SHOPPING CART

close
Menghafal Al-Qur'an

Menjaga Hafalan al-Qur’an

Berikut ini kami sampaikan beberapa kiat dalam menjaga hafal al-Qur’an. Mulai dari muraja’ah, tadabbur hingga memperbanyak bacaan di waktu-waktu tertentu.

1. Murajaah

Murajaah yaitu mengulang bacaan ayat atau surat yang telah kita hafal dengan baik. Berkenaan dengan urgensi murajaah ini, Rasulullah Saw. bersabda:

إِنَّمَا مَثَلُ صَاحِبِ الْقُرْآنِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْإِبِلِ الْمُعَقَّلَةِ إِنْ عَاهَدَ عَلَيْهَا أَمْسَكَهَا وَإِنْ أَطْلَقَهَا ذَهَبَتْ .

“Orang yang hafal al-Quran itu seperti orang yang sedang menambatkan onta. Bila orang itu selalu menjaganya, onta itu tetap pada tempatnya. Namun bila orang itu membiarkannya lepas, onta itu pun menghilang.” (HR. Bukhari dan Muslim)

بِئْسَ مَا لِأَحَدِهِمْ أَنْ يَقُولَ نَسِيتُ آيَةَ كَيْتَ وَكَيْتَ بَلْ نُسِّيَ وَاسْتَذْكِرُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ أَشَدُّ تَفَصِّيًا مِنْ صُدُورِ الرِّجَالِ مِنْ النَّعَمِ مِنْ عُقُلِهَا . [1]

“Alangkah buruknya perkataan seseorang, ‘Aku telah lupa ayat ini dan itu.’ Yang benar adalah ia telah dibuat lupa. Hendaknya engkau senantiasa berupaya menjaga hafalan al-Quran. Karena sesungguhnya al-Quran itu lebih mudah lepas dari ingatan dibandingkan (terlepasnya) hewan ternak dari ikatannya.” (HR. Bukhari)

2. Bergaul dengan Orang-orang Yang Shaleh dan Hafidh al-Quran

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأُبَيٍّ : إِنَّ اللَّهَ أَمَرَنِي أَنْ أَقْرَأَ عَلَيْكَ { لَمْ يَكُنْ الَّذِينَ كَفَرُوا } . قَالَ : وَسَمَّانِي ؟ قَالَ : نَعَمْ . فَبَكَى .

Rasulullah Saw. bersabda kepada Ubay bin Ka’b, “Sesungguhnya Allah Swt. memerintahkan padaku untuk membacakan padamu, “Lam yakunil-ladzina kafaru min ahlil kitab.” Ubay bertanya, “Apakah Allah menyebut namaku?” Beliau menjawab, “Ya.” Lalu Ubay pun menangis.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Berkenaan dengan hadits diatas, Imam Nawawi memberikan komentar, “Para ulama berbeda pendapat tentang hikmah dibalik diperintahkannya Rasulullah Saw. membacakan ayat atau surat tersebut kepada Ubay. Pendapat yang benar, hikmah itu adalah perintah kepada umat Islam untuk mencontoh Rasulullah Saw. yang membacakan hafalan al-Qurannya pada orang-orang yang berkompeten lagi shaleh.”

Dengan demikian sudah selayaknya bila kita selalu dekat dengan orang yang berkompeten tersebut. Dia menyimak bacaan kita, dan kita pun menyimak bacaannya. Kegiatan itu membawa banyak nilai positif, diantaranya:

  1. Menjaga sikap istiqomah. Karena kadang kita merasa jenuh dengan kesendirian. Namun bila bertatap muka dengan teman-teman “seperjuangan”, kita pun kembali menemukan semangat dan tenaga baru yang tidak mungkin kita dapatkan dengan bersendirian.
  2. Mengatur konsentrasi dengan lebih baik. Karena biasanya kita sering kehilangan konsentrasi ketika sendirian. Namun hal itu bisa diatasi bila ada teman yang menyimak.
  3. Ada teman yang siap mengoreksi kesalahan hafalan dan bacaan tajwid.
  4. Kita pun bisa mengingatkan teman kita bila ia lupa dengan hafalannya. Sebagaimana yang dialami oleh Rasulullah Saw. ketika beliau mendengar bacaan seorang sahabat di masjid. Beliau bersabda, “Semoga Allah Swt. merahmatinya. Dia telah mengingatkanku akan ayat ini dan ini.”

