SHOPPING CART

close
Rahasia Waktu Shalat

Shalat Merupakan Ibadah Yang Telah Ditentukan Waktunya

Allah Swt. berfirman:

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا .

“Sungguh, shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa’: 103)

Menafsirkan ayat di atas, ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di berkata, “(Shalat itu) merupakan kewajiban yang telah ditentukan waktunya. Selain menekankan wajibnya shalat, ayat ini juga menunjukkan bahwa shalat itu memiliki waktu tertentu yang harus dipenuhi. Itulah waktu-waktu yang telah dimaklumi oleh setiap orang Islam, tua maupun muda, terpelajar maupun awam. Mereka memahami hal itu dari pesan Nabi Muhammad saw.:

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِى أُصَلِّى . رواه البخاري .

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat.” (HR. Bukhari)

Maknanya, ketika seorang Muslim hendak melaksanakan shalat, hendaknya dia memperhatikan contoh dari Rasulullah bagaimana beliau melaksanakan shalat, termasuk dalam hal menentukan waktu-waktu shalat.

Berkaitan dengan shalat yang tidak bisa dilepaskan dari waktu-waktu yang telah ditentukan ini, berikut ini kami sampaikan beberapa hal sebagai berikut:

1.      Keutamaan Shalat pada Waktunya

Shalat merupakan kewajiban yang ditentukan waktunya. Oleh karena itu, sudah semestinya kita memperhatikan waktu-waktu yang telah ditentukan bagi masing-masing shalat. Menegaskan keutamaan shalat sesuai dengan waktunya ini, Rasulullah saw. menyampaikan pesan, bahwa shalat yang dilaksanakan pada waktunya merupakan ibadah yang paling dicinta Allah Swt.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ : سَأَلْتُ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم أَىُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ ؟ قَالَ : الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا . رواه البخاري ومسلم

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia berkata: “Aku bertanya kepada Nabi Muhammad saw., ‘Amal apakah yang paling Allah cinta?’ Beliau menjawab, ‘Shalat pada waktunya.'” (HR. Bukhari dan Muslim)

Menerangkan keutamaan shalat pada waktunya ini, Rasulullah saw. juga bersabda:

خَمْسُ صَلَوَاتٍ افْتَرَضَهُنَّ اللَّهُ تَعَالَى . مَنْ أَحْسَنَ وُضُوءَهُنَّ وَصَلاَّهُنَّ لِوَقْتِهِنَّ وَأَتَمَّ رُكُوعَهُنَّ وَخُشُوعَهُنَّ ، كَانَ لَهُ عَلَى اللَّهِ عَهْدٌ أَنْ يَغْفِرَ لَهُ . وَمَنْ لَمْ يَفْعَلْ فَلَيْسَ لَهُ عَلَى اللَّهِ عَهْدٌ ، إِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُ وَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ . رواه أبو داود

“Shalat lima waktu yang telah diwajibkan Allah. Barangsiapa berwudhu dengan baik, lalu melaksanakan shalat lima waktu itu pada waktunya, rukuk dan khusyuk yang sempurna, maka baginya janji Allah untuk mengampuni. Barangsiapa tidak mengerjakannya, maka tiada baginya janji Allah itu. Bila berkehendak, Allah akan mengampuninya, dan bila berkehendak, Allah akan mengadzabnya.” (HR. Abu Dawud)

Maksud shalat pada waktunya yaitu shalat sesuai dengan waktunya, sehingga tidak sampai keluar dari waktu yang telah ditentukan. Namun demikian, secara umum, shalat di awal waktu itu lebih utama daripada setelahnya. Hal ini secara umum tercakup dalam firman Allah:

وَالسَّابِقُونَ السَّابِقُونَ . أُولَئِكَ الْمُقَرَّبُونَ . فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ .

