SHOPPING CART

close
Kajian HaditsTuntunan Shalat

Kedudukan Shalat dalam Islam: Kajian Hadits dan Fiqih

Shalat merupakan kewajiban utama dalam kehidupan seorang muslim sehari-hari. Ia merupakan rukun Islam yang kedua setelah syahadat. Ia merupakan salah satu unsur pondasi bangunan Islam, sekaligus sebagai tiang agama.

 

1. Salah satu pondasi bangunan Islam

Menekankan arti penting shalat, Rasulullah r menjelaskan bahwa bangunan Islam itu memiliki lima unsur pondasi. Unsur pondasi Islam yang kedua adalah shalat. Beliau bersabda:

بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ الْبَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ.

Islam dibangun di atas lima hal, yaitu: kesaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, pergi haji, dan puasa Ramadhan. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Apabila pondasi tidak kokoh, maka bangunan pun akan mudah roboh. Tidak ada gempa bumi saja, bangunan seperti itu bisa roboh dengan sendirinya. Bila datang gempa, tentu bangunan itu akan lebih mudah roboh dan hancur. Demikian pula halnya dengan bangunan keislaman yang ada pada diri kita.

Bila kita rajin shalat, maka keimanan kita pun akan kokoh. Namun bila sebaliknya, maka iman pun akan mudah goyah dan roboh. Bukankah kita biasa menyaksikan fenomena orang-orang yang murtad dari agama Islam, atau kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang Islam sendiri? Semua itu menunjukkan, bahwa sesungguhnya kita belum mendirikan shalat dengan tertib dan benar.

 

2.     Tiang agama

Apabila Islam diibaratkan sebagai bangunan, maka shalat merupakan tiang bagi bangunan tersebut. Apa jadinya sebuah bangunan, apabila tiangnya roboh? Tentu saja bangunan itu pun akan ikut roboh.

Nabi Muhammad r menjelaskan arti penting shalat ini dengan sabda beliau:

رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ، وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ، وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ.

Pangkal seluruh urusan adalah Islam, tiang Islam adalah shalat, dan puncak Islam adalah jihad. (HR. Tirmidzi)

Berdasarkan hadits di atas, alat untuk mengukur ketaatan seseorang kepada agama itu ada pada shalat. Apabila seseorang rajin melaksanakan shalat dengan tertib, maka agamanya dalam keadaan yang kokoh. Insya’ Allah orang itu lebih mudah untuk diajak berbuat baik secara ikhlas.

Sebaliknya, apabila seseorang itu malas melaksanakan shalat, maka agamanya dalam keadaan yang lemah. Disadari maupun tidak, diakui maupun tidak, sesungguhnya orang seperti ini relatif susah untuk diajak berbuat baik secara ikhlas. Dan inilah tanda utama adanya sifat munafik pada diri seseorang. Na’udzu billah min dzalik

Allah I berfirman:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ، وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى، يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا.

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. (an-Nisa’: 142)

Tags:

0 thoughts on “Kedudukan Shalat dalam Islam: Kajian Hadits dan Fiqih

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.