SHOPPING CART

close

Nailul Authar: Kitab Hadits-Fiqih Paling Berpengaruh

Buku Nail al-Authar ditulis oleh Imam Muhammad bin ‘Ali asy-Syaukani.

Yang lebih dikenal dengan sebutan Imam asy-Syaukani (1172-1250 H.).

Syarah Kitab Muntaqal Akhbar

Kitab ini merupakan syarah dari Kitab Hadits Muntaqa al-Akhbar. Kitab himpunan hadits hukum yang disusun oleh Imam ‘Abdus-Salam bin ‘Abdillah bin Abi al-Qashim bin Muhammad bin al-Hidhr bin Muhammad bin ‘Ali bin ‘Abdillah bin al-Harrani.

Atau lebih dikenal dengan nama Ibnu Taimiyyah al-Jadd (661-728 H.). Kitab ini memuat lebih dari 5.029 hadits yang merupakan kumpulan hampir seluruh hadits dalam bidang hadits hukum.

Ringkasan Kitab Fathul Bari

Kitab Nail al-Authar merupakan ringkasan sebuah syarah kitab hadits yang sangat besar. Yaitu Fath al-Bari.

Yang ditulis oleh Ibnu Hajar al-‘Asqalani.

Fathul Bari merupakan salah satu syarah kitab hadits Shahih Bukhari.

Untuk lebih mengenal kitab-kitab induk hadits, kita bisa menyimak artikel berikut:

Kitab-kitab Hadits Induk Yang Paling Populer

Metode Penulisan Kitab

Secara garis besar, kitab Nail al-Authar memiliki keistimewaan sebagai berikut:

  • Menyebutkan sumber asli hadits-hadits yang ada dalam Muntaqa al-Akhbar (takhrij al-hadits), kemudian menjelaskan status hadits-hadits itu, serta pendapat para ulama mengenai makna hadits-hadits tersebut.
  • Menjelaskan makna kosa kata (mufradat) hadits-hadits Muntaqa al-Akhbar, baik secara bahasa maupun secara istilah.
  • Melakukan istinbath hukum terhadap hadits-hadits Muntaqa al-Akhbar tanpa sikap ta’ashub (fanatik golongan).
  • Menyebutkan pendapat para ulama mulai dari generasi shahabat, tabi’in, hingga para imam madzhab.
  • Berpedoman pada kaidah-kaidah ushuliyah dan syar’iyah, serta menjelaskan prosedur penerapan hukum yang bersifat cabang.

Pengalaman Interaksi dengan Terjemah Nail al-Authar

Berkenaan dengan Kitab Nail al-Authar ini, pada tahun 1990-an, ketika mulai nyantri di Pondok Pesantren Modern Islam As-Salaam Surakarta, penulis amat tertarik dengan salah satu jamaah kesantrian yang bernama Jamaah Nailul Authar. Sebuah jamaah yang boleh dibilang eksklusif, karena untuk menjadi anggota jamaah itu harus dipilih oleh anggota sebelumnya.

Saking gandrungnya penulis dengan jamaah itu, juga karena himbauan ketua jamaah, penulis pun membeli buku Terjemahan Nailul Authar. Dan sampai sekarang, buku itu masih menjadi rujukan terbaik bagi penulis untuk berbagai kegiatan, baik kegiatan sosial di masyarakat maupun kegiatan akademik di kampus Universitas Muhammadiyah Malang tempat penulis bekerja dan mengabdikan diri sejak beberapa tahun yang lalu.

Terjemah Kitab Nailul Authar

Penerjemah buku tersebut adalah sebuah tim yang beranggotakan tiga orang, yaitu:

  • Mu’ammal Hamidy
  • Imron A.M.
  • ‘Umar Fanany, B.A.

Secara umum, buku ini telah memberikan kontribusi yang besar bagi perkembangan keilmuan bidang ke-Islam-an di negeri tercinta, khususnya dalam bidang hadits. Namun Allah Swt. memang telah berkehendak bahwa kesempurnaan hanyalah milik-Nya.

