SHOPPING CART

close
Menghafal Al-Qur'an

Persiapan Menghafal al-Qur’an

Menghafal al-Quran memang tidak mudah, sehingga jatuh-bangun dalam usaha menghafal al-Quran itu bukanlah sesuatu yang aneh. Untuk menjaga semangat menghafal al-Quran, marilah kita pelajari bersama bagaimana menghafal al-Quran yang sesuai dengan  petunjuk al-Quran dan tuntunan Rasulullah Saw.

Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan sebelum memulai kegiatan menghafal al-Quran. Di antaranya adalah:

1.      Niat Yang Benar

Hendaknya kita menetapkan niat menghafal al-Quran adalah semata-mata untuk menggapai ridha-Nya; memperoleh ketinggian derajat dalam surga-Nya. Bukan untuk tujuan duniawi. Baik berupa harta, wibawa, ataupun martabat sosial.

Sejak awal, Rasulullah Saw. telah menyampaikan pesan kepada kita akan pentingnya niat yang benar:

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنْ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ .

“Siapa belajar sebuah ilmu yang seharusnya ikhlas semata untuk mengharap ridha Allah, namun ternyata ia mempelajari ilmu itu untuk memperoleh keuntungan duniawi, maka ia tidak akan mencium aroma surga pada hari kiamat nanti.” (HR. Ahmad)

Beliau juga memberikan peringatan yang sungguh amat keras akan niat yang salah dengan sabda beliau:

لَا تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ لِتُبَاهُوا بِهِ الْعُلَمَاءَ وَلَا لِتُمَارُوا بِهِ السُّفَهَاءَ وَلَا تَخَيَّرُوا بِهِ الْمَجَالِسَ فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَالنَّارُ النَّارُ .

“Janganlah kalian belajar untuk bersaing dengan para ulama, membuat bingung orang-orang yang belum paham, atau karena ingin bergabung dalam banyak majlis. Siapa melakukan itu, maka neraka (baginya). Neraka (baginya).” (HR. Ibnu Majah)

Dan marilah kita selalu mengingat sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah berikut ini:

أَنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ يَنْزِلُ إِلَى الْعِبَادِ لِيَقْضِيَ بَيْنَهُمْ وَكُلُّ أُمَّةٍ جَاثِيَةٌ , فَأَوَّلُ مَنْ يَدْعُو بِهِ رَجُلٌ جَمَعَ الْقُرْآنَ وَرَجُلٌ يَقْتَتِلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَرَجُلٌ كَثِيرُ الْمَالِ , فَيَقُولُ اللَّهُ لِلْقَارِئِ : أَلَمْ أُعَلِّمْكَ مَا أَنْزَلْتُ عَلَى رَسُولِي ؟ قَالَ : بَلَى يَا رَبِّ ز قَالَ : فَمَاذَا عَمِلْتَ فِيمَا عُلِّمْتَ ؟ قَالَ : كُنْتُ أَقُومُ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ . فَيَقُولُ اللَّهُ لَهُ : كَذَبْتَ . وَتَقُولُ لَهُ الْمَلَائِكَةُ : كَذَبْتَ . وَيَقُولُ اللَّهُ : بَلْ أَرَدْتَ أَنْ يُقَالَ إِنَّ فُلَانًا قَارِئٌ فَقَدْ قِيلَ ذَاكَ .

“Ketika hari kiamat telah tiba, Allah Tabaraka wa Ta’ala turun menemui hamba-hamba-Nya untuk mengadili mereka, sementara seluruh manusia menekuk lutut (sebagai bentuk ketundukan yang mutlak). Golongan manusia yang pertama kali dipanggil yaitu orang yang paling banyak membaca al-Quran, orang yang gugur fi sabilillah, dan orang yang banyak harta. Allah berfirman pada orang yang banyak membaca al-Quran, “Bukankah Aku telah mengajarkan padamu apa yang telah Aku turunkan pada Rasul-Ku?” Orang yang banyak membaca al-Quran itu menjawab, “Benar, ya Allah.” Allah berfirman, “Lalu apa yang telah engkau perbuat atas apa yang telah Aku ajarkan itu?” Hamba itu menjawab, “Aku selalu membacanya, baik di waktu malam maupun siang.” Allah berfirman, “Engkau berdusta.” Dan malaikat pun berkata, “Engkau berdusta.” Kemudian Allah berfirman, “Sebenarnyalah (dengan bacaanmu itu) engkau ingin supaya orang lain mengatakan bahwa si Fulan banyak membaca al-Quran. Dan itu telah tercapai.” (HR. Tirmidzi)

Dalam riwayat lain disebutkan hadits semisal dengan redaksi yang sedikit berbeda:

قَالَ : كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ فَقَدْ قِيلَ . ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ .

