SHOPPING CART

close
Pengantar Studi Hadits

Sejarah Penulisan dan Pembukuan Hadits

Hadits memiliki peranan yang sangat penting sebagai salah satu sumber ajaran Islam. Karena hadits merupakan praktik nyata bagaimana al-Qur’an dapat dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari.

Kebanyakan perintah dan larangan dalam al-Qur’an itu bersifat umum dan global. Maka hadits memberikan rincian yang bersifat detail dan praktis. Oleh karena itu, al-Qur’an dan hadits merupakan satu kesatuan yang utuh, tidak dapat dipisahkan antara yang satu dengan yang lain.

Dalam kesempatan ini kita akan membahas secara singkat bagaimana hadits itu ditulis dan dibukukan. Semoga Allah Swt. berkenan untuk membukakan pintu ilmu-Nya bagi kita bersama.

***

A. Sejarah Penulisan Hadits

Berikut ini ringkasan sejarah penulisan hadits:

1.Mulai kapan hadits ditulis?

Hadits ditulis sejak zaman Rasulullah Saw. masih hidup. Pada awalnya beliau melarang penulisan hadits, namun kemudian beliau memperbolehkan.

2. Mengapa Rasulullah Saw. melarang penulisan hadits?

Kemungkinan pertama, karena beliau khawatir hadits akan bercampur dengan ayat-ayat al-Qur’an yang pada waktu itu juga sedang dalam proses diturunkan. Setelah banyak shahabat menghafal al-Qur’an dengan baik, maka beliau memperbolehkan penulisan hadits.

Kemungkinan kedua, larangan itu berlaku untuk penulisan hadits dan al-Qur’an dalam lembaran yang sama.

Kemungkinan ketiga, larangan itu ditujukan bagi shahabat yang kuat hafalannya. Adapun bagi shahabat yang lemah hafalannya, maka boleh menuliskan hadits.

3. Siapakah Shahabat Yang Paling Rajin Menuliskan Hadits?

Shahabat yang paling rajin dan rapi dalam menuliskan hadits adalah Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash, radhiyallahu ‘anhuma. Jadi dia ini adalah putra seorang shahabat juga, yaitu ‘Amr bin ‘Ash, ahli politik yang sangat cerdas.

4. Siapakah Shahabat Yang Paling Banyak Menghafal Hadits?

Shahabat yang paling banyak menghafal hadits adalah Abu Hurairah, radhiyallahu ‘anhu. Dia salah seorang shahabat yang tinggal di shuffah (emperan) masjid, karena tidak punya rumah. Setiap hari aktifitasnya adalah mengiringi Rasulullah Saw. bepergian ke mana saja.

Pada awalnya, Abu Hurairah memiliki hafalan yang sama dengan kita pada umumnya. Lalu dia menyatakan keinginannya untuk banyak menghafal hadits. Maka Rasulullah Saw. memohon kepada Allah Swt. untuk memberikan hafalan yang bagus padanya.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu memiliki hafalan hadits yang paling banyak, namun tidak memiliki catatan hadits.

***

B. Pembukuan Hadits

Penulisan berbeda dengan pembukuan. Penulisan adalah menuliskan data dalam satu dua lembar media, lalu menyimpannya. Adapun pembukuan adalah menghimpun data-data yang sudah ditulis maupun dihafal, lalu menyusunnya secara tertib.

1. Siapakah Orang yang Pertama Kali Punya Ide Pembukuan Hadits?

Orang yang pertama kali memiliki pemikiran untuk membukukan hadits adalah dia pula yang memiliki pemikiran untuk membukukan al-Qur’an, yaitu Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘anhu.

Namun pembukuan hadits ini urung dilakukannya, karena khawatir kaum muslimin akan lebih sibuk mempelajari hadits daripada al-Qur’an.

Hal ini sama dengan para ulama zaman dahulu tidak suka membukukan fiqih, karena khawatir kaum muslimin akan lebih sibuk belajar fiqih daripada al-Qur’an dan hadits.

2. Siapakah Orang Yang Pertama Kali Berusaha Membukuan Hadits?

Orang yang pertama kali melakukan usaha pembukuan hadits adalah ‘Umar bin ‘Abdul Aziz, rahimahullah. Mengapa ‘Umar bin Abdul Aziz melakukan pembukuan hadits?

Pertama, al-Qur’an sudah dibukukan dengan baik. Sehingga tidak ada lagi kekhawatiran hadits akan bercampur dengan al-Qur’an.

Kedua, dikhawatirkan hadits akan musnah, karena tradisi menghafal sudah mulai pudar dengan berkembangnya budaya menulis.

Ketiga, munculnya hadits-hadits palsu yang dilatarbelakangi motivasi politik, bisnis maupun persaingan pemikiran.

Namun perlu dicatat, bahwa Umar bin Abdul Aziz tidak melakukan pembukuan hadits secara praktis, namun dia memberikan perintah kepada seorang ulama besar pada zamannya.

3. Siapa Ulama Yang Diberikan Perintah untuk Membukukan Hadits?

Dia adalah Muhammad bin Syihab az-Zuhri, rahimahullah. Dialah orang yang pertama kali melakukan pembukuan hadits secara serius. Setelah itu barulah ada para ulama yang lain melakukan hal yang sama.

Namun kebanyakan pembukuan hadits itu masih bercampur dengan perkataan shahabat dan tabi’in. Sebelum kemudian datang para imam hadits yang membukukan secara tertib dan rapi sesuai dengan babnya masing-masing.

***

Demikian sekilas tentang sejarah penulisan dan pembukuan hadits Rasulullah Saw. Semoga ada manfaatnya bagi kita bersama.

Allahu a’lam.

***

Tags:

0 thoughts on “Sejarah Penulisan dan Pembukuan Hadits

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Beasiswa

Hukum Keluarga Islam

Klik di sini
Need help?
Bila ada sesuatu yang ingin disampaikan, baik berupa pertanyaan maupun konfirmasi tentang artikel ini, maka kami persilakan...