SHOPPING CART

close
Keluarga Sederhana

Sepeda Buat Ghazza

Di antara materi utama kami untuk pendidikan anak adalah kebiasaan menabung. Maka tiap dapat uang lebih, anak-anak pun langsung menyimpannya dalam celengan yang diletakkan di atas meja belajar atau almari pakaian. Dan mereka bebas menggunakannya untuk kepentingan sendiri-sendiri dengan pantauan orangtua.

Termasuk anak saya yang ketiga, yaitu Ghazza. Uang tabungannya sudah terkumpul sekitar Rp 35.000 yang berupa koin 200, 500 dan seribuan. Kadang saya membantunya dengan memberikan uang pecahan yang semisal.

Jumlah tabungan dalam celengan itu tidak bisa bertambah dengan cepat, karena tiap dapat sangu yang agak besar dari Pakdhe-Budhe, maupun Mbah Utinya selalu diserahkan pada uminya secara langsung, yang segera menguap untuk berbagai keperluan keluarga.

Saya senang memperhatikan semangat anak saya yang laki-laki ini untuk selalu menambah jumlah kekayaan pribadinya tersebut. Yang membuat saya terharu, ternyata dia memiliki harapan yang terlalu besar dengan uang yang tidak seberapa itu.

Saya tanya, untuk apa uang itu akan dia gunakan? Jawabnya, “Buat beli sepeda baru.” Sebenarnya tidak ada masalah dengan rencananya itu. Namun ketika dia sering menanyakan berapa harga sebuah sepeda baru, dan tahu tabungannya itu masih terlalu jauh dari jumlah yang diperlukan, saya pun jadi terenyuh. Merasa amat kasihan.

Hingga akhirnya pagi tadi kami putuskan untuk mengabulkan cita-citanya tersebut. Mengingat semua sepedanya memang sudah terlalu kecil buat dia. Sementara saya pun selalu merasa terintimidasi dengan perasaan terenyuh dan kasihan itu.

Diam-diam saya dan istri pergi ke toko sepeda. Sengaja kami tidak mengajaknya, karena keadaan bisa tambah ribet kalau dia ikut.

Toko langganan kami itu dekat dengan Pasar Besar Kota Malang. Pemiliknya sepasang suami-istri orang China. Cukup ramah, dan setahu saya juga jujur ketika menerangkan kualitas barang dagangannya. Kalau dia bilang bagus, insya Allah barangnya juga bisa tahan lama dan tidak mudah rusak. Sebaliknya, kalau dia bilang ‘jangan’, maka sebaiknya kami¬† tidak membelinya; pilih yang lain. Hal itu sudah sekian kali kami buktikan kebenarannya.

Tentu saja di sana banyak pilihan yang hampir semuanya bagus sesuai dengan harganya masing-masing. Dan untuk memperoleh barang yang pas, kami pun harus melakukan tawar-menawar.

Akhirnya pilihan kami jatuh pada merek United dengan jenis BMX, model ramp. Meskipun harganya relatif mahal buat kami, tapi rasa-rasanya akan sangat menyenangkan buat Ghazza. Hanya satu kekurangannya, yaitu warnanya tidak merah. Karena beberapa kali dia pesan, kalau dibelikan sepeda baru pingin yang warna merah. Sementara yang akan kami bawa pulang itu warna dasarnya adalah hitam.

Pikir punya pikir, dalam perjalanan pulang kami pun memutuskan untuk mampir ke toko stiker yang dekat pom bensin Tlogomas Dinoyo. Meskipun warna dasarnya hitam, sepertinya akan jadi sedikit manis bila ada sentuhan warna merah dan putih.

Jadilah kami menunggui Mas-nya sekitar satu jam menempelkan stiker tambahan buat sepeda baru itu. Dan alhamdulillah, warnanya memang jadi lebih manis. Tapi pesan Bos toko stiker pada pegawainya itu, “Jangan terlalu warna-warni. Nanti seperti orang pergi karnaval.”

Sampai di rumah, Ghazza pun berteriak-teriak kegirangan ketika saya menurunkan sepeda itu dari dalam mobil dengan dibantu oleh kakaknya, anak perempuan saya yang nomor dua. Sementara anak perempuan saya yang pertama sudah balik ke pesantren dua hari yang lalu.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin…

Tags:

0 thoughts on “Sepeda Buat Ghazza

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Beasiswa

Hukum Keluarga Islam

Klik di sini
Need help?
Bila ada sesuatu yang ingin disampaikan, baik berupa pertanyaan maupun konfirmasi tentang artikel ini, maka kami persilakan...