SHOPPING CART

close
Mendidik Anak

Jurus Jitu Menumbuhkan Kasih Sayang Anak pada Orangtua

Cinta merupakan salah satu sumber energi kebaikan yang dahsyat. Karena cinta seorang manusia mampu menghasilkan karya yang amat menakjubkan. Sebaliknya, kebencian juga merupakan salah satu sumber kerusakan yang hebat. Karena kebencian manusia tega melakukan kejahatan yang amat mengerikan.

Usaha mengarahkan anak menjadi pribadi yang berbakti kepada orang tua bukanlah pekerjaan yang ringan, sebagaimana usaha menjadi anak yang berbakti juga bukan pekerjaan yang mudah. Oleh karena itu, hendaknya semua usaha ini kita lakukan atas dasar cinta.

1. Mengungkapkan Rasa Sayang

Sekali waktu orang tua juga perlu mengungkapkan perasaan kasih sayangnya secara fisik. Apabila sesekali orang tua mengungkapkan rasa sayangnya dengan pukulan yang tidak menyakitkan, maka orang tua sesekali juga perlu mengungkapkan rasa sayangnya dengan ciuman yang penuh kasih. Secara khusus hal ini pernah dicontohkan oleh Rasulullah Saw. di hadapan shahabatnya. Marilah kita simak hadits berikut ini:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَبَّلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَسَنَ بْنَ عَلِىٍّ وَعِنْدَهُ الأَقْرَعُ بْنُ حَابِسٍ التَّمِيمِىُّ جَالِسًا. فَقَالَ الأَقْرَعُ: إِنَّ لِى عَشَرَةً مِنَ الْوَلَدِ مَا قَبَّلْتُ مِنْهُمْ أَحَدًا. فَنَظَرَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ: مَنْ لاَ يَرْحَمُ لاَ يُرْحَمُ

Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah Saw. mencium Hasan bin ‘Ali di hadapan Aqra’ bin Hâbis at-Tamîmi yang sedang duduk. Aqra’ berkata, “Aku memiliki sepuluh orang anak, tapi aku tidak pernah mencium satu pun di antara mereka.” Rasulullah Saw. memandangnya dan bersabda, “Barangsiapa tidak menyayangi, maka dia pun tidak akan disayangi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Menyediakan Kebutuhan Pokok

Sama dengan orang dewasa, anak-anak juga memiliki kebutuhan pokok, seperti: makanan yang cukup dan bergizi, pakaian yang baik dan menutup aurat, serta tempat tinggal yang aman dan nyaman. Sebagai orang tua, kita berusaha untuk menyediakan semua kebutuhan pokok tersebut dengan sebaik mungkin. Tidak berlebihan, tapi cukup.

Dengan terpenuhinya kebutuhan pokok tersebut, anak-anak akan merasakan perhatian dan kasih sayang yang dicurahkan kedua orang tuanya. Sebagai ungkapan terima kasih, anak-anak akan lebih mudah menunjukkan baktinya kepada orang tua. Sebaliknya, anak-anak yang tidak dipenuhi kebutuhan pokoknya, apalagi karena sikap orang tua yang sembrono, akan membuat anak-anak mengalami kesulitan menunjukkan baktinya.

Kisah Nyata

Penulis memiliki seorang tetangga dekat yang tidak memiliki pekerjaan tetap, sehingga juga tidak memiliki penghasilan yang tetap pula. Namun setiap hari dia menarget isterinya untuk menyediakan kopi panas sehari tiga kali, dan satu bungkus rokok dengan merek nasional. Dia tidak peduli kepada kebutuhan keluarganya sehari-hari, termasuk kebutuhan pokok anak-anaknya.

Sebelum mengetahui hal itu, penulis merasa amat heran dengan sikap anak-anaknya yang tidak pernah sedikit pun menunjukkan bakti kepada sang ayah. Padahal anak-anaknya sudah besar, bahkan beberapa anaknya sudah dewasa. Mengapa anak-anak itu tidak pernah menunjukkan bakti kepada ayahnya? Ternyata itulah sebabnya: selama ini mereka merasakan tidak pernah dipenuhi kebutuhan pokoknya. Ayah mereka selama ini merupakan orang tua yang egois, hanya memikirkan kebutuhannya sendiri.

