh empat orang imam hadits. Empat orang itu adalah Imam Abu Dawud, Imam Tirmidzi, Imam Nasa’i, dan Imam Ibnu Majah.

Tags:

0 thoughts on “Istilah-istilah Penting tentang Hadits

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Beasiswa

Hukum Keluarga Islam

Klik di sini
Need help?
Bila ada sesuatu yang ingin disampaikan, baik berupa pertanyaan maupun konfirmasi tentang artikel ini, maka kami persilakan...