SHOPPING CART

close
Kajian HaditsTuntunan Shalat

Membaca al-Fatihah dan Surat Pendek dalam Shalat

1. Ta’awudz

Setelah membaca doa iftitah, kita berdo’a mohon perlindungan (ta’awudz) dengan membaca, “A’u-dzu billa-himinasy syaitha-nirraji-m.” Atau, “A’u-dzu billahis sami-‘il ‘ali-mi minasy syaitha-nirraji-mi min hamzihi wanafkhihi wanaftsih.”

Allah Swt. berfirman:

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآَنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ.

Apabila kamu membaca al-Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. (an-Nahl: 98)

Ta’awudz dalam shalat ini berdasarkan hadits Abu Sa’id al-Khudri sebagai berikut:

عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ بِاللَّيْلِ كَبَّرَ ثُمَّ يَقُولُ: (سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، وَتَبَارَكَ اسْمُكَ، وَتَعَالَى جَدُّكَ، وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ)، ثُمَّ يَقُولُ: اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا. ثُمَّ يَقُولُ: أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ.

Dari Abu Sa’id al-Khudri, ia berkata: Adalah Rasulullah Saw. apabila hendak melaksanakan shalat malam (tahajud), setelah bertakbiratul ihram beliau membaca, “Subha-nakallahumma wabihamdika wata-ba-rakasmuka wata’a-la- jadduka wala-ila-ha ghairuk.” Kemudian beliau membaca, “Alla-hu akbar kabira-.” Lalu beliau membaca, “A’u-dzu billahis sami-‘il ‘ali-mi minasy syaitha-nirraji-mi min hamzihi wanafkhihi wanaftsih.” (HR. Tirmidzi)

 

2. Basmalah

Setelah berta’awudz, kita berbasmalah, yaitu membaca, “Bismilla-hirrahma-nirrahi-m.”

Hal itu berdasarkan sebuah hadits dari Nu’aim al-Mujmir sebagai berikut:

عَنْ نُعَيْمٍ الْمُجْمِرِ قَالَ: صَلَّيْتُ وَرَاءَ أَبِى هُرَيْرَةَ فَقَرَأَ: (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ)، ثُمَّ قَرَأَ بِأُمِّ الْقُرْآنِ حَتَّى إِذَا بَلَغَ (غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ) فَقَالَ: (آمِينَ)، فَقَالَ النَّاسُ: (آمِينَ)، وَيَقُولُ كُلَّمَا سَجَدَ: (اللَّهُ أَكْبَرُ)، وَإِذَا قَامَ مِنَ الْجُلُوسِ فِى الاِثْنَيْنِ قَالَ: (اللَّهُ أَكْبَرُ)، وَإِذَا سَلَّمَ قَالَ: وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ إِنِّى لأَشْبَهُكُمْ صَلاَةً بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Dari Nu’aim al-Mujmir, ia berkata:

Aku shalat dengan bermakmum kepada Abu Hurairah. Ia membaca, “Bismila-hirrahma-nirrahi-m.”

Kemudian ia membaca Ummul Qur’an (al-Fatihah), sehingga tatkala sampai pada, “Ghairil maghdhu-bi ‘alaihim waladh dha-lli-n.” Ia pun membaca, “A-mi-n.” Lalu orang-orang pun membaca, “A-mi-n.”

Setiap hendak sujud, ia membaca, “Alla-hu akbar.” Dan bila hendak berdiri dari duduk rakaat kedua ia juga membaca, “Alla-hu akbar.” Setelah bersalam, ia berkata, “Demi Dzat yang diriku ada pada Tangan-Nya, sungguh di antara kalian aku adalah orang yang paling mirip shalatnya dengan shalat Rasulullah r.” (HR. Nasa’i)

 

3. Membaca Surat al-Fatihah

Setelah berbasmalah, kita membaca surat al-Fatihah, yang juga biasa disebut dengan Ummul Qur’an atau Ummul Kitab.

Al-Fatihah artinya pembukaan, karena surat al-Fatihah ini posisinya dalam al-Qur’an ada di halaman yang paling depan.