Bila kita mendambakan anak-anak mampu berbakti kepada orang tua dengan baik, sudah seharusnya kita pun membantu mereka mewujudkan kewajiban itu dengan memenuhi kebutuhan pokok mereka.

3. Memberikan dan Menyediakan Pendidikan Yang Layak

Sebenarnya pendidikan juga merupakan kebutuhan pokok, apalagi untuk zaman sekarang. Namun sengaja di sini pembahasannya penulis pisahkan, mengingat kedudukan pendidikan yang istimewa dalam ajaran Islam.

Kita amat bersyukur, bahwa kita hidup di zaman kemerdekaan yang semua kebutuhan relatif mudah kita penuhi, termasuk kebutuhan akan pendidikan untuk anak-anak. Banyak sekolah dengan aneka ragam kurikulumnya menawarkan corak pendidikan yang diinginkan calon wali murid. Di antara sekian banyak sekolah itu, hendaknya kita pandai-pandai memilih sekolah yang terbaik untuk anak-anak kita.

Selain kurikulum yang lebih menjamin tingkat pengetahuan anak-anak, hendaknya kita juga memperhatikan aspek praktis para siswa,  di samping keteladanan para bapak dan ibu guru. Sebagai misal, apakah sekolah memberikan perhatian kepada para siswa tentang tata cara busana yang menutup aurat? Sudahkah para guru memberikan keteladanan yang baik dalam hal ini?

Ekonomi hancur di tangan para ekonom

Kita tidak lupa, bahwa negara kita tidak pernah kekurangan ilmuwan atau orang pandai. Kita tidak sedang kekurangan para ahli di bidang ekonomi, politik, hukum, maupun bidang-bidang yang lain. Tapi mengapa justru  keadaan ekonomi negara kita compang-camping di tangan para ekonom. Kehidupan politik kita amburadul di tangan para politikus. Dan penegakan hukum kita selalu tebang pilih atau pilih kasih.

Bahkan dalam kehidupan sehari-hari secara nyata kita disuguhi berbagai berita yang menyesatkan oleh para awak media massa. Dan itu mereka lakukan secara sengaja dan sadar. Mungkin juga dengan hati riang-gembira. Karena akan memperoleh tambahan penghasilan atas kebohongan-kebohongan yang akan dan telah mereka lakukan. Na’ûdzu billâh min dzâlik

Sekali lagi, semua itu terjadi bukan karena kita kekurangan orang yang berpendidikan tinggi. Kita “hanya” sedang kekurangan orang-orang yang amanah. Kita sedang krisis para ekonom yang amanah, para politikus yang amanah, para ahli hukum yang amanah, ataupun para jurnalis yang amanah.

Untuk itu, kita perlu mengantisipasi. Jangan sampai anak-anak kita termasuk orang-orang seperti itu. Kelak anak kita boleh menjatuhkan pilihannya menjadi apa saja, asal dia menjadi orang yang amanah. Dan pilihan itu telah kita landasi dengan memilihkan sekolah yang memberikan pendidikan yang seharusnya, yaitu menggabungkan antara ilmu dan amal.

4. Membantunya Memilih Pasangan Hidup

Di antara perwujudan cinta orang tua kepada anak-anaknya, dia pun membantu mereka memilihkan calon pasangan hidup, baik sebagai suami maupun isteri. Bukan berarti orang tua akan memaksakan kehendaknya kepada anak-anak yang telah cukup dewasa, namun sekedar memberikan pandangan-pandangan yang bermanfaat. Selanjutnya, anak pula yang pada akhirnya akan menentukan pilihan.

Dua kutup ekstrem

Ada orang tua yang bersikap masa bodoh, ketika anak telah waktunya memilih calon pasangan hidup. Orang tua tersebut beranggapan, bahwa masalah jodoh merupakan urusan pribadi sang anak. Orang tua tidak perlu ikut campur sama sekali. Sikap yang demikian tidaklah tepat. Berdasarkan pengalaman hidupnya, orang tua memiliki kesempatan untuk memberikan masukan-masukan yang bermanfaat bagi anaknya. Apabila orang tua sebagai pihak terdekat sang anak tidak peduli, kepada siapa anak akan mengharapkan saran orang lain.

