SHOPPING CART

close
Serba-serbi

Puisi Konde Jawa dan Cadar Arab oleh Ibu Sukmawati

Baru saja Ibu Sukmawati putri Bapak Presiden Soekarno membacakan sebuah puisi yang bagi saya sangat menarik. Puisi yang dibacakan pada sebuah acara fashion.

Dalam puisi yang sederhana itu beliau mengungkapkan kekaguman pada konde dan pakaian adat Jawa dibandingkan cadar. Juga kidung Jawa dibandingkan lantunan suara adzan.

Banyak orang marah pada Ibu Sukmawati. Namun sebenarnya kita tidak perlu marah. Justru saya menangkap kejujuran pada bait-bait puisi tersebut.

Pertama: Pengakuan tidak paham

Ibu Sukmawati membuka puisinya dengan pernyataan, bahwa beliau memang tidak paham syariat Islam.

Menurut saya ini pengakuan yang tulus. Sepertinya memang beliau buta syariat Islam.

Hal itu beliau tegaskan dengan pengulangan, bahwa memang beliau benar-benar tidak memahami syariat Islam sama sekali. Istilah Jawa-nya: nol puthul.

Bagi orang seperti itu, kita tidak boleh marah maupun jengkel. Kita harus memaklumi. Apa yang bisa kita harapkan pada orang yang memang tidak paham, selain kebingungan demi kebingungan.

Orang yang bingung itu tidak boleh kita marahi. Justru dia memperoleh hak atas diri kita yang merasa sudah paham. Untuk menerima pelajaran. Yang penting beliau bersedia untuk belajar.

Kedua: Sari konde dan kebaya dibandingkan dengan cadar

Bagi orang yang sangat awam seperti beliau, tentu kita tidak bisa menuntut banyak. Apalagi untuk memahami ayat maupun hadits yang berbahasa Arab.

Kalau sudah paham dengan baik, kemungkinan besar beliau tidak akan membacakan puisi tersebut.

Nah, hasil dari ketidaktahuan biasanya adalah kesalahan. Kalau tidak tahu tapi hasilnya betul, disebut dengan kebetulan. Pada kali ini sepertinya beliau telah melakukan kesalahan, bukan kebetulan.

Dalam puisi yang sangat sederhana itu, beliau hendak membandingkan budaya Jawa-Hindu-Islam dan budaya Arab-Islam.

Di sinilah satu kesalahan demi kesalahan kita dapatkan dalam pernyataan puisi itu.

Sebenarnya masih banyak yang ingin saya sampaikan. Namun kiranya cukup ini saja. Toh masalah ini sebenarnya juga tidak begitu penting. Selain peringatan buat kita untuk berdakwah dengan lebih baik.

Bahwa masih terlalu luas lahan dakwah kita. Maka janganlah seorang ustadz bertengkar dengan sesama ustadz. Para juruk dakwah dengan sesama juru dakwah. Masih terlalu banyak yang harus kita kerjakan.

Terima kasih.

Tags:

0 thoughts on “Puisi Konde Jawa dan Cadar Arab oleh Ibu Sukmawati

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.