SHOPPING CART

close
Dari Negeri Seberang

Sopir Tirhal Teladan

Yap! Inilah sopir paling saleh yang pernah saya temui. Nama beliau Syeikh Azm bin Hasan. Di mana saya naik mobil beliau bersama seorang kawan yang sedang menyelesaikan S3 di Jami’ah al-Qur’an al-Karim.

Pagi itu sekitar jam delapan awalnya Pak Ismail mengantar saya ke Ma’had Buhuts. Tempat saya biasa menyelesaikan administrasi kuliah. Setelah urusan saya selesai, gantian saya yang menemani beliau ke Jami’ah al-Qur’an untuk urusan yang sama. Kami memang beda kampus.

Selesai urusan administrasi itu, sekitar jam setengah tiga siang, kami pun menuju mahatthah (halte kendaraan umum). Pulang bareng. Lelah sudah pasti. Meskipun katanya musim dingin, tapi kalau siang panasnya minta ampun.

Lima belas menit berlalu. Sudah sepuluh muwashalat (kendaraan umum) lewat, namun tidak ada satu pun yang menuju Senia. Rencana nanti dari Senia kami langsung ambil riksyah menuju rumah kami. Di mana kebetulan apartemen saya dan Pak Ismail berdekatan. Hanya berseberangan jalan raya.

Sebenarnya Pak Ismail masih bersemangat menunggu muwashalat. Namun saya sudah tidak tahan dengan teriknya matahari, debu-debu yang beterbangan dan semburan knalpot mobil-mobil yang lalu-lalang.
Melihat kondisi saya yang semakin tidak sabar, akhirnya Pak Ismail mengalah. Kita pesan tirhal. Semacam gocar atau grab.

“Ayo, Ustadz. Kita cari tempat yang mudah diterangkan kepada sopir tirhal kalau dia nanti telepon. Itu ada rumah sakit. Kita ke sana saja,” kata Pak Ismail sambil menunjuk Aalia Hospital yang terletak sekitar seratus meter di sebelah kiri kami berdiri.

Sambil menunggu tirhal datang, saya mengajak Pak Ismail menuju toko kecil yang mepet di sebelah rumah sakit. Di situ kami beli dua botol Sofia dan dua bungkus roti La Fresh. Lumayan buat mengganjal perut yang sejak pagi belum dapat nasi, selain tiga potong zalabia dan segelas syai billaban.

Sepuluh menit kemudian akhirnya kami pun sudah berada dalam tirhal dengan sopir yang sudah berumur. Berjenggot dan berwajah teduh.

Tidak lama kemudian adzan Ashar berkumandang. Dia bertanya, di mana kita akan shalat Ashar? Apakah kami tergesa-gesa?

Pak Ismail menjawab, tidak. Kita tidak sedang tergesa-gesa. Namun saya segera menyahut, bahwa saya harus segera sampai di rumah. Karena sore ini saya ada janji dengan keluarga untuk makan malam di luar. Karena hari ini bertepatan dengan sebuah momen keluarga yang super-super spesial.

Sopir itu bertanya, apakah tidak sebaiknya kita mampir dulu di masjid untuk shalat? Spontan saya jawab, kita shalat di rumah saja. Jadi nanti kami akan shalat setelah sampai di rumah. Sopir itu memberikan tanggapan yang mengejutkan,

“Iya, saya tahu nanti kalian akan shalat di rumah. Tapi bagaimana dengan saya?”

Lah… Apa urusannya dengan kami? Tentu saja Anda bisa shalat di masjid terdekat. Ada masjid tidak jauh dari rumah kami. Begitu saya jawab.

Ndilalah sopir itu punya pendirian yang kokoh. Pokoknya kita harus berhenti untuk shalat Ashar dulu. Yakinlah, setelah itu semua urusan kita akan memperoleh kemudahan. Begitu imbuhnya.

Lha dalah… Bagaimana pun saya harus tertawa bersama Pak Ismail menghadapi sikap nekad sopir ini. Sedikit jengkel memang, tapi senang juga, karena sudah memperoleh hidayah kebajikan melalui dia.

Saya bilang ke Pak Ismail, dalam bahasa Indonesia,

“Sopir yang hebat. Dia sudah berhasil mendakwahi kita. Seorang sopir tirhal mendakwahi dosen agama Islam, hehe…”

Sopir ini bukan hanya saleh secara spiritual. Ternyata dia juga saleh secara sosial. Buktinya di perempatan jalan kemudian, dia mau kasih sejumlah pound pada seorang perempuan pengemis. Juga sebelum itu, dia beli minyak wangi di luar masjid. Padahal sepertinya dia tidak terlalu membutuhkan. Karena saya perhatikan dia beli minyak wangi yang harganya paling murah dan asal ambil saja. Rupanya dia tidak mau mengecewakan penjual. Sebab sebelumnya saya sempat mendekati penjual itu, tapi tidak jadi beli. Jadi dia beli itu untuk mengobati kekecewaan si penjual saja. Atau entahlah…

Lalu-lintas waktu itu sangat padat. Sepanjang perjalanan sekitar dua jam itu Pak Sopir mengajak kami diskusi, dan banyak memberikan petuah bagi kami. Di mana setiap perbincangan selalu dia sisipkan mutiara hikmah yang selalu terasa pas dan indah. Tidak lupa dia mengutip potongan ayat atau hadits nabawi. Sebenarnya hal ini biasa saja bagi wawasan orang Islam di benua ini. Namun menjadi istimewa, karena kami membuktikan bahwa ucapan orang ini memang sesuai dengan perilakunya.

Turun di tempat tujuan, kami jadi lebih tertarik. Pertama, Pak Sopir tidak mau diberikan uang tips. Dia mengembalikan sisa pembayaran secara penuh. Tidak kurang satu pound pun. Kedua, dia membuka kesempatan kepada kami untuk menghubunginya lewat telepon bila ada pertanyaan apapun. Semacam konsultasi. Luar biasa. Seorang sopir tirhal memberikan kesempatan kepada para dosen untuk bertanya, Sodara-sodara…

Amazing! Di negara yang tidak begitu kaya ini kami menemukan seorang sopir tirhal yang sangat kaya dalam arti yang sebenar-benarnya… Dia bukan hanya mengajari kami tentang teori dan ilmu. Apalagi hanya omong kosong. Namun dia telah mengajari kami tentang cara hidup yang benar dan seharusnya.

Sungguh seorang sopir yang mampu menjadi teladan bagi setiap penumpang. Rezeki yang luar biasa bagi kami pada hari itu. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin…

Matur nuwun sanget, Bapak Sopir…

Tags:

0 thoughts on “Sopir Tirhal Teladan

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Beasiswa

Hukum Keluarga Islam

Klik di sini
Need help?
Bila ada sesuatu yang ingin disampaikan, baik berupa pertanyaan maupun konfirmasi tentang artikel ini, maka kami persilakan...