Sebagai lawan dari sikap di atas, ada orang tua yang terlalu ikut campur dalam urusan jodoh anak-anaknya. Boleh jadi orang tua memiliki pengalaman hidup yang jauh lebih banyak dari anak, tapi hal itu bukan alasan bagi orang tua untuk memaksakan kehendak kepada anak-anaknya. Dalam hal ini anak tetap merupakan pihak yang memiliki hak menjatuhkan pilihan, kepada siapa dia akan menambatkan hati, kepada siapa anak-anaknya memanggil ibu atau ayah, dengan siapa dia akan melewati masa suka maupun duka hingga akhir hayatnya.

Sikap moderat

Sebagai sikap wasathan atau moderat, orang tua hendaknya mengambil sikap yang tengah-tengah. Tidak bersikap masa bodoh, namun juga tidak terlalu ikut campur. Dia siap memberikan saran-saran yang bermanfaat bagi anak-anaknya, baik diminta maupun tidak. Dengan mempertimbangkan waktu, tempat dan suasana hati yang tepat, orang tua memiliki hak dan tanggung jawab untuk memberikan nasihat-nasihatnya yang terbaik kepada anak-anaknya.

5. Membantunya Mengatasi Persoalan Hidup

Orang tua yang bijak tetap membuka pintu hatinya untuk menerima keluh-kesah atas berbagai persoalan hidup anak-anaknya, baik mereka masih anak-anak maupun telah dewasa, baik mereka masih lajang maupun telah menikah.

Cinta orang tua kepada anak-anak tetap berlaku sampai kapan pun. Cinta orang tua berlaku sepanjang hayat.

Teladan Rasulullah Saw.

Inilah yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw.

Dari al-Miswar bin Makhzamah:

إِنَّ عَلِيًّا خَطَبَ بِنْتَ أَبِى جَهْلٍ، فَسَمِعَتْ بِذَلِكَ فَاطِمَةُ، فَأَتَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ: يَزْعُمُ قَوْمُكَ أَنَّكَ لاَ تَغْضَبُ لِبَنَاتِكَ، هَذَا عَلِىٌّ نَاكِحٌ بِنْتَ أَبِى جَهْلٍ، فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَمِعْتُهُ حِينَ تَشَهَّدَ يَقُولُ: أَمَّا بَعْدُ٬ أَنْكَحْتُ أَبَا الْعَاصِ بْنَ الرَّبِيعِ، فَحَدَّثَنِى وَصَدَقَنِى، وَإِنَّ فَاطِمَةَ بَضْعَةٌ مِنِّى، وَإِنِّى أَكْرَهُ أَنْ يَسُوءَهَا، وَاللَّهِ لاَ تَجْتَمِعُ بِنْتُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبِنْتُ عَدُوِّ اللَّهِ عِنْدَ رَجُلٍ وَاحِدٍ. فَتَرَكَ عَلِىٌّ الْخِطْبَةَ

“Suatu saat, ‘Ali meminang anak perempuan Abu Jahal. Fathimah mendengar hal itu. Dia pun menemui Rasulullah Saw. dan berkata, “Orang-orang mengatakan, bahwa engkau tidak pernah marah untuk membela anak-anak perempuanmu. Ini ‘Ali hendak menikahi anak perempuan Abu Jahal.”

