SHOPPING CART

close
Kajian Ibadah

Supaya Ibadah Sah, Haruskah Kita Tahu Dalilnya?

Jawabannya adalah: Tidak harus. Namun bila kita tahu dalilnya, maka itu lebih bagus. Seperti kita membaca al-Qur’an, apakah harus tahu ilmu tajwid? Tidak harus, yang penting bacaan kita sudah benar.

Apakah ibadah bisa sah tanpa dalil?

Memang ada orang yang berpandangan, bahwa ibadah itu tidak sah tanpa dalil… Saya percaya itu hanya teori… Coba saja kita tanya orang itu, berapa persen ibadah dia yg sudah pakai dalil? Paling banter hanya sepuluh persen. Itu pun sudah ngoyo…  Berarti yang sembilan puluh persen dia sendiri tidak pakai dalil…

Apakah itu artinya bahwa ibadah dia yg sah cuma sepuluh persen? Tentunya tidak demikian…

Bagaimana cara kita bisa mengecek apakah ibadah kita sudah sesuai dengan dalil?

Cara yang pasti: Monggo kita buka Al-Qur’an dan kitab hadits… Dari situ kita bisa menghitung, sudah berapa persen ayat Al-Qur’an dan hadits yg sudah kita baca dgn benar. Sebanyak itulah kita telah menyesuaikan tata cara ibadah kita dgn dalil.

Jadi untuk mengecek hal ini bukan pekerjaan ringan. Sebaliknya, pekerjaan yang amat sangat berat.

Lalu seberapa pentingkah kedudukan dalil?

Alhamdulillah… Saya pribadi belajar dalil secara serius itu sudah lebih dari tiga puluh tahun dan insya Allah tidak akan pernah berhenti… Artinya saya tidak main-main… Ini bukan kerja sambilan… Ini aktivitas serius…

Tapi…

Kebenaran hanya milik Allah, kita tidak bisa memastikan… Biarpun kita yakin namun tidak berhak mengklaim pasti benar, yg beda pasti salah… Tidak bisa begitu…

Dari situlah saya bisa memahami: bahwa dalil itu penting, tapi bukan segalanya…

Sekali lagi: Penting, namun bukan segalanya…

Dalil itu hanya tanda. Seperti kita lihat sepeda motor guru kita sudah diparkir di sekolah. Itu dalil beliau sudah datang ke sekolah. Tapi apakah betul beliau sudah datang, kita harus cek ke kantor atau di kelas. Seperti itulah hakekat dalil…

Memang ada yg lebih penting daripada dalil?

Ada…. Yaitu buah dari dalil itu. Yakni kerukunan… Persaudaraan… Akhlak yg mulia… Jiwa yg besar… Suka memaafkan… Rendah hati…. Saling mengharga dan menghormati… Itulah tujuan kita beragama…

 

Kalau gitu orang Kristen sudah mencapai tujuan tertinggi dari agama dong, karena sudah berakhlak mulia…

Begini… Kalau orang Islam ya kita harus punya landasan aqidah dong… Akhlak mulia namun riya’ dan pamrih pasti tertolak…

Tapi ikhlas itu urusan kita pribadi dgn Allah…

Aqidah itu juga urusan pribadi manusia dgn Allah…

Kita sesama manusia bermuamalah itu dgn akhlak…

Jadi jangan dicampuradukkan…

Kita tersenyum pada orang lain itu supaya jadi sedekah harus ikhlas… Adapun orang lain tersenyum pada kita apakah dia ikhlas atau tidak, bukan urusan kita…

Itu urusan dia dgn Allah…
Maka di sinilah ada istilah: hablum minallah dan hablum minannas. Memang keduanya berhubungan… Namun jangan dicampuradukkan…

Seperti kita minum kopi dan makan pisang goreng. Keduanya memang berhubungan, punya kaitan yang erat. Namun jangan sampai kita campur jadi satu seperti sayur sop. Pasti rusak…

Terus bagaimana kaitannya dengan surga, bukankah kita masuk surga juga dengan dalil?

Adapun surga neraka biar Allah yg atur… Memang sejak kapan kita dikasih tugas membagi kavling surga dan neraka… Tugas kita adalah dakwah dan dakwah… Dengan sikap yg menggembirakan dan memudahkan… Bukan dengan sikap yg menakutkan dan mempersulit…

Allahu a’lam.

Tags:

0 thoughts on “Supaya Ibadah Sah, Haruskah Kita Tahu Dalilnya?

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Beasiswa

Hukum Keluarga Islam

Klik di sini
Need help?
Bila ada sesuatu yang ingin disampaikan, baik berupa pertanyaan maupun konfirmasi tentang artikel ini, maka kami persilakan...