Dengan demikian, sungguh cara ini menjadi lahan yang nyata untuk tolong-menolong dalam kebaikan.

3. Mendengarkan al-Quran dari Bacaan Orang Lain

Bila membaca al-Quran adalah sebuah ibadah, maka mendengarkan ayat-ayat al-Quran yang sedang dibaca orang lain juga merupakan sebuah ibadah. Terdapat beberapa riwayat yang menyebutkan bahwa Rasulullah Saw. mendengarkan al-Quran dari bacaan para shahabat.

Suatu saat, Rasulullah Saw. meminta kepada Ibnu Mas’ud untuk membacakan beberapa ayat dari al-Quran. Ibnu Mas’ud bertanya, “Bagaimana aku membacanya untukmu, padahal al-Quran itu turun kepadamu?” Beliau menjawab:

إني أشتهي أن أسمعه من غيري .

“Sesungguhnya aku ingin mendengarkan bacaan al-Quran dari orang selainku.” (Muttafaq ‘alaih)

Ibnu Mas’ud pun membaca Surat al-Nisa’. Ketika sampai pada ayat, “Dan bagaimanakah (keadaan orang-orang kafir nanti), jika Kami mendatangkan seorang saksi (Rasul) dari setiap umat dan Kami mendatangkan engkau (Muhammad) sebagai saksi atas mereka.” Beliau bersabda, “Cukup.” Ibnu Mas’ud melihat beliau telah berlinang air mata.

4. Membaca Hafalan dalam Shalat

Ada tiga hal yang perlu kita lakukan untuk membantu hafalan al-Quran:

  1. Membacanya dalam shalat wajib, terutama saat menjadi imam dalam shalat berjamaah.
  2. Membaca ayat atau surat yang telah kita hafal dalam qiyamul lail (shalat tahajud), meskipun hafalan kita baru sedikit.
  3. Membacanya dalam shalat-shalat sunnah yang lain.

Rasulullah Saw. bersabda:

وَإِذَا قَامَ صَاحِبُ الْقُرْآنِ فَقَرَأَهُ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ ذَكَرَهُ وَإِذَا لَمْ يَقُمْ بِهِ نَسِيَهُ .  [2]

“Bila seorang hafidh al-Quran selalu mengulang hafalannya siang dan malam, maka ia akan terus ingat. Namun bila tidak melakukan itu, ia akan lupa.” (HR. Muslim)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ إِذَا رَجَعَ إِلَى أَهْلِهِ أَنْ يَجِدَ فِيهِ ثَلَاثَ خَلِفَاتٍ عِظَامٍ سِمَانٍ ؟ قُلْنَا : نَعَمْ . قَالَ : فَثَلَاثُ آيَاتٍ يَقْرَأُ بِهِنَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ ثَلَاثِ خَلِفَاتٍ عِظَامٍ سِمَانٍ .

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah Saw. bersabda, “Apakah kalian suka bila pulang ke rumah, lalu mendapatkan tiga onta yang besar dan gemuk?” Kami menjawab, “Ya.” Beliau bersabda, “Tiga ayat yang kalian baca dalam shalat itu lebih baik daripada tiga onta besar dan gemuk.” (HR. Muslim)

5. Membaca Hafalan pada Waktu Berjalan, Berkendaraan, Berbaring, dan Kapan Saja

Allah Swt. berfirman tentang ulul albab, yaitu orang-orang yang memiliki akal yang sempurna:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لِّأُوْلِي الألْبَابِ .  الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىَ جُنُوبِهِمْ .

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, atau duduk, atau dalam keadaan berbaring.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 190-191)

Adalah Rasulullah Saw. senantiasa berinteraksi dengan al-Quran dalam berbagai aktivitas beliau.

عن عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مُغَفَّلٍ قَالَ : رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ وَهُوَ يَقْرَأُ عَلَى رَاحِلَتِهِ سُورَةَ الْفَتْحِ .

Dari ‘Abdullah bin Mughaffal, “Aku menyaksikan Rasulullah Saw. pada hari ditaklukkannya Mekah membaca surat al-Fath sementara beliau berada di atas kendaraan.” (HR. Bukhari)

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَّكِئُ فِي حِجْرِي وَأَنَا حَائِضٌ فَيَقْرَأُ الْقُرْآنَ .

