SHOPPING CART

close

Bulughul Maram: Kitab Hadits-Fiqih Paling Legendaris

Kitab: Bulughul Maram

Penulis: Ibnu Hajar al-‘Asqalani

Kitab ini sangat masyhur, baik di tanah air kita maupun di luar sana. Bila kita cari gambarnya di google, maka muncul informasi yang melimpah.

Terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia pun sangat banyak dengan penerbit yang beragam.

Kitab ini ditulis oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani. Seorang yang luar biasa banyak hasil karya tulisnya. Ia merupakan keajaiban dunia di bidang tulis menulis. Satu kitabnya saja belum tentu bisa dihasilkan oleh sepuluh profesor di zaman sekarang. Sebut saja Kitab Fathul Bari, syarah bagi Kitab Shahih Bukhari.

Jangankan untuk menulis, untuk membaca kitab tersebut saja belum tentu mampu kita lakukan dengan menghabiskan seluruh usia kita yang tersisa.

Untuk lebih mengenal kitab-kitab induk hadits, kita bisa menyimak artikel berikut:

Kitab-kitab Hadits Induk Yang Paling Populer

Keutamaan Kitab Bulughul Maram

Kitab ini relatif tipis. Versi terjemahnya hanya setebal 700 halaman, berisi 1600 hadits.

Mencakup seluruh amalan kita sehari-hari, mulai dari thaharah, shalat, jual-beli, pinjam-meminjam, jihad, hingga halal-haram dalam makanan. Ringkas tapi lengkap. Simpel.

Kitab ini menjadi rujukan penting bagi umat Islam di seluruh dunia. Meskipun tipis, tapi cukup mewakili seluruh hadits di bidang fiqih.

Bila kita benar-benar menguasai kitab ini, maka kita akan sangat mudah memahami dua cabang ilmu keislaman sekaligus. Yaitu hadits dan fiqih.

Demikian penting kedudukan buku ini, hingga memperoleh perhatian besar dari dua ulama legendaris nusantara, yaitu: Tuan A. Hassan dan KH. Bisri Musthofa.

***

1. Terjemah Bulugh Al-Maram oleh A. Hassan

Meskipun lahir dan dewasa di Singapura, Tuan A. Hassan (1887-1958 M.) adalah ulama yang telah berjasa besar dalam bidang studi Islam, termasuk studi hadits, di tanah air. Dan salah satu karya penting A. Hassan adalah sebuah buku amat tebal berjudul Tarjamah Bulughul Maram. Beberapa catatan yang penulis anggap penting mengenai buku ini adalah sebagai berikut:

Terjemahan dan Syarah

Meskipun berjudul Tarjamah Bulughul Maram, namun setelah membuka beberapa halaman, semua pembaca akan paham bahwa buku ini bukanlah sekedar buku terjemahan. Buku ini merupakan buku terjemah sekaligus syarah atau penjelas hadits-hadits yang ada di dalamnya. Di mana setiap selesai menerjemahkan dua atau tiga hadits, A. Hassan memberikan beberapa penjelasan atau keterangan ringkas namun padat akan maksud hadits-hadits itu, khususnya yang berhubungan dengan masalah-masalah hukum. Dengan demikian para pembaca bukan hanya disuguhi terjemahan hadits, namun juga diberi pemahaman yang benar mengenai hadits yang bersangkutan.

Keterangan Tambahan

Hampir setiap halaman buku ini “dihiasi” oleh footnote yang menerangkan dhamir atau kata ganti yang bertebaran dalam terjemah hadits. Footnote ini juga berisi definisi-definisi penting untuk istilah-istilah fikih.

Musthalah Hadits

Selain tambahan penjelasan tersebut, buku ini juga dilengkapi dengan 55 pasal sebagai muqadimah untuk pembaca yang belum mengenal beberapa istilah penting dalam bidang hadits. Seperti istilah atsar, sanad, rawi, dst. Dalam muqadimah itu A. Hassan berkata:

“BULUGHUL-MARAM MIN ADILLATIL-AHKAM, karangan al-Háfizh Ibnu Hajar al-‘Asqalání adalah suatu kitab fiqh yang kecil berdasar sunnah Rasúlulláh saw.

“Di abad yang akhir ini, kitab tersebut, kedengaran terpakai di mana-mana, dan Indonesia pun tidak ketinggalan, terutama di antara pelajar-pelajar di madrasah-madrasah dan pesantren-pesantren.

“Tetapi, kitab itu disusun oleh pengarangnya seolah-olah untuk orang-orang yang sudah tahu ‘ilmu Mushthalahul Hadíts, ‘ilmu Ushúlulfiqh, dan sudah mahir di dalam urusan fiqh dan Hadíts.

“Saya katakan demikian, karena di beberapa bab terdapat Hadíts-hadíts yang nampaknya berlawanan. Hadíts yang shahih dan yang lemah, hingga tidak mudah bagi orang yang tidak berpengalaman, mengambil fáidah daripadanya.”

Puncak Karya Ilmiah

Buku ini selesai ditulis pada tanggal 17 Agustus 1958, tiga bulan mendekati wafatnya Sang Guru Besar, yaitu pada tanggal 10 Nopember. Bisa dikatakan bahwa masa ini merupakan masa puncak ketajaman analisa ilmiahnya.