Ummul Qur’an artinya induk al-Qur’an, karena surat al-Fatihah mencakup pokok-pokok isi al-Qur’an secara keseluruhan. Sedangkan al-Kitab merupakan nama lain untuk al-Qur’an.

Mengenai kewajiban membaca surat al-Fatihah ini, Rasulullah Saw. bersabda:

لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ.

Tidak sah shalat orang yang tidak membaca surat al-Fatihah. (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits dari ‘Ubadah bin as-Shamit:

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ: صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلاَةَ الْغَدَاةِ، فَثَقُلَتْ عَلَيْهِ الْقِرَاءَةُ، فَلَّمَا انْصَرَفَ قَالَ: إِنِّى لأَرَاكُمْ تَقْرَءُونَ وَرَاءَ إِمَامِكُمْ. قُلْنَا: نَعَمْ، وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّا لَنَفْعَلُ هَذَا. قَالَ: فَلاَ تَفْعَلُوا إِلاَّ بِأُمِّ الْقُرْآنِ، فَإِنَّهُ لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِهَا.

Dari ‘Ubadah bin as-Shamit, ia berkata: Adalah Rasulullah Saw. shalat shubuh bersama kami, tapi beliau merasa terganggu oleh bacaan para makmum.

Setelah selesai shalat beliau bersabda, “Aku melihat kalian sama-sama membaca (ayat-ayat al-Qur’an) di belakang imammu.” Kami menjawab, “Benar, wahai Rasulullah. Demi Allah kami memang melakukannya.”

Beliau pun bersabda, “Janganlah kalian melakukannya, kecuali bacaan al-Fatihah. Karena tidak sah shalat orang yang tidak membaca al-Fatihah.” (HR. Ahmad)

Hadits dari Anas bin Malik:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى بِأَصْحَابِهِ، فَلَمَّا قَضَى صَلَاتَهُ، أَقْبَلَ عَلَيْهِمْ بِوَجْهِهِ، فَقَالَ: أَتَقْرَءُوْنَ فِيْ صَلَاتِكُمْ خَلْفَ الْإِمَامِ، وَالْإِمَامُ يَقْرَأُ؟ فَسَكَتُوْا، فَقَالَهَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، فَقَالَ قَائِلٌ أَوْ قَائِلُوْنَ: ِإنَّا لَنَفْعَلُ، قال: فَلَا تَفْعَلُوْا، وِلْيَقْرَأْ أَحَدُكُمْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فِيْ نَفْسِهِ.

Dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah r shalat bersama para shahabat. Setelah selesai shalat, beliau menghadapkan wajah kepada mereka, dan bersabda, “Apakah kamu sekalian membaca (ayat-ayat al-Qur’an) dalam shalatmu di belakang imam, padahal imam sedang membaca?” Tapi mereka semua diam, sehingga beliau menanyakannya sebanyak tiga kali. Akhirnya ada seseorang atau beberapa orang berkata, “Kami memang melakukannya.” Beliau bersabda, “Janganlah kalian melakukannya. Hendaknya masing-masing kalian membaca al-Fatihah sekedar terdengar oleh dirinya sendiri”. (HR. Ibnu Hibban)

 

4. Berdoa

Setelah kita membaca al-Fatihah, kita berdo’a dengan membaca, “A-mi-n.” Artinya: Mohon kabulkanlah. Yang demikian itu, karena akhir dari surat al-Fatihah merupakan doa.

Rasulullah Saw. bersabda:

إِذَا أَمَّنَ الإِمَامُ فَأَمِّنُوا، فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ تَأْمِينُهُ تَأْمِينَ الْمَلاَئِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.

Apabila imam membaca, “A-mi-n,” maka hendaklah kamu membaca pula, “A-mi-n,” karena sungguh barangsiapa yang bacaan A-mi-n nya bersamaan dengan A-mi-n para malaikat, tentulah diampuni dosanya yang telah lalu. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat yang lain, beliau bersabda:

إِذَا قَالَ أَحَدُكُمْ: آمِينَ، وَقَالَتِ الْمَلاَئِكَةُ فِى السَّمَاءِ: آمِينَ، فَوَافَقَتْ إِحْدَاهُمَا الأُخْرَى، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.