Rasulullah Saw. pun bangkit (berbicara di depan orang banyak). Setelah membaca tasyahud, beliau bersabda, “Aku telah menikahkan (anak perempuanku) dengan Abu ‘Ash bin Rabi’. Dia telah berjanji (untuk memperlakukan anakku dengan baik), dan dia pun telah memenuhi janjinya. Sesungguhnya Fathimah merupakan bagian dari diriku. Dan sungguh aku tidak ingin suaminya akan menyakitinya. Demi Allah, anak perempuan Rasulullah Saw. tidak akan berkumpul dengan anak perempuan musuh Allah dalam pernikahan dengan satu orang suami.” Oleh karena itu, ‘Ali pun membatalkan pinangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Membantu permasalahan anak

Cinta dan perhatian Rasulullah kepada putrinya tidak lantas usai setelah Fathimah menikah. Dalam kondisi tertentu, beliau tampil untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi putrinya. Hal ini bukan berarti bahwa beliau terlalu ikut campur dengan urusan rumah tangga putrinya. Hal ini beliau lakukan semata-mata untuk membantu persoalan yang sedang terjadi dalam rumah tangga anaknya, apalagi Fathimah sendiri yang datang menemui beliau.

Inilah sikap yang tengah-tengah. Sebagai orang tua kita tidak terlalu ikut campur dengan urusan anak-anak, apalagi bila mereka telah berumah tangga. Namun apabila diminta, kita pun siap memberikan solusi atas persoalan yang sedang mereka hadapi dengan sepenuh hati.

6. Menerima Anak Apa Adanya

Juga sebagai bentuk cinta yang tulus kepada anak-anak adalah sikap menerima setiap anak apa adanya. Ada anak yang pintar, tapi juga ada yang kurang pintar. Ada anak yang pendiam, namun juga ada yang aktif, bahkan super aktif. Dan ada anak yang berpembawaan tenang dan kalem, di samping juga ada anak yang cekatan dan lincah. Kita siap menerima setiap anak sesuai dengan kondisinya masing-masing.

a. Laki-laki atau Perempuan

Ada orang tua yang menginginkan anak pertamanya adalah seorang bayi yang berjenis kelamin laki-laki, tapi ternyata Allah memberikan anak perempuan. Atau sebaliknya.

Keinginan seperti itu adalah wajar-wajar saja, selama tidak memaksakan keinginan dirinya atas keinginan Allah Sang Maha Pencipta. Sesungguhnya Allah merupakan pihak Yang Maha Berkehendak.

Allah Swt. berfirman:

لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ

“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki.” (asy-Syûrâ: 42)

Allah Yang Maha Mengetahui, apakah anak laki-laki atau anak perempuan yang lebih tepat untuk kita. Boleh jadi kita menginginkan anak laki-laki, tapi sebenarnya anak perempuan yang lebih tepat untuk diri kita. Atau sebaliknya.

Kisah Siti Maryam

Kita ingat kisah isteri ‘Imran yang amat mengharapkan anak laki-laki. Dalam perhitungannya, anak laki-laki lebih mampu memikul beban dakwah daripada anak perempuan. Pada waktu itu belum ada teknologi untuk mengetahui jenis kelamin bayi yang masih berada dalam kandungan. Ketika melahirkan, dan bayinya ternyata berjenis kelamin perempuan, dia pun mengadukan hal itu kepada Allah.

Marilah kita simak pengabadian peristiwa itu dalam al-Qur’an:

فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّي وَضَعْتُهَا أُنْثَى وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنْثَى

“Maka tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, dia pun berkata. “Wahai Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya sebagai seorang anak perempuan.” Dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu. Dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan.” (Ali ‘Imran: 36)

Namun memang demikianlah kehendak Allah yang selalu penuh hikmah dan tujuan yang seringkali tidak terjangkau oleh pengetahuan manusia yang serba terbatas. Justru dengan lahirnya bayi perempuan itu, yang diberi nama Maryam, ternyata kelak di kemudian hari Allah menunjukkan kebesaran-Nya. Dialah Nabi Isa AS yang lahir tanpa kehadiran seorang ayah. Bukannya sang ayah yang tidak mau bertanggung jawab, atau pun ayahnya adalah Allah sendiri, Maha Suci Allah dengan segala sifat-sifat-Nya. Tapi memang Ibunda Maryam mengandung tanpa bantuan seorang laki-laki, sebagaimana layaknya wanita yang lain.

