SHOPPING CART

close

Ketika Internet Dimatikan Selama Satu Bulan (2)

Sungguh berat hidup tanpa internet. Sungguh berat. Susah dan repot. Berbagai kebutuhan dan kesenangan harus ditunda.

Kita tidak bisa mengikuti perkembangan peristiwa yang sedang ramai dibicarakan orang. Tidak bisa nonton Youtube. Juga tidak bisa melakukan berbagai keisengan yang biasa kita lakukan.

Dari satu sisi, sebenarnya ada baiknya juga. Waktu kita jadi terpakai untuk berbagai hal yang benar-benar riel. Seperti bergaul dengan teman-teman yang sedang berada di hadapan kita. Di mana biasanya kita lebih sibuk dengan teman-teman yang sedang berjauhan dan tidak kelihatan. Baik melalui WhatsApp, Facebook maupun yang lain.

Namun demikian tentu saja selama internet di Khartoum dan seantero Sudan dimatikan, kita tidak lantas menyerah dengan keadaan. Banyak pilihan yang bisa kita lakukan.

***

1. Numpang Wifi di KBRI

Di rumah kontrakan kami, orang yang pertama kali punya ide itu adalah Bapak Arif Widodo. Beliau kandidat doktor di Omdurman Islamic University. Sama dengan saya, cuma beda jurusan. Beliau di Bahasa Arab, saya di Syariah.

Sehari setelah internet diputus. Pagi-pagi beliau sudah bersiap keluar rumah. Mandi dan pakai baju rapi. Tidak lupa dengan songkok yang selalu bertengger di kepalanya yang mulia.

“Mau ke mana, Pak?” tanya saya.

“Ke KBRI, Pak,” jawab beliau.

“Naik apa? Kan jalanan diblokir dan tidak ada muwashalat.”

“Itu. Pinjam sepeda motor Pak Misbah. Ayo berangkat bareng saya.”

“Tidak, Pak. Terima kasih. Saya di rumah saja. Tapi saya titip sms ke nomor hape istri saya aja nggih. Tolong nanti disampaikan kabar, bahwa saya di sini sehat dan selamat,” sembari saya diktekan nomornya.

Sebenarnya saya pingin ikut. Tapi tidak berani naik motor, apalagi dibonceng oleh orang lain. Mengingat jalan raya di sini pakai sistem jalan di kanan. Kalau sampai lupa sangat berbahaya, bukan?

Beberapa hari kemudian saya pun ikut numpang wifi di KBRI. Yaitu setelah muwashalat berjalan dengan normal. Tapi karena semakin banyak yang ingin gabung, akhirnya durasinya pun dibatasi. Setiap orang dikasih waktu maksimal seperempat jam.

Sebenarnya aturan itu cukup masuk akal. Yang penting bisa komunikasi dengan keluarga, meskipun hanya sebentar. Tapi kemudian jadi tidak menarik. Karena untuk sampai ke KBRI kita perlu waktu minimal setengah jam perjalanan. Berarti PP satu jam, bahkan bisa lebih.

Baca juga:  Inilah Sopir Tirhal Teladan dan Paling Saleh Sedunia

***

2. Numpang Wifi di Bandara

Orang yang pertama kali punya ide cemerlang ini juga Bapak Arif. Memang beliau ini sepertinya punya otak yang sangat brilian. Banyak ide, pemikiran dan penemuan yang tidak terlintas pada kebanyakan orang.

Ngenet di bandara ini cukup menarik. Durasinya tidak terbatas. Hanya saja kalau sudah banyak orang yang datang dan bergabung dengan jaringan wifi, maka internet pun jadi super lemot.

Untuk mengatasi hal itu, para mahasiswa Indonesia pun banyak yang bermalam di bandara. Mereka berangkat setelah shalat Isya’. Pakai jaket, bawa selimut dan tikar. Demi sambungan internet. Mungkin mereka punya pacar di tanah air yang harus ditelpon berlama-lama setiap hari. Entahlah.

Saya juga pernah ikut Pak Arif. Kami berangkat bertiga. Pak Arif, Pak Yasir dan saya sendiri. Oya, Pak Yasir ini lulusan Yaman, dari al-Ahqaf University. Sekarang sedang menyelesaikan S2 di Jami’ah al-Qur’an al-Karim.

Tapi pengalaman ngenet di bandara bagi saya kurang menyenangkan. Karena saya punya banyak grup wa. Di mana saya sendiri sudah seminggu tidak ngenet. Jadi untuk bisa mengirimkan sms, saya harus menunggu seluruh sms masuk selama satu minggu sebelumnya.

Laptop saya pun tidak bisa nyambung. Mungkin karena saking banyaknya orang yang ingin numpang wifi pada hari itu.

Akibatnya saya pun tidak bisa menggunakan hape sendiri. Terpaksa saya ngerepotin Pak Arif dengan meminjam tabnya. Sementara beliau pakai hape.

Setelah hari itu, saya tidak pernah lagi ke bandara untuk keperluan internet.

***

3. Ngenet di Warung Wifi

Nah ini kabar yang sangat baik. Melihat kondisi ini, ternyata banyak membuka peluang orang untuk bikin warung wifi. Di sekitar rumah kami ada tiga tempat. Yaitu di dekat Manqah, di Markaz, dan di Syari’ Moyah. Masing-masing punya aturan dan tarifnya sendiri-sendiri. Oya, ada juga di Afra. Tapi agak mahal dan harus daftar sehari sebelumnya.

Mungkin ada yang penasaran. Tarif internetnya bisa dibilang sangat mahal. Per jamnya adalah 500 pound. Atau sekitar Rp 17.000. Mereka menggunakan kesempatan dalam kesempatan. Yah, kenapa tidak?

Padahal uang segitu di Indonesia bisa dibelikan paket internet dengan kuota minimal 2 GB untuk tempo satu bulan. Sedangkan di sini hanya satu jam.

Biarpun saya sendiri menilai mahal, namun ternyata hampir tiap hari saya pergi ke warung wifi itu. Yaitu pada pagi hari, sekitar jam enam sampai jam tujuh. Apalagi keperluannya, kalau bukan menemui si cantik, ibunya anak-anak…

***

Yah, itulah sedikit catatan mengenai betapa pentingnya internet bagi kita semua. Apalagi bagi kita yang sedang jauh di negeri orang.

Semoga hal yang sama tidak lagi kita alami. Karena sungguh, sekali lagi. Tidak ada internet itu sangat merepotkan. Bahkan kalau dirasa-rasakan juga sangat menyakitkan.

Oya, alhamdulillah. Sudah beberapa hari ini internet kembali agak normal. Sudah bisa digunakan, namun ada beberapa tahapan pembukaan blokir.

Hari pertama pembukaan blokir, kita bisa mengatasi blokir dengan VPN. Hari kedua, kita sudah bisa menggunakan internet secara umum. Namun untuk WhatsApp dan Facebook harus pakai aplikasi dan VPN. Sampai sekarang.

Alhamdulillah ‘ala kulli hal.

Tags:

One thought on “Ketika Internet Dimatikan Selama Satu Bulan (2)

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.