“Allah berfirman, “Dusta. Engkau belajar suatu ilmu supaya dikatakan sebagai orang yang berilmu, dan engkau membaca al-Quran supaya engkau disebut sebagai orang yang banyak membaca al-Quran. Dan tujuan itu telah tercapai.” Lalu orang itu pun digelandang masuk ke dalam neraka.” (HR. Muslim)

2.      Berdoa dengan Berulang-ulang dan Sepenuh Hati

Allah berfirman:

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ .

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar [54]: 17, 22, 32, 40)

Mengomentari ayat tersebut, Ibnu ‘Abbas berkata, “Bila bukan karena Allah telah memudahkan lisan manusia, tentu tidak akan ada satu pun manusia yang mampu melafadhkan kalam Allah ‘Azza wa Jalla.”

Sementara berkaitan dengan ayat: “Maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?” di atas, Mathar Al-Warraq berkata, “Maka adakah orang yang berdoa untuk menambah ilmunya (tentang al-Quran), lalu ia memperoleh pertolongan.”

Dalam ayat yang lain, Allah berfirman kepada Rasulullah Saw.:

سَنُقْرِؤُكَ فَلَا تَنسَى .

“Kami akan membacakan (al-Quran) kepadamu (Muhammad), maka kamu tidak akan lupa.” (QS. al-A’la [87]: 6)

Demikian jelas, bahwa hanya Allah yang mampu membuat seorang hamba membaca dan hafal al-Quran. Maka bila ingin menghafal al-Quran dengan baik, sudah seharusnya kita selalu bersungguh-sungguh memohon pertolongan Allah. Terutama pada waktu-waktu yang mustajab, seperti waktu tengah malam dan setelah shalat wajib.

3.      Memperbanyak Istighfar dan Meninggalkan Semua Maksiat

Imam Nawawi berpesan, “Telah selayaknya bagi orang yang hendak menghafal al-Quran untuk selalu menjaga kebersihan hatinya dari segala macam kotoran hati, sehingga dirinya menjadi pantas untuk membaca, menghafal dan memperdalam pengetahuan tentang al-Quran.”

Rasulullah Saw. bersabda:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ .

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya pada tubuh manusia itu terdapat segumpal darah. Bila segumpal darah itu baik, maka baik pulalah seluruh tubuh. Namun bila segumpal darah itu rusak, maka rusak pulalah seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal darah itu adalah jantung (hati).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Allah berfirman:

وَاتَّقُوا اللهَ وَيُعَلَّمُكُمُ اللهُ , وَاللهُ بَكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ .

“Dan bertakwalah kamu kepada Allah, niscaya Allah akan mengajarimu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. al-Baqarah [2]: 282)

Allah berfirman:

وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ .

“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.” (QS. al-Syura [42]: 30)

Berkenaan dengan ini, al-Dhahhak bin Muzahim memberikan komentar, “Maka, musibah manakah yang lebih besar daripada hilangnya hafalan al-Quran?”

4.      Menyediakan Waktu Luang Yang Memadai

Allah Swt. berfirman:

لَن تَنَالُواْ الْبِرَّ حَتَّى تُنفِقُواْ مِمَّا تُحِبُّونَ .

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian apa yang kamu cintai.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 92)

Selayaknya kita perhatikan bahwa apapun urusan duniawi yang sedang ada di depan kita, adalah tidak ada nilainya seujung kuku pun dibandingkan satu ayat al-Quran. Dan boleh jadi inilah yang dimaksudkan Rasulullah Saw. ketika beliau bersabda kepada Ahlu Shuffah, yaitu sekelompok kaum muslimin yang dulu hidup miskin dan tinggal di serambi masjid beliau:

آيَتَيْنِ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ خَيْرٌ لَهُ مِنْ نَاقَتَيْنِ وَثَلَاثٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ ثَلَاثٍ وَأَرْبَعٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَرْبَعٍ وَمِنْ أَعْدَادِهِنَّ مِنْ الْإِبِلِ .

