SHOPPING CART

close
Keluarga Terbaik

Ketika Khalifah Umar Dimarahi Istrinya

Suatu saat ada seseorang diomeli oleh istrinya. Dia tidak tahan, tapi juga tidak bisa menerimanya.

Akhirnya dia keluar rumah, dan menuju kediaman Khalifah waktu itu, yaitu Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘anhu. Dia ingin mengadukan keadaannya. Siapa tahu KhalifahUmar bersedia memberinya sebuah tips yang jitu.

Tiba di hadapan pintu rumah Khalifah, orang tersebut segera mengetuknya. Baru saja orang itu mengetuk pintu, sayup-sayup dia mendengar suara seorang perempuan yang berbicara dengan suara tinggi. Rupanya perempuan itu sedang marah-marah. Siapa wanita itu, dan siapa yang sedang dimarahinya?

Sekilas saja orang itu paham, bahwa perempuan yang sedang marah-marah itu adalah istri Khalifah, dan orang yang sedang dimarahi adalah Khalifah itu sendiri.

Subhanallah…

Jadi ternyata Umar juga sedang dimarahi istrinya sendiri!

Bagaimana mungkin?

Umar, yang semua orang takut padanya. Semua orang, baik rakyat biasa maupun raja sekalipun. Ternyata di rumah dimarahi istrinya juga.

Umar, yang setan saja takut berhadapan dengannya. Dimarahi istrinya. Apa perempuan itu tidak takut padanya?

Rasulullah Saw. pernah bersabda, kalau seandainya Umar sedang berjalan di suatu lorong. Lalu di ujung yang lain dari lorong itu ada setan yang sedang berjalan ke arah Umar, pastilah setan itu akan menyingkir, karena takut pada Umar.

Sejenak orang itu tertegun, dan membatalkan niatnya untuk mengadukan keadaannya pada Khalifah. Maka orang itu pun segera beranjak pergi meninggalkan rumah Khalifah.

Tapi baru saja orang itu melangkahkan kedua kakinya, pintu rumah terbuka, dan keluarlah Umar bin Khatthab memanggilnya.

“Ada keperluan apa engkau datang kemari?”

Orang itu pun menyampaikan keperluannya yang awal datang ke situ. Tapi tidak jadi melanjutkan maksudnya, karena ternyata Umar juga mengalami nasib yang sama. Umar berkata:

“Ya, begitulah. Aku biarkan istriku bersikap seperti itu, mengingat jasa-jasanya padaku. Dia yang tiap hari mencucikan bajuku, menyiapkan makanan untukku, membersihkan rumahku, juga melahirkan anak-anakku. Kita harus menghormati istri.”

Demikianlah. Ketika seorang suami melihat suatu kekurangan pada istrinya, hendaknya dia juga melihat kelebihan yang ada padanya. Bila kita para suami tidak bisa menerima salah satu sifat buruk istri, hendaknya kita mengingat bahwa masih banyak sifat baik yang ada padanya.

Semoga tulisan ini ada manfaatnya.

Bila ada tambahan atau tanggapan dari para pembaca, kami persilakan untuk menyampaikan pada kolom komentar. Terima kasih.

Tags:

0 thoughts on “Ketika Khalifah Umar Dimarahi Istrinya

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Beasiswa

Hukum Keluarga Islam

Klik di sini
Need help?
Bila ada sesuatu yang ingin disampaikan, baik berupa pertanyaan maupun konfirmasi tentang artikel ini, maka kami persilakan...