Bila salah seorang di antara kalian membaca, “A-mi-n,” lalu para malaikat di langit juga membaca, “A-mi-n,” lalu kedua bacaan itu terucap bersama-sama, tentulah diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

5. Membaca Sebuah Surat

Setelah membaca, “A-mi-n,” kita membaca salah satu surat selain surat al-Fatihah dari al-Qur’an. Kita membacanya dengan memperhatikan artinya, dan dengan perlahan-lahan. Kita boleh memilih surat yang panjang, surat yang sedang, ataupun surat yang pendek, asalkan kita baca dengan benar.

a. Membaca salah satu surat dari al-Qur’an

Kita membaca salah satu surat setelah al-Fatihah ini berdasarkan hadits dari Abu Qatadah sebagai berikut:

عَنْ أَبِى قَتَادَةَ أَنَّ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ فِى الظُّهْرِ فِى الأُولَيَيْنِ بِأُمِّ الْكِتَابِ وَسُورَتَيْنِ، وَفِى الرَّكْعَتَيْنِ الأُخْرَيَيْنِ بِأُمِّ الْكِتَابِ، وَيُسْمِعُنَا الآيَةَ، وَيُطَوِّلُ فِى الرَّكْعَةِ الأُولَى مَا لاَ يُطَوِّلُ فِى الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ، وَهَكَذَا فِى الْعَصْرِ وَهَكَذَا فِى الصُّبْحِ.

Dari Abu Qatadah, bahwa dalam shalat dhuhur pada dua rakaat yang pertama (yaitu rakaat pertama dan kedua), Nabi Muhammad r membaca Ummul Kitab (al-Fatihah) dan dua surat yang lain.

Lalu pada dua rakaat lainnya (yaitu rakaat ketiga dan keempat) beliau membaca al-Fatihah saja, dan beliau memperdengarkan kepada kami akan bacaan ayat itu.

Dan beliau membaca surat yang lebih panjang pada rakaat pertama, daripada surat pada rakaat kedua. Beliau melakukan hal yang sama dalam shalat ashar dan shubuh. (HR. Bukhari dan Muslim)

b. Membaca dengan memperhatikan makna

Allah Swt. berfirman:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآَنَ، أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا.

Maka apakah mereka tidak mentadabburi al-Qur’an, ataukah hati mereka terkunci? (Muhammad: 24)

c. Membaca dengan perlahan-lahan

Allah Swt. berfirman:

وَرَتِّلِ الْقُرْآَنَ تَرْتِيلًا.

Dan bacalah al-Qur’an dengan perlahan-lahan. (al-Muzammil: 4)

Dan demikianlah teladan yang diberikan oleh Nabi Muhammad r, sebagai disampaikan oleh Hudzaifah:

عَنْ حُذَيْفَةَ أَنَّهُ صَلَّى مَعَ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَكَانَ يَقُولُ فِى رُكُوعِهِ: (سُبْحَانَ رَبِّىَ الْعَظِيمِ). وَفِى سُجُودِهِ: (سُبْحَانَ رَبِّىَ الأَعْلَى). وَمَا مَرَّ بِآيَةِ رَحْمَةٍ إِلاَّ وَقَفَ عِنْدَهَا فَسَأَلَ، وَلاَ بِآيَةِ عَذَابٍ إِلاَّ وَقَفَ عِنْدَهَا فَتَعَوَّذَ.

Dari Hudzaifah, bahwa ia shalat bersama Nabi Muhammad Saw. Pada waktu ruku’ beliau membaca, “Subha-na rabbiyal ‘azhi-m.”

Pada waktu sujud beliau membaca, “Subha-na rabbiyal a’la.”

Dan tidaklah melewati ayat tentang rahmat melainkan beliau berhenti untuk memohon rahmat, dan tidaklah melewati ayat tentang adzab melainkan beliau berhenti untuk memohon perlindungan. (HR. Abu Dawud)

Tags:

0 thoughts on “Membaca al-Fatihah dan Surat Pendek dalam Shalat

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.