“Dan orang-orang yang dahulu, merekalah yang paling dahulu. Mereka itulah orang yang dekat. Berada dalam surga kenikmatan.” (QS. Al-Waqi’ah: 10-12)

Berdasarkan ayat di atas, barangsiapa yang lebih dahulu mengerjakan kebajikan (apalagi shalat), maka ia lebih dahulu masuk surga. Karena orang yang lebih dahulu mengerjakan shalat, ia lebih berhati-hati dan selamat daripada orang yang menunda-nunda dan melalaikannya, meskipun tetap mengerjakannya. Sebagaimana hal ini diisyaratkan bagi umat Islam untuk bersegera mengerjakan kebajikan, diisyaratkan pula bagi mereka untuk bersegera menuju ampunan dan surga. Allah berfirman:

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ .

“Dan bersegeralah kalian menuju ampunan Tuhanmu dan surga.” (QS. Ali ‘Imran: 133)

Semoga Allah Swt. memberikan kemudahan kepada kita semua mendirikan shalat di awal waktu, sehingga Allah pun berkenan menyegerakan kita untuk masuk surga lebih awal. Atau setidaknya, Allah memberikan kemudahan kepada kita untuk mendirikan shalat pada waktunya, sehingga kita mendapatkan janji Allah untuk mengampuni kita. Amin…

2.      Bila Penguasa Mengakhirkan Waktu Shalat

Pada zaman sekarang, terdapat daerah tertentu yang mengakhirkan waktu shalat. Shalat Ashar yang seharusnya sudah masuk waktunya pada sekitar pukul tiga sore misalnya, namun adzan di daerah itu dikumandangkan pada pukul empat sore. Apa yang harus kita lakukan: mengerjakan shalat lebih dahulu secara sendirian, atau menunggu waktu shalat berjamaah yang terlambat itu?

Ternyata kemungkinan ini telah diantisipasi oleh Nabi Muhammad saw. seakan-akan beliau telah melihatnya sendiri.

عَنْ أَبِى ذَرٍّ قَالَ : قَالَ لِى رَسُولُ اللَّهِ :  كَيْفَ أَنْتَ إِذَا كَانَتْ عَلَيْكَ أُمَرَاءُ يُؤَخِّرُونَ الصَّلاَةَ عَنْ وَقْتِهَا أَوْ يُمِيتُونَ الصَّلاَةَ عَنْ وَقْتِهَا ؟ قَالَ : قُلْتُ : فَمَا تَأْمُرُنِى ؟ قَالَ : صَلِّ الصَّلاَةَ لِوَقْتِهَا , فَإِنْ أَدْرَكْتَهَا مَعَهُمْ فَصَلِّ , فَإِنَّهَا لَكَ نَافِلَةٌ . رواه مسلم .

Dari Abu Dzar, ia berkata: Rasulullah saw. bertanya padaku, ‘Apa yang akan kamu lakukan bila penguasa kalian menunda shalat dari waktunya yang utama?’ Aku menjawab, ‘Apa yang engkau perintahkan padaku?’ Beliau bersabda, ‘Shalatlah sesuai waktunya yang utama (di awal waktu). Setelah itu bila engkau sempat melakukannya berjamaah bersama mereka, hendaknya engkau shalat lagi bersama mereka. Shalat yang kedua itu merupakan amal sunnah bagimu.'” (HR. Muslim)

Dalam hadits di atas seakan Rasulullah saw. sedang “meramalkan” kejadian yang akan datang. Dan memang terdapat hadits lain yang secara tegas Rasulullah saw. memastikan kebiasaan yang bukan merupakan sunnahnya ini.

إِنَّهُ سَتَكُونُ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ يُؤَخِّرُونَ الصَّلاَةَ عَنْ مِيقَاتِهَا وَيَخْنُقُونَهَا إِلَى شَرَقِ الْمَوْتَى , فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمْ قَدْ فَعَلُوا ذَلِكَ فَصَلُّوا الصَّلاَةَ لِمِيقَاتِهَا , وَاجْعَلُوا صَلاَتَكُمْ مَعَهُمْ سُبْحَةً . رواه مسلم .