Dari ‘Aisyah ra, ia berkata, “Adalah Rasulullah Saw. meletakkan kepalanya di atas pangkuanku sementara aku dalam keadaan haidh, lalu beliau membaca al-Quran.” (HR. Muslim)

6. Betah Tinggal di Masjid Sambil Membaca al-Quran

عن عُقْبَةَ بْنَ عَامِرٍ الْجُهَنِيَّ يَقُولُ : خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا وَنَحْنُ فِي الصُّفَّةِ , فَقَالَ : أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنْ يَغْدُوَ إِلَى بُطْحَانَ أَوْ الْعَقِيقِ فَيَأْتِيَ كُلَّ يَوْمٍ بِنَاقَتَيْنِ كَوْمَاوَيْنِ زَهْرَاوَيْنِ فَيَأْخُذَهُمَا فِي غَيْرِ إِثْمٍ وَلَا قَطْعِ رَحِمٍ ؟ قَالَ : قُلْنَا : كُلُّنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ يُحِبُّ ذَلِكَ . قَالَ : فَلَأَنْ يَغْدُوَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَيَتَعَلَّمَ آيَتَيْنِ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ نَاقَتَيْنِ وَثَلَاثٌ خَيْرٌ مِنْ ثَلَاثٍ وَأَرْبَعٌ خَيْرٌ مِنْ أَرْبَعٍ وَمِنْ أَعْدَادِهِنَّ مِنْ الْإِبِلِ .

Dari ‘Uqbah din ‘Amir, ia berkata: Adalah Rasulullah Saw. keluar (dari rumah beliau yang berdekatan dengan masjid) sementara kami di beranda masjid. Beliau bersabda, “Siapa diantara kalian yang setiap hari bersedia pergi ke Buthhan atau ‘Aqiq dengan membawa pulang dua ekor onta yang besar dan gemuk tanpa berbuat dosa ataupun memutus hubungan kerabat?” Kami menjawab, “Wahai Rasulullah, kami semua bersedia melakukannya dengan senang hati.” Beliau bersabda, “Tidakkah kalian bersedia pergi ke masjid untuk mempelajari atau membaca dua ayat Kitab Allah ‘Azza wa Jalla, yang itu lebih baik baginya daripada dua ekor onta. Tiga ayat lebih baik baginya daripada tiga ekor onta. Empat ayat lebih baik baginya daripada empat ekor onta. Dan demikian seterusnya setiap ayat lebih baik daripada seekor onta.” (HR. Muslim)

Buthhan adalah sebuah tempat yang dekat dengan Madinah.

7. Menuliskan Ayat atau Surat Yang Telah Kita Hafal

Menuliskan ayat-ayat yang sedang atau telah kita hafalkan, juga akan membantu daya ingat kita. Allah Swt. berfirman:

الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ .

“Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan pena.” (QS. Al-‘Alaq 96: 4)

8. Tadabbur

Hendaknya kita membaca al-Quran dengan khusyuk. Sebisa mungkin kita berusaha menghayati makna ayat-ayat yang sedang kita baca.

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ .

“Maka apakah mereka tidak menghayati makna al-Quran?” (QS. Muhammad [47]: 24)

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ .

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka menghayati makna ayat-ayatnya.” (QS. Shad [38]: 29)

9. Berusaha Menangis

Menangis ketika membaca al-Quran adalah sifat orang-orang yang telah mencapai derajat ma’rifat, juga merupakan syiar hamba-hamba Allah yang shaleh.

وَيَخِرُّونَ لِلأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا .

“Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk.” (QS. al-Isra’ [17]: 109)

10. Bersabar dan Selalu Memperkuat Kemauan

Selama mau beristiqomah dan bersabar dalam menghadapai berbagai kesulitan yang biasanya ditemui pada waktu memulai menghafal al-Quran, maka kita akan selalu memperoleh kemudahan. Hal ini merupakan sunnatullah. Allah berfirman:

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا . إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا .

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. al-Syarh [94]: 5-6)

سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا .

“Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (QS. al-Thalaq [65]: 7)

إِنَّهُ مَن يَتَّقِ وَيِصْبِرْ فَإِنَّ اللّهَ لاَ يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ .

“Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik”.  (QS. Yusuf [12]: 90)

Sementara sikap sabar dalam menghadapi kesulitan menghafal justru akan melipatgandakan pahala. Hendaknya kita selalu mengingat sabda Rasulullah Saw.:

مَثَلُ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَهُوَ حَافِظٌ لَهُ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَمَثَلُ الَّذِي يَقْرَأُ وَهُوَ يَتَعَاهَدُهُ وَهُوَ عَلَيْهِ شَدِيدٌ فَلَهُ أَجْرَانِ .

“Orang yang membaca al-Quran dengan baik adalah mereka bersama al-safarah al-kiram (para malaikat yang mulia). Adapun orang yang masih belajar dan membaca al-Quran dengan susah payah adalah baginya dua pahala.” (HR. Bukhari)

11.  Interaksi dalam Membaca al-Qur’an

Disunnahkan ketika membaca ayat-ayat yang berisi dengan rahmat, memohon rahmat kepada Allah Swt. Ketika membaca ayat-ayat yang berisi adzab, memohon perlindungan kepada-Nya. Ketika membaca ayat-ayat yang berisi tentang Dzat Allah membaca: Subhanahu wa Ta’ala, atau: Tabaraka wa Ta’ala.

Diriwayatkan oleh seorang sahabat bernama Hudzaifah, ia berkata:

صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ , فَافْتَتَحَ الْبَقَرَةَ فَقَرَأَهَا , ثُمَّ النِّسَاءَ فَقَرَأَهَا , ثُمَّ آلَ عِمْرَانَ فَقَرَأَهَا , يَقْرَأُ مُتَرَسِّلًا , إِذَا مَرَّ بِآيَةٍ فِيْهَا تَسْبِيْحٌ سَبَّّحَ , وَإِذَا مَرَّ بِسُؤَالٍ سَأَلَ , وَإِذَا مَرَّ بِتَعَوُّذٍ تَعَوَّذَ .

“Pada suatu malam, aku pernah shalat tahajud bersama Nabi Muhammad Saw. (Setelah membaca al-Fatihah) beliau mulai membaca al-Baqarah, lalu membaca al-Nisa’, kemudian membaca Ali ‘Imran. Beliau membaca secara perlahan. Bila membaca ayat yang mengandung tasbih, beliau pun bertasbih. Bila membaca ayat yang mengandung doa, beliau pun berdoa, dan bila membaca ayat yang mengandung ta’awudz, beliapun berta’awudz.” (HR. Muslim)

12.  Memperbanyak Bacaan al-Quran pada Waktu-waktu Istimewa

Memperbanyak bacaan al-Quran pada waktu-waktu terbaik, dimana pada waktu-waktu itu disunnahkan memperbanyak amal kebajikan, termasuk tilawah. Di antara waktu-waktu tersebut adalah:

  1. Sepuluh hari terakhir Ramadhan.
  2. Malam-malam ganjil sepuluh hari tersebut.
  3. Sepuluh hari pertama pada bulan Dzulhijjah.
  4. Hari ‘Arafah.
  5. Hari Jumat.
  6. Setelah shalat Shubuh.
  7. Malam hari.

13.  Sebisa Mungkin Mengurangi Kesibukan Duniawi

Al-Hafidh Ibnu Hajar berkata,

“Sibuk dengan urusan duniawi, meskipun itu dalam hal yang mubah, bisa membuat terlewatnya banyak keutamaan. Lalu apa jadinya bila kesibukan itu adalah dengan hal yang tidak mubah?” Yaitu yang makruh dan haram.

Komentar beliau itu berkenaan dengan sebuah peristiwa ketika sahabat Usaid sibuk dengan anaknya. Dimana anak merupakan urusan duniawi yang mubah. Yang karena itu lalu terhentilah turunnya ketentraman dalam jiwa Usaid, serta berhentinya para malaikat yang biasanya mendengarkan bacaan al-Quran darinya.

___________________________

[1] Sa’id Hawwa, al-Asas fi al-Sunnah wa fiqhiha, (Kairo: Dar al-Salam, 1994), vol. iii hal. 1608.

[2] Sa’id Hawwa, al-Asas fi al-Sunnah wa fiqhiha, (Kairo: Dar al-Salam, 1994), vol. iii hal. 1608.

Tags:

0 thoughts on “Menjaga Hafalan al-Qur’an

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Klik di sini
Perlu penjelasan tambahan?