Maka tidak heran, penulis menemukan kualitas terjemah yang demikian akurat dan efektif. Misalnya hadits no. 981:

مَا أَحْرَزَ الْوَالِدُ أَوْ الْوَلَدُ فَهُوَ لِعَصَبَتِهِ مَنْ كَانَ.

“Apa-apa yang didapat oleh bapa atau anak, maka adalah buat ‘ashabah-nya siapa sahaja ia.”

Atau hadits no. 1059:

عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ : قَالَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَيُّمَا امْرَأَةٍ نَكَحَتْ عَلَى صَدَاقٍ، أَوْ حِبَاءٍ، أَوْ عِدَةٍ قَبْلَ عِصْمَةِ النِّكَاحِ فَهُوَ لَهَا، وَمَا كَانَ بَعْدَ عِصْمَةِ النِّكَاحِ فَهُوَ لِمَنْ أُعْطِيَهُ، وَأَحَقُّ مَا يُكْرَمُ عَلَيْهِ الرَّجُلُ ابْنَتُهُ وَأُخْتُهُ.

Dari ‘Amr bin Su’aib, dari bapanya, dari datuknya. Ia berkata: Telah bersabda Rasúlulláh saw. : “Siapa-siapa perempuan bernikah dengan mas-kahwin, atau pemberian, atau perjanjian sebelum kejadian nikah maka yang demikian itu (adalah haq) baginya; dan apa-apa (pemberian) sesudah kejadian nikah, maka yang demikian untuk siapa yang diberikan (pemberian itu) ; dan orang yang selayaknya seseorang diberi satu pemberian karenanya ialah anak perempuannya, atau saudara perempuannya.

Kitab Kuno Yang Modern

Meskipun buku ini bisa digolongkan sebagai buku yang “kuno” (selesai ditulis pada masa Orde Lama), namun A. Hassan yang berjiwa profesional telah memakai teknik penulisan dan ejaan “modern”. Seperti huruf á untuk menunjukkan a panjang, í untuk menunjukkan i panjang, dan ú untuk menunjukkan u panjang. Sementara di jaman yang “modern” sekarang ini masih banyak ulama yang tidak memperhatikan perbedaan dalam menuliskan huruf-huruf tersebut.

***

2. Tarjamah Bulughul Maram oleh K.H. Bisri Mustofa

Lain dari buku terjemah yang lain, buku terjemah yang satu ini disusun oleh KH. Bisri Mustofa untuk membantu para pelajar dalam rangka meningkatkan kemampuan bahasa Arab pembacanya.

Keunikan Kitab Terjemahan Ini

Dengan jelas hal ini bisa dilihat dari cara beliau menerjemahkan buku tersebut, yaitu:

  • Membagi setiap hadits dalam beberapa bagian, lalu memberi nomor pada tiap bagian tersebut.
  • Menerjemahkan tiap bagian hadits tersebut sesuai dengan nomornya.

Dengan metode menerjemahkan seperti itu, tidak ragu lagi para pembaca yang bersedia menekuni buku ini akan memperoleh pemahaman yang orisinil dari hadits bersangkutan, sesuai dengan kadar pemahaman masing-masing orang. Oleh karena itu penerjemah memberi nama buku terjemah ini dengan: Sullamul Afham, yang kurang lebih artinya Tangga Pemahaman. Dalam pengantar buku ini beliau berkata:

“Sengaja tarjamah ini saya buat seringkas mungkin, sebab saya bermaksud agar kitab saya ini merupakan tangga bagi yang akan meningkat ke tingkat yang lebih tinggi daripada pengetahuan hadits-hadits Nabi saw.”

Itulah keunikan dan kelebihan buku ini.

Melebar Mendalam dan Meringkas

Sebagian pembaca boleh jadi akan menilai bahwa metode yang diambil oleh penerjemah terasa aneh. Apalagi bagi pembaca yang sama sekali tidak bisa berbahasa Arab. Karena boleh jadi bukannya pemahaman yang didapat, namun justru pembaca pada “kelas ini” akan menemui kesulitan. Dan apabila metode yang ditempuh oleh penerjemah ini bisa disebut kekurangan, maka penerjemah telah mengantisipasi hal itu dengan memberikan keterangan tambahan pada tiap hadits sebagai kesimpulan hukumnya. Sehingga, sekali lagi semua pembaca akan memperoleh manfaat dari buku ini sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Bagi siapa pun yang mengenal sedikit saja sosok KH. Bisri Mustofa, maka dia akan segera paham akan perhatian beliau yang luar biasa dalam perjuangan pengembangan Bahasa Arab sebagai Bahasa Al-Quran, Bahasa Hadits, dan Bahasa Islam. Dan di antara perhatian itu dengan tegas beliau tampilkan dalam karya yang sampai sekarang (sepengetahuan penulis) belum ada duanya ini. Farahimahullahu rahmatan wasi’ah…. Semoga Allah memberikan rahmat yang seluas-luasnya kepada beliau….

Amin, ya rabbal-‘alamin.

Sebuah kitab yang banyak berjasa kepada umat Islam.
Tags:

One thought on “Bulughul Maram: Kitab Hadits-Fiqih Paling Legendaris

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.