SHOPPING CART

close
Puasa dan Zakat

Sahur

Sahur merupakan salah satu sunnah Rasulullah Saw. dalam berpuasa. Berikut ini beberapa kesalahan yang kadang-kadang kita lakukan dalam sahur:

1. Sahur Terlalu Awal

Karena takut terlambat bangun untuk makan sahur, ada di antara kita yang makan sahur jam sepuluh malam sebelum berangkat tidur. Atau jam dua belas malam.

Sebenarnyalah yang demikian itu bukan termasuk makan sahur. Disebut makan sahur, bila kita melakukannya di waktu sahur, yaitu di waktu akhir malam, waktu mendekati shubuh. Allah U berfirman:

وَبِالأسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ .

“Dan di akhir-akhir malam (waktu sahur) mereka memohon ampun (kepada Allah).” (adz-Dzâriyât: 18)

Dalam ayat di atas, Allah Swt. menjelaskan, bahwa di antara kebiasaan orang yang bertakwa adalah mereka biasa bangun malam untuk beribadah (qiyamul lail). Lalu ketika tiba waktu akhir malam (waktu sahur), mereka memperbanyak istighfar, memohon ampunan kepada Allah.

Oleh karena itu, kita tidak pernah mendapatkan contoh dari Rasulullah Saw. untuk makan sahur di waktu awal malam maupun tengah malam. Selamanya Rasulullah dan para shahabat makan sahur di waktu sahur, yaitu di waktu akhir-akhir malam, mendekati waktu shubuh. Marilah kita perhatikan riwayat berikut ini:

عَنْ أَنَسٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : تَسَحَّرْنَا مَعَ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ . قُلْتُ : كَمْ كَانَ بَيْنَ الأَذَانِ وَالسَّحُورِ ؟ قَالَ : قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً .

Dari Anas, dari Zaid bin Tsâbit t. Zaid berkata, “Kami pernah makan sahur bersama Nabi Muhammad Saw.. Kemudian kami mendirikan shalat. Anas bertanya, “Berapa lama waktu antara adzan dan sahur?” Zaid menjawab, “Selama orang membaca lima puluh ayat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat di atas disebutkan, bahwa waktu antara sahur dan adzan itu adalah selama orang membaca lima puluh ayat, yaitu sekitar 30 menit. Dengan demikian, kita bisa menyimpulkan bahwa waktu untuk makan sahur yang benar itu sekitar tiga puluh menit sebelum adzan shubuh.

2. Sahur Terlalu Kenyang

Karena takut “kelaparan” di siang hari, ada juga orang yang sahur dengan sekenyang-kenyangnya. Dipandang dari segi medis, sikap demikian justru merugikan kesehatan. Dipandang dari sudut agama, sikap tersebut juga tidak bisa dibenarkan.

Memang benar, bahwa kita diperintahkan bersahur, namun hendaknya tidak berlebihan. Sahur hendaknya dilakukan seperlunya saja. Allah Swt. berpesan:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ .

“Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (al-A’râf: 31)

Bila kita merujuk kepada sunnah Rasulullah Saw., beliau makan sahur justru dengan makanan yang ringan, makanan yang mudah dicerna oleh organ pencernaan kita. Rasulullah Saw. biasa bersahur dengan kurma, yang memiliki sifat lembut dan manis. Beliau bersabda:

نِعْمَ سَحُورُ الْمُؤْمِنِ التَّمْرُ .

“Sebaik-baik makanan sahur bagi orang beriman adalah tamar (kurma kering).” (HR. Abu Dawud)

Bila tidak ada kurma, beliau memberikan tuntunan kepada kita untuk sahur dengan air putih. Beliau bersabda:

السَّحُورُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ فَلاَ تَدَعُوهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جَرْعَةً مِنْ مَاءٍ ، فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى المُتَسَحِّرِينَ .

“Makan sahur itu merupakan barakah, maka janganlah engkau meninggalkannya, meskipun engkau hanya sempat meminum seteguk air. Yang demikian itu karena Allah U dan para malaikat-Nya senantiasa bershalawat bagi orang-orang yang bersahur.” (HR. Ahmad)

3. Sahur Harus Berupa Makanan

Karena minimnya informasi, boleh jadi di antara kita ada yang memiliki anggapan, bahwa sahur itu harus berupa makanan. Sehingga, apabila tidak ada makanan, dia pun tidak sahur sama sekali. Padahal bila kita memperhatikan teladan yang diberikan Nabi Muhammad Saw., ternyata sahur itu tidak harus berupa makanan. Minuman yang paling sederhana, yaitu air putih, malah merupakan salah satu “menu favorit” beliau.

Rasulullah Saw. bersabda:

السَّحُورُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ فَلاَ تَدَعُوهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جَرْعَةً مِنْ مَاءٍ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى المُتَسَحِّرِينَ .

“Makan sahur itu merupakan barakah, maka janganlah engkau meninggalkannya, meskipun engkau hanya sempat meminum seteguk air. Yang demikian itu karena Allah U dan para malaikat-Nya senantiasa bershalawat bagi orang-orang yang bersahur.” (HR. Ahmad)

4. Menunggu Waktu Sahur dengan Perbuatan Mubah Yang Melalaikan

Bila kita cermati, tidak sedikit di antara kita yang menunggu waktu sahur dengan berbagai aktivitas mubah yang melalaikan. Hal ini ditunjang dengan berbagai acara televisi yang menyajikan aneka hiburan spesial Ramadhan. Mulai dari sinetron, acara-acara lucu, hingga kehidupan pribadi para artis, yang semua itu dikemas secara khusus untuk bulan Ramadhan.