Dari kisah nyata itu, hendaknya kita bisa mengambil banyak pelajaran. Di antaranya, bahwa hendaknya kita bisa menerima setiap kehendak yang telah Allah tetapkan untuk kita, termasuk di sini adalah jenis kelamin anak-anak kita. Allah tidak pernah mempermainkan hamba-Nya. Pasti ada hikmah dan tujuan yang indah bagi setiap kehendak-Nya. Hendaknya kita selalu berbaik sangka atau husnuzh zhann kepada-Nya.

b. Bentuk tubuh dan wajah

Sebagai orang tua, tentunya kita selalu mengharapkan anak-anak kita merupakan anak-anak yang rupawan, baik akhlak maupun fisiknya. Namun kadang harapan itu tidak terpenuhi. Dalam hal ini hendaknya kita juga bisa menerima kondisi anak apa adanya. Boleh jadi kita menginginkan sesuatu, padahal itu tidak baik bagi kita. Sebaliknya, boleh jadi kita tidak menginginkan sesuatu, padahal itu adalah baik bagi kita. Yang demikian itu terjadi, karena seringkali pengetahuan kita tidak bisa menjangkau apa yang sebenarnya baik atau buruk bagi kita.

Marilah kita perhatikan firman Allah berikut ini:

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal dia amat baik bagimu. Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal dia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (al-Baqarah: 216)

Fokus pada akhlak daripada fisik

Sebagai hamba Allah yang taat, hendaknya kita fokuskan prioritas keadaan anak pada sifat-sifat yang terpuji. Memang kalau bisa tentu kita menginginkan anak yang sempurna, baik akhlak maupun fisiknya. Tapi bila harus memilih, antara akhlak dan fisik, tentu kita akan memberikan prioritas utama pada akhlak. Dan akhlak yang paling penting adalah keimanan yang benar.

Mengenai pentingnya akhlak dibandingkan semua yang bersifat lahiriah ini, Allah I memberikan peringatan kepada kita, bahwa seorang budak yang beriman itu jauh lebih mulia daripada seorang yang menyekutukan Allah, bagaimana pun mulianya orang itu dengan ukuran duniawi.

وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ … وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ

“Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu… Dan sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu.” (al-Baqarah: 221)

7. Sayang Tapi Tegas

Ada orang tua yang memanjakan anak-anaknya. Apapun keinginan anak, asal mampu dilakukan, dia kabulkan. Sikap yang terlalu memanjakan itu boleh jadi akan menyusahkan anak kelak di kemudian hari setelah dia dewasa. Karena sudah biasa memperoleh apapun yang dia inginkan, dia pun akan menghalalkan segala cara untuk memperoleh apa yang diinginkannya.

Ada pula orang tua yang selalu membenarkan sikap anak-anaknya. Dia tidak bisa memilah, kapan harus memperingatkan atau memaafkan anak-anak yang telah berbuat salah. Dia selalu memaafkan anak-anaknya, meskipun mereka telah berbuat salah, tanpa peringatan apapun.

Berlawanan dari keadaan di atas, ada orang tua yang selalu bersikap ketus kepada anak-anaknya. Hampir saja dia tidak pernah memandang anak-anaknya dengan pandangan kasih sayang, apalagi memberikan ciuman penuh kasih. Dan sedikit saja anaknya berbuat salah, maka pukulan yang menyakitkan selalu siap tersedia, tanpa peringatan apapun.

Teladan Rasulullah Saw.

Semua sikap di atas merupakan sikap ekstrem yang bertentangan dengan ajaran Islam yang mulia dan penuh hikmah. Islam selalu mengajarkan sikap yang tengah-tengah atau moderat. Marilah kita perhatikan hadits sebagai berikut:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ قُرَيْشًا أَهَمَّهُمْ شَأْنُ الْمَرْأَةِ الْمَخْزُومِيَّةِ الَّتِى سَرَقَتْ، فَقَالَ: وَمَنْ يُكَلِّمُ فِيهَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ فَقَالُوا: وَمَنْ يَجْتَرِئُ عَلَيْهِ إِلاَّ أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ، حِبُّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَكَلَّمَهُ أُسَامَةُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَتَشْفَعُ فِى حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللَّهِ؟ ثُمَّ قَامَ فَاخْتَطَبَ، ثُمَّ قَالَ: إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ، وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ، وَايْمُ اللَّهِ، لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ ابْنَةَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا.

