SHOPPING CART

close
Keluarga Sederhana

Segelas Kopi Buat Satu Keluarga

Sebenarnya saya tidak begitu suka minum kopi, baik kopi murni, campuran, maupun instan. Karena biasanya setelah minum kopi itu perut saya jadi bermasalah. Bisa kembung atau yang lain.

Hingga suatu hari ketika berkunjung ke rumah seorang Bulik, adiknya Ibu, saya ditawari wedang kopi. Seperti biasanya saya menolak dengan sopan, “Terima kasih, Bulik. Saya minum air putih saja.”

“Tapi ini lain lho, Fik. Ini kopi-jahe. Dicoba ya. Om kamu suka banget kopi ini.”

Saya jadi penasaran, karena saya suka minum jahe. Tidak pernah menolak minuman ataupun permen jahe. Maka saya pun mengiyakan.

Dan ternyata benar. Memang nikmat. Kata Bulik itu kopi racikan sendiri. Dari biji kopi yang spesial, dan digarang bersama jahe yang bagus. Hasilnya adalah secangkir kopi yang nikmatnya baru kali itu saya rasakan.

Dari situlah kemudian saya mulai benar-benar menikmati wedang kopi. Bukan semata-mata kopinya, tapi karena ada campuran jahenya.  Ketika saya mau pulang, Bulik pun menawarkan untuk bawa bubuk kopi-jahe.

Dan betul, akhirnya saya jadi ketagihan, minum kopi-jahe tiap hari. Ketika bubuk kopi-jahe itu hampir habis, saya pun memberikan perintah yang tegas kepada istri untuk bikin bubuk kopi-jahe yang serupa.

Tapi lama-lama saya jadi bosan minum wedang kopi-jahe itu. Saya malah pingin minum wedang kopi murni.

Memang awalnya istri yang bikinkan wedang kopi itu dengan setia. Ketika kesetiaan istri mulai berkurang, terpaksa saya minta diajari bikin sendiri.

Sekarang istri jarang bikinkan wedang kopi buat saya. Saya yang sering bikin sendiri, tapi malah istri juga ikut menikmatinya.

“Minta ya, Mas,” katanya sambil menuangkan wedang kopi yang masih panas ke cawan bening.

Setelah itu datang anak perempuan saya yang sulung dan berkata, “Aku juga ya, Bi.”

Itu dulu, ketika anak saya tersebut belum masuk pesantren.

Nah,  sekarang gantian adiknya yang juga perempuan mengucapkan kata-kata yang sama.

Setelah saya minum satu cawan, istri juga minum satu cawan, datang anak perempuan saya yang kedua itu menghampiri, dan berkata, “Aku minta kopinya ya, Bi.”

Dan demikianlah. Setiap saya bikin segelas kopi, hampir selalu dinikmati oleh satu keluarga.

Oh ya, kecuali anak saya yang nomor tiga, yang laki-laki. Dia memang masih kecil, belum bisa menikmati kelezatan pahitnya kopi bersama manisnya gula.

Mungkin nanti setelah anak perempuan saya yang nomor dua juga sudah masuk pondok pesantren, lalu adiknya yang laki-laki itu sudah agak besar, dia pun akan mengucapkan kata-kata yang sama, “Minta kopinya ya, Bi.” Atau mungkin, “Aku habiskan ya, Bi.”

Dan saya sudah menyiapkan jawabannya, “Weleh weleh….”

Demikianlah kisah segelas kopi di rumah kami. Bagi Anda yang ingin memberikan tanggapan atau kisah sendiri, kami persilakan untuk menyampaikan di kolom komentar.

Terima kasih.

Tags:

0 thoughts on “Segelas Kopi Buat Satu Keluarga

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Beasiswa

Hukum Keluarga Islam

Klik di sini
Need help?
Bila ada sesuatu yang ingin disampaikan, baik berupa pertanyaan maupun konfirmasi tentang artikel ini, maka kami persilakan...