“Akan tiba suatu saat di mana para penguasa kalian menunda shalat melewati waktunya yang utama, dan melakukannya di akhir waktu. Bila kalian menyaksikan mereka telah melakukan hal itu, hendaknya kalian tetap melaksanakan shalat pada waktunya yang utama, lalu jadikanlah shalat kalian bersama mereka (pada waktu yang tidak utama itu) sebagai ibadah sunnah.” (HR. Muslim)

Berdasarkan hadits di atas, bila kita mendapati masjid setempat menunda pelaksanaan shalat hingga keluar dari waktunya yang utama, hendaknya kita:

  • Tetap melaksanakan shalat pada waktunya yang utama, yaitu di awal waktu, meskipun secara munfarid (sendirian).
  • Setelah itu, bila kita sempat shalat berjamaah di masjid, hendaknya kita shalat berjamaah di masjid. Shalat yang kedua ini kita lakukan sebagai ibadah sunnah, yaitu untuk menyempurnakan pahala shalat dengan berjamaah di masjid.

3.      Bila Ketinggalan Waktu Shalat

Ada saat di mana seseorang ketinggalan waktu shalat, karena tertidur atau lupa. Dalam hal ini Rasulullah saw. berpesan:

أَمَا إِنَّهُ لَيْسَ فِى النَّوْمِ تَفْرِيطٌ ، إِنَّمَا التَّفْرِيطُ عَلَى مَنْ لَمْ يُصَلِّ الصَّلاَةَ حَتَّى يَجِىءَ وَقْتُ الصَّلاَةِ الأُخْرَى ، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَلْيُصَلِّهَا حِينَ يَنْتَبِهُ لَهَا ، فَإِذَا كَانَ الْغَدُ فَلْيُصَلِّهَا عِنْدَ وَقْتِهَا . رواه مسلم .

“Sesungguhnya tertidur itu bukan termasuk menyia-nyiakan shalat. Disebut menyia-nyiakan shalat itu bagi orang yang menunda-nunda waktu shalat hingga datang waktu shalat berikutnya. Barangsiapa melakukannya, hendaknya dia bersegera shalat ketika sadar. Adapun besok harinya, hendaknya ia tetap shalat pada waktunya yang semula.” (HR. Muslim)

Berdasarkan hadis di atas, apabila kita sudah bangun atau tersadar, hendaknya kita segera menunaikan shalat.

4.      Sesekali Menjama’ Shalat

Terdapat sebuah beberapa riwayat yang menyebutkan, bahwa Nabi Muhammad saw. menjama’ shalat, padahal beliau tidak sedang safar maupun udzur yang lain.

عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : جَمَعَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ بِالْمَدِينَةِ فِى غَيْرِ خَوْفٍ وَلاَ مَطَرٍ . رواه مسلم .

Dari Sa’id bin Jabir, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: “Rasulullah saw. menjama’ antara shalat Dhuhur dan Ashar, serta Maghrib dan Isya’ di Madinah tanpa udzur perang (shalat khauf) ataupun hujan.” (HR. Muslim)

Dalam riwayat yang lain,  hadits itu berlanjut:

قَالَ : قُلْتُ لاِبْنِ عَبَّاسٍ : لِمَ فَعَلَ ذَلِكَ ؟ قَالَ : كَىْ لاَ يُحْرِجَ أُمَّتَهُ . وَفِى حَدِيثِ أَبِى مُعَاوِيَةَ قِيلَ لاِبْنِ عَبَّاسٍ : مَا أَرَادَ إِلَى ذَلِكَ ؟ قَالَ : أَرَادَ أَنْ لاَ يُحْرِجَ أُمَّتَهُ . رواه مسلم .

