SHOPPING CART

close
Air MataTanya-Jawab

Suami Suka Judi Salahkah Saya Mengajukan Gugat Cerai

Pertanyaan:

Saya mau bertanya,

Apa saya salah, bila saya meminta cerai?

Karena suami tidak pernah membela saya atas ibu dan adiknya?

Yang jelas2 ibunya telah mengutarakan bahwa dia sebenarnya tidak memperbolehkan saya nikah dengan suami saya?

Hal itu di utarakan setelah kami mempunyai anak.

Saya memandang hal itu diutarakan di waktu yang salah, karena sudah terlambat kita sudah menikah dan memberinya seorang cucu.

Dan baiknya kalau pun iya tidak setuju, kenapa tidak diutarakan dari awal sebelum pernikahan.

Dan masalah adiknya yang turut memperkeruh suasana ikut2an masuk ke dalam rumah tangga kami.

Dia ikut mengompori suami saya.

Sementara saya selalu minta suami saya jadi suami yang bijak, karena saya sebagai istri selalu disudutkan.

Hal yang ketiga JUDI

Suami saya dari awal pernikahan sudah memberikan kejutan di bulan pertama pernikahan.

Ternyata dia mengaku berhutang pada bank bekas dia judi, dan katanya kita harus menyicilnya setiap bulan.

Saya merasa sakit hati. Kenapa hutang suami bekas judi harus saya yang bayar tiap bulannya.

Pasalnya dia judi pun sebelum kami menikah.

Pertengkaran selalu terjadi setiap saya membayar hutangnya. Selalu jadi cekcok, karena saya tidak ridho.

Lalu dalam fikiran saya, mungkin suami akan jera dan tidak akan judi lagi. Tapi kenyataannya dia masih berjudi lagi. Berulang kali saya tegur, tapi tidak mengaku. Lalu saya putuskan untuk membicarakan hal ini pada orang tuanya, soalnya selama ini orang tua nya tidak tahu tentang hutang itu.

Saya putuskan untuk membicarakan pada orang tuanya dan suami saya marah besar. Katanya kasian orang tua jadi tahu jadi banyak pikiran. Tapi dia tidak kasihan pada saya dan anak yang malah menanggung hutangnya selama ini.

Dan hasil dari pembicaraan itu, mertua saya membantu membayar sisa hutang suami saya. Karena jujur ekonomi kami morat-marit saat kami harus membayar hutang itu.

Lalu saya kira suami saya sudah jera, tidak akan judi lagi, dan kapok. Karena kemarin saja sudah berhutang banyak gara-gara judi. Tapi ternyata dia mengulanginya lagi. Dan sering saya tegur, tapi tidak pernah mau ngaku.

Lalu makin ke sini makin banyak bukti dia judi. Entah dari adik saya, juga dari saudara2 saya, saya makin kecewa, dan akhirnya saya bulat minta cerai. Dan saya yang akan ajukan itu bulan ini.

Apa saya salah?

___________________________

Jawaban:

Pertama

Mohon izinkan, saya sampaikan terlebih dahulu rasa turut berduka cita yang mendalam atas cobaan yang Ibu terima saat ini. Baik dari suami, mertua, maupun saudara suami.

Sungguh tidak mudah menghadapi keadaan yang sedang Ibu alami sekarang. Sampai-sampai merinding seluruh tubuh saya. Ingin rasanya saya pun ikut melampiaskan amarah kepada mereka. Ya Allah, begitu tega mereka memperlakukan istri/menantu seperti itu. Sungguh, hati saya menjerit dan ikut menangis. Subhanallah….

Kedua

Langkah-langkah yang Ibu lakukan itu kiranya sudah tepat. Bahkan luar biasa. Demikian tabah dan tulus untuk kebaikan bersama dan solusi bagi keluarga.

Ibu telah membantu tugas suami dengan sangat baik. Ikut membayar hutang suami, padahal hutang itu dia lakukan sebelum pernikahan.

Selain itu, Ibu juga telah memberikan pendidikan dan pelajaran kepada suami. Padahal seharusnya suamilah yang mendidik, membimbing dan memberikan teladan. Eh, malah dia yang bikin masalah. Justru istri yang mendidik dan memberikan arahan kepada suami.

Ketiga

Dalam kondisi seperti itu, adalah hak Ibu untuk meminta cerai. Secara hukum hal itu sah dilakukan. Secara agama juga sah. Karena:

  • Suami tidak menjalankan kewajibannya dengan baik sebagai kepala keluarga.
  • Suami suka berjudi dan tidak bisa dihentikan/disembuhkan.
  • Suami telah merusak ekonomi keluarga.
  • Suami tidak jujur pada istri alias suka berdusta untuk perkara yang sangat serius.
  • Suami menjadi penyebab pertengkaran dan masalah yang tidak kunjung selesai.

Dalam keadaan seperti ini, perceraian adalah jalan darurat. Ibaratnya adalah tindakan amputasi pada bagian tubuh yang terinfeksi parah, dan tidak bisa disembuhkan, bahkan bisa menular dan menjalar pada bagian tubuh yang masih sehat.

Suami seperti itu bukan hanya merusak dirinya sendiri. Namun dia juga pasti merusak anak dan istrinya, bahkan juga keluarga besarnya. Bahkan juga menjadi sampah masyarakat yang beracun dan berbahaya.

Keempat

Apa yang Ibu putuskan itu hendaknya selalu dihubungkan dengan doa kepada Allah Swt.

Apa yang Ibu terima itu pada hakekatnya adalah cobaan dari-Nya. Maka hendaknya kita juga selalu memohon petunjuk untuk menyelesaikan masalah itu pada-Nya.

Dia-lah yang menurunkan penyakit. Dia pula yang menurunkan obat dan penawar bagi penyakit itu.

Kita semua adalah lemah, dan hanya bisa menjadi kuat dengan pertolongan-Nya semata.

Kelima

Hendaknya kita tetap dan selalu berbaik sangka kepada Allah. Tidak ada perjuangan yang sia-sia. Tidak ada pengorbanan yang Dia lupakan.

Sekaligus kita memohon ampun pada-Nya. Besar kemungkinan kita pun telah banyak berbuat salah dan khilaf pada hari-hari yang sebelumnya. Baik kesalahan secara lahir maupun batin. Yang kita sadari maupun yang tidak kita sadari.

Maka semoga kesabaran dan keikhlasan dalam menghadapi ujian ini menjadi penghapus atas berbagai kesalahan kita di masa yang telah lalu.

Atau setidaknya, Allah berkenan untuk mengangkat derajat kita, baik di dunia sekarang maupun di akhirat nanti.

Demikian, Ibu.

Bila masih ada pertanyaan, kami persilakan untuk disampaikan.

La haula wala quwwata illa billah…

Tags:

0 thoughts on “Suami Suka Judi Salahkah Saya Mengajukan Gugat Cerai

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.