Sedikit catatan yang penulis temukan selama berinteraksi dengan buku ini adalah sebagai berikut:

1. Bukan Terjemah Nail al-Authar

Sesungguhnyalah, buku ini bukan merupakan terjemahan Nailul Authar sebagaimana judul yang diberikan, namun buku ini adalah terjemahan Ringkasan Nailul Authar.

Meskipun pada sampul buku tersebut terdapat keterangan berbahasa Arab: مختصر نيل الأوطار  (Ringkasan Nailul Authar), pembaca atau pembeli yang tidak teliti pasti akan menyangka bahwa buku itu adalah memang benar terjemahan Nailul Authar. Sampai kemudian orang itu membaca muqaddimah buku tersebut, barulah dia akan mengerti –atau bahkan kecele- bahwa buku itu “hanyalah” terjemahan Ringkasan Nailul Authar.

Hal ini bisa dialami oleh orang yang mengerti bahasa Arab.

Lalu bagaimana dengan orang yang tidak mengerti bahasa Arab, tidak membaca muqaddimah buku tersebut, dan tidak pula memperoleh penjelasan dari orang lain?

Tentu selamanya orang itu akan menyangka bahwa buku itu adalah benar-benar terjemahan Nailul Authar.

2. Susah Dipahami

Setelah melakukan “studi banding” dengan hasil terjemahan hadits-hadits yang ada dalam buku tersebut dengan terjemahan penulis, penulis bisa mengambil kesimpulan, bahwa secara umum penerjemah buku tersebut tidak merujuk kepada penjelasan (syarah) yang ditulis oleh Imam asy-Syaukani.

Sehingga orang cerdas sekalipun tidak akan bisa memahami beberapa kalimat terjemahan hadits disana, misalnya:

  • Hadits no. 3293.

عَنْ عَمْرِو بْنِ مَيْمُونٍ، قَالَ : رَأَيْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ قَبْلَ أَنْ يُصَابَ بِأَيَّامٍ بِالْمَدِينَةِ، وَقَفَ عَلَى حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ وَعُثْمَانَ بْنِ حُنَيْفٍ، قَالَ : كَيْفَ فَعَلْتُمَا، أَتَخَافَا أَنْ تَكُونَا قَدْ حَمَّلْتُمَا الْأَرْضَ مَا لَا تُطِيقُ ؟ قَالَا : حَمَّلْنَاهَا أَمْرًا هِيَ لَهُ مُطِيقَةٌ، وَمَا فِيهَا كَثِيرُ فَضْلٍ. قَالَ : اُنْظُرَا أَنْ تَكُونَا حَمَّلْتُمَا الْأَرْضَ مَا لَا تُطِيقُ. قَالَ : قَالَا : لَا. فَقَالَ عُمَرُ : لَئِنْ سَلَّمَنِي اللَّهُ، لَأَدَعَنَّ أَرَامِلَ أَهْلِ الْعِرَاقِ، لَا يَحْتَجْنَ إلَى رَجُلٍ بَعْدِي أَبَدًا.

Diterjemahkan:

Dari ‘Amr bin Maimun, ia berkata: Aku pernah melihat Umar r.a. di Madinah beberapa hari sebelum terkena musibah, yaitu ia berdiri di hadapan Hudzaifah bin al-Yaman dan ‘Utsman bin Hanif, lalu ia bertanya: Bagaimana kalian berbuat? Apakah kalian berdua takut memberi beban bumi dengan sesuatu yang ia tidak kuat? Mereka berdua menjawab: Kami memberi beban kepada bumi dengan perkara yang bumi itu kuat menanggung perkara tersebut, yaitu di bumi ini banyak anugrah. Umar berkata: Lihatlah, bahwa bumi itu telah kalian beri beban dengan sesuatu yang ia tidak kuat. Kedua orang itu menjawab: Tidak. Lalu Umar berkata: Sungguh seandainya Allah berkenan menyelamatkan aku, pasti akan kutinggalkan janda-janda penduduk Irak yang tidak membutuhkan seorang laki-laki pun sesudahku nanti untuk selama-lamanya. Dst.