“Dua ayat al-Quran itu lebih baik baginya daripada dua onta. Tiga ayat lebih baik daripada tiga onta. Empat ayat lebih baik daripada empat onta. Demikian seterusnya sesuai dengan jumlah ayat dan onta itu.” (HR. Muslim)

5.      Menyediakan Waktu Khusus untuk Menghafal al-Quran Setiap Hari

Adalah para ulama salaf dahulu membaca dan menghafal al-Quran lima ayat lima ayat tiap hari. Atau sepuluh ayat sepuluh ayat. Hendaknya bila telah memantapkan niat untuk menghafal al-Quran, kita menyediakan waktu khusus setiap hari dan menjaganya dengan tertib dan disiplin, sebagaimana halnya kita menyediakan waktu khusus setiap hari untuk makan dan minum. Namun hendaknya juga perlu diperhatikan, bahwa porsi waktu tersebut telah kita sesuaikan dengan agenda kegiatan sehari-hari, sehingga tidak memberikan beban melebihi kemampuan kita. Sebelum memulai, hendaknya kita teliti dahulu seberapa cepat kemampuan kita untuk menghafal dan mempertahankan hafalan itu.

Rasulullah Saw. bersabda:

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ .

“Amal yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah amal yang istiqomah, meskipun sedikit.” (HR. Muslim)

6.      Bangun Tidur Pagi-pagi.

Rasulullah Saw. berdoa,

اللَّهُمَّ بَارِكْ لِأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا .

“Ya Allah, berikanlah barakah pada umatku pada pagi hari mereka.” (HR. Tirmidzi, Abu Daud dan Ahmad)

Maka alangkah baiknya bila kita bisa memulai aktifitas membaca dan menghafal al-Quran setelah shalat Fajar dengan beberapa keutamaan sebagai berikut:

  • Memperoleh barakah doa Rasulullah Saw. di atas.
  • Pada waktu itu pikiran masih jernih dan tubuh masih segar.
  • Pada waktu itu kita belum sibuk dengan urusan duniawi yang akan mengganggu waktu dan perhatian untuk membaca dan menghafal al-Quran.
  • Memperoleh pahala yang dijanjikan oleh Rasulullah Saw., dimana beliau bersabda:

مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ .

“Barangsiapa shalat fajar dengan berjamaah, kemudian duduk berdzikir kepada Allah hingga terbitnya fajar, lalu shalat dua rakaat, baginya pahala senilai haji dan umrah, secara sempurna, secara sempurna, secara sempurna.” (HR. Tirmidzi)

7.      Menghafal Surat-surat Istimewa

Dalam menghafal, hendaknya kita mengutamakan ayat dan surat sesuai dengan petunjuk Rasulullah Saw. Beliau bersabda:

اقْرَءُوا الزَّهْرَاوَيْنِ الْبَقَرَةَ وَسُورَةَ آلِ عِمْرَانَ فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا اقْرَءُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ وَلَا تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ .

“Bacalah Zahrawain, yaitu al-Baqarah dan Ali ‘Imran, karena keduanya akan hadir pada hari kiamat nanti sebagai dua ekor burung besar yang siap menjaga anak-anaknya. Bacalah surat al-Baqarah. Membacanya adalah sebuah berkah, dan meninggalkannya adalah suatu kerugian. Sementara ahlul bathil (tukang sihir) tidak akan sanggup melakukannya.” (HR. Muslim)

Namun demikian, tidak menutup kemungkinan, kita memilih ayat dan surat sesuai dengan keperluan. Seperti untuk menjadi imam shalat lima waktu berjamaah di masjid, imam shalat tarawih, atau materi pengajian dan khutbah.

8.      Menggunakan Kesempatan Yang Ada

Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Rasulullah Saw. wafat, sementara aku berusia sepuluh tahun dan hafal surat-surat Muhakkam (surat-surat pendek).”

Adalah sebuah kesempatan yang amat baik, bila kita bisa mulai menghafal al-Quran selagi kita masih muda, sebelum datang masa tua. Tubuh yang sedang sehat, sebelum sakit. Waktu yang masih longgar, sebelum kita disibukkan oleh banyak urusan. Namun yang lebih penting, selagi kita masih hidup, sebelum datangnya ajal.

Rasulullah Saw. memberikan pesan:

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ , وَصِحِّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ , وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ , وَفِرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ , وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ .

“Raihlah lima masa sebelum datang lima masa yang lain, yaitu: masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehatmu sebelum masa sakitmu, masa kayamu sebelum masa miskinmu, masa luangmu sebelum masa sibukmu, dan masa hidupmu sebelum kematianmu.” (HR. Hakim)

 

Tags:

0 thoughts on “Persiapan Menghafal al-Qur’an

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Beasiswa

Hukum Keluarga Islam

Klik di sini
Need help?
Bila ada sesuatu yang ingin disampaikan, baik berupa pertanyaan maupun konfirmasi tentang artikel ini, maka kami persilakan...