SHOPPING CART

close

Kesuksesan Nabi Muhammad dalam Menanamkan Sifat Tabligh

1. Terjaganya Kemurnian al-Qur’an

Di antara contoh kesuksesan nabi dalam bertabligh ini diwakili secara sempurna oleh pribadi Nabi Muhammad Saw. dalam menyebarkan sekaligus menjaga kemurnian al-Qur’an sebagai pedoman utama ajaran Islam dan tatanan hidup yang ideal.

Dibandingkan kitab suci sebelumnya

Kita bisa melihat keajaiban al-Qur’an ini secara lebih gamblang, apabila kita bandingkan dengan nasib kitab suci para nabi sebelum Nabi Muhammad Saw. Kita sebut saja kitab Injil yang pernah Allah turunkan kepada Nabi Isa ‘alaihis salam.

Bisakah kita menemukan kitab suci ini dalam keadaan orisinal di zaman sekarang?

Jawabannya sudah jelas: Tidak.

Para pemuka agama Kristen sendiri mengakui, bahwa Kitab Injil yang ada di tangan mereka saat ini sudah tidak asli, alias sudah mengalami penambahan, pengurangan, maupun perubahan. Mereka mengakui bahwa Injil sudah dipalsukan, tapi tetap mengimaninya. Lalu mereka menyebut hal itu sebagai mukjizat Injil, yaitu diyakini sudah dipalsukan, tapi tetap diimani.

Teknik penjagaan al-Qur’an

Al-Qur’an terjaga kemurniannya, karena sejak masa Nabi Muhammad Saw. masih hidup, al-Qur’an sudah dihafal dan ditulis secara tertib. Setelah beliau wafat, sebagai tanda bahwa al-Qur’an sudah diturunkan secara keseluruhan, para shahabat pun berinisiatif untuk membukukan al-Qur’an secara amat teliti dan hati-hati.

Hingga detik ini al-Qur’an dihafal oleh umat manusia di berbagai belahan dunia, dengan latar belakang pendidikan, bahkan agama yang beragam. Dan seandainya terjadi kebakaran hebat di bumi ini, sehingga musnahlah seluruh kitab dan buku yang pernah ditulis umat manusia, maka hanya al-Qur’an-lah satu-satunya kitab yang bisa dicetak ulang persis seperti semula. Hal ini karena al-Qur’an dihafal oleh ribuan orang yang tersebar di berbagai belahan dunia, kata per kata, bahkan huruf per huruf dengan sempurna.

Selain dihafal, al-Qur’an juga ditafsirkan dengan metode yang amat beragam dan menakjubkan. Semua metode tafsir itu pun membuat pamor al-Qur’an semakin cemerlang dan berwibawa.

Dan, semua usaha menghafal dan menafsirkan al-Qur’an itu tentu saja tidak lepas dari sifat tabligh Nabi Muhammad Saw. yang dahsyat. Beliau berpesan:

بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً

Sampaikanlah kabar dariku, meskipun hanya sebuah ayat. (HR. Bukhari)

2. Adanya Pemilahan Hadits Shahih dan Dha’if

Selain al-Qur’an, terpilahnya hadits yang asli dari hadits yang palsu juga merupakan contoh gemilangnya Nabi Muhammad dalam bersifat tabligh. Secara tegas beliau pernah bersabda:

مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

Dengan semangat bahwa hadits merupakan sumber ajaran Islam yang kedua ini, lahirlah para ulama besar di bidang hadits. Mereka wakafkan semua yang ada pada diri mereka untuk menemukan berbagai metode, sehingga terpilahlah antara hadits yang asli dan hadits yang palsu.

Jadi jangankan firman Allah, sabda Nabi Muhammad pun bisa terjaga dengan baik. Bahkan bukan saja sabda beliau, tapi juga seluruh informasi yang bersumber pada pribadi beliau, baik perbuatan, persetujuan, maupun ciri-ciri fisik dan kebiasaan-kebiasaan beliau sebagai manusia biasa, telah terpelihara dengan sempurna.

Sudah sepantasnya semua keistimewaan ini membuat kita yakin dengan kebenaran agama Islam, dan kebatilan semua agama yang lain. Semua ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad Saw. memang diutus untuk seluruh umat manusia hingga akhir zaman. Sebaliknya, musnahnya seluruh kitab suci sebelum al-Qur’an menunjukkan bahwa seluruh nabi sebelum Nabi Muhammad memang diutus sebatas beberapa waktu saja, dan menjadi kadaluarsa dengan datangnya Nabi Muhammad Saw..

3. Teladan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu

Dalam wawasan keislaman, kita pasti pernah mendengar nama Abu Hurairah. Termasuk dalam buku ini, nama shahabat yang mulia ini amat sering kita sebut. Abu Hurairah ini adalah seorang shahabat yang paling banyak menyampaikan hadits. Namun karena begitu banyaknya hadits yang beliau sampaikan, membuat orang-orang curiga. Jangan-jangan Abu Hurairah telah membuat banyak hadits palsu, seperti dugaan tanpa dasar yang dituduhkan kaum orientalis.