Daripada bermaksiat, mungkin demikianlan dalih yang sering diajukan untuk membenarkan aktivitas tersebut. Namun bila kita ingin sedikit lebih maju, tentu hal itu berseberangan dengan aneka pahala yang telah dijanjikan Allah Swt. kepada para hamba-Nya, khusus di bulan Ramadhan.

Sebenarnyalah kita tidak pernah kekurangan menu aktivitas yang semuanya bernilai ibadah. Ada yang berbentuk aktivitas khusus lisan, seperti: dzikir, dan membaca al-Qur’an. Ada yang berbentuk aktivitas untuk anggota tubuh, seperti: mengerjakan tugas sekolah atau kantor, dan membersihkan rumah.

Memang untuk merubah kebiasaan itu tidak mudah, apalagi kebiasaan yang menyenangkan, meskipun itu buruk. Tapi dengan sedikit ketekunan dan kesabaran, insya Allah kebiasaan buruk itu akan berubah, atau setidaknya akan berkurang.

5. Sahur Terlalu Mepet dengan Waktu Shubuh

Sesuai dengan tuntunan Rasulullah Saw., memang kita dianjurkan untuk mengakhirkan sahur. Namun demikian, bukan berarti kemudian kita benar-benar mengakhirkan sahur hingga tiba menit-menit atau detik-detik terakhir menjelang shubuh, lalu kita makan sahur dengan sangat terburu-buru. Padahal sikap terburu-buru itu justru sebisa mungkin mesti kita hindari, karena ia merupakan sikap yang tercela. Rasulullah Saw. bersabda:

الأَنَاةُ مِنَ اللَّهِ وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ .

“Sikap tenang itu berasal dari Allah, sedangkan sikap tergesa itu berasal dari setan.” (HR. Tirmidzi)

Sahur terlalu mepet dengan waktu shubuh itu bisa jadi malah membuat kita “terjebak” dalam keadaan-keadaan yang tidak baik, seperti:

  • Belum selesai makan sahur, sementara waktu shubuh sudah tiba. Ingin melanjutkan makan, tapi waktu sudah usai. Ingin menghentikan makan, tapi makanan masih tersisa.
  • Mulut sedang penuh sesak oleh makanan, sementara adzan mulai dikumandangkan. Kita jadi ragu-ragu, menelan atau mengeluarkannya.
  • Belum minum, tapi sudah habis waktu sahur, sehingga kita jadi “sereten”. Apalagi bila hidangan sahur berupa masakan pedas dan tanpa kuah.

Oleh sebab itu, sudah sepantasnya kita bisa menjaga jarak dengan waktu shubuh dengan baik. Kita sudah punya perkiraan, berapa lama kira-kira waktu yang kita perlukan untuk makan sahur, dan jam berapakah waktu shubuh akan tiba.

Bila waktu shubuh sudah hampir tiba, sementara makan sahur sesuai menu nampaknya tidak mungkin diselesaikan, hendaknya kita ambil porsi yang sesuai dengan waktu yang masih tersisa. Dengan demikian, kita tidak jadi terburu-buru makan sahur. Juga tidak akan ada sisa makanan di piring yang harus terbuang secara sia-sia.

6. Meninggalkan Sahur Secara Sengaja

Ada orang yang karena merasa staminanya kuat, secara sengaja ia meninggalkan kesempatan untuk sahur. Ia beranggapan, bahwa sahur itu hanyalah untuk menambah kekuatan.

Sikap yang demikian itu tidaklah benar. Sahur itu diperintahkan oleh agama untuk setiap orang Islam tanpa kecuali. Rasulullah Saw. bersabda:

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِى السَّحُورِ بَرَكَةً .

“Bersahurlah, karena dalam sahur itu terdapat manfaat yang berlimpah (barakah).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Selain itu, secara tegas beliau juga berpesan, supaya kita jangan sampai meninggalkan sahur.

عَنْ رَجُلٍ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : دَخَلْتُ عَلَى النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَتَسَحَّرُ ، فَقَالَ : إِنَّهَا بَرَكَةٌ أَعْطَاكُمُ اللَّهُ إِيَّاهَا فَلاَ تَدَعُوهُ .

Seorang shahabat berkata: Aku berkunjung ke rumah Nabi Muhammad Saw. ketika beliau sedang makan sahur. Beliau berkata, “Sahur itu merupakan barakah yang Allah berikan padamu. Oleh karena itu, janganlah engkau meninggalkannya.” (HR. Nasa’i)

Selain barakah dalam sahur, perbedaan antara puasanya seorang Muslim dengan seorang ahli kitab adalah pada sahur. Ketika orang Islam hendak berpuasa, ia bersahur. Adapun ahli kitab tidak sahur. Rasulullah Saw. bersabda:

فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحَرِ .

“Perbedaan antara puasa kita dengan puasa ahli kitab ada pada makan sahur.” (HR. Muslim)

Tags:

0 thoughts on “Sahur

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Beasiswa

Hukum Keluarga Islam

Klik di sini
Need help?
Bila ada sesuatu yang ingin disampaikan, baik berupa pertanyaan maupun konfirmasi tentang artikel ini, maka kami persilakan...