“Memberi beban kepada bumi, apa maksudnya? Meninggalkan para janda, dari apa?”

Membuat pembaca bertanya-tanya, namun tidak memperoleh jawaban.

  • Hadits no. 3566:

أَرَى لَهَا مِثْلَ مَهْرِ نِسَائِهَا.

Diterjemahkan dengan:

“Aku berpendapat, bahwa perempuan itu berhak mendapat mahar seperti mahar yang diterima perempuan-perempuan lainnya.”

Tentu para pembaca akan bertanya-tanya, “Perempuan-perempuan lainnya? Siapakah perempuan-perempuan itu?” Sementara pada Bagian Penjelasan sama sekali tidak ada keterangan siapakah perempuan-perempuan yang dimaksud.

3. Terjemah Kurang Teliti

Selain itu, adakalanya penerjemah kurang teliti memahami hadits yang sebenarnya tidak terlalu sulit untuk dimengerti.

Seperti terjemah hadits no. 3314:

قَالَ : لَا دَرَيْتَ، فَمَا تُغْنِي إذَنْ.

Lalu Umar berkata: Jadi engkau tidak tahu. Dengan begitu maka Umar merasa tidak cukup.

Pada penggalan hadits tersebut, tim penerjemah menganggapnya sebagai dua kalimat.

Padahal amat jelas, bahwa penggalan hadits itu merupakan satu kalimat saja.

Atau pada hadits no. 3582:

وَمَنْ دَخَلَ عَلَى غَيْرِ دَعْوَةٍ، دَخَلَ سَارِقًا وَخَرَجَ مُغِيرًا.

Dan barangsiapa menghadiri walimah tanpa diundang, maka ia masuk laksana pencuri dan keluar sebagai orang yang dicurigai.

Kata مُغِيرًا diterjemahkan dengan, “Sebagai orang yang dicurigai.” Tentu saja terjemahan ini tidak akurat. Karena kata اْلمُغِيْر  artinya adalah seorang perampok yang mengambil harta orang lain secara terang-terangan.

Atau pada hadits no. 3589:

إذَا دُعِيَ أَحَدُكُمْ إلَى الطَّعَامِ، فَجَاءَ مَعَ الرَّسُولِ، فَذَلِكَ لَهُ إذْنٌ.

“Apabila salah seorang di antara kamu diundang ke walimah lalu ia datang dengan membawa utusan (teman), maka yang demikian itu hendaklah mendapat izin (dari pihak yang mengundang)”.

Atau pada hadits no. 3611:

دَخَلَ عَلَيَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَدَاةَ بُنِيَ عَلَيَّ.

Pernah suatu pagi seorang anak laki-laki Ali masuk ke rumah Nabi saw.

4. Tetap Bermanfaat

Namun semua catatan ini amat bisa dimengerti, mengingat tugas menerjemahkan Ringkasan Nailul Authar (yang bernama asli Bustan al-Ahbar Mukhtashar Nail al-Authar karya Syeikh Faishal bin ‘Abdul Aziz Al Mubarak) sama sekali bukanlah pekerjaan ringan. Bisa menyelesaikan terjemahannya “saja” –menurut hemat penulis- sudah merupakan prestasi besar.

Seperti halnya para Wali Songo yang telah bekerja keras meng-Islam-kan tanah Jawa, sehingga agama Islam sampai hari ini menjadi agama mayoritas di tanah air.

Adalah tugas para juru dakwah berikutnya untuk berterima kasih dan melanjutkan dakwah para pendahulunya itu. Bukannya mengolok-olok, meremehkan, apalagi mencaci-maki kerja keras mereka.

Oleh karena itu, penulis ucapkan, “Jazahumullahu khairan katsiran ‘anil-islami wal-muslimin….” Semoga Allah berkenan memberikan pahala yang sebesar-besarnya kepada mereka, atas perjuangan membela agama dan umat Islam.

Kitab Yang Sangat Fenomenal
Tags:

One thought on “Nailul Authar: Kitab Hadits-Fiqih Paling Berpengaruh

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.