Dari ‘Aisyah RA, bahwa kaum Quraisy ingin melakukan pengecualian kepada seorang wanita dari Kabilah Makhzum yang melakukan pencurian. Mereka berkata, “Siapa yang akan membicarakan masalah ini dengan Rasulullah Saw? Tidak ada yang akan berani melakukan itu kecuali Usamah, kesayangan Rasulullah Saw.” Usamah pun membicarakan hal itu dengan Rasulullah Saw. Beliau bersabda, “Apakah engkau ingin memberikan rekomendasi dalam urusan had yang telah ditentukan Allah?”

Kemudian beliau bangkit untuk berkhutbah. Beliau bersabda, “Sungguh telah binasa orang-orang sebelum kalian. Apabila di antara mereka ada orang terhormat mencuri, mereka membiarkannya. Apabila di antara mereka ada orang lemah yang mencuri, mereka memberikan hukuman had kepadanya. Demi Allah, apabila Fathimah putri Muhammad mencuri, sungguh aku akan memotong tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pengalaman Pribadi

Dalam hal terlalu memanjakan anak ini, penulis mempunyai pengalaman pribadi. Suatu saat saya sedang berkunjung ke rumah salah seorang kerabat. Beliau punya beberapa orang anak yang selalu diberikan kebebasan berbuat apapun.

Hingga ketika salah seorang anaknya buang angin di depan tamu pun, beliau berkomentar dengan canda, “Tidak apa-apa. Tidak bau, kok.”

Sikap yang terlalu memanjakan dan selalu membenarkan perbuatan anak ini pada akhirnya bisa mencelakakan anak sendiri. Dan benar saja. Beberapa tahun hingga belasan tahun kemudian, saya amati hampir semua anak perempuan beliau yang berjumlah beberapa orang, hamil dahulu sebelum menikah. Na’ûdzu billâh min dzâlik.

Semoga Allah menghindarkan kita dari sikap seperti itu.

8. Tidak Pilih Kasih

Orang tua hendaknya tidak bersikap pilih kasih di antara anak-anaknya. Boleh jadi di antara anak-anak ada yang lebih pandai, ada yang lebih sopan, ada yang lebih taat, dan seterusnya dibandingkan dengan saudara-saudaranya. Namun hendaknya hal itu tidak mendorong orang tua untuk bersikap pilih kasih.

Kisah Nabi Ya’qub dan Nabi Yusuf

Sikap pilih kasih itu akan membuat sebagian anak-anak yang lain merasa telah dianaktirikan oleh orang tuanya sendiri. Lebih dari itu, sikap pilih kasih juga akan mencelakakan anak yang lebih dikasihi itu, karena perasaan iri saudara-saudaranya yang lain. Marilah kita ingat kembali kisah Nabi Yusuf AS yang dibuang oleh saudara-saudaranya. Bahkan mereka telah menyebut ayah mereka sendiri yang tidak lain seorang nabi, yaitu Nabi Ya’qub AS sebagai orang yang telah berbuat salah.

Allah berfirman:

إِذْ قَالُوا لَيُوسُفُ وَأَخُوهُ أَحَبُّ إِلَى أَبِينَا مِنَّا وَنَحْنُ عُصْبَةٌ إِنَّ أَبَانَا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ (8) اقْتُلُوا يُوسُفَ أَوِ اطْرَحُوهُ أَرْضًا يَخْلُ لَكُمْ وَجْهُ أَبِيكُمْ وَتَكُونُوا مِنْ بَعْدِهِ قَوْمًا صَالِحِينَ (9)

“Mereka berkata: Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita daripada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita adalah dalam kekeliruan yang nyata. Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu daerah (yang tak dikenal) supaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja, dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik (setelah membunuh Yusuf a.s. bertaubat kepada Allah serta mengerjakan amal-amal saleh).” (Yûsuf: 8-9)

Adil dalam Pemberian Hadiah

Bersikap tidak pilih kasih ini berlaku untuk semua hal, termasuk masalah pemberian atau hadiah. Orang tua hendaknya tidak bersikap pilih kasih. Dia harus bisa berbuat secara adil.

