SHOPPING CART

close
Pengantar Studi Hadits

Pengertian dan Syarat Hadits Shahih

Inilah istilah yang paling populer berkaitan dengan hadits, yaitu: hadits shahih.

Sebuah hadits disebut sebagai hadits shahih, apabila memenuhi seluruh persyaratan sebagai hadits shahih. Apabila sebuah hadits kehilangan salah satu saja dari persyaratan itu, maka dia menjadi hadits dha’if. Jadi lawan dari hadits shahih adalah hadits dha’if.

Pengertian Hadits Shahih

Shahih itu secara bahasa artinya sehat, selamat, sah. Kebalikannya, dha’if artinya lemah, cacat.

Adapun secara istilah, hadits shahih adalah: hadits yang memenuhi seluruh persyaratan hadits shahih.

Itulah definisi atau pengertian hadits shahih yang biasa dijelaskan dalam kitab-kitab Ulumul Hadits atau Musthalah Hadits.

Lalu apa saja persyaratan tersebut?

Syarat-syarat hadits shahih

Berikut ini persyaratan hadits shahih:

  1. Sanadnya bersambung
  2. Seluruh perawinya adil
  3. Seluruh perawinya dhabith
  4. Tidak mengandung syadz
  5. Tidak mengandung ‘illah

Waduh, banyak banget istilah kerennya, hehe…

Penjelasan dan contoh:

Bukannya tambah paham. Mungkin kita malah tambah bingung setelah mengetahui persyaratan hadits shahih di atas, karena banyaknya istilah-istilah yang sangat asing bagi kita. Oleh karena itu, ada baiknya kami sampaikan sedikit penjelasan melalui contoh sebuah hadits yang kami kutip dari kitab Shahih Bukhari berikut ini:

.حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى: عَنْ شُعْبَةَ: عَنْ قَتَادَةَ: عَنْ أَنَسٍ رضى الله عنه: عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم  قَالَ: لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْس

Terjemah mudahnya:

Musaddad berkata: Yahya berkata: Syu’bah berkata: Qatadah berkata: Anas berkata: Nabi Muhammad Saw. bersabda: “Tidaklah engkau beriman sehingga engkau mencintai bagi saudaramu sebagaimana engkau mencintai bagi dirimu sendiri.” (HR. Bukhari)

Imam Bukhari itu tidak pernah bertemu dengan Nabi Muhammad Saw. Karena jarak waktu yang sangat jauh. Imam Bukhari lahir tahun 194 H. Sedangkan Nabi Muhammad Saw. wafat tahun 11 H. Maka Imam Bukhari menyebutkan nama-nama orang yang menjadi jalur periwayatan hadits di atas.

Jadi dalam meriwayatkan hadits di atas, nama-nama perawi itu adalah: Musaddad, Yahya, Syu’bah, Qatadah dan Anas. Ada lima orang. Dengan catatan:

Imam Bukhari hanya bertemu dengan Musaddad, dan tidak pernah bertemu dengan Yahya, apalagi Syu’bah.

Musaddad hanya bertemu dengan Yahya, dan tidak pernah bertemu dengan Qatadah.

Demikian dan seterusnya.

Rangkaian nama mulai dari Musaddad hingga Anas itu disebut dengan SANAD.

Setiap orang dalam rangkaian sanad itu disebut dengan PERAWI.

Apabila perawi itu bisa dipercaya, jujur, tidak berdusta khususnya dalam masalah hadits, maka dia disebut sebagai perawi yang ADIL.

Apabila perawi itu memiliki hafalan yang kuat, atau setidaknya memiliki catatan hadits yang rapi sehingga tidak keliru dalam menyampaikan hadits, maka dia disebut sebagai perawi yang dhabith.

Apabila matan atau isi hadits itu bertentangan dengan ayat al-Qur’an, maka hadits itu disebut sebagai hadits yang SYADZ.

Atau, bila matan atau isi hadits itu bertentangan dengan hadits yang sanadnya lebih kuat, maka hadits itu disebut sebagai hadits yang syadz.

Atau lagi, bila matan atau isi hadits itu ternyata bertentangan dengan ilmu pengetahuan yang dipastikan benar, maka hadits itu disebut sebagai hadits yang syadz juga.

Terakhir, bila matan atau isi hadits itu mengandung sebab tersembunyi sebagai hadits dha’if, maka hadits itu disebut hadits yang mengandung ‘ILLAH.

‘Illah itu artinya cacat yang tersembunyi, susah dijelaskan, dan hanya bisa dirasakan dan diketahui oleh para ahli hadits yang benar-benar ahli. Bukan orang yang baru belajar hadits.

Kesimpulan istilah:

Dari penjelasan singkat di atas, kita dapat mengambil beberapa kesimpulan berikut:

  • Sanad: rangkaian nama para perawi yang menghubungkan penyusun kitab hadits dan Nabi Muhammad Saw. Karena para penyusun kitab hadits tidak pernah bertemu dengan Nabi Muhammad Saw.
  • Sanad bersambung: artinya tiap perawi benar-benar bertemu dengan perawi yang sebelum dan setelahnya. Hal ini hanya bisa diketahui dengan mengecek biografi masing-masing perawi.
  • Perawi: orang per orang yang disebut dalam sanad. Tiap orang dalam sanad adalah perawi.
  • Adil: jujur, terutama yang berkaitan dengan hadits.
  • Dhabith: tepat periwayatannya, terutama dengan ingatannya.
  • Syadz: bertentangan dengan ayat al-Qur’an, hadits yang lebih kuat, atau ilmu pengetahuan.
  • ‘Illah: mengandung cacat yang tersembunyi.
Dari mana datangnya persyaratan hadits shahih itu?

Mungkin ada yang bertanya-tanya: Dari manakah asal-usul semua persyaratan di atas? Apakah ada dalilnya dari al-Qur’an dan hadits?

Jawabannya adalah: Tidak ada dalilnya dari al-Qur’an maupun hadits. Semua persyaratan di atas merupakan hasil ijtihad atau olahpikir para ulama.

Meskipun “hanya” berasal dari pemikiran ulama, tanpa dalil dari ayat al-Qur’an maupun hadits, namun seluruh persyaratan di atas telah memperoleh pengakuan dari semua ahli sejarah sebagai metode yang sangat akurat untuk mengungkap sumber informasi yang valid.

Secara prinsip, semua buatan manusia bisa salah bisa benar. Namun ia tetap diperlukan sebagai sebuah usaha yang maksimal, bukan asal-asalan.

Lalu apakah kita boleh membuat persyaratan yang berbeda? Jawabannya: Ya silakan saja. Namun kita harus jadi ahli hadits dahulu, sehingga memperoleh pengakuan sebagai buah pemikiran yang ilmiah, bukan asal bicara.

Untuk apa kita mengetahui hadits shahih dan hadits dha’if?

Tujuan utama kita mempelajari dan memilah hadits mana yang shahih dan hadits mana yang dha’if adalah untuk mengetahui tingkat validitas sebuah hadits.

Hadits yang shahih itu artinya diduga kuat sebagai hadits yang sungguh-sungguh hadits. Berasal dari Nabi Muhammad Saw. Bukan hadis palsu.

Jadi ibaratnya metode ini sebagai sebuah mikroskop untuk mengidentifikasi kualitas hadits.

Tags:

0 thoughts on “Pengertian dan Syarat Hadits Shahih

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Beasiswa

Hukum Keluarga Islam

Klik di sini
Need help?
Bila ada sesuatu yang ingin disampaikan, baik berupa pertanyaan maupun konfirmasi tentang artikel ini, maka kami persilakan...