Lalu Sa’id bin Jabir melanjutkan: “Aku bertanya kepada Ibnu ‘Abbas, ‘Mengapa beliau melakukan itu?’ Ibnu ‘Abbas menjawab, ‘Yang demikian itu supaya tidak membuat umatnya menjadi susah.'” (HR. Muslim)

Senada dengan riwayat di atas, Imam Muslim juga meriwayatkan hadits berikut ini:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ شَقِيقٍ قَالَ : خَطَبَنَا ابْنُ عَبَّاسٍ يَوْمًا بَعْدَ الْعَصْرِ حَتَّى غَرَبَتِ الشَّمْسُ وَبَدَتِ النُّجُومُ ، وَجَعَلَ النَّاسُ يَقُولُونَ : الصَّلاَةَ الصَّلاَةَ ! قَالَ : فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ بَنِى تَمِيمٍ لاَ يَفْتُرُ وَلاَ يَنْثَنِى : الصَّلاَةَ الصَّلاَةَ ! فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ : أَتُعَلِّمُنِى بِالسُّنَّةِ لاَ أُمَّ لَكَ ؟ ثُمَّ قَالَ : رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم جَمَعَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ . قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ شَقِيقٍ : فَحَاكَ فِى صَدْرِى مِنْ ذَلِكَ شَىْءٌ ، فَأَتَيْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ فَسَأَلْتُهُ فَصَدَّقَ مَقَالَتَهُ . رواه مسلم .

Dari ‘Abdullah bin Syaqiq, ia berkata: “Suatu hari setelah shalat Ashar, Ibnu ‘Abbas berkhutbah di hadapan kami hingga matahari tenggelam dan nampaklah bintang-bintang. Oleh karena itu orang-orang pun berseru, ‘Shalat… Shalat…’ Lalu seseorang dari Bani Tamim mendatangi Ibnu ‘Abbas terus-menerus dan tanpa henti mengulang perkataan, ‘Shalat… Shalat…’ Ibnu ‘Abbas berkata, ‘Apa kamu hendak mengajariku tentang Sunnah Nabi? Celakalah kamu.’ Lalu Ibnu ‘Abbas berkata, ‘Aku pernah menyaksikan Rasulullah saw. menjama’ shalat Dhuhur dan shalat Maghrib, serta Maghrib dan Isya’.'”

‘Abdullah bin Syaqiq melanjutkan: “Hal itu menyisakan tanda tanya dalam diriku. Oleh karena itu aku mendatangi Abu Hurairah dan menanyakan hal itu kepadanya. Ternyata Abu Hurairah membenarkan hal itu.” (HR. Muslim)

Menyikapi hadits-hadits di atas, para ulama memiliki pendapat yang berbeda-beda. Secara ringkas terdapat beberapa pendapat sebagai berikut:

a.      Alasan hujan

Pendapat pertama, ada kemungkinan bahwa beliau melakukan itu karena alasan hujan. Seperti kita ketahui, apabila kita sedang shalat Dhuhur atau Maghrib di masjid, lalu turun hujan, maka hal ini bisa menjadi alasan untuk menjama’ shalat.

Namun pendapat ini jelas bertentangan dengan teks hadits-hadits di atas yang menyebutkan, bahwa Rasulullah saw. menjama’ shalat itu bukan karena udzur hujan.

b.      Alasan perang dan safar

Pendapat kedua, beliau menjama’ shalat itu karena udzur perang (shalat khauf) atau safar.

Namun pendapat ini juga jelas bertentangan dengan teks hadits-hadits di atas yang menyebutkan, bahwa Rasulullah saw. menjama’ shalat itu bukan karena perang maupun safar.

c.       Alasan mendung

Pendapat ketiga, ada kemungkinan bahwa Rasulullah saw. melaksanakan shalat Dhuhur di waktu mendung. Ketika baru selesai shalat Dhuhur, cuaca berubah terang, dan baru diketahui ternyata telah masuk waktu Ashar. Maka beliau pun langsung melaksanakan shalat Ashar, sehingga nampak beliau menjamak shalat, padahal bukan.