Marilah kita perhatikan riwayat berikut ini:

عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ رضى الله عنهما وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ يَقُولُ: أَعْطَانِى أَبِى عَطِيَّةً، فَقَالَتْ عَمْرَةُ بِنْتُ رَوَاحَةَ: لاَ أَرْضَى حَتَّى تُشْهِدَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَأَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: إِنِّى أَعْطَيْتُ ابْنِى مِنْ عَمْرَةَ بِنْتِ رَوَاحَةَ عَطِيَّةً، فَأَمَرَتْنِى أَنْ أُشْهِدَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ: أَعْطَيْتَ سَائِرَ وَلَدِكَ مِثْلَ هَذَا؟ قَالَ: لاَ. قَالَ: فَاتَّقُوا اللَّهَ، وَاعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلاَدِكُمْ. قَالَ: فَرَجَعَ فَرَدَّ عَطِيَّتَهُ.

“Dari Nu’mân bin Basyîr RA, ketika sedang di atas mimbar dia berkata, “Ayahku pernah memberikan hadiah kepadaku. Lalu ‘Amrah binti Rawahah (ibu kandung Nu’man) berkata, “Aku tidak merasa ridha, sampai engkau menanyakan hal itu kepada Rasulullah Saw..”

Maka ayahku pun menemui Rasulullah Saw. dan berkata, “Aku telah memberikan hadiah kepada salah seorang anakku dari ‘Amrah binti Rawahah. Lalu dia memintaku untuk menanyakan hal itu kepadamu, wahai Rasulullah.”

Beliau bertanya, “Apakah engkau memberikan hadiah yang semisal untuk anak-anakmu yang lain?” Ayahku menjawab, “Tidak.”

Beliau bersabda, “Bertakwalah engkau kepada Allah. Dan hendaknya engkau bersikap adil kepada anak-anakmu.” Maka ayahku pun pulang dan menarik kembali hadiahnya.” (HR. Bukhari)

Akibat sikap tidak adil

Demikianlah ajaran Islam yang mulia telah mengantisipasi semua kemungkinan yang akan menimbulkan sengketa di kemudian hari. Pemberian yang dilakukan dengan tulus, tapi karena dilakukan secara tidak adil, akan menimbulkan bibit-bibit permusuhan di kemudian hari. Apalagi menyangkut harta yang selalu menjadi masalah sensitif, sebagaimana yang selalu kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari. Banyak persaudaraan yang berubah menjadi permusuhan karena sikap orang tua yang pilih kasih.

9. Tidak Membandingkan dengan Anak Yang Lain

Boleh jadi ada orang tua yang suka membandingkan antara seorang anaknya dengan anak yang lain. Hal itu seperti mengatakan, “Lihatlah kakakmu, dia seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya.” Atau sebaliknya, orang tua mengatakan, “Perhatikanlah adikmu, dia rajin belajar dan selalu menjadi juara satu di kelasnya.” Tujuan orang tua mengatakan demikian tentunya untuk memotivasi anak tersebut supaya meniru saudaranya. Namun sebenarnya hal itu akan memberikan hasil yang terbalik.

Bukan hanya orang dewasa, anak-anak juga tidak suka dibandingkan dengan anak yang lain. Anak akan merasa disepelekan dan tidak dihargai. Anak akan merasa bahwa orang tuanya lebih menyayangi saudaranya daripada dirinya. Selanjutnya anak akan menjadi minder, atau malah semakin tidak patuh untuk menunjukkan keberadaan dirinya.

___________

Sumber:

Buku Jurus Jitu Agar Anak Rajin Shalat, Cepat Hafal al-Qur’an dan Berbakti kepada OrangtuaAhda Bina, Lc.

Tags:

0 thoughts on “Jurus Jitu Menumbuhkan Kasih Sayang Anak pada Orangtua

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.