SHOPPING CART

close
Tadabbur Ayat

Menyembunyikan Amarah

Di antara ciri-ciri orang yang bertakwa, dalam surat Ali Imran ayat 134 Allah menjelaskan, yaitu orang yang mampu menyembunyikan amarah.

Suatu saat Imam Ali sedang berwudhu ditemani seorang budak beliau dengan menuangkan air dari sebuah kendi. Tiba-tiba kendi itu mrucut, lepas dari tangan si budak, dan pecah. Maka tanpa bisa dicegah lagi air yang pada masa itu demikian berharga tumpah begitu saja di depan mereka.

Terlihat oleh si budak wajah Imam Ali seketika menjadi merah padam. Tentu karena amarah. Namun ternyata budak Imam Ali ini bukan sembarang budak. Budak yang saleh dan terpelajar itu segera membaca surat Ali Imran di atas, “Wal kadhiminal-ghaidha.”

Imam Ali segera sadar dan berusaha menguasai diri. Bukankah Rasulullah telah memberikan tuntunan bahwasanya yang disebut kuat perkasa itu bukan karena kemampuan ototnya, namun orang dinamakan perkasa yaitu bila terbukti mampu menguasai diri ketika sedang dilanda amarah. Maka tiada pilihan lain bagi beliau selain mengucapkan, “Baik, aku tahan amarahku karena Allah.”

Sang budak melanjutkan potongan ayat tersebut, “Wal-‘afina ‘anin-nas.”

Imam Ali menjawab, “Ya, engkau juga telah aku maafkan.”

Lalu sambil tersenyum budak itu menyelesaikan ayat tadi, “Wallahu yuhibbul-muhsinin.

Dan Imam Ali yang sangat peka pun tanggap akan sindiran budanya. Beliau tidak punya pilihan selain mengucapkan, “Baiklah, mulai saat ini engkau merdeka.”

Itulah Imam Ali, istri Siti Fathimah, putra menantu Rasulullah Saw. Bagaimana dengan diri kita sendiri?

Tags:

0 thoughts on “Menyembunyikan Amarah

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Beasiswa

Hukum Keluarga Islam

Klik di sini
Need help?
Bila ada sesuatu yang ingin disampaikan, baik berupa pertanyaan maupun konfirmasi tentang artikel ini, maka kami persilakan...