SHOPPING CART

close
Keluarga Sederhana

Pergi Ke Dokter Gigi (Lagi)

Karena sudah tidak tahan, terpaksa hari Senin yang lalu saya pergi ke dokter gigi. Kebetulan lokasi praktek dokter gigi itu dekat dengan Rinjani, tempat cuci mobil langganan. Jadi ya sekalian saja. Sementara mobil dicuci, saya bisa menemui dokter gigi, demikian rencananya.

Maka pagi sekitar jam sembilan saya sudah tiba di Rinjani. Saya perhatikan dari dalam mobil ternyata belum banyak yang antri. Dulu saya merasa senang apabila di situ belum banyak yang datang, dan sangat senang bila tidak ada yang antri. Jadi mobil saya bisa langsung dicuci, selesai dan bisa segera pulang. Seperti dapat rejeki nomplok saja.

Namun semenjak Rinjani diambil alih oleh universitas di mana saya mengabdikan diri, perasaan saya pun jadi kebalikannya. Saya sedih kalau Rinjani sepi, dan saya sangat senang kalau Rinjani ramai, meskipun akibatnya saya jadi lama mengantri. Yah mungkin inilah makna dari rasa memiliki itu.

Saya mampir sebentar di ruang tunggu, karena ada perlu ke toilet sebentar. Dan di sofa ruang tunggu itu saya berjumpa dengan teman senior yang alumnus Pakistan, Ustadz Syamsurizal. Saya selalu senang mengobrol dengan beliau. Partner lama ketika saya masih ngurusi Program Pendidikan Ulama Tarjih dan beliau jadi asisten rektor bidang AIK dan MKDU. Orangnya ramah dan bisa diajak diskusi dengan santai; buat tambah ilmu. Namun sayang sekali, waktu itu saya harus segera ke dokter gigi sesuai rencana.

Tiba di tempat praktik dokter gigi, ternyata masih sepi. Alhamdulillah, sepertinya saya orang pertama yang datang pagi itu.

Oya, sebenarnya saya sudah beberapa kali pergi ke tempat praktik dokter gigi ini. Tapi selama ini saya hanya mengantar anak-anak dan istri. Jadi baru kali itulah saya memeriksakan gigi saya sendiri.

Setelah berhadapan dengan dokter dan bersalaman, saya jadi sedikit ketakutan ketika melihat “kursi panas” di ruangan itu. Syukurlah Pak Dokter mempersilakan saya untuk duduk di “kursi biasa” terlebih dahulu. Dokter Agung hendak menulis identitas saya pada kartu pasien.

Entahlah, sejak masih duduk di bangku SMP saya selalu merasa ketakutan, khawatir, dan cemas tiap duduk di kursi panas itu. Saya merasa benar-benar tidak berdaya ketika sedang berada di sana, termasuk waktu itu.

Setelah cukup, saya pun dipersilakan duduk di atas “kursi panas”. Kursi yang selalu membuat badan saya panas dingin karena tegang dan waswas.

Setelah menyalakan lampu khusus yang mengarah langsung ke mulut pasien, dokter meminta saya membuka mulut. Maka saya pun membuka mulut lebar-lebar.

“Tenang, tidak usah tegang. Santai saja,” kata Pak Dokter kalem.

“Bagian mana yang sakit, Pak? Yang sebelah kiri atau kanan?” lanjut Pak Dokter.

“Sebenarnya dua-duanya, Dokter. Yang kiri juga yang kanan,” kata saya dengan jujur.

“Iya, tapi ada yang diprioritaskan. Bagian yang sedang dikeluhkan yang lebih dulu akan akan ditangani. Harus satu-satu, tidak bisa sekaligus.”

“O gitu. Yang kanan bagian atas, Pak Dokter.”

Pak Dokter memeriksa menggunakan cermin kecil, dan jarum bengkoknya.

“Gigi ini ya yang sakit?”

“Iya Pak, sepertinya itu yang kemarin sakit.”

Pak Dokter pun menngganti jarum bengkoknya dengan bor gigi. Wuah, saya pun jadi tegang lagi, dan semakin tegang saat saya mendengar suara desing ujug bor yang sebentar lagi akan menyentuh gigi saya.

“Harus tenang, tidak apa-apa.”

Tags:

2 thoughts on “Pergi Ke Dokter Gigi (Lagi)

  • rabbani75

    Gimana kabar ustadz tambah produktif dalam menulis, semoga sehat selalu. Sakit gigi memang sakit kalo sdh parah denger suara musik saja senut2

    • Ahda Bina

      Ahlan wa sahlan… Alhamdulillah kabar baik, Ustadz. Moga demikian pula Panjenengan dan keluarga. Hehe benar itu.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Beasiswa

Hukum Keluarga Islam

Klik di sini
Need help?
Bila ada sesuatu yang ingin disampaikan, baik berupa pertanyaan maupun konfirmasi tentang artikel ini, maka kami persilakan...