SHOPPING CART

close
Kajian Ibadah

Shalat dalam Keadaan Sakit

Dalam keadaan sakit, mungkin saja kita menghadapi kendala yang berkaitan dengan tata cara pelaksanaan rukun-rukun shalat. Kita tidak perlu khawatir, karena semua bisa disesuaikan dengan kondisi kesehatan kita.

Dalam keadaan sakit ini, bacaan shalat sama dengan bacaan shalat yang biasa kita ucapkan. Yang berganti hanya posisi tubuh dan beberapa gerakan yang disesuaikan dengan kondisi kesehatan.

1. Tidak bisa berdiri

Apabila tidak bisa berdiri dengan baik, kita bisa melaksanakan shalat dalam keadaan duduk dengan menghadap kiblat. Kita bisa duduk di atas kursi, atau duduk di lantai, tergantung kepada keadaan kita saat itu, mana yang lebih nyaman. Kita bisa duduk dengan posisi duduk tahiyat, juga bisa duduk dengan posisi bersila.

Untuk posisi ruku’, kita bisa ganti dengan mencondongkan tubuh ke depan, dan kedua tangan kita letakkan di atas lutut.

Adapun posisi sujud, bila memungkinkan untuk sujud, kita lakukan gerakan sujud. Apabila tidak bisa sujud, kita condongkan tubuh ke depan lebih dalam daripada gerakan ruku’ tadi.

Kemudian, untuk bacaan yang kita baca dalam shalat sambil duduk ini adalah sama dengan bacaan yang kita baca dalam keadaan berdiri.

2. Hanya mampu berbaring

Dalam keadaan hanya mampu berbaring, maka posisi tubuh yang seharusnya dalam keadaan berdiri dan duduk kita ganti dengan berbaring. Adapun posisi berbaring adalah sama dengan posisi mayat yang sedang dikuburkan. Jadi tubuh kita berbaring di atas lambung bagian kanan. Bagian tubuh kita yang kanan berada di bawah, sedangkan bagian tubuh kita yang kiri berada di atas. Dan kita menghadap ke arah kiblat.

Bacaan shalat yang kita ucapkan dalam keadaan berbaring ini sama dengan shalat sambil berdiri. Adapun gerakan, bisa kita sesuaikan dengan keadaan. Seperti ketika ruku’, kita bungkukkan sedikit punggung kita ke arah depan. Bila hendak sujud, kita bungkukkan punggung kita sedikit lebih dalam ke depan. Demikian dan seterusnya, kita bisa menyesuaikan dengan keadaan, sehingga tidak menambah sakit, atau memperlambat kesembuhan.

3. Hanya mampu terlentang

Dalam keadaan hanya mampu terlentang, maka kedua kaki kita hadapkan ke arah kiblat. Sebuah misal, bila kiblat di arah barat, maka kaki kita di arah barat, sedangkan kepala kita di arah timur.

Bacaan shalat sama dengan biasanya. Yang berbeda hanya gerakan saja. Kita bisa gunakan isyarat kedua tangan, atau isyarat dengan mata. Seperti ketika hendak ruku’, kita menundukkan pandangan. Ketika saatnya i’tidal, kita kembali mengangkat pandangan. Demikian dan seterusnya, sambil menggerakkan badan dan kedua tangan sesuai dengan kondisi yang memungkinkan.

Allahu a’lam.

Tags:

0 thoughts on “Shalat dalam Keadaan Sakit

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Klik di sini
Perlu penjelasan tambahan?