SHOPPING CART

close
Dari Negeri Seberang

Mau ke mana, Ustadz?

Waktu itu malam hari. Saya keluar rumah sendirian. Mau beli ayam goreng untuk makan malam bersama keluarga. Warungnya tidak jauh dari apartemen kami. Hanya sekitar seratus meter ke arah Jami’ah Afriqiyah. Cukup jalan kaki.
Untuk sampai ke warung tujuan, saya harus melewati pasar kecil yang malah lebih ramai malam hari dibandingkan waktu siangnya. Suasananya agak gelap alias remang-remang. Tiba-tiba dari kejauhan ada orang menyapa dengan bahasa Indonesia,

“Mau ke mana, Ustadz?” Setengah berteriak.

Reflek saya berjalan mendekati sumber suara tersebut. Saya yakin ini mesti orang Indonesia. Lah, ternyata itu orang Sudan! Saya benar-benar kecele. Padahal tadi logatnya persis orang Indonesia, bahkan jelas ala Jawa. Busyet deh! Eh, subhanallah maksud saya. Maaf…

Karena sudah terlanjur dekat, maka saya pun mengulurkan tangan pada orang tersebut. Saya berusaha tetap tersenyum seramah mungkin dan menjabat tangannya dengan erat.

Orangnya masih cukup muda, sekitar 20 tahun. Sikapnya khas mahasiswa Indonesia. Senyumnya nampak tenang dan tulus. Dia mengulang pertanyaannya, “Mau ke mana, Ustadz?”

Saya ragu-ragu untuk menjawab. Apakah dia benar-benar bisa bahasa Indonesia? Atau jangan-jangan dia memang orang Indonesia. Saya ragu-ragu. Maka saya jawab dengan bahasa standar saja, “Mau ke warung. Beli ayam goreng.”

Dengan gaya dan logat yang pas, anak muda ini bertanya lagi, “Ustadz asalnya dari mana?”

Spontan saya jawab, “Dari Jawa Timur. Antum dari mana?”

Dengan kalem dia jawab, “Saya dari Papua.” Saya perhatikan dia tidak tertawa. Masih dengan senyum yang sama. Membuat saya jadi tambah ragu-ragu. Ini orang benar-benar dari Papua atau dari Sudan?

Orang Papua itu kalau misalnya kuliah di Khartoum, kita pasti akan susah membedakannya dengan orang Sudan.

Saya merasa dipermainkan. Tapi baiklah.

“Silakan beli, Ustadz. Saya jualan ini.” Dia menunjukkan barang dagangannya. Lumayan banyak. Dia hamparkan di atas meja darurat di pinggir jalan. Pedagang kaki lima ala negeri ini.

Saya masih ragu-ragu, apa benar ini orang dari Indonesia. Namun saya tidak mau tanya hal itu lagi kepadanya. Untuk mengujinya, saya pegang tumpukan kaus kaki di sampingnya dan bertanya dengan singkat,

“Baru?” Maksud saya apakah kaus kaki ini masih baru atau sudah bekas? Dari bahasa suasana orang Indonesia asli pasti paham. Kalau bukan asli Indonesia pasti tidak akan paham. Atau setidaknya akan salah paham.

Dia menjawab, “Saya baru dua tahun di sini, Ustadz.”

Nah, kena lo… Batin saya. Dari situ saya yakin dia memang orang Sudan. Bukan orang Papua. Namun cara bicaranya sudah berhasil mengecoh dan menarik perhatian saya. Sejurus kemudian saya pun minta diri dan melanjutkan langkah ke tujuan semula, yaitu ke warung makan. Saya sampaikan kalau saya sedang agak buru-buru dan lain kali bisa ngobrol lagi.

Beberapa hari berselang saya pun bertemu lagi dengan Abdullah, nama anak muda tadi. Di tempat yang sama. Dia menyapa duluan. Rupanya dia masih ingat saya. Pas waktu itu agak longgar, saya pun mengobrol agak lama dengannya. Bukan lagi dengan bahasa Indonesia, tapi bahasa Arab. Karena saya tidak tahan terlalu lama pakai bahasa Indonesia yang baik dan benar. Terasa kaku dan gersang. Kalau mau santai saya harus pakai bahasa Indonesia yang pasaran. Sementara dia tidak akan paham. Dia hanya paham bahasa Indonesia yang baik dan benar…

Dan saya tidak terlalu peduli, apakah dia nyaman dengan bahasa Arab yang baik dan benar. Karena saya tidak begitu paham dengan bahasa Arab pasaran. Saya hanya paham bahasa Arab yang baik dan benar…

Inilah salah satu jenis orang Sudan. Ternyata dia bukan hanya bisa bahasa Indonesia. Dia mengaku juga bisa bahasa Malaysia, Philiphina dan Thailand. Namun pembawaannya sebagaimana orang Sudan pada umumnya, yaitu ramah dan bersahabat.

Tags:

0 thoughts on “Mau ke mana, Ustadz?

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.