SHOPPING CART

close
Long Live Education

Memahami Struktur dan Korelasi Ilmu-ilmu Keislaman

Tafsir Al-Qur’an

1. Inti tafsir al-Qur’an adalah usaha untuk memahami makna dan kandungan ayat-ayat al-Qur’an. Baik per kata, per ayat, per surat, maupun al-Qur’an secara keseluruhan. Juga hubungan satu ayat dengan ayat yang lain, serta suatu surat dengan surat yang lain.

2. Untuk memahami al-Qur’an dengan baik, kita memerlukan sebuah cabang ilmu keislaman yang bernama Ulumul Qur’an. Fungsinya sebagai pengantar studi al-Qur’an secara umum. Isinya adalah sejarah al-Qur’an, dan istilah-istilah penting yang banyak digunakan dalam kitab-kitab tafsir.

3. Untuk memahami al-Qur’an dengan baik, diperlukan pengetahuan dan pemahaman yang baik di bidang hadits. Karena kebanyakan ayat al-Qur’an itu bermakna umum. Dalam hal ini hadits berfungsi sebagai penjelasan yang bersifat rinci dan praktis. Misalnya al-Qur’an memerintahkan shalat, tapi tidak ada ayat yang menjelaskan kapan dan bagaimana cara shalat. Sehingga diperlukan hadits untuk menjelaskan waktu dan tata cara shalat.

4. Karena al-Qur’an berbahasa Arab, maka kita juga harus pintar bahasa Arab. Tidak harus menjadi pakar bahasa Arab. Namun setidaknya kita mampu memahami kitab-kitab yang berbahasa Arab dengan cukup baik. Apalagi kitab-kitab tafsir yang induk juga berbahasa Arab. Bila kita hanya mengandalkan kitab terjemahan, maka kemampuan kita menjadi sangat terbatas.

5. Ayat-ayat yang membahas hukum Islam itu cukup banyak. Sehingga kita perlu belajar fiqih dan ushul fiqih. Tanpa kedua ilmu ini, bisa jadi kita akan terperosok pada pemahaman yang salah dan aneh. Memang benar bahwa ilmu fiqih dan ushul fiqih buatan para ulama. Sama seperti halnya ilmu hadits dan ilmu tafsir. Semuanya buatan ulama juga. Yang disusun tidak lain sebagai jalan kemudahan untuk memahami ajaran Islam dengan baik dan relatif cepat.

6. Jadi ilmu tafsir itu berkaitan erat dengan ilmu-ilmu keislaman yang lain. Tidak bisa berdiri sendiri. Karena semua ilmu keislaman itu punya hubungan saling membutuhkan dan melengkapi.

Hadits

1. Hadits itu punya dua unsur, yaitu sanad dan matan. Kebanyakan orang hanya fokus pada matan atau isi hadits. Mereka tidak paham sanad, bahkan tidak pernah belajar Musthalah Hadits. Karena memang biasanya ilmu ini hanya diajarkan di pesantren dan jurusan ilmu agama.

2. Untuk memahami derajat kesahihan suatu hadits diperlukan Musthalah Hadits. Ilmu ini secara teori bisa dipelajari dalam waktu satu atau dua tahun. Namun untuk sampai pada kemampuan praktis, yaitu takhrij hadits, diperlukan waktu yang lebih lama, serta ketekunan yang luar biasa.

3. Untuk memahami makna hadits secara baik, kita perlu kemampuan bahasa Arab yang cukup. Karena kitab-kitab hadits itu ditulis dengan bahasa Arab. Demikian pula kitab-kitab syarah atau penjelasan hadits yang bagus juga berbahasa Arab. Kalau hanya mengandalkan terjemahan, maka kemampuan kita menjadi sangat terbatas.

Fiqih

1. Belajar fiqih itu tujuan utamanya untuk memecahkan berbagai kasus yang tidak ada dalam al-Qur’an dan hadits, namun berdasarkan tuntunan al-Qur’an dan hadits.

2. Metode untuk memecahkan kasus itu disebut sebagai ushul fiqih.

3. Orang yang ahli fiqih itu sudah pasti juga ahli al-Qur’an dan hadits. Oleh karena itu, untuk menjadi seorang ahli fiqih yang sesungguhnya, kita harus hafal al-Quran dengan baik, paham maknanya dengan baik. Ditambah lagi dengan ilmu, pengetahuan dan wawasan akan hadits.

4. Untuk menunjang ketrampilan dan kemampuan dalam memecahkan kasus itu, kita juga perlu belajar Qawa’id Fiqhiyah. Yaitu ilmu tentang kaidah-kaidah fiqih yang disimpulkan oleh para ulama berdasarkan pengalaman mereka dalam dunia fiqih. Ibaratnya Qawaid Fiqhiyah ini sama dengan kumpulan kata mutiara dalam bidang fiqih.

Bahasa Arab

1. Kemampuan berbahasa Arab secara baik ini sangat penting. Minimal kemampuan untuk membaca dan memahami teks ayat, hadits, dan kitab-kitab tafsir serta syarah hadits. Adapun kemampuan untuk mendengar dan berbicara perlu dimiliki apabila kita berguru atau kuliah dengan dosen atau guru orang Arab asli.

2. Orang yang sudah pernah bekerja di luar negeri belum tentu bisa berbahasa Arab dengan baik dan benar. Karena ada perbedaan antara bahasa percakapan dan bahasa kitab.

3. Bila sudah niat serius belajar bahasa Arab, kita harus rajin dan tekun membuka kamus bahasa Arab setiap hari.

4. Cara termudah untuk lancar berbahasa Arab adalah kebiasaan kita untuk menatap dan membaca teks berbahasa Arab setiap hari. Akan lebih baik lagi bila kita pernah menerjemahkan sebuah buku yang berbahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia.

Allahu a’lam.

Tags:

0 thoughts on “Memahami Struktur dan Korelasi Ilmu-ilmu Keislaman

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Klik di sini
Perlu penjelasan tambahan?