Motivasi sifat tabligh

Ternyata hal itu juga dirasakan oleh Abu Hurairah sendiri. Oleh karena itu, Abu Hurairah pun tergerak untuk menjelaskan duduk perkara hal ini. Bahwa dia menyampaikan amat banyak hadits itu sekedar menghindari ancaman dari Allah bagi orang yang menyembunyikan ilmu.

Teks hadits

Marilah kita baca secara cermat keterangan dari Abu Hurairah itu, yang kemudian diabadikan oleh Imam Bukhari.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضى الله عنه قَالَ: يَقُولُونَ إِنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ يُكْثِرُ الْحَدِيثَ. وَاللَّهُ الْمَوْعِدُ، وَيَقُولُونَ مَا لِلْمُهَاجِرِينَ وَالأَنْصَارِ لاَ يُحَدِّثُونَ مِثْلَ أَحَادِيثِهِ وَإِنَّ إِخْوَتِى مِنَ الْمُهَاجِرِينَ؟ كَانَ يَشْغَلُهُمُ الصَّفْقُ بِالأَسْوَاقِ، وَإِنَّ إِخْوَتِى مِنَ الأَنْصَارِ كَانَ يَشْغَلُهُمْ عَمَلُ أَمْوَالِهِمْ، وَكُنْتُ امْرَأً مِسْكِينًا أَلْزَمُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى مِلْءِ بَطْنِى، فَأَحْضُرُ حِينَ يَغِيبُونَ وَأَعِى حِينَ يَنْسَوْنَ،

وَقَالَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا: لَنْ يَبْسُطَ أَحَدٌ مِنْكُمْ ثَوْبَهُ حَتَّى أَقْضِىَ مَقَالَتِى هَذِهِ، ثُمَّ يَجْمَعَهُ إِلَى صَدْرِهِ، فَيَنْسَى مِنْ مَقَالَتِى شَيْئًا أَبَدًا؟ فَبَسَطْتُ نَمِرَةً لَيْسَ عَلَىَّ ثَوْبٌ غَيْرَهَا، حَتَّى قَضَى النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَقَالَتَهُ، ثُمَّ جَمَعْتُهَا إِلَى صَدْرِى، فَوَالَّذِى بَعَثَهُ بِالْحَقِّ مَا نَسِيتُ مِنْ مَقَالَتِهِ تِلْكَ إِلَى يَوْمِى هَذَا،

وَاللَّهِ لَوْلاَ آيَتَانِ فِى كِتَابِ اللَّهِ مَا حَدَّثْتُكُمْ شَيْئًا أَبَدًا ( إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ ) إِلَى قَوْلِهِ ( الرَّحِيمُ ).

Terjemah

Dari Abu Hurairah ra, dia berkata: Orang-orang mengatakan, bahwa Abu Hurairah terlalu banyak menyampaikan hadits. Allah mengetahui yang sebenarnya. Orang-orang juga mengatakan, mengapa kaum Muhajirin dan kaum Anshar tidak menyampaikan hadits yang sama dengan hadits yang dibawa Abu Hurairah. Padahal sebenarnya hal itu karena saudara-saudaraku dari kaum Muhajirin amat sibuk dengan perdagangan mereka di pasar. Sementara saudara-saudaraku dari kaum Anshar juga selalu sibuk mengurusi harta mereka. Sedangkan aku adalah orang yang miskin. Aku bisa selalu bersama Rasulullah Saw. sekehendak hatiku. Dengan keadaan seperti itu, aku bisa selalu hadir ketika mereka sedang tidak hadir. Aku bisa mengingat apa yang mereka lupa.

“Hal itu juga karena pada suatu hari Nabi Muhammad Saw. pernah berkata, “Siapa di antara kalian yang bersedia menjulurkan kain bajunya, sehingga aku bisa memberikan seluruh perkataanku ini, kemudian dia akan bisa mengumpulkan semua itu dalam dadanya (selalu ingat), dan dia tidak akan pernah melupakan seluruh perkataanku itu untuk selama-lamanya.” Maka aku pun menjulurkan pakaianku, yang aku tidak memiliki pakaian selain itu, sehingga Nabi Muhammad Saw. memberikan seluruh perkataan beliau. Kemudian aku pun mengumpulkan semua itu dalam dadaku. Demi Dzat yang telah mengutus beliau dengan membawa kebenaran, aku tidak pernah melupakan satu pun dari perkataan beliau hingga hari ini.

“Demi Allah, apabila bukan karena dua ayat yang ada dalam al-Qur’an, aku tidak ingin menyampaikan satu hadits pun kepada kalian. Dua ayat itu adalah (yang artinya), “Sungguh, orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan…” hingga firman-Nya (yang artinya), “Maha Penyayang.” (HR. Bukhari)

_____________

Sumber dan Bacaan: 

– Buku ar-Rusul war-RisalatSyeikh Umar Sulaiman al-Asyqat.

– Artikel Shifat al-Anbiya’ war RusulSyeikh Batul ad-Daghim. mawdoo3.com

– Buku Dahsyatnya 4 Sifat NabiAhda Bina A. Lc. 

Tags:

3 thoughts on “Kesuksesan Nabi Muhammad dalam Menanamkan Sifat Tabligh

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.