Pendapat ini cukup masuk akal untuk diterapkan bagi shalat Dhuhur dan Ashar, namun tidak bisa diterapkan bagi shalat Maghrib dan Isya’.

d.      Hadits ghairu ma’mul bih

Pendapat keempat, bahwa hadits ini termasuk hadits yang ghairu ma’mul bih. Ghairu ma’mul bih artinya tidak bisa atau tidak boleh dilaksanakan. Menurut pendapat ini, hadits-hadits di atas bertentangan dengan hadits yang berbunyi:

مَنْ جَمَعَ بَيْنَ الصَّلاَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ فَقَدْ أَتَى بَابًا مِنْ أَبْوَابِ الْكَبَائِرِ .

“Barangsiapa menjama’ dua shalat tanpa udzur, maka dia telah melakukan perbuatan dosa besar.” (HR. Tirmidzi)

Tapi hadits riwayat Tirmidzi ini, seperti disebutkan Tirmidzi sendiri, termasuk hadits yang dha’if, karena terdapat seorang perawi yang lemah dalam sanad hadits ini yang bernama Hanasy.

e.       Alasan sakit atau yang semisal

Pendapat kelima, bahwa ada kemungkinan Rasulullah saw. melakukan hal ini karena udzur sakit atau yang semisal.

Namun pendapat ini tidak kuat, karena bila benar Rasulullah saw. menjama’ shalat tersebut karena sedang sakit, tentu para shahabat tidak akan shalat bersama beliau, kecuali bila mereka juga sedang sakit. Sementara secara jelas hadits ini menyebutkan bahwa beliau shalat bersama sejumlah shahabat, dan tidak ada keterangan bahwa mereka juga sedang sakit, sehingga diperbolehkan menjama’ shalat.

f.        Seakan-akan menjama’

Pendapat keenam, bahwa ada kemungkinan Rasulullah saw. seakan-akan menjama’ kedua shalat itu, padahal sebenarnya tidak. Hal ini terjadi, ketika beliau melaksanakan shalat Dhuhur di akhir waktunya, dan langsung melaksanakan shalat Ashar di awal waktu. Demikian pula halnya shalat Maghrib dan shalat Isya’. Dengan demikian seakan-akan beliau melaksanakan kedua shalat itu secara jama’, padahal tidak.

Namun pendapat ini bertentangan dengan sebab diriwayatkannya hadits-hadits di atas. Seperti disebutkan dalam hadits-hadits di atas, Ibnu ‘Abbas mengakhirkan shalat Maghrib hingga matahari tenggelam dan bintang-bintang mulai nampak, sehingga orang-orang berseru untuk segera shalat, karena waktu Maghrib sudah berakhir. Kemudian Ibnu ‘Abbas menggunakan hadits-hadits di atas untuk menjelaskan diperbolehkannya menjama’ shalat pada waktu itu. Ketika hal ini ditanyakan kepada Abu Hurairah (shahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits), ia membenarkannya.

g.      Ketika ada keperluan

Pendapat ketujuh, menjama’ shalat itu diperbolehkan ketika ada keperluan, seperti karena sedang sibuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Tapi menjama’ ini tidak boleh menjadi kebiasaan yang dilakukan secara terus-menerus.

Alasan adanya keperluan ini ditegaskan oleh pernyataan Ibnu ‘Abbas dalam hadits-hadits di atas, bahwa Rasulullah saw. melakukan hal ini karena beliau tidak ingin memberatkan umatnya. Dengan demikian, bagi orang yang memang sedang berkepentingan, maka baginya diperbolehkan menjama’ shalat Dhuhur dan Ashar, atau Maghrib dan Isya’. Namun demikian, hendaknya hal ini tidak menjadi kebiasaan sehari-hari. Boleh dilakukan, tapi sekali-sekali saja. Allahu a’lam bish-shawab.

Tags:

0 thoughts on “Shalat Merupakan Ibadah Yang Telah Ditentukan Waktunya

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Beasiswa

Hukum Keluarga Islam

Klik di sini
Need help?
Bila ada sesuatu yang ingin disampaikan, baik berupa pertanyaan maupun konfirmasi tentang artikel ini, maka kami persilakan...